
Paman patih Lembu Ireng yang meminta ijin untuk beristirahat sambil berjalan kearah kamar nya dan tidak di cegah pangeran Tatius, membuat paman Patih lembu ireng menghentikan langkah kakinya dan menoleh kebelakang, terlihat lah Pangeran Tatius sedang duduk melamun sambil menatap keluar jendela.
Paman Patih lembu ireng menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Apakah pangeran Tatius sudah tau jika Nona Tania masih hidup dan apakah Pangeran Tatius juga sudah tau jika Non Tania akan menikah, wajahnya begitu kusut dan menyimpan kesedihan ini bisa dipastikan jika Pangeran Tatius sudah tau semuanya lalu untuk apa aku kabur dan pergi darinya dengan alasan mau tidur bukankah apa yang kulakukan termasuk perbuatan tidak bertanggung jawab, karena aku membiarkan pangeran sedih sendiri, tidak aku harus menemani dan menghibur nya."gumam paman patih lembu ireng yang kemudian membalikkan badannya dan berlari menuruni tangga dengan terbang yang tidak menunggu lama sudah berdiri di depan Pangeran Tatius.
Melihat kedatangan Paman Patih lembu ireng yang datang dengan tiba-tiba membuat pangeran Tatius menaikkan alis tebalnya.
"Kenapa turun lagi, katanya mau beristirahat."
Paman patih lembu ireng menelan ludahnya dengan kasar sebelum mengulum senyum Karena sedikit binggung dan merasa tidak enak.
"Maafkan aku pangeran."
"Maaf...! Maaf untuk apa paman?"
Dengan sedikit binggung paman patih lembu ireng duduk di depan pangeran Tatius.
"Maafkan karena aku tidak bicara jujur pada Pangeran dan sebenarya aku sudah tau jika Non Tania belum mati tapi sungguh aku tau itu dengan tidak sengaja, aku kebetulan Mendengar percakapan dari ibu-ibu yang kebetulan lewat di depan Rumah kita ini."
"Lalu....apa lagi yang kau tau?"
"Mmm....Non Tania...!eng....Non Tania...
"Iya, Non Tania kenapa?" tanya pangeran Tatius kesal karena paman Patih lembu ireng tidak cepat menjawab bahkan terlihat sangat ragu dan binggung.
Pangeran Tatius menaikkan alis matanya yang tebal.
"Jawab paman?"
"Non, Tania akan menikah....
"Pyaaar... ! gelas yang ada di atas meja tanpa sengaja jatuh akibat tangan Pangeran Tatius yang terkejut dengan gerakan refleks bangkit tangan kanannya mendorong gelas yang ada di atas meja.
"Apa?" ha-ha-ha, paman bercandanya jangan keterlaluan, lihat gelas nya jadi jatuh dan pecah."seru Pangeran Tatius sambil tertawa lebar.
Paman patih lembu ireng yang melihat itu menatap iba, hatinya menjadi takut dan tidak sanggup untuk memberikan penjelasan jika semuanya adalah benar.
Dengan sedikit canggung paman Patih lembu ireng juga ikut tersenyum meskipun senyum nya sedikit dipaksakan.
"Apa jadinya jika Pangeran Tatius benar-benar tau jika Non Tania benar-benar akan menikah dengan orang lain." keluh Paman patih lembu ireng dalam hati.
"Paman, kau tau hari ini aku sangat kesal dan kecewa dengan Ayah Tania, beliau masih saja menghalangi aku bahkan tidak mengijinkan aku bicara sedikit pun dengan Tania, apa Ayah Tania tidak pernah pacaran sehingga dia tidak tau dan tidak mengerti orang kalau lama tidak bertemu itu pasti sangat rindu dan ingin bertemu begitu kok tidak boleh dan semua harus menunggu besok, Paman aku merasa malam ini, terlalu lama dan panjang aku ingin segera pagi, aku ingin segera bertemu dengan nya paman, kau tau aku sangat bahagia ternyata kami masih bisa bertemu lagi aku benar benar putus asa aku pikir Tania benar-benar sudah tiada, ternyata Ayah sedang membohongi ku," crocos Pangeran Tatius bersemangat, kekecewaan dan kebahagiaan yang dia alami semua menyatu menjadi satu akan tetapi Pangeran Tatius lebih merasakan bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan kekasihnya.
Sementara Paman patih Lembu Ireng membuang muka, tidak sanggup rasaanya melihat wajah tampan didepan nya yang sedang berbunga bunga hatinya karena sang kekasih ternyata masih hidup, tapi faktanya dia sedang menuju ke lembah kesedihan, yang mana apa yang kini dia bangga bangga dia pujapuja tak lama lagi, akan menusuk dan menyakiti hatinya dengan sangat dalam.
"Paman...kau mendengar kan aku apa tidak?" mengapa diam saja dan paman aneh diajak bicara tapi justru membelakangi ku, paman kau sungguh menyebalkan." sungut pangeran Tatius kesal.
