
"Re, apa mungkin dia kakak kamu yang hilang?" tanya Axel lirih. Renata mengangguk. Meski sudah lama dia tidak melihat wajah sang kakak, tapi dia sama sekali tidak lupa dengan wajahnya, apalagi tahi lalat yang jelas berada di bawah sudut bibir kanan itu.
"Tapi ini hanya dari mimpi, Re. Bukan berarti kalau mungkin ini jantung dari kakak kamu. Mungkin saja kakak kamu ada di suatu tempat dan dia belum bisa pulang!" Axel mencoba menenangkan.
"Aku akan berusaha membantu mencari kakak kamu. Gio dan juga papa akan membantu kita. Kamu tenang ya." Axel mengangkat Renata untuk berdiri. Tubuh lunglai itu ia bawa ke kamarnya dan dia baringkan di atas kasurnya. Di selimutinya Renata dan di elusnya rambut yang basah oleh keringat itu.
Ingin Renata mempercayai apa yang Axel katakan, tapi entah kenapa dia sendiri merasa tidak yakin. Lima belas tahun lalu, kakaknya menghilang. Dan saat usia Axel sepuluh tahun, itu berarti tepat satu tahun dimana kakaknya telah menghilang.
Renata menangis tersedu memeluk selimut hangat dengan aroma tubuh Axel.
Axel berdiri dan meninggalkan Renata, sepertinya gadis itu butuh waktu untuk sendiri. Dia masih terlihat syok.
Axel kembali ke ruangan lukisnya. Ditatapnya lukisan pemuda itu.
Benarkah ini kakak Renata?
Baru ia sadar saat menatap lamat lukisan itu, ada kemiripan di mata keduanya.
"Akhh....!! Sial!!!"
Axel menendang udara kosong di depannya.
Apa mungkin perasaan sukanya pada Renata karena berasal dari jantungnya ini? Apa mungkin perasaan sayang dan ingin melindunginya karena ini jantung milik kakaknya? Rasa sayang kakak pada adiknya? Apa ini yang mengakibatkan dia berani untuk menurunkan harga dirinya dari seorang CEO menjadi pelayan?
Tidak!
Axel tidak akan terima itu!
'Belum tentu! Belum tentu ini milik kakaknya!' Axel meremas dadanya seakan ingin meyakinkan kalau jantung itu bukan dari kakak Renata.
Lalu bagaimana dengan Renata? Apakah gadis itu merasakan kedekatannya dengan Axel karena rasa nyamannya yang di akibatkan jantungnya itu? Karena ikatan bathin yang sedari dulu sudah mengikatnya dengan sang kakak?!
Lalu bagaimana kalau Axel hanyalah Axel, tanpa jantung kakaknya? Apakah Renata akan tetap menyukainya?
Seketika fikiran Axel berkecamuk, membuat dirinya ingin marah pada takdir. Kenyataan yang ia terima hari ini sungguh sangat membuatnya frustasi.
Axel hanyalah seorang pemuda yang baru saja merasakan indahnya cinta. Merasakan sulitnya berjuang untuk mendapatkan Renata.
Ah... bodoh! Apa yang dia katakan? Sulit? Semua yang terjadi pada mereka terlalu mulus jika di bandingkan dengan kisah cinta Gio yang penuh liku dan haru. Kisah perjuangannya bagai jalan tol mulus yang tak ada hambatan sama sekali. Bahkan kerikil pun tak ada!
Axel tertawa miris. Jika benar ini jantung milik kakak Renata, lalu bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Axel berjalan ke arah kamarnya, di lihatnya Renata yang tertidur dengan mata sembab. Liontin ia genggam erat di tangannya.
Axel mendekat dan melabuhkan ciuman di kepala gadisnya, ah entahlah. Gadisnya?
"Ren-Ren!" lirih Axel. Entah kenapa ia ingin memanggil gadis itu dengan sebutan Ren-Ren.
