
Pak guru wili yang terkejut, bergumam dalam hati,
apa aku tidak salah lihat , pak guru wili mengerjap ngerjap kan matanya dia kembali
mendekati tempat Tania di baringkan.
Cahaya yang menyilaukan mata itu sangat terang sehingga ruangan yang gelap, karena lampu yang padam seolah olah lampunya sudah menyala.
Diperhatikan nya dengan seksama, asal munculnya, Cahaya yang menyilaukan itu.
Pak guru Wili tidak menemukan dan tidak melihat apapun yang bisa menimbulkan Cahaya, cuma lengan tangan Tania yang terbungkus perban sedikit terbuka, karena penasaran Kenapa Tangan Tania di bungkus perban, pak guru Wili dengan pelan pelan membukanya, dia ingin tau luka seperti apa yang ada di tangan Tania dan mengapa bisa
menimbulkan cahaya yang terang.
Ketika hampir semua perban yang menutupi luka di tangan Tania terbuka, pak guru Wili
sedikit kebinggungan.
"Tidak ada luka apapun disini, kenapa tangannya harus di kasih perban dan cahaya itu sudah tidak lagi, tapi tadi cahaya itu benar benar berasal dari sini, kenapa tiba tiba menghilang ini sangat aneh.
lebih aneh lagi, tangan tidak ada luka kok di perban, aku tau pasti ini Tania lagi berbohong agar Ayahnya bersimpati dan tidak memarahi nya makanya pura pura tangannya terluka dasar anak yang cerdas bikin gemas orang saja,"Gumam pak wili dalam hati sambil tersenyum.
Karena ruangan kembali gelap dan lampu Belum menyala, pak guru Wili segera menyalakan lilin.
Ditaruhnya lilin itu di dekat Tania pingsan.
"Sebelum Tania sadar dari pingsannya, aku harus menutup kembali perban itu, agar Tania tidak tau kalau aku sudah mengetahui kebohongan nya.
Dengan sangat hati hati pak guru Wili kembali
menutup luka perban yang tadi terbuka, namun
ketika pada ujung penutup terakhir mata pak Guru Wili teetuju pada sebuah goresan kecil
yang hampir sudah tidak terlihat sama sekali.
Dengan perlahan pak guru Wili mengarahkan
lilin kedekat tangan Tania agar bisa lebih jelas
melihat nya.
"Ini goresan membetuk sebuah nama, tapi tidak jelas apa nama itu, hanya terlihat huruf depan
berinisial T, aneh sekali siapa yang dulunya berbuat jahat pada gadis ini, sehingga tega melukai tangannya dengan mengukir sebuah
nama.
Pak guru Wili menarik nafasnya dalam dalam dan membuangnya dengan perlahan.
Ketika matanya melihat Tania mulai mengeliat
dengan cepat, pak guru Wili merapatkan kembali penutup perban yang tadinya dia buka.
"Aku dimana ?"
"Tania, kamu sudah sadar,"
Tania yang mulai sadar dari pingsannya mencoba untuk duduk.
Pak Guru Wili dengan mendekati Tania dan hendak membantu Tania duduk, namun
di larang oleh Tania.
"Jangan coba coba mendekatiku,"
Cegah Tania dengan suara yang lantang, wajah menerah dan dengan tatapan yang tajam.
" Aku tidak menyangka kau seorang guru, yang aku hormati tega berbuat tidak sopan kepadaku, kamu pikir aku Wanita apa?"
Seenaknya saja kau.... Tania tidak melanjutkan kata-katanya, matanya mulai berkaca-kaca
dia merasa malu dan merasa harga dirinya direndahkan oleh guru di depannya yang sudah tidak sopan berani menindihnya.
Dengan mata yang sembab Tania bangkit dan berlari ke pintu.
Pak guru Wili yang menyadari kemarahan Tania karena ulahnya yang tanpa ijin menindih gadis
itu, wajahnya menjadi sayu penuh penyesalan.
Di kejar dan di raihnya tangan Tania.
"Tunggu...!Aku minta maaf, aku bisa jelaskan semuanya, percayalah aku tidak bermaksud buruk padamu aku....
