The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.355.BERBUNGA BUNGA



Tania mengerjap ngerjapkan kedua bola matanya dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Pemuda yang sedang berlari kecil ke arahnya adalah Devan teman karib satu sekolah satu genk yang satu server selalu mendapat peringkat juara satu murid Terbandel dan terbanyak mendapatkan hukuman terutama hukuman dari Pak Guru Willi guru Matematika, yang sangat memusingkan dan membosankan.


"Devan...!" lirih Tania tak percaya sehingga dia kembali menatap wajah wanita ibu yang ada di depannya, seolah olah sedang Meminta penjelasan terkait dengan ucapan dari wanita itu yang menggatakan Devan adalah calon suaminya, bahkan Tania sangat terkejut mendengar jika pernikahan nya akan dilakukan Minggu ini.


Dengan susah payah Tania menelan ludahnya, hatinya betul betul merasa binggung dan tidak mengerti. Seolah olah memahami makna dari tatapan mata Tania sang ibu yang kebetulan bertemu dengan nya di jalan mulai berbicara.


"Kenapa, seperti kaget begitu Nak Tania, dia calon suamimu kamu beruntung punya calon suami seperti dia kau tau, jika tidak ada calon suamimu itu mungkin kini kamu sudah benar-benar tiada dan Ayah mu sang duda keren itu akan selalu murung dan sedih, dia mempertaruhkan segalanya demi kamu bisa selamat, jadi pesanku jadilah istri yang baik dan setia padanya, tuh, suamimu sudah dekat aku pergi dulu, smoga kau bahagia Nak, aku akan hadir Nanti di pesta pernikahan mu, ingat jangan sakiti hati pemuda yang baik itu."


Setelah mengucapkan beberapa kata Nasehat sang ibu itupun melangkah pergi, tinggalah Tania dengan perasaan dan hati yang tak menentu, sementara Devan sudah berdiri di depan nya dengan nafas ngos-ngosan.


"Hoss... hoss.....hoss!


"Tania Rupanya kau ada disini, aku sangat khawatir padamu, aku tadi Melihat ada sosok orang berbaju hitam membawamu pergi,apa kau baik-baik saja apa dan kau tidak terluka, coba lihat."


Devan dengan perasaan cemas memeriksa tangan dan tubuh Tania dengan cara diputarnya tubuh itu di carinya ada bekas luka yang menghawatirkan atau tidak.


Sementara Tania masih tetap diam dengan segala tingkah yang dilakukan Devan. Melihat Tania hanya diam saja bagaikan patung, Devan mengeryitkan dahinya menatap dengan penuh tanda tanya.


"Kau, tidak apa-apa kan? katakan padaku mana yang sakit mana yang terluka..?"


"Aku tidak apa-apa, " jawab Tania datar sambil menarik tangan nya yang di gengam Devan."


"Syukurlah, kalau kamu tidak apa-apa, tapi kenapa kamu diam seperti orang yang lagi sedih dan susah saja ada apa dan siapa orang yang membawa mu tadi?"


"Itu tidak penting untuk kujawab, aku ingin bertanya padamu, apa benar kamu itu calon suamiku dan apa benar kita akan menikah Minggu depan?"


Devan tergelak Mendengar pertanyaan gadis yang ada di depannya. Merasa di tertawakan Tania mengkrucutkan bibirnya dengan kesal menatap tajam pemuda yang ada di depannya.


"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu?" sinis Tania kesal sambil berjalan.


Dengan bibir menahan tawa Devan menggikuti langkah Tania dan berjalan di samping nya.


"Tidak, jangan marah begitu masa kamu lupa, bukankah kita tadi juga baru saja memilih gaun pengantin untuk kita dan sekarang belum ada sepuluh jam sudah bertanya apakah kita akan menikah jadi yang lucu siapa coba kamu sengaja dan pura-pura lupa kan."


Tania menghentikan langkah kakinya dan menatap lekat lekat pemuda yang ada didepannya.


"Jadi benar kita akan segera menikah?"


"Tentu saja," jawab Devan sumringah.


"Tapi, aku tidak mencintaimu...!"


"Deg ...!


Bagaikan bongkahan batu menghantam hati dan membuat sesak untuk bernafas Devan yang tadinya ceria dan Tersenyum bahagia mulai menatap lekat lekat Gadis yang ada disampingnya.


