DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 162



Tubuhku terasa sakit akibat pergulatan semalam yang tak imbang sama sekali. Devan keterlaluan! Dia sih enak bisa bergerak bebas di atasku, sedangkan aku tidak berani membalasnya karena takut jika bergerak, kasur akan bergoyang semakin keras dan akan membangunkan kedua putraku!


Huffft keterlaluan. Awas saja lain kali biar aku yang akan mengalahkan kamu!


Eh???


Tapi meski aku juga yang mengalahkan dia, tetap saja dia juga yang enak kan? Lelaki sih mau di gimana-gimana kan juga pasti yang ada lebih untung! 🤔🤔🤔


...★★★...


Kami sedang menikmati siang yang cerah di halaman belakang rumah. Kegiatanku sehari-hari ya apa lagi sekarang selain menjaga Axel. Aku hanya ibu rumah tangga sekarang yang hanya mengurusi keluarga.


Axel sudah mulai belajar berdiri. Usianya kini sudah hampir satu tahun. Ya. Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin melahirkan Axel dan sekarang dia sudah hampir satu tahun. Ah... Aku merasa semakin tua sekarang!


Axel sedang berdiri sambil berpegangan tangan pada ayahnya. Berkali-kali dia oleng tapi bisa di tahan Devan, sesekali Devan membiarkannya terjatuh agar dia bisa bangkit lagi berdiri.


"Maammmmh... Maaahhhh!" teriak Axel. Anak itu sedang belajar memanggilku, dia selalu saja berteriak dan gemas. "Mmmaaaaahhh!!!" teriaknya lagi dengan semangat.


Aku mengulurkan tanganku dan memanggil namanya. Axel tertawa riang, dia mengulurkan tangannya padaku, tapi kemudian terjatuh karena tidak bisa melangkah. Aku kira dia akan menangis, tapi tidak! Dia malah tertawa riang dan merangkak ke arahku. Aku meraih Axel dan menahan tubuhnya di tanganku. Axel berdiri di atas pangkuanku, sesekali dia meloncat senang.


"Mmmmaaah!" panggilnya lagi. Tangannya ia masukkan ke dalam mulutku. Aku berpura-pura menggigitnya, dia tertawa. Axel paling senang jika di ajak main seperti ini.


"Axel, yang ganteng, yang hebat. Kapan kamu akan bisa jalan, hem?"


Axel diam dia sibuk menyentuh daun telingaku, memilinnya dengan jari kecilnya. Hahh... kebiasaan baru Axel akhir-akhir ini. Bahkan saat dia tidur kalau tidak memainkan telingaku dia tidak akan bisa terlelap!


Aku pernah kehilangan antingku karena ulahnya. Entah hilang dimana, mungkin saat Axel memainkan telingaku anting itu terlepas. Dia juga lebih leluasa memainkan telingaku yang tanpa anting.


"Axel, cepatlah jalan nak. Mama akan bawa kamu ke taman seperti anak lainnya, sama kak Daniel juga!" janjiku.


Ya, aku selalu menatap satu keluarga dengan anak kecil yang berjalan-jalan di taman kota pada sore hari. Aku juga tertarik untuk pergi kesana suatu saat nanti membawa Axel dan Daniel. Kelihatannya menyenangkan,bisa aku baya gkan mereka saling berlarian di atas rumput hijau, atau bermain petak umpet di balik pohon. Aku dan keluargaku, berjalan-jalan di tengah taman, menjadi orang biasa, bukan anggota keluarga Rudolf!


Butler datang mendekat ke arah kami.


"Nyonya!" Hemmm kali ini panggilanku berubah menjadi nyonya semenjak aku melahirkan Axel, terasa seperti aku tua saja! Sudahlah!


"Iya, pak Didi?"


"Maaf, nyonya!" ucap Pak Didi lalu berjongkok di lantai dan berbisik di depan telingaku.


Apa?!


Aku menoleh pada Butler, dia hanya menunduk setelah memberitahukan sebuah berita.


"Bagaimana bisa?" tanya ku sedikit berseru hingga Axel dan Devan menoleh ke arahku bersamaan. Butler menggelengkan kepalanya. Rasa takut seketika hinggap di hatiku.


"Hanson sedang mengirim orang untuk menyelidiki kejadian itu."


Apa lagi ini?!


"Siapkan orang. Aku akan pergi sekarang!" ucapku. Butler mengangguk lalu bangkit dan pergi ke dalam mansion.


Aku terdiam menatap Devan. Axel melompat-lompat di atas pahaku, dia menarik rambutku. Aku menahan tubuhnya dengan kedua tanganku.


"Ada apa, Honey?" tanya Devan.


"Matt. Kecelakaan!" lirihku, membebaskan rambutku dari tangan Axel yang akan memasukkannya ke dalam mulut. Devan terperanjat.


"Lalu Daniel?" tanya Devan berseru, kali ini Axel menatap Devan, dia memiringkan kepalanya menatap sang ayah.


"Daniel baik-baik saja. Dia bersama Hanson di rumah sakit! Aku harus pergi kesana!" ucapku lalu berdiri menggendong Axel.


"Aku ikut!" ucap Devan, aku mengangguk.


Berjalan ke dalam rumah, aku memerintahkan seseorang memanggil Lynn. Tak lama Lynn datang. Ku serahkan Axel padanya. Axel mengulurkan tangannya padaku, tak mau di lepaskan. Dia sedikit rewel di tangan Lynn. Bibir bawahnya tertarik ke atas, matanya berkaca-kaca.


