The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.162.BINGUNG



Di tengah lautan samudera X , tampak patih lembu ireng dan Rumi Xo jelmaan Naga Betina putih berada di tengah laut kedua kaki yang menyentuh air tak membuat keduanya tenggelam, itu karena keduanya memiliki kekuatan.


"Di sini!" Jika kau mampu memyelam sedalam 500 meter dari permukaan laut maka kau akan bisa melihat istana kami."


"Baik, apakah aku bisa meminta bantuan mu lagi?"


"Katakan, apa lagi yang ingin kamu ketahui."


"Di istana Naga mutiara hijau itu kan tidak penting dan tidak memiliki manfaat apapun juga karena mutiara itu milik kami bangsa Vampire, tolong kamu kasih tau pada teman kamu di bawah sana apakah ada di Antara kalian yang pernah melihat mutiara hijau atau mungkin menemukan nya dan jika ada yang menemukan nya tolong kembalikan pada kami percaya lah kami akan memberikan imbalan yang cukup besar bahkan ada yang boleh meminta sesuatu dari kami dan kami pasti akan mengabulkan."


"Cukup menarik, baiklah aku pergi dulu jika aku ke daratan aku akan mencari dan menemuimu."


"Silahkan..!" ucap patih lembu ireng memberikan jawaban, Rumi Xo merubah wujud nya dari manusia kembali menjadi Naga Betina putih sebelum dia masuk dasar lautan. Dalam hitungan menit Rumi Xo sudah menjadi seekor Naga putih yang kemudian dengan cepat melesat ke dasar laut, kini tinggallah Patih lembu ireng yang kemudian kembali juga kedaratan dan mencari keberadaan pangeran Tatius.


Ketika pangeran Tatius membawa Bibi Derbah terbang bersama nya untuk menghindari sang gadis aneh, Bibi Derbah berseru.


"Stop ..! stop..! Pangeran Berhenti dulu."


"Ada, apa Bibi!"


"Kita berhenti dulu aku seperti melihat sesuatu yang mencurigakan."


"Baiklah, kita berhenti di situ."


Dengan gerakan cepat pangeran Tatius menghentikan terbangnya.


"Katakan ada apa Bibi?"kenapa tiba-tiba kau minta berhenti."tanya pangeran Tatius penasaran, karena tidak biasanya Bibi Derbah meminta berhenti mendadak di saat sedang terbang.


"Gadis itu!"pangeran."


"Gadis itu..!"seru pangeran Tatius menggulang perkataan dari Bibi Derbah." Gadis itu, kenapa Bibi?"


"Aku tidak yakin tapi aku melihat sekilas pangeran mata gadis itu memancarkan cahaya hijau, jangan... jangan mutiara hijau itu ada pada tubuh gadis itu?"


"Apa, Bibi yakin?"


"Tidak begitu yakin pangeran, tapi ...! tidak ada salahnya kita cek kebenaran nya, srkarang pangeran bayangkan dia bisa terbang secepat kilat apa mungkin Manusia secepat itu terbang nya bahkan dia tidak takut dengan kita para bangsa Vampire apa ini tidak aneh."


"Kau benar!"aku juga sedikit menaruh curiga padanya karena dia tidak takut sama sekali dengan wujud ku bahkan gadis itu pernah berani menyentuh wajah ku."


"Tuh...kan Pangeran, sangat mencurigakan gadis itu, kalau manusia tidak akan seagresif itu juga kali, bahkan seenaknya saja ngatain aku tua, aku kan juga masih cantik." sungut Bibi Derbah kesal, membuat pangeran Tatius terkekeh.


"Lalu sekarang bagaimana? apa rencana kita."


"Kita kembali ke tempat tadi, kita temui gadis itu, pangeran bisa mengajaknya ngobrol nanti biar aku yang mengawasi pacaran matanya benar benar memiliki cahaya hijau apa tidak."


"Baiklah, ayo Bibi..!"


Bergegas pangeran Tatius dan Bibi Derbah melesat terbang ke tempat semula di mana dia berdebat dengan gadis aneh di pos kampling penduduk warga. Tidak menunggu lama Pangeran Tatius dan Bibi Derbah sudah sampai di tempat tujuan yaitu di pos kampling, akan tetapi Pangeran Tatius dan Bibi Derbah tidak menemukan gadis itu di sana.


"Pangeran...!" dia sudah pergi."


"Kita cari Bibi pasti masih ada di sekitar perkampungan ini."


