DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 134



Sesuatu terasa hangat menerpa kulitku. Cahaya matahari terasa menyilaukan meski aku belum membuka mata. Suara-suara dari luar juga semakin lama semakin terdengar jelas di telinga, seperti suara roda bergesekan dengan lantai. Rasanya aku malas sekali untuk membuka mata. Aku lelah. Dan aroma obat-obatan ini... sangat menyebalkan...


Oh tidak!


Dengan refleksnya aku membuka mata. Aku baru ingat sedang berada dimana. Bodohnya aku. Aku tertidur. Padahal aku ingin melihat Devan siuman. Paling tidak aku ingin menjadi orang yang pertama dia lihat saat dia membuka matanya. Aku tidur tertelungkup dengan tangan sebagai bantalku! Sialan!


Devan masih pulas, bahkan aku melihat posisinya tidak berubah dari semalam yang aku ingat. Aku mengedarkan pandanganku. Papa dan Alex tidak ada, Samuel sedang duduk di sofa dia sedang bersama seorang wanita paruh baya. Ibu Lita! Entah kapan ibu Lita datang bahkan akupun tidak tahu!


"Sam!" panggilku. Sam menoleh. "Apa Devan sudah siuman semalam? Aku tidak sengaja ketiduran!" tanyaku.


Samuel terdiam menundukan kepalanya, hanya ibu Lita yang berdiri lalu berjalan mendekat padaku. Dia menepuk pundakku pelan, mengusapnya dengan ibu jarinya, lalu beralih mengusap pipi putranya. Wajahnya terlihat muram dan sedih. Devan sama sekali tidak bergerak. Tiba-tiba saja perasaan ku merasa tidak enak.


"Aku sudah tanyakan ini pada dokter." ucapnya dengan nada sedih.


Kenapa jawaban ibu Lita seperti itu? Seperti seakan Devan belum... Oh tidak! Apakah ada yang salah pada Devan?


Pintu terbuka. Dokter dan perawat datang dengan tergesa.


"Dokter! Devan belum sadar, bagaimana ini?" tanyaku khawatir.


"Aku akan periksa." ucap dokter, lalu mendekat ke arah Devan dan mulai melakukan pemeriksaan. Dokter mengernyitkan keningnya. Lalu terlihat pergerakan Devan yang tidak biasa. Dia kejang!


"Dokter apa yang terjadi?" tanyaku semakin khawatir. Rasa takut seketika menjalar di dalam hatiku. Tolong selamatkan Devan, ya Tuhan!


Ibu Lita menjerit melihat putranya yang terus bergerak, dia menangis. Samuel menahan ibu Lita yang lemas.


"Devan! Dokter tolong selamatkan anakku! Dev, mama baru saja bertemu dengan kamu. Jangan tinggalkan mama..." ibu Lita menangis, sedangkan aku hanya berdiri mematung melihat apa yang terjadi. Tubuhku kaku. Terlalu takut, hingga tidak bisa bergerak untuk sekedar mendekati Devan. Hanya air mata yang terus mengalir.


Dokter menginstruksikan pada perawat untuk memberikan Devan suntikan.


"Sepertinya ini akibat trauma bekas tembakan. Tolong semua keluar!" ucap dokter itu. Samuel memapah ibu Lita dan juga menarikku keluar dari sana. Tak sedikitpun aku melepaskan pandanganku darinya saat Samuel menarik kami. Dokter masih berjuang dengan Devan.


Devan, tidak! Jangan pergi. Kamu harus selamat!


Ibu Lita masih menangis, duduk di kursi yang berderet. Sedangkan aku terus menatap ke jendela kaca, berharap perawat itu membukakan sedikit saja gorden supaya aku bisa melihat Devan dari luar sini.


Jangan pergi. Aku gak akan maafin kamu kalau kamu pergi!


Pintu terbuka. Terlihat perawat yang membukakan pintu.


"Suster bagaimana keadaan Devan?" tanyaku. Suster itu hanya diam, memalingkan wajahnya ke arah lain. Oh tidak! Apa yang terjadi?


"Suster, anakku... bagaimana Devan?" ibu Lita sudah berdiri di sampingku.


"Maaf!" ucap suster itu.


Maaf?


Rasanya seperti ribuan petir menyambar seluruh tubuhku bersamaan mendengar perkataan itu. Aku berlari masuk ke dalam sana. Terlihat dokter Vero melepaskan selang oksigen dari hidung Devan.


Tidak! Tidak mungkin. Jangan...


"Tidak... Gak mungkin!" lirihku. Mataku mulai memanas. Hatiku rasanya sakit. Aku merasa ketakutan sekarang. Takut kalau Devan...


"Dokter apa yag terjadi?!"


Dokter Vero menundukan wajahnya.


"Tidak!" tidak aku sadari aku sedikit berteriak. Air mata mulai jatuh tak terkendali. Teringat semua hal yang pernah kami lewati, baik masa dulu saat kami bertemu dan juga masa-masa pernikahan kami yang manis maupun penuh cobaan.


"Devan bangun!" jeritku, menggoyangkan tangan Devan pelan. Biasanya dia akan segera bangun dari tidurnya kalau aku mengganggunya seperti itu. Mama Lita mendekat dia menutup mulutnya untuk menahan suara tangisnya. Air matanya juga deras sepertiku.


