DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel, part 33



Axel telah pulang dari kantor, dia mampir terlebih dahulu ke toko bunga, membeli mawar merah untuk Renata. Dia juga menyiapkan hadiah untuk gadis itu. Sebuah kotak hitam yang sudah ia siapkan beberapa hari yang lalu, namun belum sempat ia berikan karena Renata yang terus menghindarinya.


Axel telah sampai di rumah, dia berjalan melewati beberapa maid dan juga sang mama yang sedang duduk santai di ruang tamu.


"Xel, kamu sudah pulang?" tanya Anye di sela-sela permainan hpnya.


"Iya, Ma. Renata mana?" tanya Axel.


"Ada di kamar."


"Axel mau ketemu Renata dulu ya!" ucap Axel lalu tanpa mendengar jawaban mamanya dia pergi begitu saja. Anye tersenyum melihat tingkah putranya, tidak pernah dia melihat Axel yang seperti itu. Sampai Anye pernah mengira kalau Axel punya kelainan. Apalagi selama ini dia tidak pernah punya teman perempuan.


Tok. Tok. Tok.


Axel mengetik pintu, dan di ketika ketiga pintu itu terbuka. Renata batu saja selesai mandi, rambutnya masih setengah basah membuat Axel terpana. Dia terlihat semakin cantik dengan rambut setengah basah itu.


"Ini buat kamu!" Axel menyodorkan bunga dan kotak hadiah itu untuk Renata.


"Aku sedang tidak ulangtahun, Xel."


"Ini hanya hadiah biasa. Hadiah untuk kepulangan kamu dari rumah sakit." ucap Axel.


Renata menerima hadiah itu.


"Aku akan pergi ke kamar. Semoga kamu suka hadiahnya." pamit Axel. Renata mengangguk lalu menutup pintunya setelah Axel pamit dari sana.


Renata duduk di tepi kasur, ia mencium bunga yang Axel berikan. Wangi. Dia juga membuka kotak hitam kecil di tangannya. Matanya membelalak. Mulutnya setengah terbuka. Air matanya mengalir seketika saat melihat kalung gioknya ada disana.


Bagaimana Axel bisa mendapatkan kalung ini? Bukankah ini ada di tangan Noah?! Renata bingung, tapi ia senang dengan kalung itu yang kembali ada di tangannya. Segera Renata memakai kembali di lehernya. Dia mengusap sudut matanya yang basah.


Renata bangkit berdiri. Dia membuka pintu dan berlari ke lantai atas. Anye yang melihat Renata berlari menyusul Axel hanya mengulum senyum. Renata akhirnya bisa kembali pada keadaan semula. Dia tidak lagi menghindari Axel.


"Axel!" pintu yang tidak di kunci di buka oleh Renata. Axel yang baru saja membuka jasnya menoleh seketika dan terkejut saat Renata menghambur ke pelukannya hingga hampir saja ia terjengkang. Axel terdiam, kedua tagannya hanya menggantung di kedua sisi tubuhnya. Masih tak menyangka dengan apa yang terjadi.


"Trimakasih. Trimakasih Xel!" ucap Renata yang terisak di dalam pelukan Axel. Renata menangis tersedu.


Axel tersenyum bahagia, dia mengelus kepala Renata dengan sayang.


"Trimakasih ..., karena kamu sudah bawa kalung ini kembali buat aku!" ucap Renata lagi. Dia kemudian menarik dirinya dan menatap Axel dengan mata merahnya.


Axel mengusap pipi Renata yang basah.


"Bagaimana bisa kamu menemukan ini. Ini sudah aku berikan pada Noah!" tanya Renata bingung.


Axel menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Aku menemukannya di vila Noah, teronggok begitu saja di dekat tempat sampah di dapur." dustanya.


Renata menatap Axel tak percaya. Tidak mungkin! Keluarga Alexander sudah mengincar kalung ini dari beberapa tahun yang lalu.


"Kenapa? Kamu tidak percaya?" tanya Axel.


"Saat aku cari kamu di vila, Noah bilang dia sudah tidak membutuhkannya lagi. Dan dia bilang membuangnya di tempat sampah di dapur. Aku cari itu di dapur. Untung saja kalung itu tidak sampai masuk ke dalam tempat sampah dan tidak bercampur dengan sampah-sampah lainnya." terang Noah menambah daftar kebohongannya.


"Lalu apa yang terjadi dengan Noah? Apa bajingan itu di penjara?" tanya Renata, dia tiba-tiba saja emosi.


"Dia berada di tempat lain sekarang," ucap Axel. Renata merasa takut seketika mendengar tempat lain yang di ucapkan Axel dengan nada dinginnya. Sorot mata Axel penuh amarah saat mengatakannya.


"Kamu enggak melakukan hal yang tidak-tidak kan sama dia?" tanya Renata mulai takut jika apa yang di fikirkannya terjadi.


