The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.17.PENGAKUAN



Setelah, mendengar semua jawaban dari Ayah


Tania, Devan meminta undur diri.


Di sepanjang perjalanan Devan berfikir dan terus berfikir, Mahkluk apa yang telah memberi tanda


pada Tania.


Karena kegalauan hati yang tak kunjung menemukan sebuah jawaban, Devan memutuskan untuk pergi menemui Nenek nya.


Sedikit banyak sang Nenek sangat paham tentang hal hal gaib.


Motor Devan berhenti di sebuah gubuk sederhana yang cuma berdinding bambu.


Al kisah dari secuil perjalanan,


Sang Nenek, tidak pernah menikah


bahkan waktu dan harinya habis hanya untuk


Berdoa dan berdoa, tidak pernah tertarik pada


hiruk pikuk suasana dan keindahan kota.


"Ting tong....Ting tong....Ting tong...!


Devan menekan bel berkali kali, namun tak


kunjung pintu di buka.


Devan memutar kearah ke belakang, pintu pagar bambu yang menutup ruang belakang tidak terkunci.


Dengan cepat Devan membuka dan masuk.


"Krieek...!


Suara bunyi pintu.


Setelah menutup pintu itu kembali, Devan mencari sosok Nenek dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.


Dilihat nya seorang wanita paruh baya, lagi


menjemur baju, tidak banyak baju yang di jemur


Neneknya hanya ada dua potong.


"Nek. !


Mendengar ada suara panggilan, sang Nenek segara menoleh ke sumber suara.


Senyumnya tersungging tak kala melihat


Devan cucu kesayangan nya datang berkunjung.


"Devan...! Sudah lama sekali kamu tidak menemui Nenek mu ini, Nenek pikir Devan sudah lupa sama Nenek.


Ucapnya seraya memeluk cucu kesayangan.


"Ya, tidak lah Nek, Kalau Devan tidak datang itu


artinya Devan sibuk Nek.


Ucap Devan memberikan Alasan, seraya memeluk sang Nenek juga.


"Ayo..., Masuk.


Devan menggikuti langkah sang Nenek ke dalam Rumah.


"Ada perlu apa..? Mencari Nenek, tidak mungkin


cuma datang menjenguk Nenek pasti,


kamu mempunyai keperluan lain.


"Ah, Nenek!


Bisa saja ,Ucap Devan sambil melebarkan senyumannya.


"Ayo, bicaralah, sambil di makan gorengan singkong,


yang baru saja Nenek goreng.Ini adalah


singkong kebun banyak mengandung karbohidrat juga bisa membantu mengendalikan kadar gula darah.


"Ayo, dimakan."


"Iya, Nek.


"Sekarang ceritakan apa tujuan mu ke sini."


Sedikit ragu ragu Devan bicara, apakah pertanyaan nya tidak di anggap konyol oleh


sang Nenek.


Tapi jika tidak di ditanyakan, akan menjadi beben dalam pikirannya.


Entah kenapa hatinya betul betul ingin tau.


"Lho...kenapa malah jadi diam, ayo bicaralah.


Devan menghela Nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Apa Nenek tidak akan menertawakan aku, jika


aku bicara nanti ?


"Cucu... kenapa kau ragu!


ayo, bicaralah Nenek siap mendengarkan apa saja yang ingin kamu bicarakan.


Devan menatap lekat wajah tua di depan nya,


meskipun sudah berusia tua , Neneknya


masih terlihat cantik.


Di usianya yang sudah tujuh puluhan sang


Nenek masih cantik, itu menandakan saat


muda nya, sang Nenek seorang wanita yang


cantik.


"Kenapa menatap Nenek begitu?apa ada yang aneh sama Nenek.


Devan terkekeh sambil pandangan nya kini dia alihkan, pada setumpuk gorengan singkong di


atas piring.


dan memakan nya.


"Nenek itu cantik, tapi kenapa, Nenek tidak menikah?


Terdengar suara tawa dari sang Nenek saat mendengar pertanyaan Devan cocunya.


"Kamu kemari, bukan berniat mempertanyakan itu kan?


Devan tersenyum kecut, melihat kecerdasan sang Nenek yang mampu memahami arah dari jalur pikiran nya.


"Ah...Nenek, tau saja pikiran Devan.


Baiklah Nek, Devan memang bukan berniat


ingin bertanya kenapa Nenek tidak menikah.


Devan melahap sisa gorengan di tangannya.


Dengan sedikit tergesa gesa, Devan mengunyah dan menelannya.


Sang Nenek yang melihat tinggkah aneh dari sang cucu yang tidak biasanya dengan segera


menyodorkan segelas air putih di depan nya.


"Nih , minum dulu, makan itu pelan pelan bisa keseleq kau nanti.


Buru buru Devan mengambil segelas air putih dan meminumnya.


Glegek...glegek.... glegek..!


Bunyi suara air yang telah di minumnya.


"Nek...?


"Ya, bicaralah!


"Nenek pernah dengar tidak, ada seorang mahkluk yang mengaggu manusia.


Mendengar pertanyaan sang cucu, sang Nenek


tertawa.


Devan yang menyadari kesalahannya dalam bicara segera menaruh tangannya di atas dahi kepalanya.


"Oh my god...!aku salah bertanya, sispa pun


pasti taulah kalau mahkluk itu suka menganggu manusia.


Buru buru Devan meralat ucapannya.


"Maksud Devan itu Begini Nek!


Apa ada, mahkluk lain mencintai atau menyukai


seorang anak manusia?


Sang Nenek yang tadinya tertawa tiba tiba terdiam.


Wajah cerianya meredup tanpa bicara apapun


sang Nenek meninggal kan Devan yang sedang


tertegun menunggu jawaban Nenek nya.


"Lho....!Nek..!Mau kemana?


Kenapa Nenek tiba tiba pergi?


Devan yang Binggung dengan sikap sang


Nenek bangkit dari tempat duduknya dan berlari kecil mengejar langkah Nenek.


******


Di tempat yang berbeda tampak seorang pemuda mengerak gerakan tangannya dan mulai membuka mata.


"Aku ada di mana ? Desisnya lirih.


"Pangeran ! kau sudah sadar.


"Bunda Ratu Shima".


Ratu Shima tersenyum sambil mengagguk.


"Syukurlah kalau pangeran sudah sadar.


Melihat laki laki di depan nya hendak turun dari ranjangnya.


Sang Ratu melarang.


"Pangeran jangan bagun dulu, tetaplah beristirahat.


Karena pangeran belum pulih benar.


"Ibunda Ratu Shima, aku mau bertemu dengan


Raja, aku ingin bicara dengan beliau.


"Tenanglah pangeran Yervan, kondisi kesehatan kamu belum begitu baik jadi bersabarlah.


"Tapi bunda Ratu !


Raja harus tau, Raja harus bebaskan pangeran Tatius dia tidak bersalah Ratu.


"Apa kamu bilang ? pangeran Tatius tidak bersalah, itu artinya ada orang lain yang ikut campur dalam pertarungan kalian.


"Benar ibunda Ratu."


Ratu Shima menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


"Sudah kuduga, pasti ada yang tidak beres dengan semua ini.


Baiklah pangeran Yervan, Ibunda Ratu akan memanggilkan Raja untuk datang kesini, jadi


pangeran Yervan tidak perlu menemui Raja.


Pangeran tunggu disini, ibunda Ratu pergi dulu.


"Baik ibunda Ratu.


Bergegas Ratu Shima keluar dari kamar Pangeran Yervan.


Namun tidak pernah Ratu Shima sadari sedari


tadi ada empat pasang mata yang mengawasi


mereka.