The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.377.KEKECEWAAN DEVAN



Kepergian Tania yang buru-buru dengan Ingin menggunakan sepeda motor membuat paman Patih lembu ireng yang di perintahkan pangeran Tatius untuk mengantarnya sudah berdiri tepat di hadapan Tania yang hendak pergi.


"Non, tunggu!"teriak paman Patih lembu ireng menghadang laju motor bebek Tania.


"Paman, ada apa, menyingkirlah paman aku sedang buru-buru."


"Paman antar ya."


"Tidak perlu paman aku sudah bawa motor, ini juga bisa akan cepat."


"Tapi, pangeran Tatius Meminta paman untuk menggantar Non Tania."


"Tidak perlu, paman, justru lebih bagus paman berada di Rumah saja, awasi pangeran paman itu, jangan sampai dia Nekad bunuh diri katakan padanya aku menunggu kehadiran nya di pestaku, tapi jika pangeran Paman tidak punya nyali untuk datang ngak usah datang, sudah itu saja tolong Paman sampaikan padanya, sekarang Aku pamit dulu paman."


Tania segera menghidupkan motor bebeknya Yang tak lama kemudian sudah melaju meninggalkan tempat penginapan dua, di mana pangeran Tatius sedang bermalam dalam beberapa hari ini.


Paman patih lembu ireng sedikit tercengang dengan perkataan Tania yang sangat pedas menurut nya, tapi apapun itu sebuah pesan wajib lah di sampaikan untuk itu paman Patih lembu ireng segera mencari keberadaan pangeran Tatius untuk menyampaikan pesan dari Tania.


Setelah beberapa saat mencari keberadaan Pangeran Tatius yang tadinya berada di dalam kamar kini sudah berada di dekat kolam renang yang ada di belakang penginapan dua.


Dari kejauhan terlihat seorang pemuda tampan yang sedang duduk termenung menatap air yang ada di dalam kolam renang.


"Pangeran ada disini?"


"Paman cepat sekali kau kembali nya, memangnya Tania pergi kemana?"


Dengan tersenyum simpul paman Patih Lembu Ireng memilih duduk di samping pangeran Tatius.


"Aku tidak menggantar nya pangeran, karena Non Tania tidak mau,"


*Keras kepala sekali gadis itu, ini kan sudah sore, apa-apaan dia."


"Non Tania bilang motor bebek nya juga bisa pergi dengan cepat, selain itu Non Tania juga berpesan pada Pangeran."


"Pesan, apa pesannya paman pasti dia mau bik, sangat mencintai aku dan ingin aku setia menunggu nya, pasti begitu kalau itu yang Tania mau katakan paman aku siap menunggu."


"Pangeran bicara apa, kenapa aku jadi Bingung."


"Ck, paman kam barusan bilang Tania berpesan padaku."


"Oh, itu benar pangeran, tapi pesannya tidak seperti yang pangeran ucap kan begitu."


Kedua bola mata pangeran Tatius menatap intens paman Patih lembu ireng, pangeran Tatius tidak menyangka jika tebakannya salah sementara Tania dia yakini sangat benar-benar mencintai nya seperti dirinya yang juga sangat mencintai.


Pangeran Tatius masih bisa menggingat betapa sedih dan hancurnya kekasihnya itu ketika dirinya terbaring tak bertenaga, pangeran Tatius memang tidak mampu bergerak dan dia hanya bisa tidur akan tetapi kedua telinganya kala itu tidak lah tidur dan kehilangan kekuatan Indra pendengaran, sehingga meskipun dalam keadaan mati suri pangeran Tatius masih Mendengar jelas keluh kesah dari kekasih nya. bibir Pangeran Tatius menyunggingkan sebuah senyuman kala menggingat semua yang di lakukan Kekasihnya, bahkan jiwanya memberontak andai waktu itu bisa berkata ketika Tania mencoba membangunkannya dengan cara mencium pipinya, Ingin sekali pangeran Tatius kala itu meminta agar Tania mencium nya di bibir saja tapi apalah daya raganya yang tak bertenaga dengan kedua mata yang juga tak bisa dia buka.


