
Setelah kepergian Clara, Devan mengacak rambutnya dengan kasar hatinya begitu kalut dan frustasi.
Dalam satu hari Devan selalu bersikap dingin dan marah-marah meskipun itu kepada salah satu pembantu nya,
Kesal, kecewa dan geram semua bercampur menjadi satu.
Dengan perasaan kesal Devan melakukan satu panggilan telepon yang tak lama kemudian telpon pun tersambung di dalam telpon Devan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dengan Clara, tampak ketegangan disana terjadi cukup lama kemudian, pembicaraan pun mulai kembali membaik.
Devan menutup sambungan telpon dan hari ini adalah hari terakhir dia menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan nya, karena besok tinggal satu hari lagi Acara pernikahan Devan dan Tania akan segera berlangsung.
Hari ini Devan sengaja pergi ke Rumah Clara yang disambut hangat kakak Clara yang juga teman satu sekolah nya meskipun mereka berbeda usia dan kelas.
"Kita pergi sekarang, Aku tidak mau membahas ini di dalam Rumah mu,"
"Ok, kita pergi tunggu sebentar," laki-laki yang tak lain kakak Clara segera masuk kedalam menyambar sebuah jaket kulit yang tergantung di dinding kamar dan sebuah helm." Ayo berangkat."
Akhirnya Devan dan kakak laki-laki Clara berangkat meninggalkan Rumah dengan kecepatan cukup tinggi sehingga sampai di sebuah Restoran yang cukup megah di kota itu.
Devan mengajak masuk ke dalam Restoran yang sangat ramai pengunjung kala itu, mereka berdua hanya memesan beberapa makanan ringan sebelum kemudian Devan mengutarakan semua yang ada dalam hatinya, awalnya semua berjalan baik dan Normal akan tetapi tiba-tiba pembicaraan mereka meninggi kakak Clara seperti tersulut emosi ketika Devan mengucapkan sesuatu, karena emosi yang ada membuat kakak Clara berdiri dan dengan kasar mencengkram krah baju Devan.
Hal itu terjadi beberapa menit, kemudian keadaan Kembali reda dan Normal seperti biasa seakan-akan tidak terjadi sesuatu apapun, Devan segera mengantar pulang kakak laki-laki Clara hingga sampai di depan pintu gerbang rumah, kemudian Devan Kembali melaju kan mobilnya menuju ke sebuah penginapan yang ada di kota itu.
"Permisi pak, apakah di tempat bapak ada orang asing yang menginap disini."
"Maksud nya pendatang baru begitu kah?"
"Betul pak!"
"Tunggu, kalau di penginapan satu seperti nya tidak ada cuma kemarin ada satu orang bule yang tinggal disini tapi mereka tidak lama cuma satu malam kemudian langsung pergi, coba kamu kepengginapan dua disana juga ada dua orang asing yang bermalam, kelihatan nya mereka keluarga Sultan, karena mereka membayar biaya pengginapan dengan menggunakan keping emas."
"Apa? menggunakan keping emas."
"Iya,"
"ini tidak salah lagi pasti Tatius yang ada di sana, Aku harus cepat pergi kesana " Gumam Devan dalam hati."Baiklah pak saya permisi dulu, akan saya lihat apa benar di pengginapan dua teman saya tinggal."
Setelah meminta izin pulang Devan segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju ke penginapan dua.
Lampu masih menyala dengan terang meskipun suasana terlihat sangat sepi, seakan akan tiada berpenghuni.
"Busyet, penginapan seluas dan sebesar ibu di tinggalin sendiri, dasar Tatius sombong, Aku mau lihat apa reaksi dirinya ketika dia melihat Aku datang, pasti akan sangat lucu akan Aku ketuk pintu nya, ah tidak-tidak mengapa harus mengetuk pintu lebih baik Aku langsung masuk saja.
Devan segera membuka pintu depan yang kebetulan tidak dikunci karena paman patih lembu ireng sedang keluar Rumah.
Devan mengedarkan seluruh pandangan matanya ke seluruh ruangan Namun Devan tidak menemukan sosok Pangeran Tatius.
"Kemana dia, kok tidak ada, coba Aku lihat kedalam kamarnya."bergegas Devan masuk mencari Pangeran Tatius dari kamar satu ke kamar lainnya yang ada di dalam penginapan itu.
Devan sedikit kecewa lantaran Pangeran Tatius tidak ada di dalam kamar dan ketika Devan hendak keluar dari dalam kamar tiba-tiba di depan pintu sudah berdiri sosok laki-laki yang dicari nya.
Tatapan mata Pangeran Tatius yang tajam membuat Devan sedikit gugup.
"Ta-tatius, kau di situ,"
"Mau apa kau kesini?" tanya Pangeran Tatius dingin, semenjak Pangeran Tatius mengetahui kekasih nya lebih memilih Devan dari pada diri nya Pangeran Tatius sangat benci dan tidak suka dengan Devan meskipun diantara mereka berdua sebenarya ada hubungan saudara meskipun itu sebatas saudara sepupu.
Devan mencoba menetralkan apa yang ada di dalam hati nya, dengan senyum tersungging di bibir, sementara Pangeran Tatius tetap menatap Devan dengan tatapan mata tajam dan tidak bersahabat.
