DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Gio part 233



"Gio, kau sedang apa disini?"


Seorang wanita cantik dengan balutan dress coklat terdiam terpaku saat melihat putranya bersama dengan orang asing.


Gio dan Tiara sama-sama menoleh ke arah mana Gio Junior menunjuk.


"Mama!!" teriak Gio junior, turun dari pangkuan Gio lalu berlari ke arah wanita itu.


"Kau kemana saja taid huh?! Mama kan menyuruhmu untuk tetap tinggal, kau kenapa lari, huh?!"


"Mama, lihat. Aku dibelikan eskrim, Ma. Mama dari mana saja? Aku tadi cari Mama tidak ada! Aku tadi cari Mama kesana. Untung ada om dan tante yang baik hati, mereka menemaniku ...." tunjuk Gio Junior pada Gio dan Tiara.


Wanita itu terpaku menatap Gio, hingga suara putranya yang kini merengek meminta pulang sampai tidak terdengar olehnya.


"Mama! Ayo kita pulang. Aku ingin mandi!" seru Gio Junior seraya menggoyangkan tangan sang mama dengan gerakan cepat.


"Eh, iya. Ayo kita pulang," ajak wanita itu kemudian.


"Terima kasih, karena sudah menjaga anak saya. Saya mohon maaf, karena saya lalai menjaga putra saya hingga merepotkan kalian!" wanita itu sedikit membungkuk. Menghindar dari tatapan menusuk yang tertuju kepadanya.


"Tidak apa-apa. Lain kali tolong jangan sampai lepaskan pandangan Anda darinya," pinta Tiara dengan senyuman ramah.


Wanita itu membungkuk kembali, lalu kemudian pergi sambil menggandeng tangan putranya.


Gio menatap punggung wanita itu yang kini perlahan menjauh dari mereka.


"Ayo, G. Kita pulang!" Tiara menarik tangan Gio. Gio hanya mengangguk lalu mengikuti kemana arah istrinya berjalan.


Tiara baru saja selesai mandi, dia menatap Gio yang kini sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Setelah pulang dari pantai tadi, sikap Gio tidak seperti biasanya, hanya diam tidak banyak bicara. Bahkan, tidak ada kata gurauan atau godaan yang kerapkali di lontarkan saat Tiara akan pergi mandi.


"Hei, G. Kau kenapa?" Tiara duduk di samping Gio. Tangannya terus bergerak mengeringkan rambutnya yang basah.


Gio menoleh, tersenyum dengan tipis.


"Tidak apa-apa!" jawab Gio, lalu duduk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Tiara. Gio menghisap aroma lembut dari kulit istrinya. Wangi yang sangat lembut membangkitkan gairah di dalam diri.


"Kau benar baik-baik saja? Sepulang dari pantai kau terus terlihat diam. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Tiara khawatir.


"Tidak ada. Aku hanya lelah," jawab Gio. Tiara mengelus rambut suaminya.


"Rambutmu bau asem. Sana mandi." titah Tiara.


"Bisa di skip mandinya? Aku ingin tidur."


"Tidak! Aku tidak mau memelukmu kalau kau bau asem seperti itu."


"Mandikan aku, maka aku akan mandi sekarang."


Tiara mencebik kesal.


"Hei aku sudah mandi. Aku tidak mau basah lagi." protes Tiara.


"Kalau begitu aku tidak mau mandi!" Gio merajuk, membaringkan dirinya membelakangi Tiara.


Tiara melongo. Gio tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Kenapa sekarang malah seperti anak kecil?


"Hei, G. Kau ini sudah besar, kenapa bersikap manja seperti itu!" Tiara menarik tangan Gio untuk mengajaknya berdiri. Namun, Gio malah berbalik dan menarik tangan Tiara hingga wanita itu terjatuh diatas tubuhnya. Kedua tangan Gio melingkar erat di pinggang Tiara. Rambut Tiara yang basah tergerai di atas wajah Gio.