Beberapa menit perjalanan di tempuh dengan helikopter ke arah rumah sakit. Aku dan Devan hanya terdiam. Entah apa yang dia fikirkan, dan aku juga dengan fikiranku sendiri.


Bagaimana keadaan Matt? Apakah Daniel sedang menangis sekarang?! Kenapa semua ini terjadi lagi? Daniel terus saja mendapatkan hal yang tidak terduga. Kasihan dia!


Devan menggenggam tanganku erat. Seolah dia bilang 'Semua akan baik-baik saja!'. Aku merebahkan kepalaku di dadanya merasakan usapan tangannya di rambutku.


Sampai di rumah sakit. Aku dan Devan setengah berlari mencari Daniel. Kami berlari ke arah ruang operasi.


Benar saja, anak itu sedang menangis sekarang di dalam pelukan Hanson.


"Daniel!" panggilku. Daniel melepaskan dirinya dari pelukan Hanson, dia menoleh padaku. Wajahnya basah. Matanya merah. Dia terisak, semakin aku melangkah, isakannya semakin kuat. Dia berlari menghambur memelukku erat. Menangis dengan hebat. Hanson membungkukan setengah badannya saat melihatku.


"Kenapa semua yang ada di dekatku terluka, ma! Apa aku tidak baik sampai mereka benci aku?" ucapnya di tengah isakan. Aku membawa Daniel duduk dan mengusap kepalanya dengan sayang. Ku cium kepalanya singkat.


"Mereka gak benci kamu, Niel! Jangan kamu..."


"Tapi kenapa mereka selalu saja membuat orang-orang yang ada di dekatku terluka, ma!" jeritnya.


"Sudah Niel. Mama janji akan lindungi kamu, dan mama janji hal itu tidak akan terulang lagi!" ucapku. Ya, aku akan sekuat tenaga menjaga Daniel.


Daniel terisak di dalam pelukanku.


"Papa juga akan melindungi kalian!" ucap Devan, dia merengkuh kami berdua di dalam dekapannya.


Semua ini pasti berat untuk Daniel Dia masih terlalu kecil untuk menghadapi kehidupan keras ini.


Benar kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon tumbuh maka akan semakin besar angin yang menerpanya. Begitu juga dengan keadaan perusahaan ayah.


Semenjak ayah melebarkan bisnisnya lebih luas lagi, semakin banyak pula saingan bisnis yang ayah temui. Yaa... begitulah mereka. Ada yang menerima, tapi ada juga yang tidak. Sama seperti kejadian waktu itu, beberapa kejadian terjadi akibat rasa iri mereka. Nyawa kami lagi-lagi terancam. Meski kini ayah lebih mengetatkan lagi penjagaan di mansion, tapi tidak menutup kemungkinan kami bisa kecolongan lagi.


Matt terkena tembakan di punggungnya. Mereka sudah sangat berani membayar penembak jitu untuk melukai Daniel saat masih di sekolah, beruntung Matt jeli dan melihat titik merah yang terlihat di belakang kepala Daniel. Dia mengorbankan dirinya menjadi tameng untuk putraku. Aku hargai pengorbanan dia. Sungguh Matt telah menjadi bodyguard favorit kami.


...★★★...


Matt masih berada di rumah sakit. Dia harus istirahat beberapa hari pasca operasi pengangkatan peluru dari punggungnya.


Ayah sudah menyelidiki siapa dalang di balik insiden penembakan itu. Sudah kami duga, dia suruhan dari seseorang yang ingin membalas dendam pada ayah. Alasannya karena dia kalah tender dari ayah.


Semenjak kejadian itu Daniel menjadi pendiam. Dia tidak mau sekolah dan cenderung menyembunyikan dirinya sendiri di dalam kamar, tidak mau keluar dan juga seperti menghindari kami. Bahkan dia berlari saat Axel merangkak mendekatinya.


Niel ada apa dengan kamu?


Baik aku, Devan, maupun ayah tidak bisa membujuk Daniel untuk terbuka pada kami.


Daniel lagi-lagi harus sedih, dia merasa karena dirinyalah orang-orang yang ada di sampingnya kembali terluka. Lagi, kami harus menghadirkan psikiater anak untuk membantu Daniel keluar dari rasa terburuknya itu.


Nora, psikiater yang menangani Daniel baru saja keluar dari kamar Daniel. Sudah hampir seminggu Nora datang dan baru kali ini Daniel mau bicara dengan Nora setelah membujuknya dengan susah payah.


Brakkk!!!


Pintu kamar Daniel di tutup dengan keras dari dalam kamar. Aku dan Nora saling menatap. Nora memintaku untuk duduk dan membahas masalah Daniel.


"Daniel sangat tertekan dengan kejadian yang lalu, di tambah dengan kejadian akhir-akhir ini!" ucap Nora.


"Dia sangat shock dan tidak bisa menerima kenyataan yang ada, dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan dia sekarang lebih susah di ajak bicara dari saat terakhir kali kami bertemu dulu." sambungnya.


"Lalu bagaimana solusinya? Apa kau punya solusi yang baik untuk Daniel?" tanyaku. Berharap dia punya jalan terbaik untuk putraku.


"Bawa Daniel ke tempat yang baru. Dengan suasana baru, lingkungan baru dan juga identitas baru." ucapnya. Kini aku mengerti apa maksudnya. Jika kami masih berada disini tidak menutup kemungkinan kalau mereka menargetkan kami kembali.


Ini keputusan yang berat. Daniel butuh suasana baru, dan Axel masih butuh perawatan intensif. Apa yang harus aku lakukan?