
Pagi menjelang. Tiara masih saja tertidur dengan damainya. Kasur empuk, seprai lembut, makanan enak, kamar yang dingin. Akhhh serasa di surga. Dia lupa kalau sekarang seharusnya dia bersiap-siap untuk pergi memantau proyek bersama dengan Gio.
Suara pintu terdengar beberapa kali. Tiara semakin menenggelamkan dirinya di bawah selimut hangat. Dia benar-benar tidak ingin beranjak dari sini. Kapan lagi dia bisa tidur nyaman tanpa gangguan seperti biasanya. Gio selalu membuatnya seperti alarm saat pagi hari.
"Ya ampun!!" Tiara membuka matanya dan melonjak hingga dia terduduk. Dia meraih hpnya dan melihat jam. 08.37.
"Aaakkh!! Aku terlambat bangun!!" Berteriak sambil menghambur ke arah kamar mandi. Mandi sekilat ayam, yang penting sabun sudah menyentuh permukaan kulitnya.
Keramas? Akh tidak usah, akan butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Tiara keluar dari kamar mandi dan meraih kopernya. Dia keluarkan celana bahan dan juga kemeja berlengan panjang, berwarna pink.
Untung saja sebelum berangkat dia sudah menyetrikanya hingga dia tidak khawatir bajunya terlihat kusut.
Dia menggulung rambutnya ke atas, mengikatnya menjadi sebuah gelungan yang terlihat manis di atas kepalanya. Sedikit bedak dan liptint, tak lupa dia juga menyemprotkan minyak wangi yang Gio belikan dulu. Gio tidak suka dengan aroma minyak wangi murahan miliknya
Hahh serasa dia adalah wanita tertindas, ini salah, itu salah, baju ini kuno, minyak wangi mirip detergen. Akh sudah lah... Terlalu banyak daftar catatan jika dia harus menjabarkannya. Semua yang ada pada dirinya tak pernah dinilai baik oleh pria itu.
Tiara bergegas berlari ke arah pintu saat lagi-lagi ketukan terdengar dari luar kamarnya.
"Iya sebentar!" Berteriak sambil meraih sepatunya. Tiara membuka pintu, dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain memakaikan sepatu pada kakinya.
"Kamu itu dari mana saja?" Teriak Gio saat setelah melihat Tiara dari balik pintu.
"Kesiangan bangun!" jawab Tiara jujur.
Gio menganga mulutnya. Hampir satu jam dia menunggu dan gadis ini dengan santainya bilang kesiagan bangun? Astaga!!
"Ayo, kita berangkat sekarang?" tanya Tiara. Dia sudah berjalan keluar dari kamar dengan membawa berkas yang entah sejak kapan ada di tangannya, padahal Gio yakin tadi saat dia membuka pintu itu dia tidak melihat berkas di tangan Tiara.
Meskipun Tiara masih marah dengan Gio tentu saja soal pekerjaan jangan sampai terabaikan.
Mereka keluar dari hotel dengan Gio yang mengendarai mobil. Tiara tidak mau ambil pusing mobil siapa ini. Mungkin mobil rental? Ah masa bodoh.
Mereka hanya diam tak saling bicara sampai mereka sampai di lokasi proyek. Perut Tiara sebenarnya lapar. Gara-gara bangun kesiangan dia jadi melewatkan sarapan. Kejam juga si manusia kutub ini tak menanyakan dia sudah sarapan atau belum.
"Waaaah...!"
Tiara berdecak kagum saat melihat luas dan megahnya bangunan setengah jadi ini. Dia sampai lupa untuk menutupi pandangannya dari silau matahari. Matanya sampai menyipit karenanya.
Gio menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tiara yang seperti anak kecil yang terkagum melihat wahana permainan di depannya. Gio sedang berbincang dengan seorang kontraktor. Tiara masih mengagumi rangka bangunan yang menjulang tinggi. Ummm.... Empat lantai sebenarnya.
Para pekerja sedang sibuk dengan pekerjanya masing-masing. Udara panas tak menyurutkan aktifitas mereka membangun Hotel megah yang di gadang-gadang akan menjadi salah satu hotel favorit di Kuta. Salah satu hotel milik keluarga Aditama.