"Lepaskan aku. Rambutku masih basah!" seru Tiara. Gio hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin tetap seperti ini, untuk waktu yang lama. Aku ingin tetap memelukmu sampai kita tua nanti. Aku ingin terus hidup bersamamu sampai maut memisahkan kita. Sampai nafas ini berhenti berhembus, sampai mata ini tidak bisa lagi terbuka. Sampai dunia tidak lagi berputar ...."


Tiara menmpelkan jari telunjuknya di bibir Gio memaksa pria itu untuk diam. Tiara merasa aneh dengan apa yang diucapkan Gio barusan. Ada apa dengan pria ini hingga mengucapkan kata-kata yang aneh seperti itu?


"G. Kau ini aneh. Jangan membuatku takut. Ada apa denganmu?" tanya Tiara dengan menatap mata Gio dalam-dalam. Mereka saling berpandangan.


Gio memeluk Tiara dengan erat hingga wanita itu hanya bisa pasrah.


"Hei, kau ini kenapa sih?" tanya Tiara semakin bingung.


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin berpisah denganmu. Itu saja." Gio memeluk Tiara sangat erat. Sungguh hal ini membuat Tiara merasa semakin takut saja. Pria ini begitu terlihat tidak berdaya, seperti putus asa.


"Jangan membuatku takut, ada apa? Apa kau puya masalah? Katakan padaku, G!" Sungguh Tiara akan lebih baik jika Gio marah-marah saja, lebih baik jika pria itu mengomel terus-terusan daripada dia harus merasa kebingungan dan ketakutan seperti ini.


"Aku gak apa-apa. Aku cuma takut jika suatu saat ... tidak apa-apa! Maaf!"


Gio meminta maaf?! Tidak Tiara sangka dan tidak Tiara tahu Gio meminta maaf karena apa. Ini sesuatu hal yang sangat tidak jelas, dan Tiara butuh penjelasan itu sekarang.


"Kenapa meminta maaf? Apa kau punya salah padaku? Jangan membuatku takut, Gio."


"Tidak ini hanya pemikiranku saja. Aku hanya takut. Sedang merasa takut. Peluk aku yang erat Tiara." Pinta Gio. Dalam kebingungan, Tiara memeluk suaminya dengan erat. Gio menghela nafasnya dengan rasa yang berat. Menghembuskannya dengan cepat serasa dia ingin membuang rasa gundah yang ada di dalam hati. Tiara mengelus pundak suaminya. Jika Gio ingin bercerita tentu dia tidak akan segan untuk memberitahunya.


Gio telah tertidur setelah pergulatan mereka yang singkat. Tiara hanya bisa memandang suaminya yang kini tertidur pulas. Entah apa yang sedang dihadapi Gio hingga pria itu terlihat seperti tidak dalam keadaan baik.


"Apa yang membuat kamu kalut seperti ini, G?" tanya Tiara sambil mengelus kepala suuaminya dengan lembut.


Tiara menaikkan selimut yang ada pada tubuh Gio lebih tinggi lagi, hingga menutupi dadanya. Dikecupnya kening Gio dengan lembut sebelum dia bangun untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tiara masuk ke dalam restoran, dia meminta pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar mereka. Sengaja Tiara tidak menghubungi layanan kamar, sekalian ingin menghirup udara malam yang segar di luar.


"Eh Tante!" suara anak kecil terdengar dan lalu membuat Tiara menoleh saat ternyata dirinya lah yang dipanggil. Anak itu kini ada di hadapan Tiara dengan senyum manis berkembang di bibirnya.


"Eh Gio. Kau disini? Kau turun dengan siapa? Jangan sampai kau terpisah lagi dengan mama mu ya." Tunjuk Tiara di depan wajah anak itu.


"Aku turun dengan mama. Tuh..." tunjuknya pada wanita yang kini mendekat ke arah mereka.


"Selamat malam." Wanita itu menunduk dengan sopan saat bertemu dengan Tiara. Tiara pun sama, menganggukan kepalanya menyambut kedatangan ibu dari Gio junior.


"Anda sedang apa disini??" tanya wanita itu. "Perkenalkan nama saya Naura. Anda?" tanya wanita itu dengan sopan pada Tiara.


