The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.82.PASRAH



Untuk beberapa saat Kedua Vampire itu saling berpandangan.


"Bagaimana..?"dia pingsan apa kita akan menghisap darah segarnya sekarang juga?"


"Jangan dulu, ini tidak akan nikmat karena kita tidak dapat mendengar rintihan nya."


"Lalu bagaimana, apa kita akan menunggu..aku sudah tidak sabar lagi."


"Sabarlah kakak, kita buat gadis ini sadar dulu."


"Caranya bagaimana?"


"Kita siram dengan Air."


"Kau gila ya ..! bagaimana kita bisa mendapatkan air, ini bukan area bangsa manusia yang mana selalu ada air di mana mana, kita harus pergi ke belakang bukit untuk menggambil air dari sungai kerajaan ini dan itu memakan waktu cukup lama sedangkan kita tidak memiliki banyak waktu, sebentar lagi pesta di dalam kerajaan istana ini akan di mulai dan kamu tau sendiri akibatnya, jika kita tidak terlihat oleh Raja Sangkala maka sudah bisa di pastikan kita dan keluarga kita akan di musnahkan nya apa kau mau Nasib kita begitu?"


"Tentu saja tidak kakak."


"Nah itu kamu tau, jadi ayolah kita tidak bisa membuang buang waktu lagi atau biarkan gadis cantik ini menjadi bagian ku, kamu pergi lah dan cari lah dua orang anak muda yang lari itu aku tidak akan meminta jatah lagi, gadis ini cukup bagi ku."


"Enak saja, aku di suru mencari lagi bukankah gadis ini aku yang menangkap nya, kakak cuma menunjukkan jalan jadi...ha..ha..ha..kakak saja yang mencari dua anak muda itu, biarkan gadis ini menjadi milikku."


"Tidak bisa, pokoknya aku mau gadis ini darah nya lebih segar kau pergi lah."


"Tidak bisa ,kak! aku juga mau gadis ini."


"Sudah cukup!" kita berdebat ini hanya akan membuang buang waktu kita, aku memiliki solusi nya,"


"Apa, itu kak?"


"Bangsa Manusia kalau pingsan kan harus di siram air biar sadar nah bagaimana kalau air itu kita ganti dengan arak yang ada di kerajaan kita ini."


"Ide, bagus aku setuju kakak tunggu di sini aku akan ambilkan, tapi ingat jangan sentuh dulu gadis itu, apa kakak mengerti."


"Ya...ya!" aku mengerti pergilah"


Dengan cepat Vampire itupun berkelebat terbang, tinggalah kini satu Vampire dan Tania yang masih pingsan.


"Gadis ini cantik, sayang sekali dia bukan bangsa Vampire andai dia bangsa Vampire aku mau menjadikannya istriku, tapi bukankah manusia juga bisa berubah menjadi Vampire jika darah nya tidak di hisap semua, apa lebih baik aku hisap sedikit darahnya agar gadis cantik ini bisa ku miliki."Gumam Vampire sambil mondar mandir dengan mengibas ngibaskan jubah Vampire nya yang panjang.


Huuuha..huuuha...huuuha..!" bunyi nafas Vampire yang sedikit tersulut naf..su karena melihat kecantikan dari wajah Tania.


"Aku sudah tidak tahan lagi, wajahnya begitu cantik dan mengoda."


Kuku panjang dengan gigi yang runcing menyunggingkan sebuah senyuman, perlahan lahan Vampire itupun berjongkok, dengan kukunya yang panjang, tangan Vampire mulai menyibak kan anak rambut panjang Tania yang menutupi area wajah sampai ke lehernya hingga tak lagi menutupi kulit putih dan halusnya, sang Vampire semakin terpesona kini tangan berkuku panjang itu mulai berusaha membelai wajah dan leher Tania, Vampire yang sudah di ambang gairah mulai mendekatkan giginya yang runcing pada leher halus Tania dan ketika jarak di antara keduanya hanya tinggal lima sentimeter Tiba-tiba....


"Pyaaaaarrrr.....!"suara benda keras yang di dalamnya berisi Arak tumpah seketika hingga suaranya menggaet kan sang Vampire yang entah mau mencium Tania atau ingin menghisap darahnya.


"Bedebah kau..!"apa yang kau lakukan kakak?"seru Vampire satunya yang membawa air arak dan membantingnya karena kesal sang kakak yang di percaya mau berbuat curang dengan ingin mendahului menghisap darah gadis tangkapannya dengan emosi di tariknya Vampire yang sedang berjongkok itu hingga berdiri tepat di hadapan nya.


