
Renata berjalan-jalan di dalam rumah besar itu. Bosan hanya berdiam diri di dalam kamar. Dia pun meminta izin pada maid untuk ke balkon di lantai dua.
Sampai di lantai dua. Renata melangkah menuju ke arah balkon. Dia melewati beberapa pintu. Namun, berhenti saat tak sengaja melihat ke dalam sebuah ruangan yang tak tertutup pintunya.
Banyak kanvas kosong dan juga beberapa cat air disana. Beberapa lukisan tertutup kain putih beberapa di antaranya juga ada yang berwarna hitam.
Merasa penasaran. Dia masuk ke dalam ruangan itu. Bau cat kering terasa jelas di hidungnya. Satu persatu ia buka kain kanvas itu, mengagumi keindahan lukisan yang ada disana.
Renata tersenyum, entah siapa yang melukis semua ini, tapi ia akui ini sangat indah. Harusnya ini di pajang di galeri lukis saja.
Pemandangan desa, hutan, sungai, dan laut, lengkap memanjakan matanya. Tiba pada sebuah lukisan yang ada di dekat jendela. Renata bersiap membuka sampai terhenti saat sebuah suara terdengar olehnya.
"Kamu disini?" Axel masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah tersenyum.
"Maaf, aku lancang, Xel. Aku bosan cuma diam di kamar." jawab Renata, dia kembali menurunkan kain penutup lukisan itu.
"Tidak apa-apa." Axel mendekat dan mengecup kening Renata. Betapa rindunya dia seharian tadi pada makhluk terindah ini.
"Siapa hang lukis ini, Xel? Lukisannya indah," tanya Renata.
Axel tersenyum malu.
"Itu ..., buatanku. Aku yang lukis."
"Benarkah?" tanya Renata tak percaya. Axel mengangguk.
Renata berjalan terus sambil menikmati lukisan-lukisan lain.
"Entahlah. Semenjak aku mendapatkan donor jantung aku jadi suka melukis. Padahal kata mama sebelumnya gambar yang aku buat selalu saja jelek!" ucap Axel.
"Kamu pernah mendapat donor jantung?" tanya Renata. Axel mengangguk. Dia mengajak Renata berjalan keluar dari ruangan itu dan membawanya ke balkon.
"Sedari lahir aku bermasalah dengan jantungku. Dan waktu aku berusia sepuluh tahun, aku mendapatkan jantung baru ini." ucapnya sambil menepuk dadanya.
Renata mengangguk mengerti.
"Tapi sampai sekarang aku belum tahu siapa pemilik jantung ini, identitasnya sampai sekarang belum di ketahui. Mama bilang anak itu seperti ... entahlah. Seperti korban perdagangan anak di bawah umur. Karena saat itu mereka panik dengan keadaanku, dan tidak sempat menyelidiki asal muasal anak itu. Setelah jantung ini berpindah, barulah mereka tahu kalau identitas anak ini di palsukan. Tempat tinggalnya juga ternyata palsu. Kami tidak bisa menemukan orang yang membawa anak itu ke rumah sakit" ucap Axel.
Dia masih merasa bersalah karena belum menemukan fakta tentang siapa pendonornya padahal ini sudah hampir tiga belas tahun lamanya.
Renata mendekat. Mengelus bahu Axel yang kokoh.
"Siapapun dia, aku juga harus berterimakasih padanya. Karena dia sudah membuat kamu hidup lebih lama, dan akhirnya bisa bertemu dengan kamu. Gunakan jantung itu sebaik-baiknya dan jangan sia-siakan pemberian dari dia." ucap Renata. Axel merengkuh Renata ke dalam pelukannya.
"Iya, tentu. Aku bersyukur karena jantung ini bisa membuat aku hidup lama dan bertemu dengan kamu, My Lovely."
Renata terdiam merasakan hangat dekapan Axel, dia mendengarkan detak jantung Axel yang tak karuan. Dia mulai suka saat mendengarnya, dan tetap terus ingin mendengar suara jantungnya. Rasanya menenangkan.
"Re, bisa tolong lepaskan. Sepertinya keadaanku akan gawat kalau kamu terus peluk aku seperti ini." ucap Axel. Renata melepaskan pelukannya. Dia merasa malu karena terlalu asyik mendengarkan detak jantung yang sangat menenangkan jiwanya itu. Dan dia tahu apa arti dari kalimat Axel tadi.
"Maaf!" cicit Renata.
Axel tertegun pada sebuah benda yang menggantung di leher Renata. Dia mendekat, membuat Renata terdiam, deg-degan. Apakah Axel akan menciumku?
Axel meraih liontin kalung itu, tangannya bergetar. Selama ini dia dengan sangat jelas memimpikan benda yang mirip seperti ini. Tidak! Bukan hanya mirip, tapi sepertinya memang benda ini lah yang selalu ia impikan.
