The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab 193.TERSEDOT



Devan menyunggingkan sebuah senyuman kebahagiaan melihat sahabatnya Tatius lagi perang dingin dengan Sang kekasih.Tanpa di sadari Devan Clara diam diam memperhatikan apa yang Devan lakukan.


"Selalu senang ya melihat pacar orang?"Sindir Clara yang merasa dirinya sungguh tidak di hargai sama sekali semua hanya memperhatikan Tania dan Tania terkadang Clara merasa menyesal telah ikut mereka ke tempat ini di mana bukan kebahagiaan yang dia dapat melainkan sakit hati dan makan hati, Devan tersenyum dan tidak marah dengan apa yang di lakukan Clara dia bisa memahami memang tidak selayaknya dia bersikap begitu bagaimana pun juga Devan sudah komitmen memilih Clara sebagai pacarnya pelipur lara hatinya yang luka, Clara juga tidak terlalu jelek tapi sialnya cinta yang ada dan tumbuh untuk Tania lebih dalam, Devan meraih tangan Clara.


"Dengar, maafkan aku mungkin aku sangat tidak berprasaan tolong bantu aku melupakan nya dan jangan biarkan dia selalu menghiasi alam pikiran ku, bersabarlah dan jangan menyerah aku mohon,"ucap Devan sambil menatap sendu wajah gadis yang sedang kusut ada di sampingnya, pandangan mereka bertemu.


"Apa kau yakin aku bisa dan apa mungkin aku bisa bersabar dengan sikap mu yang lebih perhatian ke dia dari pada aku." tanya nya sambil menunduk."


"Aku percaya kau bisa."ujar Devan merasa yakin."


Hari mulai menjelang malam Devan, Clara, Tania dan Tatius memutuskan mengginap di rumah Nenek untuk satu malam saja.


Tatius dan Devan berada dalam satu kamar sedangkan Tania Clara dan Nenek berada di kamar yang paling besar dan sang Nenek awalnya ingin tidur menemani akan tetapi karena mereka bersikeras tidak apa apa akhirnya sang Nenek meninggal kan Tania dan Clara untuk tidur berdua.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam di mana Tania sudah tertidur pulas begitu juga Devan dan Tatius mereka beristirahat dengan tenang selama beberapa jam lalu tenaga mereka terkuras oleh sang penculik Tania.


Di tengah tengah semua orang sudah tidur tanpak Clara dalam keadaan gelisah matanya tidak bisa di ajak untuk beristirahat bahkan di waktu jam sebelas malam pun mata masih bagaikan sinar rembulan yang terang tidak seperti lampu yang cuma lima watt.


Karena kesal tidak bisa tidur Clara berniat pergi ke kamar Devan, minta di temani untuk ngobrol setelah ucapan kekesalan nya pada Devan, akhirnya Devan bisa kembali bersikap sebagai seorang cowok yang perhatian pada sang kekasih hal itu membuat Clara harinya yang kesal dan merasa terabaikan menjadi lumer kembali.


perlahan-lahan Clara membuka pintu kamarnya tanpa membanggakan Tania dan berjalan dengan sangat hati-hati khawatir Tania terganggu dan terjaga dari tidurnya, bahkan Clara membuka pintu tanpa menggunakan sadal agar tidak menimbulkan suara.


Bagaikan seorang pencuri Clara berjalan mengendap endap Keluar kamar, sampai di luar Clara merasa harus, sebelum pergi ke kamar Devan Clara pergi ke ruang dapur untuk mengambil minum, beruntung sang Nenek tidak mematikan semua lampu sehingga arah di ruangan dapur masih terang.


Setelah menuangkan air kedalam gelas dan menegak nya hanya dengan sekali tegak Clara merasa tiba-tiba bulu kuduk nya sedikit meremang.


"Kenapa tiba-tiba bulu kuduk ku berdiri ya, orang bilang kalau bulu kuduk kita berdiri ada sesuatu yang kasap mata di sini, ah tidak aku tidak boleh berfikir begitu, ini pasti cuma perasaan ku saja, yang penakut toh masih sore belum tengah malam tadi juga saat keluar kamar juga baru pukul sebelas malam pasti sekarang masih pukul sebelas tiga puluh jadi apa yang aku takutkan, tidak ada kebenaran nya bukankah hantu keluarnya tengah malam seperti pukul 12 atau pukul 02 pagi dini hari, lebih baik aku cepat kembali ke kamar ku, ah tidak ke kamar Devan dia harus menemani aku dan tanggung jawab karena aku tidak bisa tidur di Rumah Nenek nya." Desis Clara dalam hati sambil berjalan menuju pintu keluar dari dapur.


Tubuhnya masih merasakan meremang di seluruh bulu kuduk nya yang serasa berdiri, akan tetapi Clara tetap berusaha tenang dan tidak perduli dia yakin apa yang dia rasakan itu salah dan hanya perasaan nya saja.


