
Jakarta
Semenjak pertemuan terakhir dengan cantik, Alvian jadi merasa tidak tenang. Dia merasa benci dengan dirinya sendiri. Entah karena hal apa pria itu tidak bisa melupakan Cantik. Rasanya galau sekali. Makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Bayangan gadis itu selalu saja mengikuti dirinya. Kemanapun dia melangkah atau bahkan sampai dia terlelap.
Alvian merasa ada yang salah dengan dirinya. Selama ini dia tidak pernah merasakan hal itu kepada wanita lain. Justru mereka lah yang selalu mengejar dirinya.
Alvian kini sedang berada di dalam kamar mandi, dia sedang berendam di air hangat. Tubuhnya yang lelah setelah habis olahraga kini menjadi nyaman kembali.
Alvian menyandarkan dirinya, memejamkan matanya, merasakan air hangat yang ini masuk kedalam pori-pori nya. Wangi aroma lilin aromaterapi mengurai di bahwa hidup, membuat perasaannya menjadi tenang.
Bayangan Cantik saat pertama kali mereka bertemu kini hadir di dalam benaknya. Alvian masih menutup matanya, bibirnya melengkung kan senyum yang sangat jarang sekali diperlihatkan kepada orang lain. Hidupnya yang penuh dengan tanggung jawab membuat Alvian selalu sibuk dan tidak pernah bisa merasakan kehidupan normal seperti pemuda lainnya. Memimpin perusahaan di usia yang muda membuat dirinya harus merelakan masa mudanya yang menyenangkan.
Perusahaan yang diturunkan oleh kakeknya sudah ia pegang sejak lama. Bahkan dia bisa mempertahankan perusahaan itu hingga sekarang. Dengan bantuan beberapa orang yang menjadi kepercayaan keluarganya.
Kehidupan Alvian begitu monoton, menjadi pengusaha muda yang sukses membuat dirinya harus bisa membatasi pergaulan nya. Vian harus memilih teman sesama pengusaha, membuat dirinya bisa lebih dikenal lagi di kalangan dunia bisnis. Sebenarnya itu sangat menyebalkan, Alvian juga ingin seperti pemuda lainnya, yang merasakan hidup seadanya, yang merasakan hidup tanpa tuntutan tanggung jawab, tapi semua itu tidak mungkin dia lakukan tidak ada yang bisa menggantikan dirinya untuk mengurus perusahaan.
Ayahnya adalah seorang yang jahat, dia ingin menguasai kekayaan yang ada pada neneknya. Padahal dulu ayahnya adalah orang yang sangat penyayang, hingga Alvian sempat bercita-cita ingin persis menjadi seperti ayahnya.
Pernikahan keduanya dengan seorang gadis muda membuat sang ayah berubah 180 derajat. Ayah kini tamak akan harta dan ingin menguasai semuanya sendiri. Semua itu karena pengaruh buruk dari istri mudanya.
Bayangkan saja, dia dan ibu tinya hanya berbeda 5 tahun. Wanita itu lebih pantas menjadi kakaknya daripada menjadi ibu tirinya. Sampai saat ini Alvian tidak pernah mengakui jika dia adalah ibu tirinya. Selalu bermuka manis di depan ayahnya, tapi bermuka masam saat ayahnya tidak ada.
Jika mungkin ibunya masih ada pastilah mereka tidak akan hidup seperti ini, Alvian dan kedua orangtuanya pasti akan hidup berbahagia. Mungkin saja dia tidak akan menjadi pribadi yang kaku, seperti kata orang lain, kaku dan tidak punya perasaan.
Vian membuka matanya dia kemudian berdiri dan membasuh tubuhnya yang penuh sabun di bawah guyuran air shower. Tidak berapa lama pria itu keluar hanya dengan menggunakan handuk sebatas pinggang.
"Vian, kau lama sekali mandinya. Aku sudah menunggumu sejak tadi." seorang wanita muda mendekat kearah Alvian dia melebarkan kedua tangannya untuk memeluk pria itu. Alvian menepis tangan wanita muda itu dan lalu pergi ke arah walk in closet.
"Vian kenapa kau jahat sekali padaku?" tanya gadis itu dengan tidak terima. Dia mengikuti Alvian masuk kedalam walk in closet. Alvian berbalik tiba-tiba, membuat gadis itu menabrak tubuhnya yang masih basah. Dia terpana melihat tubuh Alvian yang berotot. Alvian menatap wanita itu dengan kesal.
"Aku akan ganti baju tidak bisakah kamu menunggu di luar? Sangat tidak sopan masuk ke dalam kamar pria, wanita macam apa kau ini?" Alvian berkata dengan hati dingin, membuat wanita itu berdecak kesal.
