
Devan yang mendengar ada suara yang memanggil nya segera menoleh kedepan, terlihat lah sosok laki-laki yang usianya sedikit tua sedang berdiri dengan mata berkaca-kaca. Devan mengeryitkan dahinya tidak mengerti mengapa Ayah Tania terlihat syok dan hampir menanggis, bukan-bukan Ayah Tania bukan terlihat seperti menangis tapi beliau memang sedang menangis, meskipun tidak sekeras Tania yang menangis apabila sedang sedih maupun marah, Ayah Tania hanya meneteskan air mata, bahkan sebelum Air mata itu jatuh, Ayah Tania sudah buru-buru menyekanya.
"Apakah aku tidak salah lihat?"lirih Ayah Tania yang mana suaranya masih bisa di dengar oleh Devan. Dengan bibir bergetar lagi-lagi Ayah Tania bicara.
"Benarkah ini Tania Putriku, Nak Devan!"tanya sang Ayah yang mana kedua bola matanya masih berkaca-kaca.
"Tentu saja paman, kenapa paman bicara begitu."
"Aku benar-benar tidak percaya aku ingin memastikan apa aku boleh mencubit nya.
"Eits. .. jangan paman, Tania sedang tidur jangan di ganggu aku khawatir dia nanti terbangun."cegah Devan pada Ayah Tania.
"Biarkan dia terbangun aku ingin mendengar suaranya."pinta Ayah Tania pada Devan dengan tatapan memohon sangat terlihat jelas di wajah laki-laki setengah baya itu ada satu kerinduan yang sangat mendalam, Devan yang tidak memahami apapun sedikit binggung, pasalnya dia hanya membawa Tania sekitar dua bulan itupun kalau tidak salah belum genap tapi mengapa Ayah Tania terlihat seperti orang yang bertahun-tahun tidak bertemu putrinya.
Devan meneguk ludahnya dengan kasar.
"Paman, lebay kangennya Nanti saja ya, kasian Tania biarkan dia tidur nyenyak dulu, lebih baik Paman cepat bukakan pintu biar Tania bisa tidur dengan nyaman di atas Ranjang nya."
"Kamu benar, baiklah,"
Dengan cepat Ayah Tania membuka pintu Rumah nya dan mempersilahkan Devan untuk masuk membawa Tania ke dalam.
Devan yang memiliki tubuh sangat kekar dan tinggi di mana postur tubuhnya tidak jauh berbeda dengan Tatius, karena pada dasarnya keduanya adalah dua orang bersaudara dengan aliran darah yang memiliki kesamaan hanya berbeda orang tua.
Devan terlahir dari seorang kakak laki-laki dari sang Neneknya sedangkan Tatius terlahir dari seorang Wanita yang memiliki aliran darah dari Putri Sang Neneknya, meskipun wajah Tatius sedikit lebih tampan dibandingkan dengan Devan.
Devan memiliki kulit yang putih meskipun tidak seputih kulit dari Pangeran Tatius, hal itu di karenakan ibu dari Devan memiliki kulit kuning Langsat, berada dengan Pangeran Tatius yang Ayah dan ibunya sama sama putih bersih dengan hidung yang sangat mancung.
Kedua nya memiliki wajah yang sama-sama Tampan hanya saja wajah dari pangeran Tatius terbilang sangat pasaran dengan wajah wajah idola para wanita, di mana pangeran Tatius memiliki Alis yang sangat tebal, hidung mancung, mata hitam dan jernih dan tajam, serta lirikan matanya sering membuat para gadis salah tingkah jika melihat nya.
Dengan perlahan-lahan Devan mengendong tubuh Tania masuk ke dalam Rumah dan membawanya masuk ke dalam kamar Tania, dengan sangat hati-hati Devan meletakkan tubuh Tania di atas Ranjang.
Ayah Tania yang melihat semua itu menutup mulutnya, dia benar-benar merasa bagaikan orang yang sedang bermimpi, apa yang menurutnya mustahil dan tidak mungkin ternyata bisa terjadi, Ayah Tania menatap putri nya yang tertidur pulas dengan tatapan mata penuh haru.
"Tatius benar, Tania belum mati, apa yang Pemuda itu rasakan ternyata tidak salah, ikatan batinnya sangat kuat, suatu hati tidak bisa menjadi dinding pemisah sebuah raga meskipun tak terlihat dalam nyata akan tetapi suatu perasaan hati bisa mengetahui segala nya, aku sudah berdosa, aku sudah bersalah meragukan keyakinan nya bahkan aku memarahinya, aku berharap Tatius tidak sakit hati dengan perlakuan ku padanya agar dia masih mau datang ke sini untuk melihat Kekasih nya dan pasti nya Tatius dan Tania akan sangat bahagia jika mereka bertemu kembali." Gumam Ayah Tania dalam hati yang mana hatinya sibuk bermonolog sendiri.
"Paman...!"Ayo kita keluar biarkan Tania beristirahat, dia sepertinya kecapekan."ajak Devan pada Ayah Tania yang mana ajakan dari Devan membuyarkan lamunannya.
"Oh, iya, ayo kita bicara di luar, paman juga ingin bertanya banyak hal padamu."
Devan menggikuti langkah kaki dari Ayah Tania yang kemudian duduk di Ruang tamu.
"Nak, Devan kamu tunggu sebentar, Ayah buatkan kamu kopi, agar kita bisa berbincang dengan santai."
"Paman tidak perlu repot-repot, begini saja tidak apa-apa paman."
"Tidak repot, Paman, melakukan semua ini karena paman sangat bahagia jadi kamu tunggu di sini ya, cuma sebentar," pinta Ayah Tania pada Devan yang mana langsung membuat Devan senang.
