DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 216



"Astaga! Kenapa kalian berfikiran seperti itu?!" Aku dan Gio refleks menoleh. Mama Anye sudah berada di belakang Gio. Entah dari kapan.


"Maaf, Ma. Tidak seharusnya kami berpikiran seperti itu. Ini hanya ketakutan Ibu saja." jujur ku katakan daripada menjadi masalah.


Mama mendekat dan memegang bahuku pelan. "Dengar Tiara. Mama tidak pernah memandang orang lain dari status sosial. Apakah mereka kaya atau punya derajat tinggi, Mama tidak masalah. Yang penting kamu baik. Dan yang terpenting juga kamu adalah pilihan Gio! Mengerti!" tutur Mama membuatku terisak kembali.


"Jangan pernah dengarkan cibiran dari orang lain. Biarkan saja mereka. Mungkin mereka hanya iri dengan gadis beruntung sepertimu! Kami juga tidak akan tinggal diam jika ada yang menjatuhkan kalian." ucapan Mama sangat menenangkan. Apalagi saat mama menarikku ke dalam pelukannya yang hangat.


Pintu terdengar tertutup di belakangku. Ibu mendekat. Mama melepaskan pelukan ini.


"Bu, saya mohon untuk kebahagiaan anak kita. Jangan sampai ibu berfikiran yang tidak-tidak. Kami juga tidak akan tinggal diam jika ada yang mengusik kalian dengan kata-kata ataupun tindakan!" ibu mengangguk dengan senyum sedih di wajahnya. Satu bulir air mata turun lagi ke pipi.


"Maafkan saya, Bu. Kami hanya dari kalangan bawah, dan saya sangat takut jika hal itu menimpa Tiara."


Mama dan ibu saling berpelukan dalam haru.


"Saya tidak peduli dengan siapa kalian. Bahkan jika ada di derajat paling rendah sekalipun selama anak saya bahagia kenapa tidak? Saya bersyukur akan mendapatkan satu lagi putri yang cantik di keluarga kami." calon ibu mertuaku ini memang sangat baik. Padahal aku hanya bertemu beberapa kali dengan beliau.


"Tiara Mama lupa! Maafkan mama yang sudah membuatmu sakit hati tempo hari." ucap mama setelah mengurai pelukannya pada ibu.


"Tidak apa, Ma. Aku tahu semua yang mama lakukan hanya untuk kebaikan kami." ucapku. Mama dan ibu tersenyum.


Pak Axel datang mendekat.


"Hei apa kalian mau tetap disini? Istriku kelaparan, ingin makan malam. Bu, kue yang di bungkus daun pisang masih ada kah?" tanya Axel pada ibu. Gio berdecak kesal. Tangannya melayang menampar belakang kepala pria itu dengan sedikit keras.


"Bisa tidak sih jangan mengganggu suasana!" Mulut Pak Axel mengerucut sambil mengusap kepalanya yang sakit.


"Aku kan hanya tanya, apa kue yang dibungkus daun pisang masih ada? Istriku sedang ingin makan itu. Kalau tidak dapat kasihan kan nanti bagaimana kalau anakku ngeces gak dapat yang dia mau!" Pak Axel langsung menutup mulutnya. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri.


"Renata hamil?" pekik mama dengan wajah terkejut. Ku lihat Pak Axel meringis sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.


"Keceplosan! Hehe..." wajah nya terlihat bodoh menurutku meski memang iya dia tampan.


Mama mendekat dan mengeluarkan tinju hingga mendarat di dada putranya. Pak Axel mengaduh kesakitan.


"Keterlaluan! Renata hamil dan kau tidak bilang pada kami? Dasar anak nakal!" satu pukulan keras mama layangkan dengan menggunakan tas.


Aww...


Aku yakin Pak Axel kesakitan karena itu.


"Ma sakit. Aku kan tadinya ingin memberitahu kalian dengan kejutan saat sampai di rumah." lagi-lagi bibir itu mengerucut mengusap lengannya yang sakit.


Mama melengos pergi tidak menghiraukan keluhan sakit yang terucap dari bibir putranya segera mendekat ke arah menantunya yang kini tengah menikmati kue lapis buatan ibu. Kue yang ibu beli dari toko bahkan tidak dia sentuh sama sekali. Renata sibuk melepas satu persatu lembaran kue lapis di tangannya lalu memakannya dengan nikmat.


Kami mengikuti mama dan kembali ke ruang keluarga dimana semua orang tengah berkumpul. Mama mengambil duduk di samping Renata. Lagi-lagi Pak Axel memanyunkan bibirnya, itu tempatnya dan sekarang diambil alih oleh mama.


"Kamu kenapa tidak bilang kalau kamu sedang hamil?" Mama meradang, sedangkan menantunya itu melongo. Makanan di tangannya hanya menggantung di depan mulutnya. Renata menatap mama lalu beralih menatap suaminya. Axel hanya tersenyum meringis sedangkan Renata memberikan tatapan maut pada pria itu.


