
Sangat bersemangat itulah yang dilakukan pangeran Tatius ketika menggikuti Ayah Tania untuk mengerjakan Sholat.
Sementara di kerajaan Awang Awang Awang, Ratu Shima berteriak histeris dan panik ketika masuk ke dalam kamar pangeran Tatius tidak ada di tempat.
"Raja ...! Raja...!cepat ke sini."
Mendengar Ratu Shima berteriak dengan sangat keras Raja Awang Awang Vampire yang kala itu sedang beristirahat terkejut dan bergegas berlari menemui Ratu Shima.
"Ada apa Ratu, kenapa kau berteriak teriak."
"Gawat, Raja! gawat....!
"Ada apa? bicara yang jelas."
Raja Awang-awang Vampire juga ikut berdebar debar binggung apa yang di anggap gawat, Raja Awang-awang Vampire tidak pernah melihat istrinya berteriak ketakutan dan sepanik ini pasti terjadi sesuatu yang sangat buruk.
"Pangeran Tatius tidak ada di dalam kamar nya ."
"Apa? tidak ada apa kau yakin, mungkin dia pergi ke Rumah Kekasih nya itu."
"Raja apa kau lupa Kekasih Tatius kan sudah Tiada untuk apa kesana, mana mungkin juga Tatius akan menemui dan menemani Ayahnya Tania itu tidak mungkin mustahil."
Ratu Shima mengibas ngibaskan baju kebesaran nya dengan sesekali memandang langit.
"Lalu kemana?"
"Raja..! kalau aku tau sudah pasti aku tidak panik begini, Raja putramu sangat mencintai gadis manusia itu aku khawatir jangan-jangan.....
Ratu Shima tidak melanjutkan ucapannya tapi lagi-lagi kedua bola matanya menatap tajam ke arah langit. Raja Awang-awang Vampire mengeryitkan dahinya Melihat wajah istri nya yang selalu menatap ke langit.
"Jangan-jangan apa, jangan bikin orang khawatir saja, Ratu..!
"Pangeran Tatius ke sana...!
Ratu Shima mengarahkan jari telunjuk nya ke atas langit.
"Ngapain terbang ke sana?
"Buk, terbang, Raja aku khawatir pangeran Tatius mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri biar sampai ke sana."
"Huuuuussst...! berfikir itu yang positif jangan negatif begitu, tidak mungkin putraku berbuat begitu."
"Tapi buktinya dia tidak ada Raja, "
"Sudahlah kita tunggu sampai tiga hari ke depan kalau masih tidak ada kita akan pikirkan rencana selanjutnya."
Selimut kabut duka masih menggantung di bumi kerajaan Awang Awang Vampire, semua resah memikirkan di mana keberadaan Pangeran Tatius, hari ke tiga untuk menanti kedatangan dan kepulangan pangeran Tatius sudah tiba, akan tetapi pangeran Tatius tak jua muncul membuat semua orang menjadi panik dan khawatir.
Ratu Shima sudah tidak bisa lagi menahan keresahan hatinnya dia kembali pergi ke istana kepribadian Raja guna membahas tentang pangeran Tatius yang tak kunjung tiba.
Kedua penjaga pintu gerbang Puri istana kepribadian Raja segera memberikan salam hormat ketiika Ratu Shima berjalan ke arahnya.
"Apa, Raja ada di dalam...?"
"Ada, Ratu, mari silahkan masuk."
Ratu Shima berjalan dengan sangat terburu-buru dan ketika melihat Raja justru lagi bersenda gurau dengan Ratu Derbah, darah Ratu Shima mulai terbakar.
"Pok...!
"Pok....!
"Pok....!
Sebuah tepuk tangan yang di lakukan Ratu Shima. Sontak saja hal itu membuat Ratu Derbah dan Raja Awang-awang Vampire menoleh.
Melihat istri pertama nya yang datang dengan wajah merah padam, Raja segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Ratu Shima.
"Ratu...!
"Jangan sentuh aku, sekarang katakan apa keputusan mu, putramu sampai sekarang masih belum pulang dan apa keputusan mu hari ini, aku pikir kau juga akan panik dan khawatir tapi ternyata justru lagi bersenang-senang di sini."