"Wah, menyenangkan di perhatikan Ayah nya Tania seandainya saja aku di anggap sebagai menantunya, pasti lah aku akan sangat bahagia."Gumam Devan dalam hati.
Sementara Ayah Tania yang sedang membuat kopi juga sedang asik bermonolog sendiri.
"Ayo Tatius datang lah, jangan marah dengan bentakan pamanmu ini, lihat Kekasih mu masih hidup pasti kau akan sangat senang Nak, aku saja sangat bahagia." desis Ayah Tania dalam hati.
Tak lama kemudian Ayah Tania keluar dari dapur dengan membawa dua cangkir kopi panas.
"Ayo, Nak Devan di minum selagi masih panas, Nanti kalau dingin tidak akan Nikmat rasaanya." "Baik, paman, Trimakasih."
Ayah Tania menuangkan kopi ke dalam lepek yaitu piring kecil yang biasa di gunakan untuk menuang kopi, kemudian meminum nya.
"Iya, Paman Tania wanti itu memang sudah Tiada itu kata Dokter dan suster yang saya temui di Rumah sakit kala itu, tapi waktu itu saya tidak bisa menerima kenyataan jika Tania sudah tiada, Karena tubuh nya masih hangat aku mencoba memompa denyut jantung Tania dengan Alat yang di gunakan Dokter, awalnya aku sudah sangat putus asa karena di dalam komputer Jantung Tania sudah tidak bergerak, bunyi panjang tiiiit...dari makna jantung sudah tidak berfungsi, aku syok dan sedih usahaku sia-sia, tapi lima atau sepuluh menit kemudian, tanpa sengaja aku melihat jari Tania bergerak meskipun sangat lemah dan itu hanya beberapa detik saja, aku langsung memompa lagi dengan alat yang biasa Dokter gunakan dan hasil nya sangat baik, ada denyut jantung nya meskipun sangat lemah, dengan cepat aku membawa Tania pergi tapi sebelum nya karena aku khawatir akan terjadi kekacauan dan keributan jika tiba-tiba aku membawa lari Tania, aku, pergi ke kamar mayat, menganti tubuh Tania dengan mayat orang lain, setelah itu aku membawa Tania ke Rumah Nenek, yang mana Nenek adalah seorang wanita yang bisa menyembuhkan segala penyakit terlebih aku merasa kan jika Tania menggalami mati suri dan hasilnya seperti yang paman lihat, meskipun untuk mendapatkan bantuan dari Nenek aku harus berjemur di bawah terik matahari dan gelapnya malam, serta derasnya hujan selama dua hari dua malam." tutur Devan sambil tersenyum kecut menggingat betapa Neneknya sangat keras dan sulit untuk dikukuhkan.
Ayah Tania meneguk ludahnya dengan kasar, bahkan kerongkongan nya terasa sangat kering, hingga tanpa sadar menghabiskan kopi panas yang ada di depannya dalam waktu singkat.
"Pemuda ini sudah banyak berkorban untuk kehidupan putri ku dan itu artinya Putriku adalah hak nya bukan lagi hak nya Tatius apakah pemuda ini mencintai putriku, aku harus bertanya padanya dan smoga pemuda ini tidak mencintai Putriku agar Tatius tetap bisa memiliki Tania, smoga saja Pemuda ini hanya menyayangi Putriku sebagai temannya, karena yang kutahu mereka berdua memang berteman." gumam Ayah Tania dalam hati.
"Nak, Devan apakah paman boleh bertanya sesuatu padamu,"
"Tentu saja boleh, paman."
"Tapi, aku mau Nak Devan menjawabnya dengan jujur."
"Pasti, saya akan menjawab dengan jujur, silahkan Paman mau bertanya apa?"
Ayah Tania bangkit dari duduknya dan mengambil cangkir kopi yang sudah kosong untuk diletakkan di pinggir meja.
"Nak, Devan? Apakah Nak Devan mencintai Putriku,"
"Deg ..!
Hampir saja kopi yang ada di dalam mulut Devan meloncat keluar.
"Kenapa paman bertanya begitu, apakah paman sangat marah padaku,"tanya Devan galau, Devan sadar dan tau batasan dirinya Ayah Tania sudah merestui hubungan Tania dan Tatius itu artinya Ayah Tania tidak akan suka padanya.
"Paman tidak marah, Paman hanya ingin mendengar jawaban Nak Devan dengan jujur."
Dengan tersipu malu dan dengan menundukkan kepalanya Devan mengagguk.
"I-iya, Paman, saya sangat mencintai Putri paman," jawab Devan lemah hatinya sudah sangat ketakutan pasti akan segera di usir dari Rumah ini dengan kasar.
Jawaban Devan yang sungguh di luar pemikiran Ayah Tania membuat Ayah Tania menjadi terbatuk-batuk.
"Uhuk...
"Uhuk....
"Paman minum air putih nya, maaf jika ucapan saya sangat lancang, tapi percayalah paman saya tidak berharap apapun."
"Trimakasih, tidak apa-apa ini batuk kecil, apakah kau mau jika menikah dengan putriku."
Wajah Devan langsung berubah bagaikan cahaya rembulan yang sedang bersinar terang.
"Apa itu mungkin."
"Tania bisa selamat dan hidup itu karena pengorbanan mu untuk itu Tania adalah hak mu jika kau memang mencintai putri ku, aku akan menikahkan kalian secepatnya."
"Paman ...! apa paman serius!"
Ayah Tania mengagguk dengan pasti.
"Maafkan Ayah, Tatius Tania bukan lagi hak mu."gumam Ayah Tania dalam hati.
Sementara Devan Tersenyum bahagia.
"Trimakasih, paman!seru Devan sambil memeluk Ayah Tania, yang mana pelukan itu di sambut dengan senyuman kecut.