
Suara Kokok ayam mulai bersahut-sahutan pertanda pagi telah datang. Pangeran Tatius yang sudah bangun bergegas pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya kurang lebih dua puluh menit pangeran Tatius melakukan ritual mandi.
Suasana di dalam ruang tamu masih terlihat sepi, hal itu berarti Paman Patih Lembu ireng belum bangun dari tidurnya.
Pangeran Tatius Tersenyum smrik, menatap ke lantai atas tempat di mana paman patih lembu ireng beristirahat.
"Aku harus cepat pergi, aku tidak mau Tania menunggu ku terlalu lama disana, aku harus datang lebih awal sebelum dia datang tapi aku olah raga dulu sebentar sebelum pergi karena aku ingin berdoa dan aku berharap doaku dikabulkan, Ayah Tania sudah mengajari ku entah mengapa meskipun aku sering di usir Ayah akan tetapi hatiku menggatakan jika Ayah Tania sangat sayang padaku."
Perlahan lahan pangeran Tatius mencuci muka seperti yang di ajarkan Ayah Tania kemudian dia mulai melakukan olahraga pagi yang pada dunia manusia dikenal dengan sebutan Sholat subuh.
Pangeran Tatius tidak tau apa itu Sholat yang dia tau, Ayah Tania mengajarkan nya untuk mencuci muka dan berolahraga.
Setelah melakukan semua itu dan menengadahkan tangan untuk meminta sesuatu yang di mana Ayah Tania pernah bilang jika ingin apa-apa harus sholat dulu baru meminta dalam doa pasti di kabulkan hal itulah yang membuat pangeran Tatius tertarik dan selalu melakukan meskipun tidak memahami.
Tanpa menunggu Paman Patih lembu ireng pangeran Tatius segera terbang melesat melalui jendela.
Suasana memang masih sangat pagi dan sepi, Ketika pangeran Tatius sudah sampai di perbatasan taman kota.
Sejenak pangeran Tatius celingukan ke kiri dan ke kanan,kedua bola matanya sibuk mencari tempat yang nyaman untuk duduk, setelah menemukan dengan santai Pangeran Tatius duduk menunggu dengan sabar kedatangan sang kekasih.
"Aku harap Tania tidak datang terlambat aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis mengemaskan itu, rasanya ini waktu berjalan sangat lama sekali." Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan kemudian menyandarkan kepalanya pada pohon dengan berselonjor kaki.
****
Di dalam Rumah setelah menyelesaikan Ritual mandi Tania duduk termenung di depan cermin, meskipun satu tangan nya sibuk menyisir rambut, akan tetapi alam pikiran nya menerawang jauh.
"Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana caranya aku bisa menjelaskan Nanti, ini sangat menegangkan dan sangat sulit lebih sulit dari pelajaran Matematika yang membosankan itu, apa aku pura-pura sakit saja biar tidak perlu menemuinya, tapi aku juga kangen aku sudah lama tidak melihat nya rasanya sangat rindu tapi, kini semua telah berbeda, diantara kami sudah tidak ada hubungan apapun lalu apa gunanya bertemu yang ada Nanti justru membuat hatiku tak berdaya, huuffp."Tania membuang napasnya dengan kasar.
"Tok....tok...tok....!
Mendengar suara pintu diketuk Tania segera menoleh dan memberikan jawaban.
"Masuk, ayah! pintunya tidak dikunci."Mendengar jawaban dari dari dalam kamar segera Ayah Tania membuka pintu.
"Tania....! apa kamu belum siap Nak?"ini sudah mau siang lho."
"Ayah,aku ragu dan aku juga binggung jika Nanti bertemu apa aku bisa mengatakan semuanya pada Tatius."
Dengan gemas di ditepuk pelan pipi halus Tania.
"Pasti bisa, ayo sekarang cepatlah berangkat Ayah akan memesankankan ojek online untuk mengantarmu kesana."