"Aku tidak melakukan apa-apa?"


"Tidak melakukan apa-apa?" lalu kenapa kau mendekatkan gigi mu di lehernya, apa kau ingin menikmati nya Sendiri hah?"


"Bukan, kamu salah paham adik, lepaskan aku, percaya lah aku hanya melihat lihat saja."


"Aku tidak percaya itu,"


Hiyaaaa... duuuussssss...!"


Vampire yang emosi memberikan pukulan dan tendangan pada Vampire satunya maka terjadilah perkelahian antar Vampire.


Arak yang di lemparkan Vampire sampai isinya tumpah ada yang tanpa sengaja membasahi bibir Tania membuat Tania mengeliat dan perlahan-lahan sadar dari pingsan nya.


Sementara Pangeran Tatius yang menggikuti arah garis dari cahaya bulan purnama terus melesat dengan cepat.


"Kenapa arah cahaya ini menuju istana kerajaan Sangkala?" apakah dia ada di sana?"tidak mungkin bagaimana bisa ada di kerajaan Sangkala tapi... apapun itu aku harus menggikuti nya, Hei..!" cahaya nya begitu terang di ruangan itu, tapi bukan kah itu ruangan kosong yang tak pernah di gunakan akan ku lihat.


Cahaya kuning keemasan milik Sukma dari


"Kurang kerjaan sekali mereka itu, ngapain bertarung di ruangan kosong seperti ini dasar pengawal bodoh lebih baik aku pergi tidak berguna melihat mereka yang bertarung entah apa yang menyebabkan nya." dengus pangeran Tatius merasa kesal, tapi ketika hendak melesat pergi tiba-tiba garis cahaya yang di ikuti nya berhenti di dinding samping kiri hingga membuat pangeran Tatius yang penasaran akhirnya menoleh dan terlihat lah oleh nya seorang gadis sedang tergolek di lantai sedang berusaha membuka matanya kemungkinan dia baru sadar dari pingsan.


Di tatapnya lekat lekat gadis yang ada di depannya dengan tatapan penuh suka cita.


"Benarkah ini dia, cantik." Gumam pangeran Tatius sambil terus memandangi wajah Tania dengan senyum mengembang di bibirnya ada rasa bahagia yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata, untuk beberapa saat Pangeran Tatius


diam terpaku menikmati wajah cantik Tania sampai pada detik suara Tania mengejutkan nya.


"Aaaaaaaaaa.....!"


Tania yang baru sadar dari pingsannya kembali berteiak ketakutan membuat kedua Vampire yang tadinya bertarung berhenti mendadak.


"Dia sudah sadar, ayo adik kita nikmati sekarang"


"Benar, kakak, gadis cantik ini sudah sadar, ayo aku sudah tidak sabar."


Kedua Vampire itupun segera mendekati Tania yang menggigil ketakutan, wajah kedua Vampire dengan gigi runcing yang sangat menyeramkan membuat Tania ingin pingsan lagi tapi mengapa tidak juga bisa bisa pingsan lagi hingga membuat nya menangis dan berteriak-teriak.


"Jangan... jangan dekati aku, lebih baik bunuh saja aku, tapi jangan hisap darahku aku mohon." teriak Tania sambil terus beringsut mundur dan mundur sementara kedua Vampire itu terus maju dan maju sambil tersenyum menujuk kan barisan giginya yang panjang dan runcing.


Pangeran Tatius yang melihat itu, menatap tajam kearah kedua pengawal istana dengan garang, matanya memerah menahan marah dan kedua tangannya mengepal sempurna, tapi apalah daya dia hanya bisa menatap tanpa mampu berbuat apa-apa, karena pangeran Tatius datang tanpa raga yang mana tidak ada yang bisa melihat ataupun menyentuh nya bahkan untuk menolong pun tidak akan bisa karena semua butuh raga dan jika pangeran Tatius kembali dan datang lagi dengan raga sudah bisa di pastikan itu sangatlah terlambat bisa bisa nyawa gadis itu tak lagi bisa di selamatkan, kini pangeran Tatius berusaha.memutar otaknya mencari cara agar gadis di depannya bisa lolos dan selamat dari cengkeraman Vampire.