Dengan susah paya Devan meneguk ludahnya dengan kasar, entah mengapa tiba-tiba hatinya merasa sakit dan perih dengan ucapan Gadis yang ada di sampingnya. Devan menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


Tania bisa melihat raut kekecewaan dari mata Devan yang kini terlihat begitu sendu. Dengan susah payah pula Tania menelan ludahnya. hatinya begitu binggung dan ragu di satu sisi tidak ada sedikit pun rasa cinta untuk orang yang ada di sampingnya, hati dan perasaan nya sudah jatuh dan di berikan pada satu pemuda Vampire yang mungkin saat ini sudah melupakan nya sudah tidak perduli lagi padanya, bahkan bisa jadi sudah tidak lagi mencintai nya, Tania Tersenyum kecut mengenang kisah cinta nya yang menyakitkan di mana dengan mata kepala sendiri Melihat betapa mesranya sang kekasih memeluk wanita lain, masih terngiang juga di memori ingatan nya apa yang dikatakan seorang wanita yang tadi bertemu dengan nya, pemuda yang ada di depannya inilah yang sudah berkorban untuk menyelamatkan nyawanya dan sudah bersusah payah memperjuangkan kehidupan nya agar bisa melihat indahnya dunia. Devan masih menatap wajah Tania dengan tatapan mata sendu dan masih menunggu Jawaban darinya.


Dengan senyum tersungging di bibir meskipun senyum itu sangat terlihat jelas sangat dipaksakan, Tania menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Tidaklah, pernikahan tetap akan kita lakukan untuk apa di batalkan, aku kan cuma bercanda, ayo kita pulang," ajak Tania pada Devan.


Devan Tersenyum menyambut uluran tangan Tania untuk di gengamnya dan berjalan beriringan. Bukannya tidak mengerti Devan mengerti dan bisa merasakan ada yang aneh pada diri Gadis yang ada di sampingnya, dia yakin apa yang dikatakan Gadis yang ada disampingnya tidak seperti dengan keadaan isi hati yang sebenarnya, tiba-tiba Devan menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu...!


"Ada apa?"


"Kalung kamu mana?"


"Kalung, kau juga tau aku memiliki Kalung? tanya Tania penasaran.


"Ya, kan kamu yang menunjukkan padaku waktu itu," Ucap Devan kemudian, Devan Sengaja bicara bohong dia ingin tau apa jawaban dari gadis yang ada di depannya.


"Oh, iya aku lupa, kalungnya ini."


Tania mengeluarkan Kalung dari dalam saku celana jeans nya.


Devan Tersenyum kecut Mendengar perkataan Tania.


"Jadi benar, dia berbohong dan dia juga berbohong menerima pernikahan kami meskipun sesungguhnya hatinya tidak ingin, ada apa ini, apa yang menyebabkan Tania menerima dengan muda sedang kan kalung mantra itu sudah terlepas dari leher nya dan tidak lagi menggeluarkan sinar cahaya." gumam Devan dalam hati.


Melihat Devan diam dan terlihat melamun, Tania mencubit lengan kekar di sampingnya.


"Hei, kenapa diam saja, mau apa tanya Kalung ini, apa kau ingin memakainya."


Devan yang tersentak dari lamunannya buru-buru Tersenyum.


"Hahaha, tidak lah untuk apa aku kan laki-laki masak mau pakai kalung sih, aku cuma bertanya saja, simpan lagi aja kalungnya."titah Devan dengan Tersenyum.


"Baiklah, ayo sekarang kita pulang."ajak Tania pada Devan.


Tanpa menolak Devan menggikuti langkah kaki Tania sehingga mereka berjalan beriringan.


"Tania, apa aku boleh bertanya."


"Tentu, mau tanya apa?"


"Apakah kamu tidak menyesal menerima ku sebagai calon suamimu." tanya Devan hati-hati.


"Ngak lah, ayo kita pulang pasti Ayah sudah menunggu."


Devan mengagguk kemudian kembali berjalan beriringan di samping Tania meskipun hatinya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya, apa mungkin Tania sudah jatuh cinta padanya, apa mungkin gadis keras kepala itu, memiliki rasa padanya, bagaikan mendapatkan durian Runtuh hati Devan berbunga-bunga meskipun belum tau pasti alasannya mengapa Gadis di sampingnya mau menerima dirinya.