
Ini adalah malam terakhir kami di dalam kapal pesiar. Aku dan mama sudah menjelajah ke semua tempat disini, sangat menakjubkan, indah! Kolam renang, bahkan ada landasan helikopter di bagian lain, bar, restoran, bahkan ada sauna. Arena permainan anak juga ada. Sekilas aku tidak menyangka kalau kami sedang di atas laut.
Kami sedang ada di bar, mama bilang ada seorang temannya yang menunggu disana, ada perlu katanya, sambil membahas masalah perusahaan suaminya yang ingin melakukan kerjasama dengan Devan.
Aku hanya diam, tidak mengerti dengan pembicaraan mereka. Hanya Menikmati pemandangan orang-orang yang ada di dalam ruangan ini, ada yang mengobrol ada juga yang sedang berdansa di lantai dansa. Disini lantai dansa bukan lantai disko. Tapi aku dengar ada juga pub di atas. Apa bedanya bar dengan pub?
"Anye mama pergi dulu sebentar menemui yang lain, kamu mau mama antar ke kamar?" tanya mama.
"Aku sedikit bosan dikamar ma. Boleh kalau Anye disini sebentar?" tanyaku meminta izin. Setelah berkeliling tadi siang memang aku lebih banyak menghabiskan waktuku di kamar. Dan melihat bagaimana orang-orang itu berdansa membuatku membayangkan aku sedang ada disana dengan Devan.
"Tentu. Sam!" Mama memanggil Samuel, dia mendekat dua langkah di dekat kami.
"Jaga menantuku. Aku mau pergi sebentar. Kalau dia terlihat lelah jangan lupa peringatkan dan antarkan ke kamar!" titah mama. Samuel mengangguk.
"Baik nyonya."
Mama pergi, Sam kembali ke tempatnya tadi berdiri mungkin jarak lima meter dari tempatku duduk. Aku menikmati malam dengan jus jeruk di gelasku. Menatap iri pada mereka yang sedang berdansa di sana.
Dev, aku ingin berdansa!
Dev, aku ingin kamu!
Dev, aku rindu kamu!
Dev, kenapa kamu harus pergi?
Aku menghembuskan nafas lelah. Rasa rindu karena tidak bertemu dengan Devan dua hari. Aku rindu kamu, Dev!
Seorang pelayan berjalan kesana kemari dengan sebuah nampan berisi beberapa gelas di tangannya, menawarkan minuman itu kepada para tamu. Air putih. Aku merasa haus, jus jeruk di gelasku sudah habis sedari tadi.
Saat dia lewat, aku memintanya satu dan langsung mengambilnya. Dia sempat merasa heran dan terkejut melihat ke arah perutku, tapi aku benar-benar haus dan mengambil gelas itu lalu menenggak cairan itu dengan cepat hingga melewati tenggorokanku. Air apa ini? Rasanya aneh, tenggorokanku terasa panas terbakar.
"Nona, harusnya anda tidak boleh minum ini!" pelayan itu merasa takut melihatku yang mengelus leher. Rasa panas ini menjalar lebih hangat ke dalam perutku. Ku rasakan gerakan kencang disana, hingga aku sedikit meringis kesakitan sejenak.
Kepalaku pusing, pandanganku serasa berputar, aku merasa aneh, tapi rasanya juga menyenangkan karena rasa sedihku teralihkan entah kemana.
"Nona tidak apa-apa?" tanya pelayan itu sambil memegangi pundakku dia merasa khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya sepertinya anakku menyukai minuman ini. Boleh aku minta satu lagi?" tanyaku hendak mengambil satu gelas lagi, tapi segera di tahan oleh seseorang.
"Jangan sembarangan minum Anyelir!" suaranya berat dan tegas. Aku menatap pemilik tangan itu.
"Sam, aku tidak sembarangan minum, itu hanya air putih apa salahnya?" tanyaku sambil menahan pusing di kepala.
"Pergilah." titahnya pada pelayan itu, dia segera mengangguk dan pergi menjauh.
"Hei, aku mau minum." aku melambaikan tanganku pada pelayan tadi memintanya mendekat. Tapi dia terus berjalan menjauh.
"Aku antar kamu ke kamar!" Sam sedikit menarik tanganku.
"Aku bosan di kamar Sam!" ucapku, menarik tanganku dan menyimpannya di atas meja. "Kamu ini kenapa menyuruhku untuk ke kamar? Ahh aku tahu. Bilang saja kalau kau mau bebas tugas untuk bisa kencan dengan wanita, hah?!"
