
Suasana di dalam supermarket sangat penuh dengan berbagai pengunjung yang keluar masuk, sebenarnya Tania tidak suka, masuk ke dalam tempat yang begitu ramai, tapi karena ajakan dari pak guru Wili inilah yang membuat Tania harus mau, berdesak desakan dengan mereka yang ada di dalam supermarket.
"Mau masak, apa hari ini?"
"Aku tidak tau, terserah pak guru Wili sajalah,"Ucap Tania cuek.
"Ya, sudah biar aku pilih sendiri saja,entar aku masakin buat kamu,"
Semua yang di inginkan sudah terbeli, Tania sempat geleng-geleng kepala melihat belanjaan pak guru wili yang sangat banyak,ngak tanggung-tanggung hampir dua juta hanya untuk membeli makanan yang akan di masak untuk satu malam.
Sementara Devan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi mulai memasuki halaman perkarangan rumah Neneknya, pikiran nya yang gusar dan kusut dengan mudah dapat terbaca dengan jelas oleh wajah sang Nenek yang kebetulan ada di luar rumah.
"Kamu kenapa,kok mukamu mendung begitu?"Tanya sang Nenek penuh keheranan.
"Capek, Nek,"
Sang Nenek tersenyum melihat raut wajah Devan yang terlihat sangat murung, sang Nenek mengajak Devan masuk ke dalam Rumah, agar Devan segar dan nyaman, sang Nenek bermaksud mengajak Devan untuk menganti baju dan mengajaknya memanen jamur yang sudah siap Panen agar pikiran Devan yang lagi di rundung sedih itu hilang dan dapat terobati.
"Devan! cepat ganti sragam kamu, lalu bantu Nenek di kebun belakang,"
"Malas Nek! aku ngak usah ganti sajalah,"Ucap Devan menolak ajakan sang Nenek.
Melihat Devan begitu kusut sang Nenek berjalan mendekati sambil memberikan secangkir kopi.
"Minumlah,lalu cerita kan, ada masalah apa?tanya Nenek penuh selidik.
"Ngak ada apa apa Nek, cuma pusing saja krpalaku,"
"Kalau pusing, istirahat saja, tumben datang sendiri mana tuh, temanmu yang kemarin bersamamu,"
"Di ambil pak guru, Nek! ucapan Devan yang cuek membuat sang Nenek sedikit kebingungan.
"Di curi bagaimana?tanya Nenek penasaran.
Sang Nenek mangut mangut mendengar pernyataan Devan cucunya.
"Apa, guru mu itu suka dengan temanmu Tania?"tanya sang Nenek yang membuat Devan menjadi sangat kesal teringat dengan sadisnya guru menyebalkan itu merampas Tania dari boncengan nya.
"Iya, Nek, Aku bisa melihat kalau dia sangat menyukai nya."Dengus Devan kesal.
"Sangat rumit jika ini terjadi,"ucap sang Nenek kemudian.
"Maksud Nenek apa?"kenapa Devan tidak mengerti,"tanya Devan kepada sang Nenek.
"Tania, gadis yang kamu bawa itu, akan menjadi sumber masalah, gadis itu akan menemui banyak masalah dalam kehidupan nya, sebisa mungkin jauhkan Tania dari guru itu,"
"Nah, itu yang aku mau Nek," ucap Devan berbinar senang.
"Tapi, kamupun tidak boleh jatuh cinta padanya,'
"Nenek...?"Nenek bicara apa, kenapa aku tidak boleh, Nek aku suka dengan Tania, aku mau menjadikan Tania bagian dari hidupku, kenapa Kini Nenek melarang, ada apa Nek?"tanya Devan kepada sang Nenek.
Terlihat sang Nenek menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, kemudian dia bangkit dari duduknya, dan menatap keluar, terlihat lah rintik rintik hujan mulai membasahi bumi, langit berubah menjadi mendung, petir mengelegar bersahut sahutan, udara dingin mulai menyusup ke dalam kulit.
Devan menanti sang Nenek untuk menjawab segala pertanyaan nya, Namun sudah cukup lama sang Nenek hanya diam membisu, sementara Devan sudah tidak sabar lagi, akhirnya Devan pun, bangkit dari tempat duduknya dan mendekati di mana sang Nenek berdiri dengan menatap ke luar halaman yang basah karena rintik rintik hujan.
"Nek..!"katakan padaku kenapa aku tidak boleh menjadikan Tania pacarku,"tanya Devan kepada sang Nenek. Terlihat sang Nenek kembali menarik nafas dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Nenek pun tidak tau harus bercerita dari mana, apa tidak cukup kamu tau dan mengerti jangan mencintai Tania?"ucap sang Nenek lirih.
"Tidak bisa Nek, aku harus tau alasannya."
"Nenek tidak ingin kamu hancur dan terluka pada akhirnya Nenek sangat sayang padamu Nenek tidak bisa memilih satu diantara dua dan Nenek tidak bisa juga mencegah apa yang sudah menjadi haknya, sebelum semua nya terlambat, buanglah perasaan cintamu pada Tania,"Setelah mengucapkan itu Sang Nenek pergi meninggalkan Devan yang terpaku sendiri an, berkali kali Devan mencoba mencerna ucapan Sang Nenek satu di antara dua, tidak bisa memilih satu diantara dua."Apa maksud dari ucapan Nenek itu? Tanya Devan berkali-kali pada dirinya sendiri.