
Rasanya sesak sekali jika melihat barang-barang ini. Perlengkapan bayi lengkap yang sudah aku beli dua bulan lalu. Aku masih berharap Anye akan pulang sebelum melahirkan, maka dari itu aku membelinya meski aku juga tidak yakin. Berharap banyak tidak salah kan?
Ruang kerjaku sudah aku ubah menjadi kamar bayi. Semua sudah lengkap. Dekorasi untuk anak laki-laki, dengan cat berwarna biru dan langit-langitnya aku lukis seperti langit malam. Satu sisi dindingnya aku gambarkan berbagai hewan, dan satu sisi dinding yang lain aku gambarkan berbagai macam kartun, termasuk si kembar botak kesukaan Anye. Satu sisi dinding lagi aku biarkan kosong, Anye bilang untuk anak kami saat dia sudah bisa memegang spidol katanya, untuk media coretannya. Pasti akan lucu.
Tapi itu semua sekarang hanya tinggal harapan. Tidak ada kabar mengenai istriku sampai saat ini. Bagaimanakah kabarnya dia? Apa mereka baik-baik saja?
Anye pulang lah. Aku harap, kamu pulang. Aku ingin ada di setiap kesulitan kamu. Aku ingin ada di saat kamu butuh aku. Tidak. Nyatanya aku yang selalu butuh kamu. kamu keras kepala, tapi aku suka. kamu manja, tapi aku suka. kamu marah-marah, aku semakin suka! Segala hal yang ada di dalam diri kamu, aku suka.
Pulanglah. Aku menantikan di saat kamu melahirkan. Aku rela kamu cakar. Aku rela kamu gigit. Aku rela kamu maki saat kamu mengejan. Aku... aku...
Tidak bisa berkata lagi, aku hanya bisa memeluk baju bayi yang setiap minggu aku cuci. Aku masih berharap Anye akan pulang padaku untuk melahirkan anak kami. Ya anak kami. Meskipun jika itu anak orang lain setidaknya dia anak kamu, Anye!
Aku berbaring di karpet puzzle yang ku pasang di seluruh permukaan lantai. Masih memeluk baju bayi yang ku semprotkan dengan parfum milik Anye. Mata ini semakin mengantuk, tubuhku lelah, tidak cukup istirahat karena terus mencari keberadaan Anye.
"Dimana kamu Anye. Dimana kamu sayang... Maaf."
...*...
Baru saja aku dapat telfon dari seseorang jika Anye ada di rumah sakit. Dia akan melahirkan. Sungguh aku sangat bahagia mendengarnya. Tanpa fikir panjang aku menyambar jaket dan kunci mobil.
Lorong demi lorong rumah sakit aku lewati, lorong yang begitu panjang dan tidak ada habisnya. Bertanya dimana ruang bersalin. Kembali aku berlari menuju kesana.
Anye tunggu aku. Aku datang!
Sampai di ruangan itu, aku tidak bisa masuk. Beberapa orang menahanku di luar.
"Tidak bisa! Aku tidak izinkan kamu menemui putriku!" teriak seorang laki-laki dengan muka garang. Putrinya?!
"Tapi dia istriku. Ku mohon biarkan aku masuk. Dia butuh aku. Dia akan melahirkan anakku!" balas aku berteriak memberontak dalam cekalan dua orang berbadan besar di belakangku.
"Anak mu?" pria itu menarik kerah bajuku. "Bukankah kamu sendiri yang meragukan anak itu? Kenapa sekarang kamu bilang dia anakmu?" Dia tersenyum miring. Wajahnya benar-benar menakutkan. Siapa pria ini? kenapa dia bilang Anye adalah putrinya? Ayahnya kah?
"Tidak, aku mohon lepaskan aku. Anye butuh aku!!" sekuat tenaga aku mencoba melepaskan diriku. Tidak bisa.
Terdengar suara teriak dari dalam ruangan. Anye? Dia berteriak kesakitan.
"Anye!! Lepaskan, istriku sedang butuh aku!!" Mereka masih tidak mau melepaskanku. "Anye!! Ini aku Devan. Maafkan aku. Maafkan aku sayang." Mereka seremoak melemparku, tubuh ku terhempas ke lantai. Sakit. Orang-orang itu terlalu kuat jika aku melawan mereka.
"Dia tidak akan mendengarmu meski kamu berteriak. Jadi berhentilah untuk terus mencari putriku. Dia tidak membutuhkanmu lagi! Pergi!" usirnya padaku. Dia berdiri dengan angkuh.
"Tidak, aku tidak akan pergi! Tuan, aku mohon hukum saja aku. Tapi jangan ambil istriku!" aku menangis, memegangi kakinya. Aku memang cengeng. Bahkan aku tidak bisa menghentikan air mata ini. Hanya Anye yang bisa membuatku kuat sekaligus membuatku lemah. Aku tidak akan menyerah Anye.
"Istri? Anye terlalu baik untuk jadi istrimu! Pergilah, kamu tidak pantas!" ucapnya dingin. "Lihat, bahkan kamu sekarang sangat menyedihkan!"
Ya, aku akui itu. Aku sangat menyedihkan karena aku merasa sangat bersalah dengan kepergian Anye.
"Hehhh menyedihkan!!"
Pintu ruangan itu terbuka. Beberapa perawat bersama dokter mendorong brankar, Anye terbaring setengah duduk di atas brankar itu sambil menggendong putranya. Tampan. Tampan sekali. Mata, hidung, alis, bahkan bibirnya mirip denganku. Dia mirip aku? Anakku??!
Dan di sampingnya... Samuel, dia tersenyum dengan angkuhnya. Kenapa dia masih hidup?!
"Dev?!" Anye terlihat bingung saat melihatku disana.
Aku bangkit dari lantai dan menghampiri Anye, tapi tertahan oleh dua orang tadi.
"Lepaskan!" Aku berontak, tidak bisa. Mereka terlalu kuat! " Anye, tolong aku!" teriakku. "Anye maafkan aku. Maaf. Ayo pulang. Aku akan lakukan apapun untuk membayar kesalahanku."
Anye hanya tersenyum. Dia menggelengkan kepalanya. Kenapa?
"Maaf Dev, aku tidak bisa lagi. Aku memang cinta kamu, tapi aku gak bisa. Kamu sudah mencoba menyakiti aku dan anakku. Kamu tidak percaya jika ini anakmu kan? Lihat wajahnya Dev. Wajah siapa ini?" tatapan Anye terlihat sendu, dia terlihat sangat sedih. Aku bersalah!
"Aku percaya itu anakku. Anak kita. Ayo kita pulang, sayang! Aku mohon!" pintaku memohon. Anye hanya menggelengkan kepalanya. Apa artinya itu? Bukanya dia cinta aku?
"Maaf Dev."
Tidak!
Apa maksudnya itu?!
"Anye!!!" Perawat dan dokter itu membawa Anye dan anakku menjauh, tidak peduli degan aku yang terus berteriak memanggil Anyelir.
"Anye sayang!! Jangan tinggalkan aku Anyelir. Aku cinta kamu. Maafkan aku! ANYE!!!"
Mereka terus saja berjalan sedangkan aku masih tertahan disini, tidak bisa berlari untuk meminta pengampunannya. Tenggorokanku sakit. Tubuh ku lelah.
Tidak! Jangan pergi! Ku mohon...
"Anye!!! Jangan pergi. Anyelir!!!" teriakku. "Anye, jangan pergi Anye!!! Kumohon. Maafkan aku."
"ANYELIR... MAAFKAN AKU!!!"
*
*
*