
Raja Awang Awang Vampire yaitu Raja Prayudha telah melihat dan menyaksikan semua yang terjadi antara Ayah dan anak di Puri istana kerajaan nya, hatinya begitu terenyuh melihat ketulusan dan pengorbanan Putri Shima.
"Jadi benar, gadis itu aku pernah melihat nya, pantas saja sekali saja aku melihat nya Serasa tidak asing dan rasanya aku sudah langsung tertarik, tenang saja calon istriku, kita akan buktikan bersama di hadapan Ayahmu jika aku
putra mahkota dari Ratu Nandira Rieka mewarisi kesetiaan yang tiada tandingannya."lirih Raja Awang Awang Vampire Prayudha yang dengan sangat yakin membanggakan dirinya sendiri.
Raja Awang Awang Vampire Prayudha mengetahui jika sesungguhnya kematian sang IBu, bukan karena sakit melainkan sengaja menegak racun demi membuktikan kesetiaan pada Raja Antomi yang kala itu meminta bukti kesetiaan.
Untuk itulah Raja Awang Awang Vampire Prayudha tidak terlalu berambisi untuk membalas dendam, karena sesungguhnya Raja Prayudha tau jika semua perseteruan Antara Ayah nya dengan Raja Sangkalah akibat dari kesombongan sang Ayah yang sengaja menantang Raja Sangkala.
Demi sebuah bakti Raja Prayudha bersedia dan mau melakukan balas dendam, akan tetapi melihat kehadiran Putri Shima hati Raja Prayudha menjadi luluh dan niatnya membalas dendam pun tiba-tiba raib entah kemana.
Di dalam kamar Puri istana kepribadian yang di tempati Putri Shima nampak sang Putri sedang termenung sedih dengan beberapa buliran bening jatuh di atas pipinya yang halus.
Raja Awang Awang Vampire Prayudha yang ketika itu sengaja datang menemui diam terpaku di depan pintu ada perasaan tak tega dan sedih melihat gadis yang di cintai nya tak memiliki semangat.
"Apa aku boleh masuk..?"
Putri Shima yang ketika itu sedang diam terpaku dalam sedih, segera menoleh ke arah pintu dimana sumber suara itu berasal dari sana.
"Masuklah."
Raja Awang Awang Vampire Prayudha melangkah masuk dan mengambil tempat duduk, sebelum akhirnya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan. Untuk beberapa saat Raja Prayudha menelan ludahnya.
"Apakah kau ingin pernikahan kita tunda."tanya Raja Prayudha pada putri Shima yang wajahnya masih menampakkan rasa sedih.
Putri Shima sedikit terkejut dengan perkataan dari Raja Awang Awang Vampire yang mana beberapa jam tadi ketika masih pagi sangat bersikeras jika dia ingin melakukan pernikahan di malam hari dan hal itu tidak bisa di tunda apalagi di tawar, tapi hari ini Raja Awang Awang Vampire Prayudha terlihat sangat aneh dimana dengan sangat lembut dia menawarkan boleh menunda pesta pernikahan.
Putri Shima menelan ludahnya dengan kasar, wajahnya menatap lekat lekat sosok laki-laki yang ada di depannya.
"Apakah kau sedang bercanda Raja..!"
"Bercanda?" tidak Putri aku tidak sedang bercanda, jika kau ingin kita hari Ini membatalkan pesta pernikahan aku tidak apa-apa."
Entah mengapa perkataan dari Raja Prayudha Sangat membuat hati Putri Shima menjadi tenang, Putri Shima berharap Raja benar benar tertarik dan menyukainya, bukan hanya sekedar ingin menikmati tubuhnya dimana setelah Raja merasa puas, dirinya akan di campakkan seperti apa yang telah di ucapkan sang Ayah.
"Tidak perlu..! aku sudah siap."
"Apa kau yakin?"
Putri Shima mengagguk kan kepala nya sebagai jawaban bahwa dia benar benar siap dan menerima."
Raja Awang Awang Vampire Prayudha, tersenyum haru mendengar jawaban dari Putri Shima.
Acara demi Acara telah di lakukan persemian pernikahan antara Raja Awang Awang Vampire dan putri Shima berlangsung sangat meriah, hingga puncak acara pun selesai.
Raja Awang Awang Vampire Prayudha resmi menjadi Suami dari Putri Shima, seorang Putri dari kerajaan Sangkala yang awalnya adalah putri dari musuh Ayahnya.
