
Raja Sangkala yang mengantar Nenek Devan pergi ke Puri istana kamar pangeran Tatius telah sampai di pintu pendopo yang mana satu kamar berukuran besar bagaikan rumah dengan dinding Puri berukir indah.
"Mereka ada di dalam sana, pergilah dan temui, mereka pasti senang karena bisa bertemu dengan sang Nenek nya dan di sana ada pangeran Tatius putra dari Ratu Shima putrimu jadi dia juga cucumu, sekarang aku tinggal dulu."
Raja Sangkala segera melangkah pergi setelah menunjukkan tempat pangeran Tatius bersama ketiga cucu sang Nenek.
Dengan langkah pasti Sang Nenek melangkah masuk ke dalam puri istana kamar pangeran Tatius, dengan perlahan-lahan dibuka nya pintu kamar itu dan terlihat lah ketiga cucunya ada di sana dalam keadaan baik-baik saja.
"Devan...!" seru sang Nenek parau karena menahan rindu."
Mendengar ada yang memanggil namanya dengan cepat Devan membalikkan badan dan menoleh ke sumber suara dan terlihat lah oleh nya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Nenek nya.
"Nenek..!"ucap Devan bahagia sambil berlari menghambur dalam pelukan sang Nenek. Dodi yang melihat itupun tak kalah girangnya dengan cepat dihampiri dan di peluknya sang Nenek.
"Nenek...!" kau juga ada di sini ya.. bagaimana saat jatuh apa pan tat Nenek tidak sakit?" tanya Dodi polos.
Pertanyaan yang langsung mendapat kan pukulan di kepala Dodi hadiah dari Devan.
"Kalau ngomong itu yang sopan, sama orang tua ngomonya kacau begitu."
Dodi nyengir kuda sambil mengusap kening kepala nya yang habis terkena jitakan tangan Devan.
"Bagaimana keadaan kalian dan Kenapa Tania bisa terbaring di kamar ini?"
"Tania di serang Vampire, Nek!"jawab pangeran Tatius.
"Hei...!" Vampire jelek Dia Nenek ku, bukan Nenekmu sembarangan saja panggil Nenek."
"Apa, aku tidak boleh memanggil Nenek?Tanya Pangeran Tatius pada Nenek Devan.
Melihat kelakuan sopan dari pangeran Tatius Sang Nenek mendekati pangeran Tatius dengan lembut di usapnya kepala pangeran Tatius.
"Seharusnya kamu terlahir sebagai manusia biar bisa tinggal sama Nenek." lirih sang Nenek yang suaranya tidak bisa didengar siapapun.
"Apa Nenek, mengijinkan aku memanggil Nenek dengan sebutan Nenek?" tanya pangeran Tatius mengulangi pertanyaannya karena pertanyaan yang tadi belum mendapatkan jawaban.
"Boleh..!"
Pangeran Tatius sangat girang entah mengapa rasaanya sangat senang di boleh kan memanggil Nenek Devan dengan sebutan Nenek tanpa sadar pangeran Tatius langsung memeluk sang Nenek yang juga langsung mendapat kan sambutan pelukan hangat dari sang Nenek hal itu semakin membuat Devan bertambah tidak suka dengan pangeran Tatius. Apa yang di lakukan Sang Nenek kepada Pangeran Tatius tak lepas dari kacamata penglihatan Ratu Shima air mata nya lolos begitu saja ketiika melihat sang putra mendapatkan pelukan hangat dari Nenek kandungnya yang masih tidak bisa di mengerti, kenapa Sang Nenek tidak bisa bersikap sedikit baik padanya jangankan memeluk, menatap dan berada dekat dengan nya saja serasa melihat sesuatu yang sangat mengerikan seakan akan keberadaan nya tidak di perduli.
Ratu Shima semakin yakin pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap dingin ibu kepada nya dan secepatnya Ratu Shima bertekad akan menggungkap semua misteri itu dalam waktu dekat, cukup senang Ratu Shima bisa melihat pangeran Tatius di peluk sang Ibu, setelah puas menatap Ratu Shima segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa aku juga boleh singgah di rumah Nenek ?"
"Tentu saja, boleh !" coba aku lihat Tania bagaimana keadaan nya."
