
Tatapan mata pak guru Will yang tajam tak lepas dari pandangan mata pangeran Tatius yang masih tersenyum dengan tenang.
Pak guru Wili tersenyum miring sambil melangkah mundur satu langkah untuk membuat kuda kuda tatapan matanya lurus ke depan menatap Pangeran Tatius dan kedua tangannya menyilang di depan dada.
Rasa geram yang membuat nya tersulut emosi membuat Pak Guru Wili tidak sabar lagi untuk segera melumpuhkan lawan nya, kebencian nya yang sudah sejak lama dia pendam kini semua akan terbayarkan, dengan tersenyum miring pak guru Wili mempersilahkan pangeran Tatius untuk maju lebih dulu, pak guru Wili sangat yakin dia akan mampu mengatasi mahkluk Vampire yang sudah berubah menjadi manusia ini dengan mudah.
Semua akan sama dengan yang sudah sudah di mana para mahluk itu akan berakhir di dalam jeruji besi kurungan botol ajaib nya, melalui pintu gaib, dari sapu tangan berwarna hijau berlapis kuning keemasan berbentuk segitiga dan bermata mutiara merah delima yang pernah dia lakukan untuk menggurung sang Naga jadi jadian yang ada di Vila ketiika sedang bersama dengan Tania, jadi Ini bukanlah yang pertama kali nya pak guru Wili akan berhadapan dengan mahkluk asing selain manusia dan sudah berkali-kali pak guru Wili selalu menang dan mampu mengurung para mahkluk asing itu yang mana semua mahkluk asing itu di sebut dengan makhluk berbau busuk.
"Majulah...dan silahkan pilih mau bertarung di udara atau di atas tanah." tawar pak guru Wili pada pangeran Tatius yang mana masih tetap tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Dengan senyum tersungging di bibir dan dengan sikap yang sangat tenang pangeran Tatius tersenyum miring
"Aku ikuti semua yang kau mau jadi silahkan pak guru yang tentukan mau di mana kita berduel."sambil meyibakkan sedikit anak rambut nya yang tertepa angin.
Pak guru Wili menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sangat kasar, dia terlihat sangat kesal dan geram akan kesombongan yang di pamerkan pangeran Tatius kepadanya, kemarahan dan kebencian nya yang sudah lama terpendam kini akan terbalaskan, pak guru Wili tersenyum menyeringai.
"Baiklah, sekarang trimalah seranganku ini"
Pak guru Wili mulai melakukan penyerangan pada pangeran Tatius dengan menggunakan tangan kosong, pangeran Tatius pun meladeni serangan dari pak guru wili, berkali-kali adu jotos dengan pukulan tangan kosong masih terus berlangsung di mana tangan dan kaki pak guru Will menyerang dan menendang musuh yang ada, pertarungan dengan tangan kosong tak mampu membuat salah satu diantara mereka roboh dan terjatuh, sebagai guru matematika yang selalu memperhitungkan kurang dan lebih, plus dan mines maka pak guru Wili memutuskan untuk tidak terlalu lama dalam bermain main. Dengan gerakan secepat kilat pak guru wili melompat membumbung tinggi melompati tubuh pangeran Tatius dan dengan gerakan yang sangat cepat satu kaki pak guru Will menendang punggung bagian belakang pangeran Tatius setelah melakukan lompatan tinggi, pangeran Tatius yang tidak menyadari akan adanya serangan dari belakang dengan tiba-tiba membuat pangeran Tatius jatuh tersungkur mencium tanah dan ketiika pangeran Tatius hendak bangkit dari terjatuhnya dengan tiba-tiba pula sebuah tangan dengan kekuatan tenaga dalam yang tinggi meraih Krah belakang Pangeran Tatius hingga membuat pangeran Tatius bangkit dari terjatuhnya dan dengan gerakan cepat pula Pak Guru Wili memutar tubuh pangeran Tatius seperti putaran gangsing yang dalam hitungan detik berikutnya pak guru Wili memberikan tendangan samping hingga pangeran Tatius kembali terjatuh ke tanah, emosi, amarah dan kebencian yang sudah menguasai pak guru Wili membuat nya tak sedikit pun memberikan kesempatan kepada pangeran Tatius untuk membela diri serangan yang tak terduga berkali kali pak guru Wili lakukan hingga membuat pangeran Tatius harus kewalahan dalam menghadapi karena setiap serangan yang diluncurkan pak guru wili tidak mampu terdikteksi dari ketajaman instingnya, sangat aneh dan mengherankan baru kali ini pangeran Tatius bertemu dengan lawan yang mampu menangkal insting dari pangeran Tatius.
Pak guru Wili tersenyum menyeringai mana kala melihat wajah tampan di depannya mulai ada bengkak dan luka dari sudut bibirnya.
"Ini baru permulaan mahkluk busuk, Sebentar lagi kau akan menerima yang lebih parah dari pada ini."Desis pak guru Will dengan senyuman puas melihat pangeran Tatius yang terluka.