Dia seorang ibu dan aku juga sama, bisa merasakan sakit saat melihat anaknya sakit. Bahkan jika bisa, seorang ibu yang baik selalu berharap kesakitan anaknya akan berpindah padanya.


"Devan bangun!" teriakku lagi. Aku mulai menggoyangkan tangan Devan sedikit lebih keras bahkan memukul lengannya agar dia bangun.


"Anye, hentikan. Devan akan merasa kesakitan kalau kamu memukulinya!" Samuel menahan tanganku. Aku menatapnya lekat. Dia hanya menggelengkan kepalanya sekan berkata sudahlah.


"Tidak boleh! Dia harus bangun, Sam!" tangisku dengan rengekan. Tidak peduli dengan reputasiku sebagai pemimpin perusahaan. Aku hanya ingin Devan bangun!


"Anye. Jangan. Kamu tidak boleh menyakiti dia lagi. Biarkan dia!"


"Enggak, Sam! Biarkan saja. Aku akan pukul dia sampai dia bangun!" jeritku. Rasanya aku tidak tahan. Aku menarik tanganku dan menggoyangkan tangan Devan sekali lagi.


"Devan dasar baj*ngan!!!" teriakku. "Kamu bilang gak akan menyerah untuk dapatkan maaf dari aku kan? Tapi kenapa sekarang kamu malah tidak bangun, hahh?!!! Bahkan untuk bicara sama aku saja kamu tidak bisa!" jeritku lagi. Dadaku rasanya sesak. Sakit. Tidak boleh! Masih banyak hal yang belum aku dan Daniel lakukan bersama dengan dia. Kami belum pernah berkumpul bersama layaknya keluaga!


"Bajingan kamu, Dev. Kamu ingkar janji! Kamu bilang akan menjemput Daniel bukan? Mana janji kamu Devan! Mana?!!!" Dia masih diam. Dasar kurang ajar! Bangun Devan! Please! Hiks...


Dadaku semakin sesak. Suaraku rasanya mengganjal di tenggorokan. Dia benar-benar tega!


"Devan, kalau kamu tidak bangun aku akan pergi dengan Alex. Aku akan minta cerai dari kamu dan aku akan terima ajakan Alex untuk kencan!"


Mana Devan yang pencemburu? Biasanya dia akan bersikap posesif dan menarikku pergi. Bahkan dia tidak mau aku menyebut nama pria lain di depannya, dia akan menghukumku dengan menciumku.


Bangun Dev. Please...


"Anye tenang, nak." Ibu Lita maju menenangkan diriku.


"Ibu. Lihat anakmu, bu. Dia kurang ajar. Dia... Dia sudah bohong sama aku!" aku menunjuk pada Devan. Biasanya dia tidak suka jika aku menunjuk-nunjuk seperti itu padanya. Dia akan menarikku dan mencium telapak tanganku.


"Tenang Nye. Devan akan merasa sedih kalau lihat kamu seperti ini." ucap ibu Lita.


"Gak, bu! Gak bisa! Dia sudah bohong sama aku. Dia bilang akan datang untuk Daniel, meski aku dan ayah akan mengusir dia. Dia bilang, dia cinta sama aku, dia akan bahagiakan aku. Tapi mana? Bahkan dia berani buat aku menangis sekarang, bu! Dia... Dia..."


"Tenang, Anye. Kamu harus tenang..."


"Mana bisa tenang, bu!" teriakku. Aku berdosa membentak orangtua seperti ibu Lita. Tapi aku tidak sengaja. "Maaf." Lirihku. Ibu Lita menggusap punggungku pelan.


"Devan, bangun. Jangan main-main sama aku, Dev. Bangun sekarang juga! Bangun please!" Devan keterlaluan. Dia tidak memberiku kesempatan untuk bersamanya lagikah? Tidak adakah kesempatan untuk kita bersama, Dev?!


Devan hanya terdiam, dia seperti sebuah patung dengan di lapisi kulit dan wajah tampan, terbaring di atas brankar.


"Devan, please. Bangun. Kumohon. Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Dev. Aku minta maaf. Seandainya aku tahu kamu akan seperti ini, aku pasti akan maafkan kamu sejak awal. Jangan siksa aku seperti ini Devan!" aku tetap menangis memukuli dadanya pelan.


"Dev....hiksss... Devaann... bajingan..." ku usap air mata di pipiku.


"Kalau kamu harus mati kenapa kamu harus mengangguku akhir-akhir ini?" teriakku. "Kenapa kamu membuat aku terus mengingat kamu! Kenapa kamu datang lagi dan mengganggu kedamaian aku kalau kamu harus pergi lagi! Kenapa kamu buat aku seperti ini! Kenapa kamu harus pergi di saat aku sudah cinta lgi sama kamu." Dev...


"HARUS BAGAIMANA AKU MEMOHON SUPAYA KAMU KEMBALI!!!" teriakku memukul dadanya keras.


Devan sialan! Jangan harap di kehidupan mendatang jika kita ketemu lagi aku akan memaafkan kamu!!


*


*


*


*


Maaf ya kalau bahasanya kasar 🙏🏻.


Anye mahmud yang bar-bar 🤭✌.