
Dengan segera para pengawal itu pergi berlalu, kembali, Ratu Derbah melongokan kepalanya ke dalam puri istana kamar Ratu Shima.
"Seperti nya aman, tidak ada siapapun di dalam nya, aku harus harus segera masuk. Tanpa menunggu dan mengulur ulur waktu, Ratu Derbah segera masuk kedalam Puri.
"Wah, luas sekali, kamar puri Ratu Shima ini, Raja betul betul suami tak punya hati, tega teganya mem beda bedakan istrinya, meskipun aku istri kedua setidaknya dia harus bisa bersikap adil, awas, saja aku juga akan minta di tempatkan pada puri yang luasnya dan motif nya sama seperti punya Ratu Shima enak saja mau di beda bedakan, dan nanti jika putraku pangeran Yervan menjadi pemenang dari lomba sayembara itu, sedikit pun Ratu Shima dan anaknya pangeran Tatius tidak akan ku beri, kira kira pangeran Yervan bisa membujuk pangeran Tatius apa tidak ya, sudah pasti bisalah, pangeran Tatius kan bodoh, Ucap ratu Derbah sambil tersenyum sendiri.
Ratu Derbah mengelilingi seisi ruangan, matanya nanar menyapu ke seluruh yang ada di ruangan itu.Ketika hendak melihat kamar mandi mata tajam Ratu Derbah melihat kilau dari balik kelambu, dengan cepat di sibaka nya kelambu itu.
Ternyata hanya sebuah Almari tempat pakaian tiba tiba Ratu Derbah penasaran dengan baju baju milik Ratu Shima, tidak menunggu lama di bukabya Almari baju itu.
"Busyeet...!Indah Sekali baju baju Ratu shima seolah olah semua terbuat dari emas, ini benar benar baju Ratu yang paling istimewa.
"Kenapa Raja tidak membelikan juga kepadaku, benar benar keterlaluan sang Raja itu, awas saja aku juga akan meminta baju yang sama indahnya seperti baju baju Ratu Shima.
"Berhubung aku disini dan tidak ada orang alangkah baiknya jika aku coba, iya benar aku mau mencoba.
Ketika Ratu Derbah Asik mengenakan baju milik Ratu Shima di luar puri sedang Ratu Shima sedang berjalan menuju ke puri istana kamarnya.
"Stop, Ratu ! berhenti dulu, Ratu jangan masuk,"
"Hey, ada apa, kenapa tiba tiba kalian melarang ku,"
"Kami tidak melarang, cuma tunggu lah disini beberapa saat, kami ada keperluan sedikit dengan Ratu Shima,"
"Baiklah, katakan ada perlu apa?"
"Kita duduk disana dulu Ratu,"
"Hah, duduk disana, ya baiklah ayo,"
Bergegas pengawal Son son melangkah dengan diikuti sang Ratu, sementara Pengawal Bom bom segera ke puri untuk memberi tau Ratu Derbah.
Tidak menunggu lama karena langkahnya yang cepat sudah membuat Pengawal Bom bom
sudah berada di puri istana.
Mata tajam Pengawal Bom bom menyapu keseluruh ruangan dan dilihatnya, Ratu Derbah sedang tersenyum pada cermin dengan menggunakan baju yang sangat indah dengan gemerlap keemasan.
"Permisi, Ratu Derbah, di luar sudah ada Ratu Shima.
"Apa ?Ratu Shima sudah ada di luar,"
"Iya, Ratu apa sekarang boleh saya persilahkan masuk, Kulihat Ratu Derbah sudah siap menyambut kedatangan Ratu Shima pakaian yang Ratu Derbah kenakan ini sudah sangat cocok dan bagus untuk Acara penyambutan."
Ratu Derbah menelan ludahnya dengan kasar pasalnya dia tidak merencanakan menyambut kedatangan Ratu Shima dengan baju itu, dia hanya sekedar mencoba Baju milik Ratu Shima tapi mana tau pengawal tentang hal itu.