"Aku hanya kangen sama kamu, kita sudah lama tidak bertemu. Apakah juga tidak kangen denganku?" tanya wanita itu yang kini menyentuh dada Vian dengan ujung jari telunjuk nya.
Vian sama tidak suka dengan wanita yang seperti ini, dia terlalu berani menyentuh seorang pria yang sedang tidak memakai pakaian sama sekali. Bukankah itu akan berbahaya? Vian adalah pria normal.
"Pergi dari sini!" ucap Vian sambil menahan tangan itu dan menepis nya dengan sasaran.
"Aku tidak suka ada orang lain yang mengganggu diriku saat akan memakai baju, pergi atau akan ku usir kau dari sini." ucapnya dengan dingin
Gadis muda itu pun berlalu dari sana dengan perasaan kesal. Lagi-lagi dia diusir oleh pria itu.
"Apa yang kau lakukan disini?Bukankah tadi aku sudah bilang kau keluar dari kamar ini?" tanya Alvian dengan geram.
"Tidak! Tadi kau tidak bilang seperti itu, kau hanya bilang tidak ingin diganggu saat kau sedang berpakaian." Dia menjawab dengan cueknya. Alvian menatap gadis itu dengan kesal, dia lalu menarik tangan wanita itu untuk keluar dari kamarnya. Vian memang tidak suka dengan wanita yang selalu seenaknya saja, apalagi sampai berani memasuki kamar pribadinya.
Wanita itu berhenti dan menarik tangannya dari cekalan tangan Vian.
"Vian sakit, kau ini menarik tanganku dengan keras." Wanita itu berbicara sambil menarik tangannya dari genggaman Alvian. Dia menatap Vaian dengan kesa dan mengusap tangannya yang sakit.
"Kau tidak pernah lembut padaku."
"Kau yang ingin diperlakukan seperti itu." Vian menjawab dengan ketus.
"Aku tidak pernah ingin diperlakukan kasar olehmu. Kenapa kau tidak bisa sedikit saja memperlakukan aku dengan baik Vian?" protes gadis itu.
"Kau tidak pernah menghormati ku dengan keinginanku, dan aku juga tidak perlu mengasihanimu atau berbuat lembut terhadapmu. Mau apa kau di sini?" tanya Vian dengan tidak peduli membuat wanita itu kini marah dan menjejakkan kakinya dengan kasar.
"Aku datang kesini karena kangen padamu Vian. Aku sangat kangen lama tidak bertemu."
"Lalu?" tanya alvian yang kini menatap wanita itu dengan dingin.
"Kau benar tidak kangen padaku sama sekali?" tanya wanita itu lagi. Alvian hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau ini menyebalkan sekali Vian." wanita muda itu kini mencebikkan bibirnya dengan kesal. Pria ini sedari dulu memang sangat sulit untuk dia taklukkan.
"Sekarang pulanglah, sudah jelas aku tidak merindukan mu dan aku juga tidak menginginkan kehadiranmu di sini. Aku juga sebentar lagi akan pergi ke rumah sakit." Gadis itu menatap tidak percaya kepada Alvian, dia baru saja diusir? Sangat keterlaluan sekali pria ini.
"Aku ikut ke rumah sakit," pinta gadis itu dengan tidak tahu malunya. Dia kini bergelayut manja pada lengan Vian.
"Kau tidak akan suka bau rumah sakit, dan aku tidak mau mengantar kamu pulang. Jadi lebih baik kau istirahat saja di rumah. Tidak perlu ikut ke sana."
Dia menarik tangannya dari lengan Alvian, lagi-lagi dia disuruh pulang. "Kenapa kamu tega sekali selalu menyuruhku pulang? Tidak bisakah kamu beri aku kesempatan satu kali saja, aku ingin mengejarmu seperti yang lainnya." Minta gadis muda itu. Makanya kini berkaca-kaca menatap Alvian dengan penuh harap. Alvian mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak suka jika ada wanita dengan memperlihatkan wajah yang memelas.
"Aku mohon Vian, aku ingin menjenguk nenek di sana. Masa begitu saja tidak boleh? Aku janji nggak akan merengek untuk minta pulang. Atau kalau tidak, aku akan pulang dengan asisten mu saja. Ya," pintanya kini dengan dua tangan yang ia katup kan di depan dadanya.
"Aku mohon, aku mohon, please."
Vian sudah tidak tahu apalagi yang harus dia lakukan. Gadis muda ini sangat keras kepala, dan dia tidak akan mudah menyerah dan akan terus mengganggu dirinya jika keinginannya tidak terpenuhi.
Vian hanya diam, dia berjalan kembali ke arah kamarnya dan mengambil kunci serta dompetnya. Wanita muda itu kini tersenyum senang sedih bertingkat mengikuti langkah kaki Vian keluar rumah.