"Saya Tiara. Anda sedang apa disini? Mau makan malam juga?" tanya Tiara pada keduanya.


"Iya, kami mau makan malam. Apakah anda sendiri? Apakah Anda juga mau makan malam?" tanya Naura pada Tiara.


"Oh ...."


"Tante, kemana om yang namanya sama dengan ku?" tanya Gio kecil.


Tiara gemas melihat kelakuan anak itu dan mengacak rambutnya yang lembut.


"Om Gio sedang tidur."


"Tidur? Jam segini? Dia payah, aku saja masih belum tidur." Gio kecil berkata dengan memanyunkan bibirnya.


"Gio, jangan bicara seperti itu, tidak sopan!" peringat Naura.


"Maafkan atas kelancangan anak saya, ya Tiara. Dia memang seperti itu kelakuannya. Kalau sudah kenal dengan orang lain." Naura merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa."


"Tante kalau besok-besok aku mau bertemu om Gio apa aku boleh? Om Gio baik, aku ingin bilang padanya kalau aku ingin dia jadi papaku saja." celotehnya.


"Gio jaga bicaramu! Om Gio juga belum tentu mau menjadi papamu." Naura kembali memperingatkan. Wajah berseri anak itu tiba-tiba menjadi suram. Kepalanya tertuntuk, pandangannya menatap ke arah sepatunya.


"Memangnya kenapa?? Aku akan jadi anak baik, Ma. Aku janji." lirih Gio hampir terisak.


Tiara merasa iba melihat Gio yang sedih seperti itu. Tidak sepatutnya Naura mengatakan hal kasar tanpa memperhatikan perasaan anak itu.


"Jangan berkata sembarangan Gio."


"Tapi aku suka dengan dia, Ma. Dia orang yang penyayang. Apa aku salah kalau aku ingin di jadi papaku? Aku hanya ingin punya papa yang bisa melindungi kita. Hanya ingin punya papa agar aku tidak diejek tman yang lain. Ingin agar ibu tidak sedih lagi. Apa aku salah?" tanya Gio dengan lirih hampir tak terdengar.


Tiara berjongkok di hadapan Gio kecil. Sungguh kasihan sekali anak ini. Tiara tahu rasanya tidak punya ayah, tapi Gio kecil lebih kasihan lagi karena harus kehilangan sosok ayah di usia yang sangat kcil.


"Gio, Aku tidak bisa mengizinkan suamiku untuk menjadi apa yang kau mau, karena dia itu suamiku."


Gio kecil menunduk semakin sedih


"Tapi jika kau ingin bersama dengannya untuk bermain bersama aku akan izinkan. Kau bisa kapanpun datang dan bermain dengan suamiku. Dia pasti akan senang juga bermain bersama dengan mu. Aku lihat dia sayang padamu. Bagaimana?" tanya Tiara. Gio mengangkat kepalanya dan terbit senyum di bibirnya. Mengangguk dengan semangat hingga rambut poninya naik turun.


"Aku mau, aku mau!" seru Gio kecil riang. Tiara tersenyum senang melihat Gio kecil melompat kegirangan.


"Ayo aku mau ke kamar kalian!" seru anak itu dengan tak sabar menarik tangan Tiara dengan sekuat tenaga.


"Gio ini sudah malam. Tidak baik jika menganggu orang di jam sekarang." Naura mengingatkan. Gio yang tadinya semangat kini menjadi terdiam.


"Benar kata ibumu. Biarkan Om Gio istirahat dulu, ya. Aku akan ceritakan padanya kalau kau ingin bertemu dengan dia besok. Bagaimana?" tanya Tiara. Lagi, Gio mengangguk setuju mendengar ucapan Tiara.


"Maaf ya. Kami jadi merepotkan."


"Tidak masalah, Aku senang dengan Gio. Dia anak yang aktif sekali. Oh ya kalian sedang apa disini? Apa kalian sedang berlibur?" tanya Tiara.


"Iya, kebetulan Kami memang sedang berlibur disini."