Apa mungkin selama ini, gadis inilah yang ia igaukan di kala tidurnya? Saat mama Anye menanyakan tentang nama Ren-Ren yang ia sebut dalam tidurnya, ia sama sekali tak bisa menjawab. Ia juga tidak tahu siapa yang ia sebut.
Ren-Ren ...
Ren-Ren ...
Renata?
Axel mengusap wajahnya kasar. Ia bingung.
"Aku janji, aku akan mendapatkan semua kejelasan ini untuk kamu!" janji Axel lirih. Lalu dia pergi untuk menyusul Gio di tempat lain.
Renata perlahan membuka matanya setelah kepergian Axel. Dia bangun dan berdiri lalu mendekat ke arah jendela dan melihat mobil berjalan keluar dari gerbang rumah mewah nan megah itu. Dia sangka itu adalah mobil Axel.
Renata kembali berjalan ke arah ruang lukis, dimana sosok yang ia rindukan belasan tahun ini terpampang disana.
Senyumnya, sorot matanya, terlihat sangat nyata. Renata mengusap kanvas berwarna itu. Dia mendekatkan dirinya hingga kening dan pipinya menempel disana. Seakan dia sedang menyandarkan dirinya pada sang kakak dan merasakan kehangatannya.
Renata menangis tersedu. Mengusap gambar sang kakak yang sangat ia rindukan.
Apa mungkin ia bisa dengan mudahnya membuka hati pada Axel karena berhubungan dengan jantung itu? Apa mungkin dia bisa dekat dengan pria asing itu karena benang merah yang sudah lama terhubung sebelum pertemuan mereka?
"Kakak, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu? Aku yakin kalau kamu masih hidup, kakak pasti akan menjemputku, kan? Pasti kakak akan membawaku pergi jauh dari sini. Tapi apa butuh waktu selama ini untuk datang padaku? Sebenarnya apa yang terjadi, kak. Apa yang terjadi ... hiks ..." tak tahan lagi. Rasa rindu dan sedih yang mendalam ia curahkan pada gambar tak bernyawa itu.
Satu notif dari hpnya terdengar berbunyi. Renata mengusap air matanya dan mengeluarkan hpnya dari dalam saku celana.
Terlihat di layar hpnya sebuah mobil berwarna hitam yang sepertinya ia kenal sedang di ikuti oleh si pengirim pesan Video. Orang itu memegang senjata api di tangannya memainkannya diantara jari-jari tangannya.
"Ingin dia selamat. Keluar dari rumah itu! Akan ada yang menunggumu di ujung jalan! Lakukan, atau nasib kekasihmu akan tamat saat ini juga sama seperti kakakmu!"
Klik.
Pesan video itu selesai, Renata hanya bisa menatap nanar pada hpnya yang masih menyala. Ia menatap nama si pengirim di layar itu. Iblis Tak Berhati.
Sama seperti kakakmu!
Sama seperti kakakmu!
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Bayangan bagaimana pria dengan hati bak iblis itu menyingkirkan sang kakak dengan keji, dan kemudian sekarang ... Axel.
Tidak!
Renata terduduk di lantai, lesu, lunglai. Jadi benar, Kak Tommy-nya telah tiada. Dan dari kemungkinan yang ada, juga dengan fakta yang ia dapatkan dengan panggilan Axel
dan lukisan-lukisan itu membuktikan kalau jantung kakaknya ada pada Axel.
Bagaimana ini bisa kebetulan terjadi?
Tak ada waktu untuk menangis. Segera Renata bangkit dan setengah berlari menuruni tangga.
Tidak bisa! Cukup kak Tommy.
Cukup sekali dia kehilangan seseorang yang berharga, tidak dengan Axel kali ini. Apalagi Axel membawa serta bagian terpenting dari tubuh kakaknya.
Beberapa maid menatap heran Renata yang berlari keluar.