"Keluar dari kamarku," teriak Pangeran Tatius pada Devan dingin.
"Cuih, galak amat, dasar Vampire jelek," sungut Devan dalam hati, sebenarnya Devan mau membalas hinaan dan perkataan Pangeran Tatius akan tetapi Devan sadar hal itu hanya akan merugikan dirinya, dimana bisa jadi jika Pangeran Tatius hilang kendali maka tamatlah riwayat nya hari ini, demi keselamatan pribadi Devan memilih mengalah. Dengan langkah sedikit keras karena Devan sengaja sepatu kakinya yang dihentakan di atas lantai, sebagai tanda dirinya juga sangat kesal.
Sampai di ruang tamu Devan berhenti dan duduk dengan kaki disilangkan. Pangeran Tatius yang melihat ulah dari Devan sedikit geram dan kesal.
"Jangan pura-pura kau tidak tau apa tujuan ku kesini, wahai Pangeran Vampire,"
"Aku, tidak tau karena aku tidak mau menebak apa tujuan mu, jika kau mau katakan jika tidak silahkan pergi karena Aku juga ingin segera beristirahat."Ucap Pangeran Tatius dingin.
"Nih, ambil dan gunakan di Acara pesta pernikahan ku,"Devan melempar kan sebuah kantung kresek hitam yang sedikit berat.
"Apa itu dan untuk apa kau berikan padaku."
"Buka dan lihat, jangan hanya apa itu, apa itu."
"Kau berani menerintahku,"sinis Pangeran Tatius geram, hati Pangeran Tatius benar-benar serasa dibakar dengan kayu yang sudah berkobar apinya entah mengapa sangat geram dan rasanya ingin mencabik-cabik laki-laki yang ada didepannya, seandainya dia tidak ingat jika laki-laki yang ada di depannya adalah saudara sepupunya.
"Kenapa tidak, Aku juga bukan anak buah mu, jadi tidak masalah jika Aku memerintahkan dirimu, cepat buka."
"Kau ..! tidak Aku tidak sudih membuka nya pergilah dari sini dan bawa kembali apa yang kau berikan padaku,
"Pok ..pok...pok..!"Devan bangkit dari duduknya dan bertepuk tangan.
"Baik, Aku yang akan buka ," dengan gerakan cepat Devan membuka isi yang ada di dalam kresek hitam.
"Nih, untuk mu pakai disaat kau menghadiri pesta pernikahan ku besok, ingat jangan datang terlambat."ancam Devan pada Pangeran Tatius.
Pangeran Tatius menyambar baju yang diberikan Devan kepadanya dan melemparkan ke muka Devan.
"Pok .!wajah tampan Devan terkena benda keras berbentuk baju.
"Ambil dan bawa pergi, Aku tidak butuh baju itu."sinis Pangeran Tatius dingin.
Devan mengusap wajahnya yang baru saja terkena lemparan baju.
"Kau berani menolak, hei....! Vampire jelek apa kau akan datang ke pesta pernikahan ku dengan baju jelek mu itu? apa kau mau menunjukkan pada semua yang hadir di pesta pernikahan dengan baju Vampire mu itu, atau jangan-jangan kau sengaja mau membuat kekacauan semua orang yang hadir Nanti melihat dan ketakutan dengan baju jubah hitam Vampire mu yang akhirnya akan membuat pesta pernikahan ku berantakan, apa itu tujuan mu?" dengar jika kau macam-macam di hari pernikahan ku besok, Aku akan katakan pada Tania semua adalah ulahmu dan kau tau pasti Tania akan....
Belum juga Devan menyelesaikan ucapannya Pangeran Tatius yang geram sudah berteriak dengan lantang.
"Diam kau, cepat pergi dari sini," seru Pangeran Tatius keras yang mana kesabaran nya telah habis dan dengan kasar dan keras Pangeran Tatius menyeret Devan keluar pintu dan mendorong nya dengan kuat keluar, tubuh Devan yang didorong Pangeran Tatius dengan sangat kasar dan keras sehingga jatuh dengan posisi mencium tanah dan ketika hendak bangkit Devan terkejut karena sebuah tangan membimbing nya untuk bangkit.
"Nenek..!" seru Devan dan Pangeran Tatius bersamaan karena keduanya sama-sama terkejut.
"Apa yang kau lakukan dengan saudara sepupu mu Tatius?"
"Dia, sudah kurang ajar Nek!
"Tidak, Nek, Aku berniat baik tapi Tatius tidak tau trimakasih Nek."
"Devan bohong Nek, dia sengaja memancing emosi ku."Serga Pangeran Tatius membela diri.
"Tatius bohong Nek."sela Devan
"Aku tidak berbohong Nek?"
"Sudah-sudah, diam kalian, apa kau akan pergi pulang malam ini." tanya sang Nenek pada Devan
"Ini sudah mlm Nek aku mau menginap disini."
"Enak saja tidak boleh."
"Tatius, jaga sikapmu dan kau Devan cepat masuk dan cari kamar yang kosong dan cocok untuk beristirahat mu,"
"Baik, Nek!" bergegas Devan masuk kedalam rumah.
"Nek, kenapa Nenek biarkan Devan tidur disini Nenek benar-benar tidak memikirkan perasaan ku," geram Pangeran Tatius yang kemudian berlari masuk ke dalam kamar nya.