
Axel pov.
Tiga minggu sudah aku bekerja di kafe itu. Semakin aku mengenal Renata semakin aku menyukainya. Bolehkah aku menyatakan perasaanku padanya sekarang?
Akhh.... itu pasti akan membuatnya syok!
Renata hanya menganggapku sebagai temannya! Dia memperlakukan aku sama seperti pada teman pria yang lain. Dia tersenyum, dia tertawa, dan dia juga sama bercanda seperti itu padaku. Dia adalah sosok gadis periang, aku suka senyumnya, aku suka tawanya. Sangat!
Ya Tuhan, aku inginkan dia!
Kafe baru saja tutup, hanya tinggal aku dan Renata disana. Yang lain sudah lebih dulu pulang, di jemput suami atau pacar mereka. Aku tidak mungkin meninggalkannya menunggu jemputan sendirian. Kami pulang melebihi dari jam semestinya. Renata mengajukan lembur, tentu aku juga sama, meski badan ini rasanya remuk, tapi dengan melihat senyumannya rasa sakit itu menghilang begitu saja. Kapan lagi aku bisa menghabiskan waktu untuk bisa seharian dengannya?
"Xel kalau kamu mau pulang, duluan saja. Aku sudah biasa menunggu sendirian!" ucapnya.
"Tidak apa-apa. Aku temani kamu. Kamu ini wanita, gak baik menunggu sampai malam sendirian." dia tersenyum seraya mengucapkan terimakasih.
"Biasanya dia gak telat jemput, kenapa malam ini dia belum datang?" bergumam sendiri, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.
"Dia itu siapa?" memberanikan diri aku bertanya padanya.
"Dia sahabatku. Kami sudah dekat sejak kecil."
"Oh."
Suara telfon terdengar dari dalam saku bajunya. Renata mengangkat telfon itu. Dia terdengar kesal karena sepertinya orang itu tidak akan menjemputnya.
Telfon di matikan. Dia merengut kesal. Akhh ya ampun, cara dia merengut seperti itu membuat aku ingin mencium bib... Husss.... Jauhkan fikiran itu dari otak kamu, Xel!
"Dia gak bisa jemput. Aku akan pulang pakai bis saja! Kalau kamu masih mau menunggu?" dia bertanya.
"Boleh aku antar kamu? Aku khawatir kamu ada apa-apa di jalan. Kalau saja aku punya kendaraan aku pasti akan antar kamu dengan selamat sampai tujuan."
"Haha... itu tawaran atau hanya basa basi?"
"Keinginanku!" jawabku, dia terdiam lalu tersenyum. Wajahnya bersemu merah.
"Oke! Kalau kamu ada kendaraan aku akan ikut sesekali." ucapnya.
"Aku rela antar kamu dan jemput kamu setiap hari!" ucapku.
"Kamu mau daftar jadi ojek pribadiku? Tapi maaf, aku gak bisa gaji kamu! haha..." tawanya, menenangkan sekali.
"Aku gak perlu di gaji. Cukup kamu berikan senyuman untuk ku setiap hari sebagai bayarannya."
"Cih... kamu pintar sekali menggombal! Ayo. Kita jalan ke halte!" dia melangkah begitu juga aku yang berjalan di sampingnya.
"Kamu betah kerja di kafe?" dia bertanya.
Tentu saja aku betah, karena ada kamu.
"Tentu saja betah, zaman sekarang cari pekerjaan susah. Apalagi dengan ijasahku yang rendah. Aku bisa apa? hehe..." tolong maafkan aku yang berdusta ini, Tuhan.
"Iya, benar! Sekarang kalau pilih-pilih kerjaan, yang ada malah bisa gak dapat sama sekali. Persaingan sangat ketat apalagi di kota besar ini."
"Emmm ya benar!" jawabku. "Kamu senang kerja di kafe?"
"Tentu saja. Mereka semua baik. Sudah seperti keluarga. Hanya saja pak manajer agak sedikit galak sepertinya."
"Galak kenapa?" tanyaku.
"Aku pernah kena marah, tapi itu juga kesalahanku sih. Aku pernah memecahkan piring, dan waktu itu ada pak Darius sedang ada tak jauh dari sana. Dia datang sambil melotot. Aku dimarahi. Hehe..."
Darius. Seenaknya saja dia memarahi Renata! Awas saja besok!