Pembangunan masih sangat lama. Masih di perkirakan lima atau enam bulan lagi.
Apa nanti aku bisa kesini saat hotel ini sudah selesai? batin Tiara.
Akh. Harganya pasti mahal untuk satu malam. Apalagi dengan fasilitas lengkap yang ada kolam pribadinya.
Tiba-tiba saja terlintas dalam fikirannya, kalau suatu saat nanti dia menikah dan dia honeymoon disini.... Hehe....
Akh, entah kapan itu semua akan terwujud. Aaaaa... Jiwa jomblonya menderita sekarang.
"Tiara awas!!!" Suara teriakan Gio terdengar membuat Tiara menoleh. Tidak sadar dengan apa yang ada di atas kepalanya, meluncur dengan cepat dari lantai atas.
Gio menarik dirinya ke dalam pelukan lalu terdengar suara...
Bruk...!
Tiara terpaku saat tubuh Gio menegang. Tak tahu dengan apa yang terjadi. Dia hanya mendengar beberapa orang berteriak dan melihat mereka berlari mendekat.
Kepala Gio terkulai di atas bahu Tiara. Berat. Kedua tangannya terjatuh menjuntai di kedua sisi tubuhnya.
"Pak. Pak Gio!" panggil Tiara. Gio terdiam. Tidak lucu. Bercandanya tidak lucu!
Tiara mengguncang tubuh Gio, tapi pria itu masih tetap dengan posisi yang sama. Hanya bergeming di tempatnya.
"Pak Gio. Anda tidak apa-apa?" seorang yang Tiara tahu adalah kontraktor bangunan datang mendekat dan menarik tubuh besar Gio yang tak sadarkan diri. Beberapa orang mendekat dan membantu mengangkat Gio ke empat teduh.
Tiara juga mengikuti langkah mereka. Dia masih shock dengan kejadian barusan. Masih bingung dengan apa yang terjadi. Apa? Kenapa?
Seorang lelaki sekitar usia empat puluhan berlari mendekat, dia melepas topi proyeknya dan membungkuk meminta maaf.
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja menyenggol batu bata!" ucapnya dengan nada penuh penyesalan.
"Ambil mobil. Bawa Pak Gio ke rumah sakit?" teriak pria itu. Darah segar terlihat di telapak tangannya. Darah siapa? Darah Gio kah? Fikiran Tiara buntu. Lalu dia tersadar saat Gio di bawa oleh yang lain ke dalam mobil.
Tiara memangku kepala Gio yang tak sadarkan diri, berbantalkan jaket milik kontraktor. Bau amis darah membuatnya mual, apalagi dengan keadaan perut yang kosong membuatnya serasa diaduk-aduk. Ingin muntah, tapi ia tahan.
"Pak Gio. Pak!!" Tiara mengguncang bahu Gio pelan. Tak ada reaksi. Seketika dia ketakutan dengan keadaan bosnya ini.
Bagaimana kalau dia mati?
Bagaimana aku akan pulang?
Bagaimana aku akan membayar biaya hotel?
Bagaimana...
Bagaimana...
Bagaimana dan bagaimana. Bukannya mendoakan yang terbaik untuk keselamatan bosnya, malah yang ia fikirkan adalah bagaimana caranya ia akan pulang ke ibu kota.
"Pak Gio. Bangun, Pak!" Masih tak ada sahutan. Tiara menjadi semakin ketakutan. Jangan sampai bosnya ini meninggal disini.
"Pak Gio jangan mati, huuu....." Mata Tiara memerah mengeluarkan bulir air hangat yang kini mengalir melewati pipinya. Dia tak habis fikir dengan pria ini. Kenapa dia mengorbankan dirinya hingga tertimpa batu bata. Kenapa dia melakukan hal itu. Dia sendirian sekarang. Dan takut.
Tiara mengusap pipi Gio, lalu menepuknya perlahan.
"Bangun, Pak. Jangan tinggalkan aku... Huuuu.... Pak. Pak Gio!!!" menepuk pipi Gio lagi. Tapi pria itu masih setia menutup matanya.