"Ratu, jangan berbicara begitu, kami hanya membicarakan pelaksanaan pernikahan pangeran Yervan di mana sekarang cinta pangeran Yervan pada....
"Stop ...! aku tidak peduli itu, aku hanya ingin tau apa keputusan mu sekarang."
"Aku masih belum tau Ratu,"
"Baiklah jika kau tak mampu dan tak mau mencari biar aku meminta bantuan pada Raja Sangkala."
Setelah mengucapkan itu Ratu Shima bergegas pergi meninggalkan Raja dan Ratu Derbah.
"Ratu, tunggu!
Ratu Shima tidak mengindahkan panggilan dari Raja dia terus melangkah menuju puri Istana kepribadiannya.
"Maaf, Ratu Derbah pembicaraan kita lanjut lain kali saja aku harus mengejar Ratu Shima agar tidak nekad."
"Baik, Raja aku mengerti."
Di dalam Puri istana kepribadian nya Ratu Shima melepaskan baju kebesaran nya menganti dengan baju santai ketika semua sudah dirasa beres Ratu Shima segera melangkah ke pintu, tapi di depan pintu Raja sudah berdiri menghadang.
"Ratu, kau mau kemana mengapa kau memakai baju seperti ini."
"Aku akan mencari putraku aku akan meminta bantuan pada Ayah, Raja Sangkala, bukankah aku meminta bantuan mu kau tidak bisa." ucap Ratu Shima dengan nada sinis, masih terbayang betapa tak khawatir suami nya pada putra tunggal nya hingga bisa bersenda gurau dikala situasi sedang tidak baik.
Raja menelan ludahnya dengan kasar, dia mengerti betapa istri pertama nya kini sedang marah.
"Ratu, jangan emosi dulu mari kita bicarakan baik-baik, kau tau jika Raja Sangkala tau beliau akan panik dan murka dan....
"Aku tidak perduli, aku mau secepatnya putraku Kembali."
"Bersabarlah, pasti pangeran Tatius akan kembali aku rasa dia hanya mencari ketenangan saja jadi berikan dia waktu."
"Tapi, mau sampai kapan?" sudahlah, aku tidak mau membuang buang waktu karena aku ingin cepat tau di mana putraku sekarang sebelum semuanya terlambat."
"Baiklah, aku akan ikut dengan Ratu."
"Apa, Raja serius..!"
"Tentu saja!
"Kau tidak takut bagaimana jika Raja Sangkalah murka padamu."
"Ada kamu di sisiku apa yang harus aku takutkan, ayo kita berangkat bersama."
Dengan senyum mengembang di bibir Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire akhirnya pergi meninggalkan kerajaan istana Awang Awang Vampire menuju kerajaan Sangkala.
Tanpa membawa pasukan Raja hanya berpesan pada panglima besar kerajaan awang-awang Vampir untuk menjaga kerajaan nya selama Raja dan Ratu Shima pergi.
**********
Di tempat lain jauh dari hiruk-piuk perkotaan di dunia manusia tampak seorang pemuda tengah berlutut di bawah panasnya terik matahari, tubuhnya terkadang terkena panas terkadang air hujan yang dingin.
Meskipun di ingatan pemuda itu tetap tidak bergeming dari tempatnya, pada awalnya wanita paruh baya itu mengira jika pemuda itu akan lelah dan berhenti sendiri dengan segala kekonyolan nya, tapi ternyata dugaan nya salah Pemuda itu tetap kekeh dengan pendiriannya hingga memasuki hari ke tiga, iba dan bersimpati itulah yang membuat wanita paruh baya akhirnya menyetujui permintaan sang pemuda, sedikit penasaran dan bertanya tanya dalam hati siapa gadis yang di perjuangkan nya sampai dia rela berlutut di bawah terik matahari,di bawah guyuran hujan di bawah terpaan angin yang dingin kala malam tiba.
khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada pemuda itu akhirnya sosok wanita paruh baya itupun menghentikan nya.
"Cukup..!"baiklah aku akan membantu mu, tapi aku tidak bisa berjanji jika aku bisa dan berhasil."
Dengan wajah ceria pemuda itupun segera berlutut mengucapkan rasa terima kasih, dengan senyum dibibir, sangat terlihat pancaran kebahagiaan dalam dirinya.