"Hanya ada satu cara yang bisa dan mampu menyelamatkan gadis itu, dari cengkraman dua Vampire yang sudah sangat berambisi ingin menghisap darah manusia, aku harus masuk kedalam raga salah satu di antara mereka tapi aku harus menunggu mereka membuka mulutnya agar aku bisa masuk semua akan kulakukan demi kamu bisa selamat, tenanglah jangan lagi menangis aku ada untukmu." lirih pangeran Tatius dengan tatapan mata sendu hatinya ikut sedih mendengar jerittan dan teriakan gadis yang ada di depannya.


Tania yang terus beringsut mudur dengan air mata terus menggalir membasahi pipi.


"Sudah, cukup!"kita main mainnya gadis cantik, sekarang waktunya."


"Hooop...!"


Salah satu Vampire segera meloncat dan menangkap Tania dengan cepat, hanya sekali lompatan tubuh Tania sudah ada dalam genggaman Para Vampir.


"Aaaaaaaaaaa....Jangan..!"


Dengan kasar salah satu Vampire segera menyibakkan rambutnya Tania agar tak menghalangi niatnya untuk menghisap darah gadis itu dan ketika leher putih bersih sudah terpampang jelas dengan sigap salah satu Vampire membuka mulut dan giginya siap menggigit leher putih milik Tania.


Dengan berderai air mata Tania memejamkan matanya dia sudah pasrah, karena tak akan ada lagi dewa penyelamat untuk nya dan tamatlah riwayat nya hari ini juga, hanya ada dua kemungkinan dalam kehidupan nya antara mati atau hidup menjadi Vampire seperti dalam film film di mana jika darah kita di hisap tidak sampai habis maka kita akan berubah menjadi Vampire.


"Ayah...! Selamat tinggal Tania akan pergi ke surga Ayah dan seandainya Tania hidup menjadi Vampire Tania berjanji tidak akan menghisap darah manusia Tania akan mengunjungi Ayah, Tania sangat sayang dan cinta dengan Ayah, tolong Ayah jangan sedih dan menikahlah Ayah, agar ada yang bisa mendampingi Ayah karena Tania sudah tidak bisa lagi mendampingi dan bersama Ayah.


Perlahan-lahan Air mata Tania berhenti seiring terpejam nya kedua kelopak mata Tania. Vampire yang sudah siap dengan gigi nya runcing nya sedikit terkejut karena tak lagi merasakan ada perlawanan atau pun reaksi tubuh Tania memberontak sehingga memudahkan nya untuk melakukan penghisap pan darah.


Bibir Vampire pun mulai di buka dan mulai mendekat ke jenjang leher putih Tania yang sudah pasrah satu detik...dua detik..tiga detik...


Sreeeeeeettttt....!"Sebuah cahaya kuning keemasan melesat masuk kedalam mulut Vampire yang sudah terbuka.


Salah Satu Vampire yang menunggu giliran untuk menghisap darah gadis itu menjadi gusar lantaran Vampire satu nya belum selesai selesai dengan posisi bibir dan gigi terbuka di dekat leher jenjang Tania.


"Woi...!" kakak, cepatlah sudah belum aku juga mau, jangan kau habiskan sediri."


Karena tidak mendapat kan jaeaban Vampire satu nya menjadi marah.


"Dasar curang, kurang ajar kau."


Ciaaaaaatttttt....duuuuuusssstt.... bruuuuugggh..!"


Vampire yang tersulut emosi memukul dan menendang sehingga membuat Vampire itupun terjatuh, Vampire satu itu merasa heran tendangan nya tidak begitu keras tapi kenapa langsung bisa membuat kakaknya roboh bahkan langsung menutup mata. Dengan gusar Vampire satu pun menggoyang goyangkan tubuh Vampire.


"Kakak ...!bagun.


"Kakak...! kau kenapa, ayo bagun, seru Vampire satu dengan cemas, kini tatapan matanya beralih pada Tania yang masih berdiri dengan mata terpejam dengan leher masih terpampang indah.


"Ini semua gara-gara kau gadis sialan, akan ku hisap habis darah mu."


Dengan langkah tegap Vampire satu mendekati Tania yang masih memejamkan mata. Dengan kasar Vampire itu langsung mencengkram dan menarik kasar rambut Tania agar tidak menghalangi, gerakan kasar dari Vampire satu membuat Tania terkejut hingga membuat nya membuka mata dan menjerit.


"Aaaaaaaaaaa...!!!