"Cukup..!'
aku tidak mau mendengar alasan apapun, aku mau pulang buka pintunya?
Printah Tania dengan suara yang kasar dan keras.
"Tania..., Dengar kan penjelasan ku, sebentar saja,"
"Buka, pintunya, cepat !"
Dengan tergesa gesa pak guru Wili membuka kannya, dia tau Tania saat ini tidak akan bisa di ajak bicara baik baik apalagi untuk mendengarkan penjelasan, untuk itu pak guru Wili memilih diam dan menggalah, hatinya sangat remuk dan hancur ketika melihat gadis yang sangat dia cintai kini sangat membencinya.
Dengan suara yang serak dan penuh dengan rasa ketakutan pak guru Wili menawarkan diri,
pak guru Wili sangat takut jika tiba tiba Tania tak mau lagi bicara dengan nya.
"Aku antar pulang, ya ?"
Ucap pak guru wili pelan, dan dengan menunduk penuh penyesalan.
Tania yang sudah di kuasai oleh emosi, tidak sekalipun menjawab, melihat pintu sudah terbuka Tania segera berlari keluar tidak menghiraukan teriakan dan panggilan pak guru
Wili.
melihat gadis yang diam diam dicintainya, berlari pak guru Wili pun menggikuti berlari di belakang nya.
****
Di rumah, Ayah Tania Sangat kebinggungan tidak mendapati putrinya di rumah.
Dengan berlari lari kecil sang Ayah pun mencari dan memanggil manggil Nama Tania.
Dari arah yang berlawanan, Devan yang baru pulang dari rumah Nenek nya melihat Ayah
Tania yang berlari lari kecil dan rasa penasaran
Devan pun melajukan mobilnya mendekati Ayah Tania.
"Om, kenapa berlari lari, ada apa Om?"
"Nak, Devan, melihat Tania apa tidak?"
"Tidak, Om !kenapa Om.... begitu tegang dan khawatir ada apa?"
"Kita, bicara di kursi taman itu,"
Devan menggikuti langkah kaki Ayahnya Tania,
sambil menuntun motor, karena tempat yang di tunjukkan Ayah Tania, hanya berjarak
sembilan meter dari tempat mereka berdiri.
Devan duduk manis siap mendengar kan penjelasan dari Ayah Tania.
"Ini, hari yang buruk buat Tania, luka itu akan bekerja dan menunjuk kan kekuatan nya ketika
pukul 12.00, aku tidak tau apa yang akan terjadi dengan Tania, kita harus bisa cepat menemukan nya, tapi ini sudah terlambat kekuatan itu pasti sudah bekerja dan menguasai tubuh putriku, mungkin saat ini Tania lagi pingsan entah dimana sama seperti ketika dia masih kanak kanak dulu,"
"Om.., apakah sedahsyat itu pengaruhnya?"
Ayah, tania mengagguk sedih.
"Om..."apa tidak ada cara lain, agar Tania tidak
terikat dengan kekuatan itu?"
"Om, tidak tau karena dukun, peramal itu tidak
menjelaskan lebih jauh,"
"kasian Tania,"
Devan menarik nafas panjang dan menghem
buskannya dengan perlahan.
"Sekarang, kita harus bagaimana om?"
"Kita cari, aku takut Tania pingsan di sembarang tempat,"
"Baik Om,"
Kita cari bersama, dengan menggunakan motorku ini,"
****
Tania yang berlari dan terus berlari akhirnya sampai di depan Rumah nya, dengan menggunakan kunci cadangan, Tania membuka pintu Rumah nya dan menutupnya dengan keras.
Sementara Pak Guru Wili, yang juga ikut berlari
di belakangnya juga sudah sampai di depan pintu rumah Tania.
diketuknya pintu itu, berharap Tania keluar dan mau berbicara dengan nya.
Namun harapan nya sia sia, sedikit pun Tania tak mau membuka kan pintu, jangan kan
membuka kan pintu, menjawab seruan dari pak guru Wili pun tidak mau.
Pak guru Wili jatuh terduduk di depan pintu rumah Tania, hatinya begitu hancur dan sedih ada rasa sesal yang tiba tiba menyeruak kedalam kalbunya.