Axel tertawa lirih. "Yang tidak-tidak semacam apa? Dia sedang ada di belahan dunia yang jauh dari kita. Jangan khawatir. Kak Daniel sudah mengurusnya!" Axel mengacak rambut Renata.


"Tidak, tentu saja aku tidak. Kami hanya mengirimnya ke tempat yang jauh dimana dia tidak bisa kembali dan mengganggu kita."


Renata terdiam Rasanya dia masih tidak percaya.


Axel menarik Renata ke dalam pelukannya.


"Percaya saja padaku, aku dan kakakku tidak melakukan hal itu. Aku hanya membuat hidung dan tangannya patah." Renata menarik dirinya dari pelukan pria itu menatap Axel tak percaya. Seorang Axel yang di kenal lemah lembut ternyata bisa mematahkan hidung dan tangan seseorang.


"Kenapa? Apa aku juga tidak boleh melakukan hal itu? Tapi sayangnya aku sudah melakukannya. Apa kamu marah?" Axel menatap Renata yang hanya terdiam menatap matamyanya. Renata menggelengkan kepalanya, lalu kembali mendekatkan diri pada Axel.


"Tidak. Itu saja sudah cukup. Asalkan kamu jangan mengotori tangan kamu dengan darahnya. Busuk!" ucap Renata lagi, dia mendekatkan telinganya ke dada Axel. Mendengar jantung sang kakak yang ternyata ada di dekatnya selama ini.


"Xel. Makasih ya, kamu sudah menjaga jantung kakaku dengan baik. Aku gak nyangka walaupun aku gak bisa bertemu dengan kakakku, tapi aku bisa mendengar detak jantungnya disini." Renata mengusap dada Axel yang berdetak.


"Kalau aku tidak punya jantung ini. Apakah kamu akan suka sama aku?" tanya Axel lirih. Renata menggelengkan kepalanya membuat Axel merasa kecewa. Terjawab sudah pertanyaan yang selama ini ada dalam dirinya.


"Tidak. Tapi aku percaya, jika memang sudah takdirnya ada ataupun tidak jantung kak Tommy semua pasti akan tetap terjadi." ucap Renata.


"Jadi bagaimana dengan perasaan kamu sama aku, kalau kamu melihat aku. Hanya aku bukan dia?"


Renata mengerti siapa yang dimaksud Axel dengan dia.


"Aku ... akan tetap suka sama kamu." lirih Renata. membuat Axel menyunggingkan senyumnya Tapi beberapa saat kemudian Axel terdiam saat mendengar Renata terisak. Bahunya bergetar.


"Maaf Xel. Maafkan aku. Kalau saja aku mendengar kan apa kata kamu untuk tinggal di rumah, mungkin semua ini tidak akan terjadi kan? Maafkan aku tidak bisa menjaga diriku sendiri. Maaf. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan kamu lagi! Maaf!" Renata kemudian berlari keluar dari kamar Axel. Membuat Axel bingung terdiam di tempatnya.


...*...


Axel Pov.


Tidak bisa melanjutkan hubungannya lagi?


Apa maksud dia? Kenapa?


Aku hanya bisa menatap pintu yang tadi di lewati Renata. Hatiku sakit mendengar kalimat terakhirnya itu.


Tidak bisa! Aku tidak mengizinkan Renata memutuskanku dengan sepihak! Memutuskan? Bahkan kami belum resmi menjadi kekasih!


Aku berlari menyusul Renata yang sudah masuk ke dalam kamar, tidak peduli dengan tatapan maid dan juga mama yang ada tak jauh dari sana.


Ku gedor pintunya sambil berteriak memanggil Renata.


"Re, buka pintunya! Apa maksud kamu kita tidak bisa bersama? Re! Tolong buka pintunya. Jangan seperti itu, Re. Aku sungguh-sungguh sama kamu." teriakku dengan lantang, tapi Renata rupanya tidak berniat untuk membukakan pintunya untukku sampai mama datang dan menenangkanku.


"Xel, sudah. Ingat apa kata dokter. Renata mungkin masih terguncang jiwanya. Dia masih belum stabil. Jangan paksakan dia. Biarkan dia tenang terlebih dahulu. Mama akan bantu kamu untuk bicara sama Renata, ya!" ucap mama, lalu menarikku menjauh dari pintu kamar Renata.


Axel Pov End.


***


Renata menangis di dalam kamarnya, dia duduk di lantai bersandarkan diri pada ranjang, menelungkupkan kepalanya di antara dua lututnya.


Mendengar apa yang Axel teriakkan di luar sana membuat hatinya merasa sakit dan juga merasa bersalah. Axel lebih pantas mendapatkan gadis yang baik. Bukan gadis kotor seperti dirinya!


Renata menangis terisak.


"Aku sangat cinta kamu Xel Bukan karena jantung itu. Aku sangat sayang kamu. Tapi aku kotor sekarang. Aku gak layak!" lirih Renata.