"Trimakasih, Nek;"
"Ayo, ikut aku..!
"Buka, pintu nya."
Pemuda itu diam tak mengerti bagaimana bisa membuka pintu, handel untuk pintu nya saja tidak ada, di depan nya hanya ada sebuah bangunan berdinding tanpa pintu.
"Nek, apa kau sedang bercanda bagaimana aku bisa membuka pintu nya sedangkan di sini tidak ada apa-apa."
"Letakkan tanganmu pada dinding bergaris dengan tiga warna, tahan nafas sebentar, lakukan pasti pintu itu akan terbuka."
Pemuda itu menuruti apa yang di perintahkan sang wanita paruh baya yang di panggil nya dengan sebutan Nenek.
Tak lama kemudian apa yang di katakan sang Nenek ternyata benar, perlahan lahan dinding itupun bergerak terbuka.
"Masuklah lurus ke dalam, di sana akan kau temukan kolam kecil berendam lah selama tiga jam setelah selesai keluar lah dan bawalah kesini orang yang ingin minta kau sembuh kan.
Pemuda itu menggikuti semua saran dan anjuran yang di minta sang Nenek, setelah tiga jam berendam pemuda itu bergegas pergi ke dalam rumah besar yang tidak memiliki satupun tetangga, rumah yang sangat luas dan cukup berkharisma.
Dengan mengunakan tangan nya yang kekar dan kuat pemuda itu mengedong seorang gadis dan membawanya masuk ke dalam rumah yang seluruh bangunan nya berdinding rata.
"Letakkan dia di atas Ranjang, hidupkan semua mesin penghangat ruangan, jangan sampai tubuh nya dingin dan kenapa wajahnya kamu tutupi kain begitu buka saja biar aliran hangat dalam ruangan juga bisa mudah masuk ke dalam tubuhnya."
"Tapi, Nek! bukankah meskipun di tutup kain tipis juga bisa tidak akan mempengaruhi keadaan."
"Buka saja biar mudah."
"Tapi, Nek!
Wanita paruh baya menatap dengan intens pada Pemuda yang ada di depannya.
"Jika kau tidak mau akupun tidak mau membantu."
"Nenek, jangan begitu, baiklah."
Perlahan-lahan pemuda itu membuka kain tipis yang digunakan untuk menutupi wajah gadis yang di bawahnya.
Ketika kain tipis itu mulai terbuka , wajah sang Nenek yang tadinya datar langsung berubah kedua bola matanya membulat seketika.
"Tania....! kenapa dia bisa seperti ini dan kenapa kamu tidak bilang sejak awal jika gadis yang ingin kamu mintakan tolong itu Tania."
"Aku takut, Nenek marah."
"Dasar, bodoh..! hampir tiga hari dia kau biarkan begitu, bodoh cepat. .atur suhu hangat paling tinggi, kau benar benar gila Devan...!
"Nek, aku ...
"Sudah kita tidak punya banyak waktu....cepat ambil bunga Tunjung biru, di bawah Sumur mati lima menit harus sampai di sini cepat...!
"Baik, Nek!
Secepat kilat Devan berlari pergi.
"Bertahanlah Tania, tunggu sebentar lagi, kakinya mulai dingin, tidak boleh sampai dingin,ayo menghangat."
Sang Nenek menggosok gosok kaki Tania hingga kaki yang tadinya dingin sedikit demi sedikit mulai menghangat.
"Nek, ini harus aku apakan."
"Rebus sebentar hangat kuku minumkan."
Devan dengan cekatan merebus bunga Tunjung biru kemudian meniup berkali-kali agar aura panas nya hilang dan berubah menjadi hangat.
"Tania tidak bisa menelan bagaimana ini Nek?
"Sini biar aku yang minumkan."
Devan memperhatikan sang Nenek yang dengan telaten membantu Tania untuk minum air rebusan bunga Tunjung biru.
"Sekarang rendahkan suhu penghangat nya tidak perlu lagi terlalu panas, ramuan bunga Tunjung biru yang masuk ke dalam perut nya akan menetralkan kehangatan dalam tubuhnya, dan itu di perut Tania kenapa ada perban."
"Dia terkena luka tembak."
"Buka perbannya, biar ku berikan obat, kamu keluarlah jangan masuk sebelum aku memanggil mu, apa kau mengerti."