Pangeran Tatius menyeka bibirnya yang berdarah, dia berusaha tetap tenang dan tetap memberikan senyuman pada pak guru Wili.
"Cukup hebat, kemampuannya aku harus lebih berhati-hati." gumam pangeran Tatius yang kini mulai waspada dengan segala serangan yang akan di berikan pak guru Wili dan dengan perlahan lahan pangeran Tatius berniat bangkit dari terjatuhnya akan tetapi lagi lagi serangan kaki dari pak guru Wili datang yang sengaja menyerang ke bagian wajah pangeran Tatius tapi dengan sigap kaki yang hendak menyentuh wajah dari Pangeran Tatius di tangkapnya dan dengan kekuatan tenaga dalam pangeran Tatius mendorong tubuh pak guru Wili hingga tubuh nya terjatuh ke tanah, pak guru Wili cukup terkesiap melihat tendangan dari pangeran Tatius yang cukup kuat hingga mampu membuat nya terjatuh, tak mau kalah pak guru Wili segera menggeluarkan sapu tangan berwarna hijau dengan berlapis kuning keemasan yang di tengahnya terdapat mutiara berwarna merah delima yang secepat kilat di bentangkan sapu tangan itu dan mutiara merah delima di arahkan ke tubuh Pangeran Tatius.
"Kembalilah kau ke wujud asalmu wahai mahkluk Vampire dan masuk lah ke dalam perangkapku."seru pak guru Wili yang kemudian mengarahkan mutiara merah delima ke arah pangeran Tatius yang sinar merahnya langsung menyambar tubuh pangeran Tatius hingga tubuh pangeran Tatius seperti tersedot, menyadari dirinya dalam bahaya pangeran Tatius segera menghentak kan kakinya ke tanah dan menimbulkan angin yang cukup kencang sehingga keseimbangan tubuh pangeran Tatius yang hendak tersedot pun bisa bertahan.
Pak guru Wili yang mulai menyadari jika pangeran Tatius bukan sembarangan mahkluk yang bisa dengan mudah dia lumpuhkan seperti mahkluk lainnya, dia mulai memasang kuda kuda untuk memberikan serangan yang berikutnya di mana sapu tangan berwarna hijau berbentuk segitiga berlapis kuning keemasan dengan mutiara merah delima di tengahnya tidak mampu menyedot pangeran Tatius maka pak guru Wili memasukan kembali sapu tangan nya, kini tangan nya berputar putar di udara dan dalam hitungan detik muncul lah besi tipis bergerigi runcing membentuk rantai yang tajam berputar putar di udara dan dalam hitungan detik seperti kecepatan cambuk yang menyambar nyambar di arahkan pada tubuh pangeran Tatius.
Awalnya pangeran Tatius bisa dengan mudah menghindar dan berkelit akan tetapi kecepatan dari besi tipis bergerigi yang membentuk rantai semakin lama semakin cepat dan semakin lama kecepatan nya semakin tidak terkendali sehingga Pangeran Tatius Menggalami kesulitan dalam menghidar dan berkelit hingga pada detik berikutnya.
"Ceeeetaaaaaaaazzzz...sreeeettt... !satu Sabetan besi bergerigi tajam itu mampu melukai tubuh pangeran Tatius hingga goresan nya mampu merobek baju dan kulit putih dari pangeran Tatius, hingga menimbulkan suara rintihan kecil dari pangeran Tatius yang bibir nya meringis menahan rasa sakit.
"Auuwwhh...!"
Pak guru Wili yang sedang di selimuti rasa marah dan cemburu membuat nya menyerang tanpa iba dengan membabi buta dan tanpa memberikan kesempatan sedikit pun pada pangeran Tatius untuk bisa memberikan serangan balik mengetahui dirinya berhasil melukai pak guru Wili mengulanginya hingga beberapa kali sabetan mampu bersarang di tubuh putih dan halus nya, kini baju Pangeran Tatius tak lagi berbentuk bahkan hampir membuat pangeran Tatius bertelanjang dada karena sabetan sabetan tajam dan runcing, Pak guru Wili yang beberapa kali bersarang di tubuhnya, Pak guru Wili tersenyum menyeringai puas melihat pangeran Tatius yang tubuhnya penuh dengan luka.
Keseimbangan pangeran Tatius pun mulai mengendur dan pada detik berikutnya.
"Bruuugh..!" pangeran Tatius terjatuh karena terlalu banyak goresan dari sabetan besi sehingga keseimbangan tubuhnya berkurang. Pak guru Wili semakin tersenyum senang dan dengan bersemangat kembali hendak menghujam kan besi bergerigi itu ke tubuh Pangeran Tatius tapi belum sampai gerigi besi itu kembali menyabet tubuh pangeran Tatius dengan cepat pangeran Tatius meraih keris yang ada di balik baju nya dan dengan kekuatan tenaga dalam di lemparkan nya keris itu mengarah pada besi bergerigi sehingga menimbulkan suara seperti pedang beradu, maka terlihat lah besi bergerigi yang terkena putaran keris dari Pangeran Tatius hancur dan patah, melihat senjata nya hancur pak guru Wili dengan emosi berusaha menangkap keris yang berputar-putar dengan cepat mematahkan besi bergerigi dan akibat dari kecerobohan nya yang ikut ikutan berusaha menangkap keris itu maka dengan kecepatan kilat keris itu menancap pada dada sebelah kanan, melihat hal itu pangeran Tatius mendelik tak percaya dan cepat cepat bangkit dari terjatuhnya.
