
dasar anak sialan berani beraninya dia menjebak ku dengan cara kotor, awas saja kau, akan ku pastikan kau akan mendapatkan hukuman nya. Ibu dan Anak sifatnya sama sama licik selama aku hidup kerajaan ini tidak akan bisa jatuh ke tangan orang licik seperti mu , mau jadi apa kerajaan ini jika sampai memiliki pimpinan model kacang teri begitu.
Dengan langkah gontai Raja Awang Awang Vampire datang ke kamar Puri istana Ratu Derbah yang masih saja berteriak teriak kepada para Dayang abdi kerajaan yang sedang membantu mengobati lukanya.
Beberapa Dayang yang melihat kehadiran Raja Awang Awang Vampire segera menundukkan kepala dengan memberikan salam hormat sedangkan Ratu Derbah yang dalam keadaan tengkurap di atas Ranjangnya, tidak tau akan kehadiran Raja di dekatnya, dia masih dengan kasar memerintah sang Dayang untuk mengobati lukanya dengan pelan pelan.
"Kalau kau masih ingin bekerja di disini kerjakan dengan benar, pelan pelan di tiup juga biar aku tidak merasakan nyeri nya."
"Baik, Ratu!"
Ketika Dayang itu akan mengoleskan obat dengan bahasa isyarat, mata Raja meminta Dayang itu untuk pergi, dengan perlahan-lahan semua dayang yang ada di dalam kamar itupun pergi.
Merasa tidak ada yang menyentuh punggung nya kembali Ratu Derbah berteriak.
"Hei....!" kenapa berhenti, cepat obati lukaku atau aku pecat kau sekarang juga." karena tidak mendapat kan jawaban akhirnya Ratu Derbah segera membalikkan tubuhnya dan dengan kasar mencengkram tubuh yang ada di belakang nya dengan keras dan akan memberikan pukulan tapi alangkah terkejutnya dia ketika tau siapa yang ada di depannya cengkraman yang tadinya kuat tiba-tiba mengendur Ratu Derbah pun langsung tersenyum.
"Ra-Raja...! ucap nya sambil beringsut mundur wajah galaknya tiba-tiba menghilang di sapu bumi dan yang ada kini berganti dengan rasa takut jika Raja datang untuk menghukum nya lagi.
"Balikkan tubuh mu, biar aku yang akan mengobati."Titah Raja yang langsung tanpa perlawanan di turuti Ratu Derbah meskipun hati serasa tak percaya.
"Sakit..!" tanya Raja Awang Awang Vampire ketiika tangannya kini mulai mengoleskan obat obatan di punggung Ratu Derbah, meskipun ada rasa sakit pastilah Ratu Derbah menjawab tidak, karena rasa sakit itu bisa tiba tiba hilang ketika tangan Raja yang menggobati mendambakan belaian suami dan kasih sayang itu bisa membuat otak menjadi gila, berbagai cara telah Ratu Derbah lakukan demi mendapatkan secuil perhatian dan kasih sayang Sang Raja.
"Tidak, Raja..!" tidak sakit kok."
"Benarkah?"
"Iya, benar."
Raja yang masih kesal karena di kerjain Pangeran Yervan putra nya dengan iseng menekan luka Ratu Derbah dan dengan bibir tertahan Ratu Derbah meringis kesakitan.
"Apa, rasanya ini tadi sakit?"kembali Raja Awang Awang Vampire bertanya dan lagi-lagi Ratu Derbah berbohong.
"Tidak, tidak sakit kok," ucap nya sambil meringis menahan sakit, sementara Raja Awang Awang Vampire tersenyum miring.
"Sudah selesai, apa sekarang sudah merasa baikkan?"
"Iya, Raja! trimakasih telah mengobati lukaku, aku berfikir Raja akan sangat membenciku tapi ternyata Raja sangat peduli padaku, trimakasih," ucap Ratu Derbah dengan menyadark, kepalanya pada dada bidang Raja Awang Awang Vampire dan Raja Awang Awang Vampire hanya menarik nafas kasar beliau sibuk berfikir hukuman apa yang akan dia berikan pada pangeran Yervan.
Tak lama kemudian pintu kamar dibuka terlihat lah pangeran Yervan dan calon istrinya masuk ke dalam ruangan kamar kepribadian Ratu Derbah, melihat kedatangan putranya pangeran Yervan Raja Awang Awang Vampire segera bangkit dari tempat duduknya.
"Sekarang giliran mu kau urus ibumu,"seru Raja sambil berlalu pergi.
Pangeran Yervan tersenyum smrik melihat kelakuan Ayah nya.
"Ibu, Ratu bagaimana keadaan mu?"