"Baiklah Ayah,"
Meskipun ragu dan terasa sulit Tania akhir nya menuruti keinginan sang Ayah.
Sebelum Ayah Tania memesan ojek online tiba-tiba pintu rumah di ketuk dari luar.
"Tunggu Ayah buka pintu dulu, siapa yang datang di hari masih belum begitu siang."
"Nak, Devan !seru Ayah Tania sedikit terkejut juga sdikit kecewa pasalnya hari ini Ayah Tania mengginginkan Putrinya segera menyelesaikan masalah nya dengan Tatius bagaimanapun juga Ayah Tania tidak tega melihat Tatius yang masih terlihat begitu sangat berharap pada putrinya, sedangkan sang putri tidak mungkin lagi bisa melanjutkan hubungan nya karena Devan lah yang lebih berhak atas Tania Putri nya karena dia telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Tania Putri semata wayangnya.
Melihat laki-laki paruh baya yang ada di depannya justru diam terpaku Devan tersenyum.
"Om, apa aku boleh masuk?"
Setelah baru tersadar dari pingsannya Ayah Tania yang sedikit gugup segera menyunggingkan sebuah senyuman sambil mengagguk.
"Tentu saja boleh, ayo masuk."ajak ayah Tania pada Devan yang mana pada saat itu juga Tania batu keluar dari dalam kamar dengan keadaan sudah rapi.
"Apa ojeknya sudah datang Ayah !"
Teriak Tania dari dalam kamar yang mana ketika keluar langsung terdiam ketika melihat wajah Devan sudah berdiri di depan pintu.
"Tania, kau sudah rapi dan cantik mau kemana kenapa harus cari ojek, ayo aku antar." tawar Devan dengan senyum tersungging di bibir, Devan benar-benar merasa beruntung karena Tania begitu cantik dan kini tanpa harus menggunakan guna-guna atau pelet cinta Tania sudah mau menerima dengan suka rela.
Sejenak Tania menatap pada wajah sang Ayah seolah meminta penjelasan. Ayah Tania menelan ludahnya dengan kasar sebelum Tersenyum.
"Pergilah, dengan calon suamimu Nak, biar dia saja yang mengantarkan." ucap Sang Ayah kemudian.
Mendengar perkataan dari sang Ayah Tania membulatkan kedua bola matanya, hatinya hendak protes, bagaimana mungkin pergi dengan Devan sedangkan dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan Tatius.
Seolah memahami apa yang putrinya rasakan sang Ayah Tersenyum dan menepuk lembut pundak putrinya.
"Tidak apa-apa ini justru akan membantu mu lebih mudah untuk me jelaskan padanya." lirih sang Ayah tepat di telinga putri nya.
Tania mencebik kesal dengan mengkrucutkan bibirnya akan tetapi tidak ada pilihan lain selain menerima.
"Baiklah, ayo kita pergi."
ajak Tania kemudian pada sosok pemuda tampan yang ada di depannya yang mana sebentar lagi akan menjadi suami halalnya dan mimpi nya bisa menyatukan cinta dengan orang terkasih akan segera berakhir.
Dengan wajah sumringah dan bahagia Devan segera meminta izin pada Ayah Tania untuk segera pergi. Sementara Tania tidak mau menunggu dia berjalan lebih dulu ke motor yang sudah ada di depannya.
Dengan melambaikan tangan setelah mencium tangan calon bapak mertua Devan pamit undur diri, melangkah menghampiri kekasihnya yang sudah mengenakan helm penutup wajah.
Devan meneguk ludahnya kasar pasalnya dia belum puas memandangi wajah cantik Tania sang Kekasih sudah menutup wajahnya dengan helm besar yang tentunya anti tembus pandang.
"Kita mau kemana?"
"Antar aku ke taman perbatasan kota."
"Mau apa kesana?"
"Banyak tanya !mau ngantar tidak."
"iya-iya....! begitu aja ngambek."Sungut Devan yang mulai melajukan motornya.