"Re ... ini .... Bagaimana ini ada sama kamu?" Renata terdiam, dia mengalihkan pandangannya pada liontin kalungnya.
"Maksud aku ..., ini ..."
"Ikut aku!" Axel menarik tangan Renata, dengan cepat dia membawa gadis itu melangkah hingga Renata terseok-seok.
Kembali ke ruang lukis. Axel membawa Renata ke lukisan yang tadi hampir akan di buka oleh Renata. Dengan sekali gerak, dia menyibak kain hitam penutup itu.
Renata terkejut. Matanya terbelalak. Mulutnya terbuka. Dia terdiam mematung, tak bisa berkata apa-apa. Lukisan seorang gadis cilik hanya sebatas dadanya. Rambut gadis cilik itu pendek sebatas leher, di kuncir dua di atas. Wajah dari lukisan itu tidak ada, tapi bukan itu yang membuat dia terdiam, yang membuat dia terkejut adalah liontin yang sama persis seperti miliknya. Renata mendekat, melihat dengan seksama. Bahkan detail dari liontin pada lukisan itu persis. Ini seperti fotokopi berbentuk dua digital. Tanpa cela.
Tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Renata lantas membuka kalungnya, dan melihat kembali dengan seksama. Benar. Bahkan tak ada satu garispun yang salah pada lukisan itu.
Tangannya bergetar, dia menatap Axel bingung.
"Xel. Bagaimana kamu bisa lukis ini?" tanya Renata. Dia yakin tidak pernah ada yang melihat kalung miliknya, karena kalung itu memiliki tali yang panjang dan selalu berada di balik bajunya.
Axel hanya menggelengkan kepalanya. Ada apa ini? Dia sendiri merasa bingung. Baru kali ini dia melihat liontin itu dengan matanya sendiri, tapi kenapa selama ini dia selalu memimpikan liontin itu dan bahkan melukiskannya?
Renata masih menatap Axel tak percaya.
"Aku sering memimpikan seorang gadis cilik dengan liontin itu. Tapi aku juga tidak tahu siapa. Aku juga sering memimpikan seorang anak laki-laki yang bersama dia ...." ucap Axel.
Renata terdiam sesaat, entah apa yang ada di dalam fikirannya. Lalu dia berjalan ke arah lukisan-lukisan yang masih tertutup kain dan menyibaknya satu persatu. Hingga ...
Renata kembali terdiam. Tubuhnya merosot ke bawah. Dia menangis tersedu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
Axel terdiam di depan sebuah lukisan seorang pemuda tanggung yang selama ini selalu mengganggu tidurnya. Yang selalu terlihat di saat dia bercermin. Bahkan hampir membuatnya gila sampai dia membuatkan sketsa pertamanya yang ia simpan di dompet.
Anye dan Devan bilang wajah itu mirip seperti wajah anak yang mendonorkan jantungnya untuk Axel. Anye sendiri merasa bingung, padahal Axel tidak pernah melihat wajah anak itu, tapi dia bisa membuat sketsa wajahnya, bahkan melukiskannya di atas kanvas.
"Xel, siapa ini?" suara Renata bergetar di antara isak tangisnya. Hatinya sungguh takut sekarang. Dan dia berharap semua yang ada di fikirannya itu bukan lah realita.
"Aku tidak tahu. Tapi mama bilang wajah anak ini mirip dengan anak yang mendonorkan jantungnya untukku." jawaban Axel membuat Renata tidak bisa berfikir lagi.
Liontin.
Panggilan Ren-Ren.
Lukisan itu.
Dan juga perlakuan Axel yang selama ini persis seperti ....
"Tidak mungkin!" ucap Renata.
Axel berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Renata. Dia memegang bahu Renata yang bergetar. Masih bingung, tapi sepertinya tangis Renata ada hubungannya dengan anak dalam lukisan itu. Apakah mungkin ....
Sial!!!
Fikiran Axel menjurus pada sesuatu. Mungkinkah jantung ini milik kakaknya yang hilang?
Haruskah Axel senang atau marah dengan keadaannya? Kalau benar jantung itu milik orang yang Renata sayangi, bukankah ini... Akh ... Kenapa jadi rumit?
Axel berdiri dan mengusap wajahnya kasar. Dia mengeluarkan benda pipih di saku celananya, dan menghubungi Gio.
"Kumpulkan semua info tentang pendonor jantungku dan juga percepat pencarian dua orang itu!" teriak Axel frustasi.
Gio yang baru saja turun dari mobil terpaksa kembali lagi menaiki mobilnya. Dia menghela nafas kasar. Niat ingin berbaring di kasurnya yang empuk harus ia tepiskan jauh-jauh.
"Nasib asisten!" rutuknya.
Lalu dengan perlahan meninggalkan kediaman Aditama dan kembali ke kantor.