"Aku baik pangeran?" siapa dia."Ratu Derbah menujuk pada gadis yang berdiri di belakang pangeran Yervan.
"Dialah putri Lin Ying ibu Ratu calon menantu ibu Ratu."
"Cantik, duduklah."
"Apakah kau sudah membawanya melihat lihat istana ini."
"Belum sempat, ibu Ratu."
"Baiklah, apakah kau ingin melihat lihat istana ini putri Lin Ying jika Ingin aku akan menggantarmu."
"Wah saya sangat mau sekali ibu Ratu."
"Baiklah tunggu aku sekarang juga kau akan ku ajak untuk melihat lihat istana ini."
"Kalau begitu aku pergi beristirahat di kamar dulu ibu Ratu aku capek,"
"Silahkan pangeran."
Pangeran Yervan segera kembali ke Puri instan tempat nya beristirahat.
"Lebih baik aku mandi dulu, hari ini hatiku sangat senang Raja galak itu berhasil ku kerjain," dengan senyum tersungging di bibir Pangeran Yervan masuk ke dalam kamar mandi Ritual mandi hanya menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga puluh menit setelah itu pangeran Yervan keluar dari dalam kamar mandi dan segera Menganti baju kotor nya dengan baju bersih.
Ketika asik di depan cermin tiba-tiba sebuah panah melesat cepat ke arahnya, beruntung pangeran Yervan melihat dari kaca cermin sehingga dia bisa mengelak dengan mudah.
"Hei..!"siapa yang berani kurang ajar padaku, tunjukkan dirimu."
Untuk beberapa saat tidak ada apapun juga semua menjadi hening tapi tiba-tiba kembali sebuah panah melesat ke berbagai arah membuat pangeran Yervan harus bekerja keras untuk menghindar.
"Keluar kau...?" jangan jadi prngecut." Teriak pangeran Yervan murka.
Lagi-lagi teriakan pangeran Yervan tidak mendapatkan jawaban yang ada kembali sebuah panah meluncur dengan cepat kearahnya.
"Kurang ajar rupanya kau ingin bermain-main dengan ku."seru Pangeran Yervan dengan sikap siap dan dengan mata yang fokus, pangeran Yervan berusaha mencari titik sumber panah itu muncul dan ketemu.
Setelah yakin asal dari sumber anak panah segera pangeran Yervan melesat terbang keluar mendekati sumber panah itu muncul tapi ketika pangeran Yervan bergerak mendekat dengan cepat pula seseorang yang melepas anak panahpun pergi lari menjauh. Pangeran Yervan yang tidak mau di permainkan akhirnya mengejar sosok misterius yang telah berani melempar anak panah kepadanya.
Di tempat Kerajaan Sangkala tepatnya di Puri belakang istana kerajaan Ratu Shima diam terpaku melihat sikap dingin dari orang yang telah melahirkan nya sang Ayah yang kebetulan juga berada di tempat itu mengengam erat tangan Ratu Shima, seraya mengucapkan kata lirih.
"Bersabarlah...?"
Mendengar perkataan Ayahnya Ratu Shima tersenyum sambil mengagguk.
"Aku mendengar dari salah satu pengawal kerajaan jika ketiga cucumu ada di dalam kamar pangeran Tatius, jika mau aku akan mengantarmu ke sana."
"Baik, antar aku ke sana?"seru Nenek Devan cepat tanpa memandang Ratu Shima, entah apa yang terjadi dalam dirinya sehingga tak sedikit pun ada rasa rindu maupun sayang pada anak yang dilahirkan nya.
Sedih, kecewa dan ingin marah kenapa dia benci dan atas kesalahan apa dia di benci bukankah bukan kehendak nya dan bukan pula keinginan nya dia ingin di lahir kan ke dunia ini dalam bentuk Vampir lalu kenapa semua kesalahan seolah olah dialah penyebabnya Diam itu yang di minta Ayahnya mengalah, bersabar tapi mau sampai kapan tidak kah cukup semua kehidupan nya tanpa kasih sayang seorang ibu dan kini setelah sekian lama tidak berjumpa knapa sikap dingin dan asing masih dia trima apa salahnya, berkali-kali Ratu Shima menangis dalam diam dalam seribu pertanyaan tapi tidak untuk kali ini Ratu Shima akan mencari jawaban nya dia harus memberi tau kesalahan apa yang dia perbuat sehingga Sang ibu begitu dingin padanya.
"Ratu Shima bertekad akan mencari kebenaran nya, bukan diam dan pasrah pada keadaan jika memang di benci setidaknya dia tau apa penyebabnya. Di tatapnya kepergian sang Ayah dan ibu.
"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bisa mendapatkan semua jawabannya."Gumam Ratu Shima dalam hati.