
Perlakuan pangeran Tatius yang sangat menyebalkan membuat sang putri sangat marah dan murka, akan tetapi di dalam relung hati yang paling dalam sang putri pun diam-diam mrnggagumi ketampanan dari pangeran Tatius, diam-diam ada rasa senang dan bahagia seandainya kelak pangeran Tatius lah yang akan menjadi suaminya. Dalam lamunan nya tiba-tiba sang Dayang mendekati dan bertanya.
"Ampun, Tuan putri!"sekarang apa yang harus kita lakukan, apakah kita akan tetap berada di sini untuk menghadang semua pangeran yang akan lewat dan menggikuti pertandingan sayembara?"
"Tidak, perlu, sekarang juga, ayo, kita pulang,"
"Baik, putri, saya akan perintahkan semu nya untuk pulang, Ayo, teman teman kita pulang,"seru sang Dayang kepada, para Dayang dan pengawal pengikut Putri Lin Ying.
Sampai di istana putri Lin Ying segera masuk kedalam Puri kerajaan nya, tak lama kemudian sang Ayah, Raja Barat Daya datang.
"Engkau dari mana saja Tuan putri yang cantik,"Seru sang Ayah.
"Ayah, aku baru saja jalan jalan dengan beberapa dayang dan pengawal ke luar istana,"
"Putri..!"bukankah tidak baik jika engkau keluyuran, sedangkan engkau lah yang akan jadi rebutan para pangeran istana,"
"Ayahanda, Raja, tidak usah khawatir, aku bisa menjaga diriku dengan baik,"
"Ayah, tau, tapi tetap saja tidak baik,"
Putri Lin Ying berjalan mendekati sang Ayah dan melingkarkan tangannya di leher sang Ayah sambil tersenyum manja.
"Ayah, tau !" aku sudah menemukan orang yang cocok untuk menjadi suamiku,"
Sang Ayah yang tidak memahami maksud dari putrinya, mengeryitkan dahinya.
"Maksud putri apa?"tanya Ayah penasaran.
Sebelum Putri Lin Ying menjawab pertanyaan sang Ayah, Putri Lin Ying melepaskan pelukannya dan berjalan duduk di kursi yang ada di depan Ayahnya.
"Aku, sudah menemukan calon suami, yang cocok untuk ku Ayah,"ucap Putri Lin yin bangga.
"Oh, ya,!"lalu bagaimana dengan sayembara yang sudah Ayah sebarkan ini, hanya dua hari lagi, sayembara akan di mulai, jika kita batalkan ini akan sangat mencoreng dan akan mempermalukan Ayah."
"Ayah, tenang, saja sayembara tetap akan di adakan tidak di batalkan, Ayah tau, dia juga penggikut dari sayembara ini Ayah,"
"Oh, begitu, tapi kalau dia kalah bagaimana?"
"Tidak, aku yakin dia akan menang,"
"Ya, sudah, apapun yang bisa membuat putri Ayah ini bahagia, Ayah akan senang,"
"Trimakasih, Ayah,"
***
Setelah berbelanja semua kebutuhan yang akan di masak Pak guru Wili dan Tania sudah kembali berada di halaman rumah. Tanpa menunggu lama dengan cepat pak guru Wili membantu membuka kan pintu mobil untuk Tania.
"Ayo, kita turun,"
Tania dan pak guru Wili berjalan beriringan memasuki halaman rumah, tanpa membunyikan bel, Tania langsung membuka kan pintu rumah, tanpa di printah pak guru Wili segera pergi ke dapur dan dengan cekatan menyiapkan untuk makan siang untuk Tania, Ayah dan dirinya. Tania sedikit jengah dengan sikap pak guru Wili yang terlihat begitu Aneh, seakan akan pak guru Wili berada di dalam rumah nya sendiri, langsung menggunakan dapur tanpa permisi.
"Maaf, pak!'sebenarnya pak guru Wili tidak usah repot-repot sebentar lagi, Ayah pulang dengan membawa makanan, jadi tidak perlu bersusah payah masak begini,"ucap Tania.
Tania duduk sambil memperhatikan apa yang di lakukan pak guru Wili, tak lama kemudian,
bel berbunyi, dengan cepat Tania berjalan menuju pintu.
"Ayah..!"wah apa yang Ayah bawa? kelihatan nya berat sekali, sini Tania bantu,"
Tania segera meraih kantong kresek yang di bawa Ayahnya.
"Hari ini ,Ayah pulang cepat jadi bisa sedikit membeli oleh-oleh untuk Tania,"
"Wah, trimakasih, Ayah,"
"Tania, bau apa ini, harum sekali, apa kamu sedang belajar masak?" tanya Ayah Tania yang langsung menuju dapur dan terlihat lah pak guru Wili sedang tersenyum hormat padanya.
"Selamat, sore pak?" maaf menggunakan dapur, tanpa ijin terlebih dahulu,"
"Oh, pak guru Wili, tidak apa-apa pak, silahkan di lanjutkan,"
"Tania..!" iya Ayah,"
"Kenapa kau tidak membantu, pak guru Wili,"
"Tidak, usah, pak! ini sudah selesai semua," sahut pak guru Wili sambil menyiapkan seluruh yang di masak di atas meja makan.
"Mari pak, Tania, ayo kita makan,"
Ayah Tania tersenyum kemudian mendekati pak guru Wili.
"Saya, mandi dulu, apakah ada yang ingin pak guru Wili katakan pada kami, sehingga repot repot masak begini,'
"Iya, pak!" ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak,"
"Baiklah, kita bicara Nanti, sekarang saya mau mandi dulu,"
Tidak menunggu lama Acara makan pun selesai, Tania membantu membersihkan segala sisa makanan ya ada di atas meja, sementara Ayah Tania mengajak pak guru Wili, ke halaman depan duduk dan bersantai di depan.
"Sekarang ceritakan, apa yang ingin pak guru Wili katakan pada kami, apakah nilai nilai Tania yang sangat buruk atau bagaimana,"tanya Ayah Tania penasaran.
"Maaf, pak! mungkin apa yang saya katakan sangat lancang, tapi saya benar benar, serius dengan apa yang saya inginkan,"
"Katakanlah, pak guru Wili tidak perlu sungkan,"
"Begini, pak!" saya berniat ingin meminta Tania dari bapak,"
"Maksud pak guru Wili apa?"
"Saya ingin, menikahi Tania,"
"Apa..?"apa saya tidak salah dengar,"
"Maaf, pak!" saya mencintai putri bapak," ucap pak guru Wili dengan menunduk, ucapan yang nada suaranya biasa saja tapi bagai kan halilintar yang menyambar bagi seorang Ayah, tiba-tiba terlintas pikiran buruk tentang putri nya, Jangan jangan Tania lagi berbadan dua dengan guru ini, sehingga guru ini Nekad mau menikahinya, Ayah Tania diam tak bergeming, bibirnya mengatup rapat sedangkan hatinya sibuk bertanya tanpa ada jawaban.