Kami sudah sampai di halte, duduk berdua dengan Renata disini membuatku teringat dengan film drakor yang aku tonton beberapa hari yang lalu. Bukankah ini terlihat romantis?
"Aku sama mama dan papa."
"Punya saudara?"
"Punya, satu sedang berada di tempat yang jauh sedangkan satu lagi ada bersama kami."
"Senangnya!" lirihnya. Dari sorot matanya ada banyak kerinduan disana.
"Kamu?" tanyaku. Meski aku tahu tentang Renata, tapi disini aku berperan sebagai orang yang tidak tahu.
"Aku sendiri. Orangtua sudah gak ada."
"Maaf, aku buat kamu ingat mereka ya?"
"Gak pa-pa. Aku sudah biasa kok hidup sendiri tanpa mereka." dia melebarkan senyumnya, tapi aku tahu cahaya di matanya sedikit meredup saat dia mengatakannya.
"Re, kamu sering lembur akhir-akhir ini?"
"Iya."
"Apa kamu sedang butuh uang?" tanyaku. "Maaf kalau mungkin aku menyinggung masalah itu."
"Ah, itu... um... Biaya sewa kost naik, jadi aku minta sama pak Darius untuk lembur." ucapnya.
"Bus nya kemana ya? Kok sudah jam segini belum datang juga!" dia melihat jam di pergelangan tangannya. Ini sudah jam sembilan malam lebih sedikit.
"Aku yakin bis terakhir jam sembilan tepat!" dia mulai merasa gelisah.
"Kita tunggu sebentar lagi. Kalau bis tidak ada, kita akan pakai taksi." Renata hanya mengangguk.
Kami terdiam beberapa saat lamanya, menikmati malam yang sunyi. Ada dua orang yang juga sama seperti kami, menunggu datangnya bis terakhir.
"Itu bisnya datang!" Renata bangkit berdiri, aku juga sama.
"Kamu naik bis ini juga?" dia bertanya. Aku hanya mengangguk. "Ya sudah. Ayo. Untunglah, aku jadi ada teman pulang malam ini." dia berkata dengan nada senang.
Kami duduk di kursi belakang. Keadaan di bis ini cukup gelap. Hanya lampu temaram yang sopir nyalakan. Beberapa orang yang duduk di depan juga ada sebagian yang tertidur, termasuk pria yang duduk di kursi seberang kami. Suara dengkurannya terdengar kencang.
Renata terdiam, dia menatap ke luar jendela. Melihat pemandangan yang dengan cepat tertinggal jauh di belakang kami.
Aku meliriknya dengan ujung mataku. Tak bisa ku palingkan meski hanya sedetik saja. Matanya berkedip-kedip, bulu matanya yang lentik terlihat lucu. Sesekali dia menguap lebar, ia tutupi mulutnya dengan telapak tangan.
Bis terus berjalan. Kami masih belum sampai di tempat tujuan. Renata sudah terlelap. Dia terlihat sangat lelah sekali. Sesekali kepalanya terantuk pada jendela.
Ku ambil kepalanya dan ku sandarkan di bahuku. Dia terlihat lebih nyaman dan rileks. Rambutnya menggelitik hidungku saat aku menoleh padanya. Wangi aroma vanila menguar begitu saja darisana. Padahal dia sudah seharian bekerja, tapi rambutnya masih wangi saja.
Dadaku... Akh... rasanya berdetak dua kali lipat saat ini.
Kondektur menyebutkan nama sebuah jalan. Itu adalah tempat pemberhentian kami. Ku bangunkan Renata meski rasanya kasihan.
"Re. Rere! Bangun! Kita segera sampai!" ku colek pipinya berkali-kali. Dia menggeliat lalu membuka matanya.
"Kita sudah sampai?"
"Iya!" aku bangun berdiri dan mengulurkan tanganku. Renata menyambutnya, dia memegangi kepalanya.
"Kamu kenapa?"
"Cuma pusing baru bangun tidur!" ucapnya seraya tersenyum.
"Oh."
Renata mengeluarkan uang koin dari dalam saku bajunya, lalu mengetukannya pada kaca bis. Bis mulai melambat dan lalu berhenti. Baru aku tahu kalau begitu caranya menghentikan sebuah bis! Lain kali aku harus mencobanya!