Itu lah sebabnya Raja Sangkala dan Raja Awang Awang Vampire tidak pernah menjadi kerabat yang baik dan manis.
Diantara keduanya sama sama keras kepala dan dingin, meskipun begitu Raha Sangkala yang sangat mencintai putri nya tetap memiliki perasaan tidak tega, dan was was pada keselamatan putri semata wayangnya.
Untuk itu Raja Sangkalah Bramusti sengaja menempatkan sepertiga dari prajurit kerajaan Sangkala untuk menjaga Putri Shima dan hal itu di ijinkan Raja Awang Awang Vampire yang sangat memahami kecemasan sang Ayah mertua.
Kehidupan Raja Awang Awang Vampire yang menikahi Putri Shima sangat bahagia, dimana Raja Awang Awang Vampire lebih bersikap lembut dan tak lagi sering mengadakan dan menantang kerajaan kerajaan yang ada di dunia Vampire.
Ternyata dugaan dari Patih Ramboka sangatlah salah dan kliru karena sang Raja selalu luluh dan mempercayai nya sehingga tidak mudah bisa mendapatkan Ratu Shima.
"Ting.....prang...!
Sebuah senjata panjang jatuh di depan Patih Ramboka yang kala itu sedang melamun.
FLASH BACK Off.
Patih Ramboka yang kala itu sedang mondar mandir dengan melamun, di kejutkan dengan suara benda tajam yang jatuh di samping nya, dengan gerakan refleks Patih Ramboka menoleh, kemudian dengan perlahan lahan Patih Ramboka membungkuk kan badannya dan memungut pedang yang jatuh di samping nya.
Ketika pedang itu sudah berada di genggaman tangan Patih Ramboka, mengedarkan pandangannya nya hingga netra hitam dan tajam nya melihat seseorang laki-laki Vampire muda sedang menunduk dengan wajah ketakutan.
Perlahan-lahan Patih Ramboka berjalan mendekati laki-laki itu.
"Apa ini pedang mu?"
"I-iya, Patih! jawab Vampire muda dengan gugup, tubunya bergetar dan keringat dingin jatuh membasahi pelipis nya.
"A-ampun, Patih Ramboka saya tidak sengaja, saya tidak tau Patih berada disini dan saya....
"Kenapa sampai jatuh sejauh ini, apa yang kau lakukan."tanya Patih Ramboka yang langsung memotong perkataan laki-laki Vampire muda.
Dengan ragu dan gugup laki-laki Vampire muda itupun menjawab.
"Saya, lagi kesal dan saya hanya iseng melempar lempar pedang ini, karena saya selalu saja kalah dalam bertanding tidak pernah memiliki kemajuan sama sekali, saya sangat bodoh bahkan saya menjadi prajurit yang paling bodoh di kerajaan istana Awang Awang Vampire ini." ucap laki-laki Vampire muda itu dengan lesu.
"Kau ingin maju...dan bisa bertanding dengan hebat?'
"Iya, patih!"
"Apa kau mau aku mengajarimu."
"Apa, patih serius."
"Tentu saja, bagaimana?"
"Aku mau sekali, kapan aku bisa menjadi muridmu patih.'
Patih Ramboka tersenyum miring.
"Besok kau bisa mulai."
Mendengar perkataan itu laki-laki bangsa Vampire langsung berlutut dihadapan patih Ramboka sebelum dia pergi dengan hati gembira.
Patih Ramboka Tersenyum miring.
"Aku akan hasut dan ambil satu persatu prajurit kerajaan Istana Awang Awang Vampire dan jika tiba saatnya aku akan melakukan pemberontakan pada Raja Awang Awang Vampire yang sangat menyebalkan dimana semua gadis dan wanita yang ku inginkan dia nikahi dasar Raja Serakah."
Ketika Patih Ramboka sibuk mengunpat dan marah marah Sendiri, tak sengaja Netra hitamnya melihat sekelebat bayangan masuk ke dalam Puri kamar istana kerajaan milik Pangeran Yervan.
"Kurang ajar...! rupanya dia datang menengok putraku, ini tidak bisa kubiarkan, Pangeran Yervan adalah putraku dan akulah yang berhak atas dirinya aku akan usir Raja sialan itu agar tidak dekat dekat dengan putraku."