The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.76.KESAL



Dodi yang khawatir dan curiga karena Devan membawa Tania masuk ke dalam satu ruangan kamar tertutup dengan cepat menggikuti diam diam dari belakang tanpa sepengetahuan Devan dan Tania.


"Mau apa, kau membawaku ke sini."tanya Tania penasaran.


"Diamlah, nanti kau juga akan tau sendiri, ayo masuk."


Devan dan Tania segera masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup luas namun tak terawat.


"Ke sini..!"


Mendengar seruan Devan Tania segera mendekat.


"Ada apa?"


"Lihat..!"


Devan menujuk pada salah satu lukisan kuno yang terpajang di dinding namun lukisan itu letaknya sangat miring mungkin karena tergoyang sesuatu sehingga tidak lagi rapi.


"Wah... sebuah lukisan kerajaan..!"


"Apa, kau suka!"


"Tentu saja aku suka, ini sangat langka dan menarik, luar biasa sebuah tatanan lukisan yang sangat menakjubkan, ternyata Nenekmu prngemar seni lukis juga ya?"


"Seperti nya Begitu."


"Devan ..! lukisan nya miring kurasa ada satu paku atau tempat penyangga yang lepas hingga jadinya miring begitu."


"Ha..ha...ha..!" Devan tertawa lepas."


"Kau benar, pasti ada penyangga paku nya yang lepas biar ku betulin."


"Tunggu..! jangan di benerin dulu, aku ingin memegangnya lebih dekat, boleh kan?"


"Tentu saja, boleh apa yang tidak boleh buat kamu, sebentar aku ambilkan untuk mu."


Ketika tangan Devan hendak menyentuh lukisan kerajaan tiba-tiba Dodi berteiak dari belakang.


"Jangan, di pegang..!"


Teriakan Dodi yang tiba-tiba membuat Devan sedikit terkejut sehingga tangan yang hampir menyentuh lukisan itupun tidak jadi. Melihat Dodi yang tiba-tiba juga ada di dalam ruangan kamar itu membuat Devan sedikit kesal.


"Hai...idiot..!" ngapain loe ikut ke sini! ngaggu orang saja, Tania mau lihat lukisan itu jadi aku mau mengambilnya datang datang sudah berteriak bikin orang kaget saja untung aku tidak jantungan kalau jantungan gimana? bisa pingsan aku." Ucap Devan panjang lebar membuat Dodi terkekeh.


"Apa kamu juga bisa kaget?"tanya Dodi polos.


"Tentu saja bisa dodol, memangnya yang kaget khusus orang berpenyakit jantung saja apa, sudah duduk manis sana aku mau ambilkan lukisan itu buat Tania."Geram Devan gemas melihat sikap Dodi.


"Jangan...!"cegah Dodi sambil memegang tangan Devan.


"Issh..!"jangan pegang pegang, najis tau sesama laki-laki tidak boleh pegang pegang, jangan jangan kamu juga mulai suka aku," lirih Devan kesal yang meskipun sangat pelan tapi masih bisa di dengar oleh Dodi dan Tania.


Tania tertawa mendengar perkataan Dodi.


"Emang kamu tau, Dodi...! Buto ijo itu seperti apa?"tanya Tania penasaran.


"Tau lah..! badan nya besar bertanduk berhidung besar bibir lebar dan tebal tangan runcing badan nya berkulit hijau giginya bertaring dia juga bisa merubah dirinya seperti manusia."


Tania dan Devan terkejut mendengar semua yang di cerita kan Dodi anak idiot yang memiliki keterbelakangan mental tapi mampu menjelaskan ciri-ciri satu mahkluk dengan sangat tepat.


"Bagaimana kau bisa tau semua itu?" tanya Devan penasaran."


"Tau apa?"Dodi balik bertanya.


"Itu, ciri-ciri Buto ijo."


"Aku ngak ngerti apa yang kamu tanyakan," ucap Dodi , membuat Devan dan Tania berpandangan yang kemudian Tania menaikkan bahunya.


"ya, sudah kamu duduk saja di situ aku mau mengambilkan lukisan itu untuk Tania."


Melihat Devan kembali mau memegang lukisan Dodi lagi lagi berteriak melarang.


"Jangan, biarkan saja lukisan nya begitu, Tania ayo kita keluar saja, di sini serem."ajak Dodi sambil menarik tangan Tania.


"Dasar penakut, kamu saja yang keluar."cetus Devan yang tadinya mau menyentuh lukisan batal lagi karena melihat Dodi menarik tangan Tania dan melepaskan genggaman tangan Dodi pada Tania, Dodi mendengus kesal.


"Ayo, Tania aku akan ambilkan lukisan ini untuk mu?"


Tania mengangguk, melihat Dodi seperti ingin menghalangi dengan cepat Devan mengangkat satu tangan nya ke atas dengan satu jari telunjuk dia naikkan suatu tanda agar Dodi berhenti bicara dan mengaggu nya dengan terpaksa Dodi diam tak bergeming.


Tangan Devan sudah mulai mau menyetuh lukisan dan menurunkan nya.


"Jangan di turunkan biarkan saja, aku cukup melihat dan membelai lukisan indah ini."


"Kau yakin tidak mau memegangnya,"


"Iya."


"Baiklah, ayo kita lihat lebih dekat."


Tania dan Devan mendekati lukisan itu mereka memandang dengan penuh takjub tangan Tania yang tadinya diam serasa gatal ingin membelai lukisan indah itu, akhirnya Tania membelai lukisan indah itu hatinya sangat senang dan takjub...ini pintu nya ada ukiran bernuansa hijau dan kuning perpaduan warna yang sempurna.


Mendengar pujian dari Tania Devan pun pemasaran yang akhirnya tangan kedua nya menyentuh ukiran pintu berwarna hijau keemasan.


Lukisan yang tadinya biasa tiba-tiba bergerak membuat Devan dan Tania terkejut belum lagi kesadaran pulih sempurna dari rasa terkejutnya tiba-tiba Devan dan Tania merasa kan ada sesuatu yang menarik nya masuk ke dalam lukisan dan.....


"Aaaaaaaaaa....!"


Teriakan..Tania mengagetkan Devan yang berusaha mengengam Tania agar tak terbawa masuk dalam lukisan membuat Devan pun ikut terbawa masuk, Dodi yang mendengar jerittan Tania dan melihat kedua temannya tiba-tiba menghilang setelah menyentuh lukisan itu langsung berdiri dari duduknya dan hendak menggikuti mereka tapi langkahnya terhenti ketika Dodi ingat dia datang bersama dengan sopirnya dengan cepat Dodi berlari ke luar menemui sopirnya.


"Hei..! kamu boleh pulang, aku mungkin akan menginap di sini jemput aku satu Minggu lagi cepat pulang," seru Dodi yang kemudian kembali berlari masuk ke dalam kamar di mana Tania dan Devan menghilang.