
Siang yang sangat terik, tanpa sehelai mendung bergantung membuat cuaca semakin panas angin yang ber semilir menerjang daun dan pepohonan menari nari dalam mempermainkan rambut indah milik Tania, dengan wajah kesal dan dengan mimik bibir mayun Tania harus turun dari boncengan Devan.
"Aku temui pak guru wili dulu ya,"Ucap Tania pada Devan.
"Iya, aku tunggu di sini," Ucap Devan sambil menepikan motornya.
Tania bergegas melangkah mendekati mobil dari pak guru Wili.
"Ada apa, pak..?"Tanya Tania kepada pak guru wili.
"Masuklah, kita pulang bersama,"Ucap nya datar.
"Apa..?"pulang bersama, aku sudah sama Devan pak, lagi pula hari ini aku mau...
Tiba-tiba Tania tidak melanjutkan bicaranya, pak guru Wili yang penasaran menatap Tania dengan tatapan penuh selidik dari dalam mobil sedangkan Tania berdiri mematung di dekat pintu mobil yang sudah terbuka.
"Kenapa tidak dilanjutkan, kalian mau pergi kemana?"sudah cepat masuk."Seru pak guru Wili.
"Sebentar pak, aku bilang ke Devan dulu, kasian dia menunggu,"
Ya, sudah, sana, pergi..!"
Tania melangkah menghampiri Devan, yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tajam.
"Van, ngak jadi, aku pulang bareng pak guru Wili, maaf ya ?"
"Apa? pulang' bareng pak guru Wili..!"Trus Aku bagaimana? Tanya Devan gusar.
"Kita, perginya lain kali saja," Ucap Tania.
"Ya, sudahlah," Tanpa menunggu jawaban dari Tania Devan dengan cepat menancapkan gasnya, Tania sempat melihat raut kekecewaan di dalam tatapan mata Devan, dengan langkah gontai dan penuh dengan kemalasan Tania, melangkah mendekati mobil pak guru Wili yang,sedari tadi menunggu nya.
Tatapan matanya kosong, dan hambar Tania belum pernah melihat Devan semarah itu, sikap Devan selalu baik dan manis bahkan penuh dengan tawa canda tapi kini rasanya benar-benar Tania melihat ada api kemarahan dan kekecewaan di sana, Tania Menghela Nafas panjang sebelum mendudukkan dirinya di mobil depan dekat dengan pak guru Wili.
"Pakai sabuk pengaman mu? jangan melamun saja,"Seru pak guru Wili menggingatkan.
Tanpa berniat menjawab Tania lngsung mengenakan sabuk pengamannya.
"Kita cari tempat untuk makan siang dulu,"
"Ngak, usah pak, kita langsung pulang saja,"
"Apa, kau ingin makan di Rumah saja?"
"Ok, kita masak bersama di rumah, sekarang kita pergi ke super market, membeli semua bahan makanan yang akan kita masak."
"Ku rasa tidak perlu, pak, Ayah pasti sudah masak dan untuk apa masak lagi,"
"Tania kamu sudah dewasa, kamu harus belajar masak, agar Nanti kalau kita sudah Nikah kamu bisa buatkan aku masakan yang enak."
"Apa..?" Menikah, dengan pak guru Wili..!bapak ngigau ya..?"Seru Tania tak percaya.
Mobil berwarna merah yang tadinya melaju dengan kecepatan sedang tiba-tiba di hentikan, sebelum mobil itu sampai di tempat supermarket, Tania sedikit kebingungan juga
kenapa tiba-tiba pak guru Wili menghentikan mobilnya. belum juga pertanyaan yang ada di dalam hatinya mendapatkan sebuah jawaban, kini jantung hatinya di buat bergetar hebat, ketika sebuah tangan kekar mengengam tangannya yang mungil. Tania sedikit tersentak kaget dengan apa yang di lakukan pak guru wili,
Seorang guru yang sangat suka bahkan bisa di bilang hobi menghukum nya bicara tentang pernikahan padanya.
"Tania maukah kau menjadi istriku?maukah kau menikah dengan ku?"Tanya pak guru Wili dengan tatapan yang sendu.
Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong Tania di buat kelabakan, tak pernah dia bayangkan Guru yang sangat suka menghukum nya kini meminta dirinya untuk di jadikan istri.
Dengan gugup dan sedikit terbata bata Tania bicara.
"Le.. lepaskan tangan saya pak, bapak jangan bercanda," Ucap Tania gugup.
"Aku tidak, bercanda, Aku serius, Aku suka padamu dan Aku ingin menjadi kan mu istriku, apa kamu mau?"
Tania menelan ludahnya dengan kasar hatinya semakin berdegup dengan kencang ketika wajah pak guru Wili semakin mendekat ke wajahnya, Tania semakin bergetar, beberapa saat kemudian Tania memejamkan mata.sementara pak guru Wili mendekatkan bibirnya di dekat telinga Tania pak guru Wili berbisik.
"Aku memberi mu waktu tiga hari, ayo, sekarang kita turun, belanja,"
Ucapan Pak guru Wili membuat Tania bernafas dengan lega, apa yang di pikir kan tidak terjadi pak guru Wili tidak menciumnya, Tania merutuki dirinya sendiri karena telah berfikir yang bukan bukan bahkan di relung hatinya yang dalam juga ingin merasakan bagaimana rasanya di cium.
"Ayo, cepat jalannya, Kenapa seperti ngak mau melangkah begitu," Seru pak guru Wili yang melihat Tania tertinggal jauh, membuat pak guru Wili menghampiri dan langsung mengengam tangannya.
Menyadari tangannya kembali masuk dalam gengaman pak guru Wili, Tania melotot.
"Pak, lepaskan, tangan saya, malu di lihat orang, saya bisa jalan sendiri kok,"Ucap Tania menggingatkan.
"Biarkan saja mereka melihat, Nanti kalau kita sudah menikah aku mau cium kamu di tempat umum pun tidak masalah," Jawab pak guru Wili cuek.
Tania mengkrucutkan Bibirnya
"PD amat kalau aku bakal menerima," Grutu Tania dalam hati.