
Sesampainya di dapur segera Devan meletakan kranjang cabe yang dia bawah.
"Tania, ayo, pulang ini sudah sore, aku khawatir Ayahmu akan mencari mu,"
"Apa, kamu sudah ijin sama Nenek?"
"Tentu saja sudah, itu Nenek, ayo kita berpamitan, lalu pulang,"
"Nek.."kami pulang dulu ya,"
"Ya, hati hati di jalan ya dan kau Devan jangan ngebut kalau membawa motor, ingat ada Tania di belakang boncenganmu,"
"Siap, Nek," Ucap Devan bersemangat.
"Ayo, Tania, cepat naik,"
"Nek, Tania permisi dulu," Ucap Tania sambil mencium tangan sang Nenek.
Sang Nenek hanya menggagguk, tidak berapa
lama Tania dan Devan sudah meninggal kan tempat sang Nenek.
Karena waktu sudah sore, Devan hanya mengantar Tania di depan halaman Rumah nya.
Tania, berjalan memasuki rumahnya terlihat lampu sudah menyala itu artinya Ayahnya sudah ada di rumah tanpa nengetuk pintu lagi Tania langsung membuka pintu dan alangkah terkejutnya Tania ketika sampai di ruang tamu sang Ayah sedang duduk bersama dengan pak guru Wili.
"Tania...!baru pulang Nak, sini, kasih salam sama Pak guru Wili,"Ucap sang Ayah melihat kedatangan Tania.
"Eh, iya, Ayah,"
Dengan langkah sedikit malas Tania berjalan
mendekati Ayah nya dan mencium tangan sang Ayah.
"Selamat sore, pak," Sapa Tania sedikit malas malasan.
"Selamat Sore, Tania, baru pulang ya,"
Tak berniat menjawab Tania hanya menggagguk saja sambil ngeloyor masuk ke dalam, namun langkahnya di hentikan sang Ayah.
"Tania...!kamu cepat mandi, lalu temani pak guru Wili ya, Ayah mau ke rumah tante Mirna Sebentar,"
"Tapi, yah..,Tania capek mau istirahat !"Ucap Tania komplin.
"Sudah, jangan mrmbantah ! Ayah tinggal pergi dulu, sekalian ajak pak guru Wili makan malam,"
"Pak guru Wili, saya tinggal dulu ya pak titip, Tania,"
"iya, pak, silahkan,"
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam,"
"Tania...!Ingat pesan Ayah cepat mandi dan temani pak guru Wili,"Ucap sang Ayah menggingatkan.
Sebelum Tania menjawab, Tania menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Iya, Ayah !"
pergi.
Tania mengantar kepergian Ayahnya dari pintu, kemudian menutup kembali pintu itu.
Tatapan mata Tania kini beralih ke pada seorang tamu yang ada di depannya Tania menatap dengan tatapan penuh ketidaksukaan.
Tania sendiri tidak mau menyembunyikan kekesalan nya.
"Kenapa sih, Bapak kemari, nganggu orang saja," Sungut Tania tanpa basa basi.
Melihat sikap dingin dan sinis dari siswi sekaligus gadis yang telah mampu mencuri hatinya membuat Pak guru Wili menelan ludahnya dengan kasar.
"Kenapa, kamu kabur dari mata pelajaran ku,"
"Kabur...! kabur apaan, pak ?"
"Kamu, tadi masuk kan, lalu kenapa saat jam
pelajaran ku kamu pergi,"
Deg..!
Tania baru ingat kalau tadi, dia sengaja pulang cepat dan bolos dari mata pelajaran matematika yang di ajarkan oleh pak guru wili.
Untuk menutupi kalau sesungguhnya Tania memang kabur, dengan kalem Tania berbohong
sambil menarik kursi dan duduk di depan pak
guru Wili.
"Gini, pak, tadi itu Tania ngak kabur, cuma di ajak menjenguk Nenek nya temanku yang sakit, jadi aku pulang ngak ngikutin pelajaran nya Bapak,"
"Kenapa, tidak sepulang sekolah saja, kamu menjenguknya, kenapa mesti di pelajaran ku,"
"Mesti, gimana sih pak, ah, bapak mau fitnah nih, bolos juga cuma sekali," Sunggut Tania.
"Iya, sekali, memangnya mau ada rencana bolos berapa kali, awas kalau berani bolos di mata pelajaran ku, nilai kamu aku kurangi,"
"Ya, bapak, nilai aku sudah buruk, kalau di kurangin lagi, bisa bisa tinggal bebek angsa dong pak !"
"Bebek angsa, bebek angsa, kalau nilai kamu sampai bebek angsa tuh angka Tiga kamu ngak bakalan bisa lulus, tinggal di kelas mau kamu,"
"Duh, jangan dong pak, kejam amat jadi guru, perasaan guru guru di sekolah baik baik manis manis, cakep cakep, ngak galak seperti bapak,"
"coba, ulangi apa kau bilang, beneran aku kurangin nilaimu biar tau rasa,"
"Eh, jangan pak, masak bapak yang marah nilai ku yang mau di jdkn korbannya, itu namanya ngak adil,"
"Sudah, sudah, kamu cepet mandi sana, bau nih, ingat jangan lama lama, ini aku bawakan tugas tugas matematika ya harus kamu kerjakan,"
"Ya, Bapak, datang kesini cuma mau ngasih tugas,"
"Biar, kamu pinter Tania, sudah cepat mandi bau tuh,"
Tania nyengir kuda lalu melangkah pergi tanpa memberikan jawaban kepada pak guru Wili.