"Baiklah, suruh Ratu Shima masuk, tapi ingat, jangan mengatakan aku ada disini, karena semua ini adalah kejutan, bagaimana kau mengerti !"
"Saya mengerti Ratu," Ucap pengawal Bombom tegas.
"Baiklah, sekarang kamu cepat, pergi,"
"Baik, Ratu,"
Pengawal Bombom segera keluar istana puri Ratu Shima, sementara Ratu Derbah yang mengetahui Ratu Shima akan masuk ke dalam puri, dengan cepat melepaskan pakaian yang di kenakan nya dan berganti dengan pakaian miliknya sendiri, namun pakaian yang tadinya di kenakan Ratu Derbah tidak mengembalikan nya
ke tempat semula, namun dengan cepat memasukkan baju itu kedalam kantong plastik
kemudian membawanya pergi cepat dari tempat itu.
"Dasar pengawal pengawal tanpa ilmu, mudah di tipu, siapa yang sudih memberikan penyambutan kepada Ratu shima, aku mah ogah, lebih baik aku tinggalkan tempat ini, dan
aku akan menemui Raja agar dia segera membelikan baju baju yang indah seperti baju milik Ratu shima.
***
"Hey, kenapa Nenek dan Tania kesini, apakah sudah selesai bicara nya."
Sang Nenek tersenyum.
"Sudah, cepat kau bawa masuk hasil panenan kita, ini sudah sore, kamu harus cepat menggantar Tania pulang,"Seru Nenek menggingatkan.
"Baik, Nek, aku bawa masuk dulu, Tania tolong kamu bantu aku membawa tomatnya."
"Baik, mana?
"Nih,"Devan menggulurkan kranjang tomat kepada Tania,"
Ketika Tania berjalan lebih dulu ke dapur untuk menaruh tomat yang baru saja di panen, diam diam Devan mendekati sang Nenek.
"Nek, bagaimana?apa benar, luka perban Tania itu cuma luka biasa,"
Sebelum Sang Nenek menjawab, sang Nenek menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Kamu, benar, luka perban yang ada di tangan kiri Tania itu bukan sembarang luka, bahkan dia bisa mengetahui hal hal aneh yang, Nenek sendiri belum pernah menggetahunya.
"Terus, bagaimana, Nek, apa yang harus Tania lakukan, agar terhindar dari hal hal buruk,"
"Devan.., cucuku, kenapa kau begitu risau dan peduli apa yang menyebabkan kamu perduli, apakah kamu suka dengan Tania ?"
Devan yang tadinya biasa saja kini wajahnya berubah menjadi merah dadu ada segurat rona merah disana.
"Kenapa, diam?apa benar yang Nenek tanyakan ini, kalau kamu ada rasa suka dengan Tania,"
"Ah, Nenek, bicara apa, Tania itu temanku Nek, jadi wajar kalau aku khawatir padanya,"Ucap Devan mengelak.
"Ya, sudahlah Kalau tidak mau jujur pada Nenek,"
"Jadi, bagaimana, Nek !'
"Bagaimana, apanya?"
"Itu, lho Nek, luka perbanya, ngak akan menimbulkan hal hal buruk, kan Nek,"
"Tentu, saja ,tidak, jika Tania tidak bertemu dengan Mahkluk jahat,"
"Maksud, Nenek, apa?"
"Tidak, akan terjadi apa apa jika Tania tidak bertemu mahkluk jahat, Nenek rasa yang melukai Tania itu bukan mahkluk yang jahat jadi dia tidak akan jahat pada Tania, cuma...!
"Cuma, apa , Nek !"
"Nyawa, Tania terancam jika yang datang padanya bukan mahkluk baik,"
"Lalu, bagaimana, melindungi nya Nek,"
"Lho, katanya teman biasa, kenapa kamu khawatir begitu,"
"Ah, Nenek, masak Devan harus bilang, kan
Devan malu Nek,"
"Jadi, bener kan, Devan suka sama Tania,"
Devan tidak menjawab pertanyaan Nenek, dia
hanya tersenyum, lalu pergi kedapur sambil berlari membawa cabe hasil panenan nya.