"Kamu sudah bicara melantur Anye! Ayo istirahat ke kamar, tidak baik berlalu-lama ada disini!"
"Tidak mau!" aku melabuhkan kepalaku di atas meja dengan kedua tangan erat memegang tepian meja. Sungguh aku tidak mau pergi ke kamar, apa dia tidak tahu kalau aku bosan!
"Sudah aku bilang aku bosan, Sam!" berteriak kesal. "Aku mau disini. Tunggu Devan datang, aku mau dansa sama dia!" ku tarik jari telunjuk kananku, menggambar wajah Devan di atas meja.
"Kau lihat Sam, semakin lama dia semakin tampan!" ucapku sambil mengelus meja yang aku gambar tadi.
"Kamu mabuk! Ayo kita ke kamar!"
"Mabuk? aku tidak mabuk! Aku tidak pernah minum alkohol!" cicitku. "Sumpah! Aku kan sedang hamil, alkohol tidak baik untuk ibu hamil!"
"Tapi minuman yang tadi itu mengandung alkohol."
"Oh ya? pantas saja rasanya aneh! Bisa kau ambilkan satu lagi untukku? Sedikiiit saja?!" pintaku sedikit memohon sambil meraih tangannya dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. Sam menggelengkan kepalanya.
"Ayolah Sam!" pintaku. "Aku sudah lama tidak mengidam. Rujak sudah, pizza buatan Devan sudah, Spageti buatan Seno yang rasanya buruk itu sudah, aku mau kamu ambilkan minuman itu satuuuuuu saja. Ya. Ya!" mohonku pada Sam.
"Tidak!"
"APA?!!" aku berdiri, tapi agak terhuyung sedikit, memegangi sandaran kursi agar aku tidak terjatuh. Samuel juga menahan lenganku. Dan aku menepisnya, apa-apaan dia tidak mau menurut!
"Aku ingat!"
"Lantas? Kenapa tidak menurut heh? Kalau anakku ini ileran nanti bagaimana? Kau yang akan di salahkan Sam!" memukul dadanya dengan tinjuanku. Oh sial, dia bahkan tidak bereaksi sama sekali! Wajahnya datar tidak berubah!
"Kamu sudah mabuk, nona. Aku perintahkan untuk ikut kembali ke kamar!" suara tegas dan berat itu mulai tidak aku suka. Aku akan laporkan pada suamiku kalau dia tidak menurut, supaya dia di pecat! Eh tidak, kalau dia di pecat aku tidak punya teman mengobrol. Di hukum saja, push up lima ratus...seribu, ya seribu kali dengan bertumpu pada satu jari. Haha... itu pasti sangat menarik!
"Aku tidak mabuk!" menepis tangannya yang akan menyeretku. Ku genggam erat jasnya dengan kedua tanganku, dan mendekatkan diriku, berjinjit, walaupun tinggiku masih jauh kalah dengan dia yang seperti tiang listrik. Aku semakin mendekat pada Sam, tapi tubuhku limbung. Jika dia tidak menahan pinggangku aku pasti akan jatuh!
"Apa yang kamu lakukan?" eehh Wajah Sam merah... :)
"Aku cuma ingin membuktikan kalau aku tidak mabuk!" ucapku. "Apa ada bau alkohol di mulutku?" aku mendongak supaya dia bisa jelas mencium aroma di mulutku.
"Iya!"
"Jangan fitnah!" aku berhenti berjinjit. Memukuli dada Samuel beberapa kali. Kesal karena dia terus bicara soal aku sedang mabuk.
"Lebih baik, kamu istirahat. Kasihan anak kamu lelah."
"Jahat! Hiks....jahat.... Kenapa semua orang selalu menyuruh aku untuk istirahat? Tidak bolehkan aku lakukan apapun yang aku mau? Aku masih kecil, mau main dengan teman-temanku. Aku mau main seharian dengan mereka, aku mau jalan-jalan di mal, aku mau nonton, makan seafood, makan cilok, dan es potong. Tapi kau sama saja dengan Devan, jangan ini, jangan itu, mengurungku seharian di apartemen. Aku hanya duduk nonton tv dan tidur. Aku bosaaaannnn. Hwaaa... aku bosan.... Aku mau kebebasanku....!" aku menangis tak peduli dengan orang-orang yang menatap kami dengan heran.