Langkah kaki Clara sudah keluar dari kamar dapur kini dia berjalan menuju kamar Devan dan Tatius, akan tetapi Clara yang baru pertama kali ke Rumah Nenek yang sangat besar dengan lika liku jalan yang sulit di hafal dalam sekali lihat membuat Clara bingung.


"Kamar Devan dan Tatius yang benar arahnya mana, ke kanan apa kiri ya, kenapa jadi lupa dan binggung begini mana di sini cuma ada lampu remang-remang tidak seterang lampu yang ada di dapur, tadi aku masuk lewat sana, seingat ku dan pastinya arah kamar Devan pasti sebelah kanan, aku ikuti sebelah kanan sajalah kalau salah balik lagi, Nenek Devan itu aneh cuma tinggal sendiri saja kok bikin Rumah sebesar ini, bagaikan istana lagi banyak kamar dan ruang ruang kosong, mana kamar Devan dan Tatius kenapa tidak ada pasti aku salah jalan huuuuf bikin hati galau saja, terpaksa aku balik lagi deh."Grutu Clara dalam hati.


"Apa aku tidak bermimpi?"benarkah yang ku lihat ini, waoooo indah sekali." Clara segera masuk dan memungut satu benda yang berkilau.


"Ini mutiara...coba aku gesek gesekan Asli tidaknya pasti akan terlihat." Beberapa menit kemudian Clara menggesek gesekkan mutiara itu dan netra indah milik Clara semakin berbinar ketika mengetahui hasilnya.


"Astaga...ini benar benar mutiara asli, Wah Nenek Devan orang kaya aku harus bersabar dan menggikat Devan agar mau menikah dengan aku dan aku akan jadi wanita yang kaya beruntung Nenek Devan tinggal di tempat terpencil sehingga tidak rawan perampok, wah banyak sekali perhiasan Nenek Devan aku mau seandainya di kasih satu saja," desis Clara dalam hati sambil senyum senyum.


Ketika Clara asik melihat lihat banyaknya perhiasan sang Nenek tiba-tiba terdengar suara yang membuat Clara menutup mulut nya.


"Teng.....!


"Suara apa itu...? dengan jarak satu detik berbunyi lagi.


"Teng.....!


"Astaga bikin orang mau pingsan saja, itu kan suara jam dinding, Apa...? jam dinding itu artinya sekarang sudah pukul dua belas malam,aku harus cepat pergi dari tempat ini besok saja melihat lihat nya.


Bergegas Clara keluar dari kamar dan tanpa pikir panjang hanya menggikuti bisikan hati Clara mulai mencari kamar nya.


"Besok saja nemuin Devan lebih baik aku balik ke kamar ku."


Dengan langkah sedikit tergesa-gesa Clara mulai mencari kamar nya, karena situasi malam dan ruangan yang cuma remang remang Clara tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam satu kamar yang di anggap nya itu kamarnya dengan Tania.


Clara semakin binggung dan resah mana kala setelah masuk ternyata bukan dengan cepat Clara ke luar kamar dan masuk lagi kamar lainnya dan lagi-lagi Clara kecewa tenyata bukan kamarnya pula, ketiika Clara hendak keluar netranya yang menyapu seluruh ruangan di kejutkan dengan sebuah lukisan indah yang terpampang di dalam kamar itu.


"Ini ada lukisan indah sekali, lukisan sebuah kerajaan, Wah Nenek Devan ternyata juga pencinta seni, tapi sayang lukisan nya ngak rapi mungkin salah satu paku penyangga nya jatuh sehingga lukisan ini tidak bisa terlihat sempurna dengan lurus, biar ku bantu membetulkan,"Clara tersenyum senang ketika memandang lukisan kerajaan yang terlihat sangat indah, awalnya Clara hanya berdiri mematung dan mengaggumu saja dan entah mengapa untuk sesaat rasa takut yang tadinya hadir di dalam hatinya hilang seolah olah sudah terkikis dengan menatap keindahan dari lukisan sebuah kerajaan.


"Sangat mengagumkan," desis Clara yang kemudian tangan nya mulai ingin menyentuh dan membelai lukisan indah itu."ini pintunya Sangat bagus dengan ukiran bernuansa hijau dengan perpaduan warna kuning keemasan sangat pas dan serasi sekali." Gumam Clara yang tangan nya kini mulai menyentuh pintu berukir hijau dan pada detik berikutnya tiba-tiba tubuh Clara seakan akan tersedot masuk ke dalam dan......


"Aaaaaaaaaaah.....Devan.....,!Tolong aku...! sebuah jeritan dan teriakan keras dari Clara yang tidak bisa di dengar Devan, Tania maupun Tatius.