"Iya, Nek!
"cepat Keluar."
Buru-buru Devan keluar dia tau pasti Neneknya akan melakukan pengobatan dengan mantra gaib.
Di dalam kamar Sang Nenek melangkah mengitari tubuh Tania yang tadinya di letakkan di atas Ranjang kini di letakkan di atas lantai beralas tikar.
"Selama ini aku tidak pernah menggunakan kekuatan ini untuk melakukan apapun tapi hari ini aku akan menggunakan nya, gadis ini sebenarnya sedang mati suri, jika tidak segera dilakukan pemanggilan Roh, dia bisa mati untuk selamanya dan kasian Devan kelihatan nya dia benar-benar mencintai gadis ini aku akan bantu."
Sang Nenek duduk bersila sambil merapfal mantra, tak lama kemudian asap tebal keluar dari dalam tubuh sang Nenek diikuti dengan warna kuning bercahaya keluar dari mulut nya.
Itu lah Roh Nenek yang keluar dari raganya , roh itu terus melayang keluar melalui jendela dan naik ke atas langit yang akhirnya menghilang.
"Di mana aku? kenapa di sini begitu sepi tidak ada apapun, tapi di depan itu, terlihat begitu indah dan menakjubkan aku harus ke sana."
"Tania.... tunggu, berhenti Tania....!"
"Ada yang memanggil ku, siapa, bukankah tadi tidak ada siapapun jangan jangan aku lagi berhalusinasi, biarkan sajalah kalau begitu aku ingin melihat keindahan yang ada di depan sana."
"Tania, berhenti...!
"Siapa sih dari tadi memanggil terus."
Dengan gerakan refleks Tania membalikkan badannya.
"Nenek....! kenapa Nenek di sini!
"Tania, ayo pulang."
"Nek, aku mau melihat keindahan di depan sana apa Nenek mau ikut."
"Tidak... tidak, kita harus pulang ayo, pegang tanganku,"
"Tapi Nek, di depan bagus sangat sayang jika kita tidak, melihat dan menikmati nya."
"Tidak boleh, kamu harus pulang, "
"Tapi Nek!"
"Tidak ada tapi Tania ayo cepat pegang tanganku kita pulang."
"Tapi, Nek tempat di depan itu sangat indah dan sudah sangat dekat sayang kalau aku tidak melihat nya."
"Gawat..., Tania sudah terpengaruh dengan keadaan alam Maya jika dibiarkan dua tidak akan bisa kembali ke alam manusia dan itu artinya Tania benar benar akan mati, tidak ini tidak boleh terjadi, kasian Devan dia begitu mengginginkan Gadis ini bisa selamat." Sang Nenek Sibuk bermonolog sendiri, tiba-tiba terlintas satu ide, karena tubuh Tania yang terus berjalan mendekati alam pembatas jika sampai terlewati sudah di pastikan Tania tidak bisa kembali ke Alam manusia dan itu artinya dia mati.
"Aduuuh, Tania tolong, kaki Nenek sakit sekali, tolong Nenek...!"
Mendengar permintaan tolong Tania segera menoleh ke belakang dan tanpa sadar berlari mendekati sang Nenek yang sedang berpura-pura kesakitan.
Melihat Tania berjalan mendekati, dengan cepat Sang Nenek merafalkan mantra gaib untuk menggikat Roh Tania agar tidak mengembara lagi.
"Hoop....!Sang Nenek melompat dan memegang kuat tangan Tania."
"Nek, lepaskan sakit..!
Sang Nenek tidak memperdulikan teriakan Tania dan tidak bicara apapun, setelah menangkap tangan Tania tubuh keduanya sedikit demi sedikit berubah menjadi gumpalan cahaya berwarna kuning.
Sementara Devan yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sang Nenek mengintip dari lobaang kunci, ketika netranya melihat dua buah cahaya berwarna kuning yang satu masuk ke dalam tubuh sang Nenek dan yang satunya masuk ke dalam tubuh Tania, senyum kebahagiaan tersungging dari bibir nya.
"Akhirnya aku akan bisa melihat senyummu lagi," lirih Devan dengan mata berkaca-kaca penuh ada rasa haru dan bahagia yang tak bisa di lukis kan dengan kata-kata.