Sang Nenek berjalan mendekati Tania.
"Bagaimana keadaan mu Nak?"
"Nenek...!"seru Tania dengan wajah berbinar senang. Sejak kapan Nenek ada disini!"aku bosan di sini aku mau pulang,, aku kangen dengan Ayah."
"Kita akan segera pulang,"
"Bilang saja kangen sama pak guru Wili," Cletuk Devan membuat Tania langsung memberikan pukulan pada tangan Devan.
"Kamu ngomong apa sih, sembarangan saja nuduh orang."Sungut Tania dengan bibir di krucutkan kedepan.
"Siapa itu pak guru Wili?" tanya pangeran Tatius penasaran.
"Calon suaminya yang sudah dapat restu dari calon mertua Ayah Tania."ucap Devan memberikan jawaban, rasanya sangat menyenangkan bisa melihat wajah pangeran Tatius sendu mendengar perkataan nya diam diam Devan tersenyum dalam hati. "Syukurin loe seenaknya saja main samber pacar incaranku. "Gumam Devan dalam hati.
"Sudah sudah jangan ribut, Nak Tatius apa kami bisa pulang sekarang?"
Dengan berat hati pangeran Tatius mengagguk.
"Kalau begitu Tolong tunjukkan jalan pulang yang cepat dan tanpa membuang waktu lama."
"Baik, Nek !" dua hari lagi kita akan pulang, sekarang Nenek dan cucu Nenek beristirahat dan makan dulu, jamuan dari kami."
"Baiklah trimakasih."
"Tania..!"bisa kah ikut dengan aku sebentar?"
"Kemana?'
"Mau mengajakmu melihat lihat istana ini ada tempat yang bagus yang ingin ku tunjukkan padamu?"
"Baiklah, ayo!" Tania segera mendekati sang Nenek untuk meminta ijin.
Nek..!" Tania pergi dulu."
"Hati-hati, Tatius...jaga Tania ya !"
"Baik, Nek."
"Aku ikut..!" seru Devan.
"Maaf, aku hanya ingin mengajak Tania saja ada sesuatu yang juga ingin ku sampaikan padanya."
"Tidak perduli pokok nya aku ikut." Kekeh Devan.
"Devan,kamu di sini temani Nenek"
"Tapi, Nek!"
"Sudah biarkan mereka pergi, Tania dan kau Tatius pergi lah Devan akan bersamaku di sini."
"Nenek... !"Vampire jelek itu mau cari kesempatan Nek,"seru Devan komplin.
"Ha .ha. ha..!" kamu juga mau cari kesempatan juga kan?" ucap Dodi.
"Hei.. Kau!" dasar Idiot, sok tau lho."Sungut Devan kesal
"Sudah sudah kenapa harus berantem,Nak Tatius dan kau Tania pergi lah.'
"Tapi , Nek...
Belum selesai Devan Bicara tangan Nenek sudah terangkat memberikan tanda agar Devan diam dengan kesal dan terpaksa Devan pun diam.
Pangeran Yervan yang mengejar sosok misterius, telah sampai pada taman buatan istana kerajaan, yang mana banyak di tumbuhi beraneka ragam tanaman bunga.
"Kemana, orang itu menghilang?" kurang ajar siapa yang berani main main dengan ku."Pangeran Yervan mengedarkan pandangannya keseluruh sudut taman tapi bagaikan di telan bumi orang misterius itupun tak jua di temukan.
"Apakah ini kelakuan dari abdi dalem krajaan, tidak mereka tidak akan berani main main dengan ku, jika bukan abdi kerajaan lalu sispa yang sudah lancang mempermainkan ku, hai...itu di taman bunga itu ada yang bergerak pasti orang itu bersembunyi di sana, aku harus menangkapnya diam...diam." dengan perlahan lahan. bahkan tanpa menimbulkan suara pangeran Yervan sudah bersiap untuk menangkap basah orang misterius itu.
"Satu....Dua....ti....gaa...! Hooop...!" kena kau.....?"pangeran Yervan berhasil menangkap punggung orang misterius dan dengan cepat di baliknya tubuh orang misterius itu dengan kasar dan..... pangeran Yervan membulat kan matanya dengan sempurna ketika tau siapa yang ada di depannya.
"Kauuuu.......?"