DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 14



"Sebentar. Selai stroberinya belepotan disini!" dengan telaten dia mengelap bibir bawahku.


Hei, bukankah ini terasa aneh? Bukankah harusnya aku yang mengelap mulutnya yang belepotan? Kenapa jadi aku yang dia lap?


Waaah author gak bener ini!!!


(🤭🤭🤭🤭)author.


Aku terpaku menatap warna matanya yang coklat terang. Merasa terganggu Renata balik menatapku. Aku suka sorot matanya saat dia menatapku seperti itu. Seperti ada sesuatu yang menarikku padanya. Namun, saat nafas hangatnya jelas terasa di kulit wajahku...


Hanya tiga detik, setelah itu dia melengos, menghindari tatapanku dengan kembali fokus mengelap bibirku. Pipinya bersemu merah, aku tahu meski pencahayaan disini remang, tapi dia sungguh berbeda dengan yang tadi. Dia terlihat begitu imut.


"Sudah!" ucap Renata kikuk, dia terlihat malu-malu. Dia memasukkan bekas tisu ke kantong kresek yang lain.


"Cepat habiskan makanannya. I-ini sudah malam!" titahnya. Aku tersenyum dan mengangguk, lalu kembali menghabiskan sisa roti kukus yang sudah mendingin, sambil menatap padanya. Sedangkan Renata menghabiskan bakso bakarnya. Dia lebih memilih sedikit memutar tubuhnya hingga aku hanya bisa melihat punggungnya.


Kami menikmati makanan kami di temani sinar bulan yang temaram. Tak ada yang berbicara diantara kami. Hanya bunyi mesin-mesin diesel dari belakang tenda-tenda putih yang berdiri tak jauh dari wahana permainan. Suara jangkrik terdengar di sela-sela bisingnya segala hiruk pikuk yang terjadi meski malam semakin larut.


Bulan terlihat indah di atas sana. Tak sedikit pun awan hitam yang menggantung, menampilkan banyak titik-titik bintang yang indah. Aku tidak tahu nama-nama rasi bintang. Dan aku juga tidak tahu bagaimana cara otak ini menghubungkan satu bintang dengan bintang lainnya supaya saling terhubung dan membentuk sebuah gambar. Terlalu rumit, tapi kerumitan itu justru menimbulkan keindahan! Malah dengan imajinasiku yang terlihat disana adalah wajah Renata dengan senyumnya yang indah!


"Xel, boleh aku tanya sesuatu?" Aku mengalihkan pandanganku dari indahnya bintang pada keindahan sosok yang tepat berada di sampingku.


"Iya? Apa?" tanyaku.


"Emm... itu..." dia terlihat gelisah, jari-jari tangannya saling meremas satu sama lain.


"Tidak jadi!" ucapnya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Apa yang ingin dia tanyakan? Membuatku penasaran saja!


"Bertanya apa?" tanyaku mendesak. Dia menggelengkan kepalanya, lalu beranjak bangun.


"Sudah malam! Pulang yuk!" serunya. Rasanya aku ingin protes, dia mengajak ku pulang saat aku ingin bersamanya untuk beberapa jam lagi.


"Sudah malam Xel. Besok kita juga bisa ketemu lagi kan di kafe!" Seakan dia tahu apa yang aku fikirkan, apa sangat terlihat jelas di wajahku kalau aku enggan berpisah dengannya?!


Renata tersenyum, dia menarik tanganku.


"Iya, Oke!" Aku juga bangkit dari sana. Menepuk jaketku yang terasa sedikit lembab, dan menyampirkannya di bahuku.


Kami melangkah ke tempat parkir bersama. Rasanya sayang sekali meninggalkan tempat ini. Disini aku bisa melihat tawa Renata yang lepas, senyumnya yang lebar, dari sini pula aku jadi tahu sisi lain dari Renata yang seperti memendam sesuatu di dalam hatinya, namun selaku ia tutupi dengan perasaan riang.


Bayangan bianglala yang tersorot sinar bulan mengiringi langkah kami. Aku teringat, hanya wahana itu yang belum kami naiki!


Dan lagi aku juga teringat ucapan Gio. Bukan karena tantangan darinya, tapi aku juga... Ya sebenarnya aku juga mengharapkan apa yang Gio katakan, kalau di atas sana kami... bisa... ber... Akh... aku malu! 🙈


"Eh, eh.... Mau kemana?" Renata berseru saat aku menarik tangannya kembali ke dalam. Aku tak menjawab, terus menarik tangannya hingga kami berhenti pada sebuah loket. Ku pesan dua buah tiket untuk kami, dan kemudian aku membawanya lagi ke arah dimana seorang petugas sedang membantu pengunjung untuk naik ke dalam sangkar.


Renata terdiam saat bianglala mulai bergerak.


"Kita belum naik yang ini!" ucapku dengan senyuman, dia hanya terdiam menatap jari-jari yang terkepal di atas lututnya. Sedangkan aku menatap keindahan yang tersuguh di depan kami. Lampu-lampu berpendar dari kejauhan sana. Mencoba bersaing dengan bintang yang berkelip di langit.


Perlahan bianglala naik semakin tinggi, kami masih berada di tengah-tengah. Cahaya bulan mulai merasuk ke dalam hingga menyinari tangan kami.


"Re. Kata orang kalau kita ada di atas puncak bianglala, lalu kita berdoa, apa benar akan terkabul?" tanyaku. Aku berharap aku akan menjadi seseorang yang berarti untuk Renata.


Kepalanya mengangguk hingga rambutnya bergoyang.


"Aku senang, Re. Kita menghabiskan waktu malam ini bersama. Aku harap, kita akan bisa melakukan hal ini lagi lain waktu!" ucapku.


Renata masih diam, tangannya saling meremas, dia duduk tidak tenang, bahkan aku mendengar desisan dari mulutnya.


Bianglala sudah mulai mendekati puncak nya. Aku tersenyum senang, karena Renata lebih mendekatkan dirinya padaku. Bahkan kedua tangannya melingkar di lenganku sekarang. Hangat tubuhnya terasa jelas di tubuhku yang tak memakai jaket. Sepertinya Gio akan kalah tantangan malam ini.


"Hiks... Hiksss..." tubuh Renata bergetar hebat, bukan lagi desisan yang kudengar melainkan isakan, tangannya sudah basah karena setitik air yang turun dari pipinya.


"Re? Rere. Kamu kenapa?" Aku khawatir, dan bingung dengan sikap Renata. Dia tidak menjawab, malah isakannya semakin terdengar. Kepalanya semakin dia tundukkan. Air matanya semakin deras mengalir.


"Rere!" panggilku lagi, ku guncang tubuhnya perlahan. Dia menatapku.


"Kakakkk, hiks. Aku takut... hiks!!!" Dia memeluk lenganku semakin erat.