"Dia hanya mabuk." Sam bicara pelan menjawab pertanyaan seseorang. Aku melirik ke arah orang yang bertanya, dia hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Apa?! Aku tidak mabuk!" aku menegaskan dengan memelototkan mataku yang mulai terasa pegal.
"Ayolah, ke kamar saja. Kamu sudah meracau terlalu banyak sedari tadi."
"Tidak!" tolakku tegas, sedikit merengek sebenarnya.
"Hiks...jahat... Devan jahat! Menyebalkan! Harusnya ini adalah liburan honeymoon ku dengan Devan, tapi dia malah honeymoon dengan bos dari perusahaan lain. Aku di tinggal terus, kapan dia bisa luangkan waktu buat aku? aku mau dia...hiks...Aku juga mau berdansa seperti mereka... Jahat kan dia. Membuat wanita hamil seperti ku sedih. Apa dia tidak tahu, wanita hamil itu tidak boleh stress?"
Sam menghela nafasnya kasar. Tapi dia masih bisa sabar, hehe. Dia pengasuh yang baik.
Aku menarik Sam ke lantai dansa, aku juga mau dansa. Seumur hidupku aku tidak pernah berdansa!
"Dansa dengan ku Sam!" titahku. Samuel menarik tangannya dari pinggangku. Dia menolak?! Kurang ajar!
"Kamu tidak mau?"
"Tidak!"
"Ya sudah!" Aku meninggalkan Samuel dan mendekati seorang pria muda yang duduk bersama dengan dua temannya, lebih muda dari Samuel. Dan juga tampan!
"Mas, aku mau dansa, aku sedang mengidam!" ucapku sambil mengelus perutku. "Aku tidak punya pasangan, dan temanku tidak mau dansa sama aku. Apa kamu mau sebentar saja?" ku berikan senyum terbaik. Dia balas tersenyum. Aaahh manis sekali.
"Tentu!" Jawabnya. Dia mengulurkan tangannya, aku menyambutnya. Tapi sebelum aku menyentuh tangannya, ada tangan lain yang mencekal pergelangan tanganku.
"Anyelir! Jangan sembarangan menyentuh orang lain!" Lagi-lagi pengasuh ku!
"Baiklah. Aku kan terima ajakan mu, tapi sebentar saja, setelah itu kau harus ke kamarmu! Maaf mas temanku mabuk." pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku melambaikan tanganku padanya dengan senyum perpisahan saat Samuel menarikku ke lantai dansa.
Kami berdiri diantara tamu yang lainnya Samuel hanya berdiam diri. Apa dia tidak tahu sikap awal berdansa?!
"Begini. Dan...begini!" aku menarik tangan Samuel dan menempatkan tangannya di pinggangku. Melihat dari cara orang-orang sih begitu, aku melingkarkan tanganku ke belakang lehernya.
"Hwaaa...Andai kamu Devan...hiks!" aku menundukkan pandanganku, menghapus air mata dari wajahku.
"Sudah, kamu bisa anggap aku sebagai dia, tapi ingat setelah turun dari kapal ini aku minta traktiran!" Sam terkekeh aku menatapnya. Dia tampan kalau bibirnya tersenyum seperti itu membawa kesenangan tersendiri saat aku melihatnya. Kami mulai bergerak mengikuti irama.
"Sam kamu sebenarnya tampan, tapi kenapa kamu masih jomblo? Bagaimana kalau kamu aku jodohkan sma Nanda?"
"Ahaha, tidak usah." Sam terlihat malu-malu, wajahnya merah.
"Aku tahu kamu suka sama dia kan? Jujur saja, aku pasti akan bantu. Aku tahu kamu selama ini suka sama Nanda tapi kamu tidak tahu cara menyampaikan perasaanmu kan. Sepertinya Nanda juga suka sama kamu deh, aku selalu lihat dia curi-curi pandang kalau kami ketemuan." aku mulai mengantuk.
Sam hanya terkekeh. Kepalaku berat hingga aku harus menyandarkan diri di dadanya, hangat. Dev, andai ini kamu!
Aku merasa melayang, rasa rinduku pada Devan membuat aku gila. Dia benar-benar tega, bahkan hari ini tidak menelfon sama sekali.
Perutku rasanya bergejolak, mual, tenggorokanku tidak enak. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah pergi berlari ke kamar mandi. Ah lega...
"Tidurlah!" sayup-sayup aku dengar suara itu menghilang, bayangan punggungnya yang tegap di balut kemeja putih mulai menjauh.