Tiara dan Naura saling mengobrol. Mereka terlihat sangat akrab meskipun baru saja saling mengenal.


"Maaf, Nyonya. Maaf jika saya mengganggu kesenangan Anda. Tapi Tuan Gio sudah menunggu Anda di kamar. Mohon Anda segera kembali ke kamar sekarang juga." Heru setelah mendekat dan meminta Tiara untuk kembali ke kamar.


"Oh oke. Aku akan segera kembai ke kemar."


"Naura, Gio. Aku kembali ke atas dulu, ya. Senang bertemu dengan kalian." tutur Tiara pamit. Naura dan Gio melepaskan kepergian Tiara.


Di kamar Gio sudah bangun dan menunggu Tiara, Gio sedang berdiri di balkon kamar hotelnya. Menyesap rokok dan menghembuskannya ke udara, seakan dia ingin menghempaskan segala gundah dan juga kesah yang ada di dalam hatinya.


Tiara menemukan Gio disana tanpa memakai baju yang melindunginya dari angin malam yang bisa saja membuat dirinya sakit nanti. Kedua tangan Tiara dia lingkarkan melewati pinggang Gio hingga ke perut kotaknya. Dahinya dia tempelkan di punggung Gio yang tegak.


"Kau sudah bangun. Kenapa di luar, tidak pakai baju lagi, Kau mau pamer otot sixpack sama yang lain?" keal Tara. Gio masih menyesap rokok yang ada di tangannya.


"Kau kenapa sih, G. Sedang ada pikiran ya?" tanya Tiara. Gio menyesapnya sekali lagi sebelum mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di dekat sana.


Gio melepaskan tangan Tiara dari perutnya dan memutar badannya. Luka di dada Gio terlihat sangat jelas membuat Tiara selalu terbayang akan kesulitan yang telah dialami pria itu di masa dulu, meskipun Tiara tidak tahu apa yang menimpa pria itu hingga memiliki bekas luka yang dalam seperti itu.


"Dari mana saja kau? Kenapa kau meninggalkan hpmu?" tanya Gio sambil mendekatkan diriya dan mengecup singkat bibir Tiara.


Tiara menyimpan tangannya di bekas luka Gio dan mengelus dada pria itu dengan lembut.


"Aku tadi ke restoran di lantai bawah. Ku pikir kau tidak akan bangun, jadi aku meminta seseorang untuk mengirimkan makanan kesini."


"Kau bisa menyuruh mereka lewat layanan kamar."


"Aku bosan di kamar. Ingin menghirup udara segar."


"Kenapa tidak bangunkan aku. Aku pasti akan menemani mu." pungkas Gio.


"Kau tadi tidur, aku tidak berani membangun kan mu, G." Tiara mendekatkan diri pada suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Menghirup aroma wangi yang keluar dari tubuh suaminya yang sangat memabukkannya.


"Tapi aku khawatir saat tidak melihatmu ada disini. Aku takut terjadi sesuatu padamu," ucap Gio terdengar sedikit ketakutan.


Tiara bingung ada apa sih dengan pria ini kenapa dia lebay sekali?


"Hei apa yang akan terjadi padaku? Aku hanya turun ke bawah dan ke restoran. Kenapa kau sangat khawatir G. Aku bukan pergi ke medan perang." Tiara berucap mencoba untuk mencairkan suasana yang aneh ini.


"Tapi kenapa lama sekali? Apa kau mendapat kan masalah?" tanya Gio lagi.


Tiara menggelengkan kepalanya semakin menenggelamkan diri di pelukan hangat suaminya.


"Aku hanya bertemu dengan anak itu lagi dan ibunya. Kami hanya meengobrol sampai Heru datang dan memintakku untuk kembali ke kamar.


Gio tersentak. Tubuhnya menegang hingga Tiara refleks melepaskan diri dari Gio. Ditatapnya Gio yang kini hanya diam seperti patung dengan wajah yang terlihat aneh.


"Ada apa. G? Kenapa?" tanya Tiara tidak mengerti.


Gio tidak menjawab, melainkan kembali memeluk Tiara dengan erat.