"Maaf, Ma. tadinya kami ingin membuat pesta kejutan yang sudah kami persiapkan di rumah." ucap Renata. Nadanya terdengar kesal melirik Pak Axel seperti singa ingin menerkam mangsa.


"Tapi sepertinya pesta kejutannya gak akan jadi!" sungut Renata melirik Pak Axel yang kini bersmbunyi di belakang tubuh calon suamiku. Ekhem,,, calon suami loh ya. Bukan kekasih lagi!


"Kalian ini. Ini berita yang sudah lama mama tunggu! Dan kalian tega menyembunyikan nya?" mama kesal melipatkan kedua tangannya di depan dada. Punggungnya ia hempaskan Dengan kasar ke sandaran kursi.


"Kami hanya belum bilang. Bukan menyembunyikan." Pak Axel berujar masih di belakang tubuh Gio. Gio menggeserkan tubuhnya ke sampingku, membuat Pak Axel kini tak bisa lagi menyembunyikan diri dari tatapan kesal istrinya dan juga mama Anye.


Ah... ini memang keluarga yang unik. Aku bersyukur mendapatkan keluarga yang sangat baik dan juga ramah. Tak aku sangka sebesar apapun pengaruh di dunia bisnis yang sangat sibuk, keluarga ini masih sangat-sangat harmonis. Padahal aku sering mendengar bahwa keluarga pengusaha seringnya kesepian karena ditinggal sibuk pasangannya.


...*...


Mama dan keluarga telah meninggalkan rumah kami. Meninggalkan Pak Axel dan istri yang kini masih menikmati rujak mangga muda di teras rumah.


Kasihan Pak Axel, tangannya merah karena baru saja memanjat ke atas pohon untuk mengambil mangga muda yang ada di depan rumahku. Kulihat dia sangat mudah saat naik tapi kesulitan saat turun. Hingga kami harus mengeluarkan tangga lipat yang ada di gudang.


"Dasar kau naik bisa kenapa turun tidak bisa?" ejek Gio pada saudaranya.


"Coba saja kau sendiri yang naik ke atas sana. Kau kira itu mudah?!" sekilas obrolan kakak adik itu tadi membuatku iri. Hidupku sepi tanpa saudara yang bisa kuajak debat atau saling bercerita tentang keluh kesah satu sama lain.


Gio menyadarkanku dari lamunan. Duduk di sampingku dengan melingkarkan tangannya di pinggang. Kepalanya bersandar di bahuku. Sedangkan Pak Axel berada di dekat istrinya.


"Kenapa?" bertanya dengan lirih. Aku hanya menggelengkan kepala.


"Aku sangat senang hari ini." ucapku jujur.


"Aku bukan bertanya tentang kejadian hari ini. Yang aku tanyakan kenapa wajahmu ditekuk seperti ini?"


Aku menoleh pada Gio, tapi membuat pipi ini bersinggungan dengan ujung hidungnya. Hatiku berdebar karenanya, segera aku palingkan wajahku ke arah lain.


"Kenapa hem?" bertanya sekali lagi. Apa aku terlalu kelihatan sedang ada memikirkan sesuatu?


"Aku hanya iri dengan kedekatan kalian. Aku punya kakak, tapi tidak tahu dimana dia." lirihku.


"Kau bisa mencari tahu?" Gio hanya mengangguk.


"Aku tidak tahu, G. Dalam hati ini aku merasa marah padanya... " membahas ini aku jadi teringat dengan ucapan kakakku waktu itu. Aku menghentikan ucapanku dan kembali menoleh padanya, menggerakkan pundak ini. Gio menarik kepalanya menatapku dengan bingung.


"Aku lupa. Apa kau pernah memberikan uang pada kakakku?" tanyaku menyelidik. Gio memalingkan wajahnya ke arah lain tidak berani menatapku. Sepertinya memang benar. Gio telah memberikan uang dengan jumlah cukup banyak padanya.


"Aku tidak mau kau ikut campur dengan urusanku G. Apalagi dengan kakakku." Aku berkata dengan lirih. Malu jika dua orag yang duduk di belakang kami mendengarnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Gio, "aku hanya tidak ingin kau diteror lagi oleh kakakmu. Apalagi sampai kau di pukul olehnya. Kau tahu Tiara malam iu aku begitu terluka melihat mu. Kau hanya diam, raga mu ada di dekatku tapi jiwamu entah dimana. Kau pikir aku tidak sakit hati? Meskipun dulu kita belum bersama tapi hati ini terasa sakit saat melihat mu dipukulnya." Gio memegangi dadanya sendiri. Aku sempat tak percaya dengan apa yang dia katakan. Padahal saat itu masih jauh dari kata suka sepertinya.


"Tapi aku merasa malu dengan kelakuannya. Dia pria yang tidak bertanggung jawab dengan keluarganya, dengan kami, ibu dan adiknya." kurasakan mata ini mengembun. Segera aku susut agar tak jatuh bebas ke bawah.