"Sekarang katakan apa pesan Tania padaku paman?"


"Non Tania bilang jika Pangeran Tatius punya nyali di minta datang untuk menghadiri pesta pernikahan Non Tania akan tetapi jika Pangeran Tatius tidak kuat tidak usah datang."


"Apa?" dia menantang ku dan tega bicara seperti itu, paman kau jangan bercanda Tania itu mencintai ku dia tidak akan tega bicara seperti itu paman jangan memperkeruh keadaan, Aku tau paman sangat peduli dengan ku tapi jangan lah Paman menjelekkan sikap Tania di hadapan ku, itu tidak baik Paman."


Mendengar ucapan Pangeran Tatius paman Patih lembu ireng mendelik kedua bola matanya mengerjap-ngerjap, bermimpi saja tidak, ini justru di tuduh.


"Pangeran apakah tampangku ada model pembohong, sehingga Pangeran mengaggapku berdusta. apa yang ku katakan itulah yang dikatakan Non Tania Pangeran."


Pangeran Tatius menelan ludahnya dengan kasar, dia tau jika paman Patih lembu ireng tidak akan pernah berkata bohong dan sesungguhnya hati Pangeran Tatius juga sangatlah sedih dan apa yang diucapkan nya hanya sekedar menghibur diri.


"Sudahlah Paman ayo kita masuk, lupakan semua itu, jika Tania mengginginkan aku datang aku akan datang."


"Apa Pangeran Tatius yakin, kalau menurut ku jangan Pangeran, tidak perlu Pangeran datang Karena hal itu hanya akan menyakitkan hati Pangeran saja."


"Jangan khawatir Paman, Aku bisa kok."


paman Patih Lembu Ireng menepuk nepuk pundak Pangeran Tatius sebagai tanda untuk menggiatkan.


Sementara di sisi lain motor bebek yang di lajukan Tania sudah sampai di depan halaman pintu rumah Santi temannya. setelah menaruh motor bebeknya di tempat yang teduh Tania mulai berjalan memasuki pintu utama.


Beberapa kali Tania membunyikan bell yang ada di dinding Rumah Santi dan tak lama kemudian pintu pun di buka dari dalam.


"Masuk, Non langsung saja Naik ke atas Non Santi sudah menunggu disana,"seru wanita paruh baya.


"Hai calon pengantin baru, apa kabarmu?"


Tania yang awalnya datang dengan senyuman tiba-tiba memutar bola matanya malas kemudian menaruh tas kecil di sembarang tempat dan tanpa bicara langsung Naik keatas Ranjang dan tidur.


Melihat temannya cuek, mungkin sedang tidak mood atau sedang sakit sariawan sehingga malas untuk bicara membuat santai menggelengkan kepalanya sambil menggikuti gerakan Tania, dengan santai santi Naik ke atas Ranjang dan menatap Tania dengan tatapan intens.


"Maaf, tidak bermaksud begitu, sekarang katakan padaku apa yang ingin kau katakan tentang pernikahan dadaanmu ini, apakah kau menyesal dan berniat kabur dan kamu kesini meminta ku untuk membantu rencana mu,"


"Husst kenapa kau berpikir begitu."


"Habisnya manyun saja tuh bibir,"


"Kamu juga yang salah orang baru tiba bukan di bikinkan kopi justru di borong dengan pertanyaan yang menyebalkan,"Sungut Tania kesal.


Santi yang mendapat kan omelan dan komplinan dari Tania Tertawa lebar.


"Cuma begitu ngambek, ya sudah tunggu aku buatkan."bergegas Santai keluar dari dalam kamar dan berlari menuju dapur dia sangat sayang dengan satu temannya ini sehingga untuk membuat minuman atau jamuan makan terkadang Santi sendiri yang membuat kan dan tidak pernah meminta bantuan dari pembantunya.