Di belahan dunia lain di sebuah gubuk kecil tampak seorang laki-laki paruh baya yang tidak begitu tua sedang berbincang dengan seorang laki-laki tua yang rambutnya sudah berwarna putih dan panjang, sosok kakek tua dengan rambut dan jenggot yang panjang sedang menatap tajam pada laki-laki paruh baya yang ada di depannya.


"Ada apa kau datang menemuiku di sini."


"Aku, sangat takut dengan masa depan putri ku, kini semua nya sudah jelas Abah, putri ku berpacaran dengan mahkluk asing, dia tidak tau jika di rumah sudah ku pasang CCTV dan lihat Abah.... lihat Vidio ini mereka begitu mesra dan Araaaaaagggghhhh...!" laki-laki tua paruh baya yang tak lain Ayah dari Tania mengusap wajahnya dengan kasar."Aku bingung, aku harus bagaimana aku berpura-pura tidak menggetahui sedangkan hatiku sangat tersiksa...Abah...!"Tolong lah putri ku, jauhkan dia dengan mahkluk itu sungguh aku tidak rela putri ku akan jadi bagian dari mahkluk menggeraikan itu."Keluh Ayah Tania pada seorang laki-laki tua.


"Bukankah, aku sudah pernah memberikan jalan keluar nya, apakah kau tidak melakukan itu?"


"Sudah, Abah...aku sudah menjodohkan putriku, tapi mahkluk itu sering datang diam diam ke rumah kami dan sepertinya mahkluk itu tidak perduli jika Putri ku sudah ku jodoh kan."


"Itu artinya mahkluk itu sangat Nekad dan seperti nya dia benar benar mencintai putri mu."


"Abah, ayo lah ....jangan semakin membuat ku binggung aku harus bagaimana? Tolong kasih jalan yang bisa membuat mahkluk itu tidak berani mengagggu dan datang lagi pada putri ku."


Laki-laki tua berambut putih dan panjang sebahu itu pun bangkit berdiri, pandangan matanya menerawang jauh menatap langit.


"Hanya ada satu jalan, tapi jalan ini pasti sangat memberatkan putri mu, karena dia masih belum tergolong Dewasa."


"Katakan...!"katakan Abah...!" apapun akan kulakukan demi bisa menjauhkan putri ku dengan mahkluk itu."


"Nikahkan dia secepatnya, karena jika sudah ada ikatan, kemungkinan mahkluk itu tidak akan berani mengagggu lagi,"


"Abah...!" apakah harus secepat itu, putri ku masih kecil dia masih anak anak."


"Aku hanya bisa memberi jalan seperti itu, jika kamu memang benar benar mau menjauh kan Putri mu dengan mahkluk itu."


"Baiklah, Abah !" trimakasih aku permisi dulu mungkin memang ini yang terbaik karena aku tidak mau putri ku bersama dengan mahkluk yang bukan manusia, kalau begitu saya permisi dulu Abah, aku akan pikirkan saran Abah."


laki-laki paruh baya itu pun bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu.


"Tunggu..!'seru Abah yang kemudian menghentikan langkah kaki Ayah Tania, laki-laki tua itu berjalan mendekati Ayah Tania, wajahnya yang tenang tersenyum ramah pada Ayah Tania seraya menepuk nepuk bahu Ayah Tania.


"Sebagai orang tua aku dapat memahami kecemasan mu, tapi satu hal yang tak kan bisa di tentang manusia yaitu suratan takdir jika memang garis hidup putri mu memang harus bersama dengan mahkluk itu kamu harus bisa ihklas dan menerima semuanya."


"Abah...aku akan ihklas dengan apapun kehidupan putri ku, tapi hidup bersama mahkluk yang menggeraikan itu, tidak... sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkannya."


"Arman. ..!"kau masih sangat emosi dan hatimau masih di balut kekesalan tenangkan dirimu jangan menggambil satu keputusan disaat kamu sedang marah, karena hasilnya pasti akan sangat tidak baik bahkan bisa menjadi penyesalan."


"Aku mengerti, Abah!" akan aku pikirkan karena aku ingin yang terbaik untuk putri ku,"


"Aku bisa memahami perasaan mu, smoga kamu tidak salah dalam mengambil keputusan.'


"Iya, Abah..!" kalau begitu saya permisi dulu."


"Silahkan..!"


Setelah kepergian Ayah Tania laki-laki tua berambut putih itupun masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu.


"Smoga yang ku pikirkan tentang dua insan yang berbeda itu tidak benar."lirih laki-laki tua berambut putih dan panjang.