"Aku tidak masalah, harta bukan segalanya bagiku yang terpenting adalah kebahagiaanmu, Ra." aku tersentuh dengan ucapannya. Banyak pria yang mengataan hal seperti itu padaku, tapi kenapa aku hanya percaya dengan pria ini seorang?


Kami hanya diam manatap langit malam yang kebetulan terang. Alam sepertinya mendukung untuk menemani kami yang tengah bahagia ini, langitpun ikut cerah di musim penghujan sekarang ini.


Gio kembali menyandarkan kepalanya di pundakku.


"Sejak kapan kau merasa seperti itu?" tanyaku penasaran.


"Heh... apa?"


"Perasaanmu. Sejak kapan kau suka dengan ku?" tanya ku. Aku sungguh penasaran!


"Tidak tahu. Memangnya kita belum pernah membahas ini ya?" tanya Gio. Eh... pernahkah? Aku mencoba mengingat, lalu menggerakkan bahu ini ke atas.


"Aku tidak ytahu, mungkin aku lupa." Aku dan Gio terkekeh. Terlalu banyak yang aku pikirkan hingga aku seringkali lupa.


"Entahlah, aku juga lupa, tapi yang jelas, semakin sering aku melihatmu semakin aku suka dengan mu, teruama saat wajahmu cemberut, jelek, tapi anehnya aku suka."


"Kau ini memujiku atau mengejekku?" aku kesal dengan ucapannya. Tidak ada romantis-romantinya sama sekali!


"Aku berkata dengan sungguh-sungguh. Aku memang merasakan hal seperti itu padamu. Lalu kau... Sejak kapan kau suka denganku?" dia balik bertanya.


Aku.... Aku mencoba berpikir dulu.


"Tidak tahu, tapi rasanya diri ini kesepian kalau aku pulang ke rumah." jawab ku sekenanya. Apa lagi? Memang itu yang aku rasakan!


"Ara..." panggilnya mesra.


"Hem?" aku menjawab begitu saja. Suasana ini terasa sangat romantis, menatap indahnya langit malam dengan bias cahaya bulan yang menyorot pada kami, langit bertabur bintang, dan angin bersemilir yang membuat suasana ini begitu indah.


"Aku sungguh senang dengan kita bersama." Gio menarik tanganku yang sedari tadi bertautan dengan jari tangannya, mengecup punggung tanganku dengan lamat.


"Aku tidak ingin kita berpisah lagi sebenarnya, tapi tugasku disana masih sangat banyak. Aku harap kau masih mau sabar menunggu hingga tanggal pernikaha kita." pinta Gio. Aku mengangguk.


"Pasti, aku akan menunggu kamu kembali, G." ucapku. Gio melepaskan tanganku dan memegang pipi kiriku, mnariknya hingga kami saling berhadapan. Bibirnya tersenyum penuh hingga matanya kini menyipit. Sedetik merasakan nafas yang hangat milik nya...


"Huwweekkkk..." Aku lupa! Masih ada orang di belakang sana! Refleks aku menarik diri ini menjauh dengannya. Gio pun sama menjauh dariku.


Ku lihat Pak Axel sedang membungkuk di teras samping rumah, Renata mengusap tengkuk Pak AXel pelan..


"Makanya kalau tidak suka asam jangan coba-coba!" terdengar suara Renata dengan kesal. Pak Axel masih saja membungkuk mengeluarkan sesuatu yang ada di mulutnya.


Aku dan Gio mendekat ke arah mereka.


"Ada apa?" tayaku panik.


"Ini Axel makan rujak, dia langsung muntah." Gio tertawa segera aku melotot padanya.


Pak Axel meneruskan kegiatannya mencoba mengeluarkan apa yang ada di dalam mulut, tapi tidak ada apa-apa yang keluar dari sana.


"Aku akan buatkan teh hangat." aku bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju dapur. Segera ku buatkan teh hangat untuk Pak Axel. Setelah selesai aku membawanya ke teras rumah.


"Ini Pak. Diminum dulu." ku simpan nampan di kursi samping Pak Axel yang terlihat tak berdaya. Wajahnya sudah pucat pasi.


"Trimakasih, Ra!" Renata yang berbicara. Sedangkan Pak Axel mengambil cangkir teh dan menenggaknya rakus.


"Kau ini tidak suka asam tapi nekat makan rujak..." Renata terus mengomel. Tak ku sangka wanita yang dulu aku tahu kalem ternyata senang mengomel juga. Apa ini hormon kehamilan?


Axel mengangkat telapak tangannya membuat Renata berhenti mengoceh.


"Aku melihat kamu makan biasa saja seperti yang enak. Jadi aku ikut coba!" Pak Axel setelah menghabiskan minuman masih terengah dengan nafasnya. Pak Axel mengusap lehernya.


"Sakit, Yang!" mengeluh sakit di tenggorokan pada sang istri.


"Rasakan! Aku kan sudah bilang jangan makan tadi! Kenapa tetap ngeyel!"


Rasanya ingin tertawa melihat Dua orang ini. Pak Axel salah satu orang yang berwibawa di depan ribuan karyawan kini hanya tertunduk patuh di bawah omelan sang istri.