***


Di tempat lain tepatnya di Rumah Ayah Tania tampak sebuah motor yang sudah tidak asing lagi terparkir manis di halaman Rumah Tania dan turun lah sosok pemuda tampan yang tak lain adalah Devan memasuki Rumah setelah pintu di buka dan Devan langsung bertemu dengan sang calon mertua yang mana langsung menyuruhnya untuk duduk.


Devan yang tidak ingin basa-basi langsung bertanya.


"Om, Tania nya ada?" saya mau mengajaknya untuk menggambil beberapa perhiasan aki khawatir ada yang tidak di suka jadi aku mau Tania melihat dan memilih nya sendiri."


"Tania tidak ada di Rumah Nak, dia bilang pergi ke Rumah temannya Santi, entahlah apa yang dilakukan Anak itu dia berangkat sangat pagi sampai sekarang belum pulang."ucap Ayah Tania menjelaskan.


"Mungkin lagi melepas kangen Om, kan sebentar lagi dia mau menikah jadi waktu bersama dengan temannya akan sangat sedikit, itu tidak masalah Paman biar aku yang menjemput."


"Nak Devan mau kesana?'


"Iya, Om!"


"Tapi Tania tadi membawa motor bebeknya Nak,"


"Tidak masalah itu Om, motor bebek Tania bisa di titipkan.saja dulu Nanti aku. yang akan ambilkan."


"Baiklah, kalau begitu pergilah dan jangan pulang malam-malam."seru Ayah Tania menasehati.


"Siap, Om!"


Dengan hati riang dan bergembira, Devan pergi menuju Rumah Santi, hanya tiga puluh menit perjalanan Devan sudah sampai dan ketika Devan membuyikan Bell Rumah, Pembantu Santi yang membukakan.


Dengan berbasa-basi sebentar Devan mulai mengatakan maksud kedatangan nya untuk menjemput Tania.


Mbok Yem sang pembantu Rumah yang sudah mengenal Tania dengan sangat baik tersenyum ketika Devan bertanya tentang Tania.


"Oh jadi ini toh calon suami Non Tania, ganteng dan tampan, Den Devan pergi saja langsung Naik ke kamar atas Non Tania ada di sana Den," ucap Bik Yem menjelaskan.


Dengan malu-malu tapi ada rasa senang juga di puji ganteng Devan langsung menaiki tangga menuju kamar dimana Tania berada.


Sementara di dalam kamar Santi yang sudah membuat kan beberapa cemilan pisang goreng coklat dan minuman kopi susuu hangat mereka kembali berbincang-bincang.


"Jadi, kamu tidak mencintai Devan?" tanya Santi tak percaya.


Tania mengagguk.


"Aku tidak pernah mencintai nya."


"Kalau tidak mencintai kenapa Lo mau menikah dengan nya?"


"Untuk bayar balas Budi, karena Devan sudah pernah menolongku, kau tau San ini sangat menyiksa batinku tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi Nasib ku, mungkin tubuku akan menjadi milik Devan tapi tidak dengan hatiku."


"Deg...! bagaikan petir yang menyambar disiang hari ketika kaki Devan hendak melangkah masuk dan tak sengaja mendengar curhatan isi hati dari gadis yang sangat dia cintai, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, bibirnya bergetar, kedua tangannya mengepal kuat dan dengan cepat tanpa bicara apapun Devan langsung berlari meninggalkan kamar dimana Tania dan Santi sedang bercurhat ria, Tania tidak tau dan tidak menyadari jika ucapannya tentang kejujuran hatinya di dengar Devan dan seratus persen membuat hati Devan hancur.


Dengan kecepatan tinggi Devan melajukan mobilnya menuju Bar, di mana kali ini dia ingin membuang segala kesedihan dan kepahitan hatinnya.