Sial bagi Renata, pintu gerbang terasa jauh dari pandangannya. Dia terus berlari, kakinya mulai terasa sakit. Dia biasa berjalan. Bukan berlari! Renata merutuki siapa orang yang sudah membangun rumah megah ini.
Dua penjaga bertubuh kekar menatap Renata heran. Mereka mendekat dan menghalangi Renata yang akan membuka gerbang tinggi itu.
"Maaf, nona mau kemana?" tanya salah satu diantaranya.
Renata terkesiap, jika dia mengatakan ingin pulang bukan tak mungkin dia akan di seret kembali ke dalam. Tenaga dua orang berbadan kekar ini bukanlah tandingan dari tubuhnya yang kurus.
"Axel ... Axel menyuruh saya untuk menyusulnya!" ucapnya berkelit dengan dada berdebar.
"Biar kami antarkan! Tuan berpesan supaya nona tidak keluar dari area rumah ini." ucapnya lagi.
Renata menggigit bibirnya, dia merasa bingung.
"Saya bisa pakai taksi, tidak usah repot!" mangusap peluhnya yang mengalir melewati pipinya.
"Kami akan tetap antarkan nona. Harap nona mengerti kekhawatiran Tuan Muda." ucapnya tak mau di bantah.
"Baiklah, " akhirnya Renata pasrah. "Kalau begitu cepat bawakan mobil dan antar aku ke tempat Axel, aku akan menunggu di luar gerbang!"
Satu penjaga menundukkan kepalanya lalu pamit untuk mengambil salah satu mobil.
"Tolong bukakan gerbangnya, aku akan tunggu di luar saja. Biar praktis!" ucap Renata.
Baru saja pintu gerbang di buka, Renata sudah mengambil langkah cepat meninggalkan rumah itu. Tak di hiraukannya teriakan penjaga yang kini berlari mengejarnya di belakang. Dia berusaha secepat mungkin agar tak tertangkap bodyguard itu.
Harusnya dia rajin olahraga meski satu minggu sekali.
Kakinya terasa sakit, pegal luar biasa. Dia takut jika berhenti dan kemudian tertangkap. Bagaimana dengan Axel nanti. Penjahat itu sudah memegang pistol di tangannya. Apalagi tak ada Gio yang bisa melindunginya.
"Nona, tunggu! Jangan lari!" teriak bodyguard itu. Beberapa langkah lagi dia hampir bisa meraih baju Renata. Renata berusaha lebih mempercepat langkah kakinya. Nafasnya mulai terasa sesak. Rasanya ia hampir menyerah, seketika matanya terasa perih. Takut jika sesuatu terjadi pada Axel.
Sebuah mobil hitam merk Da*hatsu Luxio tiba-tiba menepi, namun tak memperlambat lajunya, pintu belakangnya terbuka. Seorang pria yang ia kenal berdiri di pintu mobil itu dan menggerakkan tangannya meminta Renata mendekat. Dia mengulurkan tangannya.
Melihat hal itu pria yang mengejar Renata berusaha mempercepat laju larinya, tapi terlambat. Renata berbelok mendekat ke arah mobil dan meraih tangan pria asing itu, lalu kemudian mobil itu melesat jauh setelah menutup pintu mobilnya.
Pria itu berhenti, menarik nafas seraya mengusap kasar wajahnya. Tak menyangka kalau seekor kelinci kecil berhasil lolos dari jangkauannya.
Dia mencari hpnya di dalam saku celana dan melaporkan hal ini pada seseorang di seberang sana. Sudah ia duga. Teriakan kemarahan ia terima. Pasrah. Apalah daya seorang bawahan yang lalai menjaga milik tuannya yang paling berharga, ia hanya bisa menerima akibat dari kelalaiannya.
Sebuah mobil hitam mendekat, pria itu masuk ke dalam mobil. Lalu kemudian berpacu dengan cepat berharap bisa menyusul gadis itu.