Perlahan-lahan Paman Patih lembu ireng membalikkan badannya sambil tersenyum.
"Pangeran ini sudah sangat malam ayo saya antar pangeran beristirahat." ajak paman patih lembu ireng pada pangeran Tatius.
"Tapi aku tidak mengantuk paman, aku mau disini saja sampai pagi datang."
"Pangeran, harus beristirahat bukankah besok akan bertemu dengan Non Tania apa kata Non Tania jika melihat wajah Pangeran kusut dan tidak segar, para manusia itu suka pada pemuda yang badannya fress segar pangeran."
"Apa benar begitu?"
"Tentu saja,"
"Baiklah, ayo kita tidur."
Pangeran Tatius dan paman Patih lembu ireng terbang melesat menuju kamar dimana Pangeran Tatius biasanya beristirahat.
"Pangeran, ayo tidur kenapa justru duduk."
"Aku tidak bisa tidur paman, aku ingin segera pagi."
"Baiklah, tapi setidaknya Pangeran harus merebahkan tubuh pangeran di Ranjang Nanti lama-kelamaan pasti juga akan tertidur dan besok Pangeran bisa tampil segar di hadapan Non Tania."
"Baiklah...!"
Kali ini Pangeran Tatius tidak membantah saran dari Paman Patih lembu ireng, dengan santai dan tenang Pangeran Tatius merebahkan tubuhnya, sementara Paman Patih lembu ireng mondar mandir dalam ke bingunggan.
"Apa yang harus aku lakukan, Pangeran Tatius tidak boleh bertemu dengan Non Tania pasti Nanti hatinya akan sakit dan terluka aku tidak bisa melihat pangeran Tatius sedih, aku harus menggagalkan acara besok pagi tapi bagaimana caranya."keluh Paman Patih lembu ireng gelisah.
***
Tidak jauh berbeda dengan Tania yang ada di dalam kamar sang Ayah dia juga sangat gelisah hatinya begitu binggung dan resah, beberapa kali Tania menggigit saliva nya dengan perasaan tak menentu.
"Tatius ada di sini dia menemuiku, apakah dia masih mencintaiku atau hanya sekedar ingin melihat hancurnya hatiku, tapi apa artinya semua ini, apa gunanya juga Tatius masih mencintai atau tidak, karena semua sudah terlambat sudah berakhir, aku akan menikah dengan orang lain, sejujurnya aku sangat senang bisa melihat nya tapi juga sangat sakit, karena dia bukan lagi milik Ku dan aku juga sebentar lagi bukan milik nya."lirihTania kecewa." semua yang terjadi hanya akan tinggal kenangan." Tania Tersenyum kecut menggingat semua yang ada hingga tidak menyadari pintu kamar sudah terbuka.
Rupanya sang Ayah sudah datang dan membuka pintu, karena Tania dalam mode melamun dia tidak mendengar suara pintu dibuka.
"Tania....! kau belum tidur Nak!
Suara Ayah yang tiba-tiba membuat lamunan Tania menjadi buyar.
"Ayah...! seru Tania yang tanpa sadar wajahnya melongok ke pintu, berharap menemukan wajah tampan yang ada di dalam kamarnya, lagi-lagi Tania harus meneguk ludahnya kasar karena di depan pintu di belakang sang Ayah tidak ada sosok pemuda yang di cari nya.
Seolah memahami apa yang putrinya rasakan sang Ayah membuka suara.
"Tatius, sudah pergi."
"Owh....!"
"Tapi Ayah sudah bilang padanya, kau akan menemuinya di taman perbatasan kota."
"Ayah...! kenapa aku harus kesana aku tidak mau Ayah!"tolak Tania kasar.
"Kamu tidak rindu padanya?'
"Ayah apa artinya rindu jika semua nya akan berakhir, aku tidak mau bertemu dengan nya tidak mau." seru Tania penuh penekanan.
"Tapi kamu tetap harus datang dan kamu harus menjelaskan semuanya."
"Ayah, aku tidak bisa bagaimana mungkin aku bisa bicara kebenaran tidak Ayah aku tidak sanggup dan aku tidak mau."
"Kenapa? Kenapa kamu tidak mau."
"Karena.... karena aku tidak tega menyakiti nya."
"Lalu sampai kapan kau akan sembunyi kan segalanya, lebih cepat kau berikan penjelasan itu akan lebih bagus dan asal kamu tau Tatius sudah sangat lama bolak Balik kesini hanya untuk menemuimu, jadi berikan penjelasan agar Tatius tidak lagi berharap padamu."
"Ayah, aku tidak...
"Cukup...!Ayah tidak mau mendengar alasan apapun, selesaikan masalah mu segera agar dia tidak selalu datang dan datang mengaggu lagi, sekarang pergi ke kamarmu dan beristirahat lah besok kau selesaikan masalah mu."
"Tapi Ayah...!
"Pergilah...!"
Dengan berat hati akhirnya Tania keluar dari kamar sang Ayah dan kembali ke dalam kamar nya.