DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 68



Axel terdiam di dekat Renata. Tak sedetikpun pria itu meninggalkan kekasihnya yang tengah tertidur pulas.


Mama Anye sudah pulang menjelang sore, sedangkan Gio pamit pulang ke kantor bersama Tiara.


Dia elus perut Renata pelan. Disini ada kehidupan baru. Harusnya disana tempat putranya kelak bersama dengan Renata setelah mereka menikah nanti, tapi jika harus terisi dengan darah daging orang lain, mau bagaimana lagi? Bayi ini tidak bersalah. Jangan sampai Renata berbuat nekat!


Teringat obrolan mereka beberapa hari yang lalu.


Flashback,


"Xel, kalau kita punya anak. Mau laki-laki atau perempuan?" tanya Renata saat mereka sedang menikmati waktu sore berdua di gazebo taman belakang. Kedua kaki mereka basah, masuk ke dalam kolam ikan kecil yang seketika berenang mengitari kaki mereka.


Axel tersenyum, dan mencium pucuk kepala Renata dengan sayang. Di elusnya pundak wanita itu.


"Apa saja. Tapi perempuan mungkin lebih baik!" ucap Axel.


Renata menjauhkan kepalanya dari Axel dan menatap pria itu bingung. Biasanya pria akan menjawab anak laki-laki sebagai anak pertama, untuk menjadi penerus dan mewarisi keluarga mereka.


"Kenapa tidak mau laki-laki?" tanya Renata.


Axel menarik Renata kembali ke dalam dekapannya. Dia hanya mengangkat kedua bahunya, tanda tak tahu.


"Mungkin karena semua anak mama laki-laki! Dan aku lebih ingin anak perempuan supaya dia bisa menemani kamu. Kamu akan ada kegiatan setiap hari, menguncir rambutnya, mungkin main make up bareng-bareng, masak bareng kalau sudah besar?!" tanya Axel, dia tersenyum geli membayangkan masa depan mereka. Bagaimana keduanya akan memakai baju yang sama dengan riasan rambut yang sama pula.


"Dan sepertinya lucu kalau kalian pakai baju yang sama!" tutur Axel.


Renata ikut tertawa mendengar alasan Axel. Tidak masuk akal menurutnya. "Tapi kalau laki-laki juga bagus. Aku bisa pakai baju yang sama dengan putraku!" ucap Axel bangga.


"Ih, jangan! Kalau begitu anak perempuan saja, ya! Kalau anak laki-laki pasti bakalan mirip sama kamu!" Renata mencolek pipi Axel.


"Memangmya kenapa kalau mirip dengan aku?" tanya Axel.


"Kalau besar sedikit pasti ngikut papanya terus!" cicit Renata. "Dia pasti lebih sering ikut kamu dan aku bakalan sendirian di rumah."


Axel tertawa. Lucu menurutnya padahal itu belum tentu terjadi tapi mereka sudah jauh memikirkan hal yang seperti itu.


"Kalau kembar saja bagaimana?" tanya Axel.


Renata seketika menarik kepalanya menatap Axel.


"Tapi sekarang mungkin saja, Re. Kita bisa datang ke dokter terbaik dan memiliki anak kembar. Mau tiga, empat, atau lima sekaligus juga bisa, kan?" Axel menaik turunkan alisnya.


"Ih… Kebanyakan Axel! Aku tidak mau sampai kembar sebanyak itu!" Renata mencubit paha Axel. Axel tertawa sambil mengusap pahanya yang sakit.


Flashback off.


Axel masih mengelus perut Renata dengan pelan. Dia tersenyum. Berusaha untuk ikhlas.


"Baik-baik di dalam sana ya, nak. Papa akan jaga kamu dengan baik." ucap Axel lirih. Semua itu jelas terdengar oleh Renata. Dia menahan isak tangisnya.


Renata sudah terbangun sedari tadi. Dia menatap Axel yang sangat lembut terhadapnya. Bahkan kepada anak yang berada di dalam kandungannya, yang notabene bukan putranya.


Axel tersadar saat mendengar isakan Renata, dia segera menarik tangannya dan bangkit duduk di tepi brankar.


"Hai, sudah bangun?" tanya Axel. Dia mengusap tangan Renata pelan. Renata hanya tersenyum dengan pelan dan kemudian mengangguk.


"Kamu gak pulang, Xel? Ini sudah malam." ucap Renata.


"Mana mungkin aku pulang kalau keadaan kamu seperti ini." ucap Axel.


"Trimakasih. Trimakasih karena kamu selalu ada buat aku!" ucap Renata, dia mengulurkan tangannya dan menarik Axel ke dalam pelukannya. Renata kembali menangis di dalam pelukan Axel.


"Sudah, jangan menangis. Kasihan anak kita kalau mamanya menangis terus. Memangnya kamu gak capek apa nangis terus dari tadi?" tanya Axel.


Anak kita? Bahkan Renata sendiri tidak ingin mengakui anak ini!


Renata semakin kencang isak tangisnya.


Dia tak menyangka Axel akan menerima anak itu sebagai anaknya juga.


"Dasar cengeng!" Axel menarik dirinya hingga Renata terduduk. Dia memeluk Renata dengan erat.


"Aku gak suka kamu yang cengeng. Mana Renata yang aku kenal? Mana Renata yang kuat, hah?!" Axel tertawa lirih, mencoba menenangkan Renata meski dalam hatinya terasa sakit.


Renata perlahan terdiam. Pelukan Axel memang menenangkan.