"Croboh sekali kenapa kau ikut ikutan," desis Pangeran Tatius yang mulai duduk bersila dan memejamkan mata, dengan kekuatan tenaga dalam nya Pangeran Tatius menarik kembali keris yang menancap pada dada kanan pak guru Wili, sehingga keris yang menancap di dada kanan pak guru wili itu pun bisa lepas dan keris kembali bersarang di kerangka nya.
"Aaaaaaah...!" jeritan kecil yang keluar dari bibir pak guru Wili ketiika keris itu menancap dan di cabut dengan tenaga dalam, Pangeran Tatius bangkit berdiri meskipun dengan sedikit susah berusaha berjalan mendekati pak guru Wili yang terluka dengan darah merah yang menggalir deras, melihat pangeran Tatius berjalan tertatih mendekati pak guru Wili segera berlari pergi dan pangeran Tatius hanya menggelengkan kepalanya.
"Mau di bantu menghentikan darah yang menggalir justru pergi, aku tak mungkin mengejarmu mu badan ku juga sakit semua Aaah... sudahlah smoga kau baik-baik saja pak guru aku tidak pernah bermaksud untuk melukaimu, lebih baik aku kembali ke rumah sakit rasanya pedih semua ini badan."
Dengan kekuatan yang masih tersisa pangeran Tatius terbang melesat kembali ke tempat di mana Tania di rawat, hari yang mengguntungkan di saat ini Tania lagi sendiri dengan cepat pangeran Tatius turun dan berdiri tepat di hadapan Tania membuat Tania hampir menjerit karena terkejut.
"Tapi senang kan, jika aku yang datang."ucap pangeran Tatius sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dengan senyum malu malu Tania membuang muka agar wajah nya yang malu dan bersemu merah tidak terlihat pangeran Tatius.
"Hei ..!" kenapa membuang muka begitu, apakah tidak suka dengan kedatangan ku jika tidak suka, baiklah aku pergi dulu."
Mendengar Pangeran Tatius hendak pergi, dengan cepat Tania membalikkan badannya.
"jangan pergi..!"seru Tania khawatir ketika pangeran Tatius pergi beneran akan tetapi ketika pandangan mata mereka bertemu Tania di buat tertegun dengan keadaan tubuh pangeran Tatius yang hampir bertelanjang dada yang mana baju nya robek dan terdapat beberapa luka memanjang seperti membentuk gergaji.
"Kamu kenapa?" mengapa banyak luka begini." tanya Tania sambil menyentuh kulit pangeran Tatius.
"Auwwh...jangan di sentuh rasanya pedih."
"Kok bisa seperti ini, siapa yang melukai mu."tanya Tania benar benar di buat khawatir dan cemas.
"Di lukai calon suami kamu."ucap pangeran Tatius santai sambil tersenyum.
Ucapan dari pangeran Tatius membuat Tania langsung mendelik dan dengan gerakan refleks langsung memukul tubuh pangeran Tatius hingga membuat Pangeran Tatius memekik kesakitan.
"Auwwh...!" sakit Tania sttop jangan pukul aku."
"Maaf...habisnya kamu bikin kesal di tanya bukannya menjawab malah meledek " sungut Tania diambil memayun kan bibirnya membuat pangeran Tatius terkekeh.
"Aku sudah menjawab nya kenapa kamu tidak percaya."
"Jadi benar, ini luka akibat perbuatan pak guru Wili."
Pangeran Tatius mengagguk.
"Bener bener pak guru Wili itu biar saja aku tidak mau bicara dengan nya.
"Tania pak guru Wili juga terluka parah dan aku tidak memiliki banyak tenaga, bantu aku Tolong ambilkan baskom berisi air dan taruhlah Air masukkan kain di dalam nya kemudian kau tempelkan pada bekas lukaku, aku harus segera mencari pak guru kamu itu sebelum dia kehabisan darah."
"Aku ikut..!"
"Baiklah, sekarang cepat bantu aku memulihkan tenaga ku. ambilkan air dan letakkan pada bekas yang terluka
Tanpa membantah dengan cepat.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit, luka di punggung dan badan Pangeran Tatius berangsur angsur membaik.
"Ayo, sekarang kita pergi."
Tania dan pangeran Tatius melangkah kan kakinya menuju pintu akan tetapi ketika sampai pada pintu tiba-tiba di depan pintu telah berdiri Ayah Tania membuat Tania dan pangeran Tatius sana sama terkejut.