
Aku takut sekarang! Jika aku ketahuan aku akan jadi tahanan rumah lagi, tidak menutup kemungkinan kalau penjagaan akan semakin ketat. Aku benar-benar menyedihkan!
Dadaku berdetak cepat. Aku benar-benar takut. Memukuli lengan besar itu dan berteriak, tapi suaraku tidak bisa keluar karena dia membekap erat mulutku.
"Ssstt... Jangan berteriak!"
Suara ini? Benarkah dia?
Samuel?!! Tapu dia sudah tiada!!"
Dia melepaskan tangannya dari mulutku, aku menoleh. Betapa senangnya aku melihat pria ini lagi! Refleks aku berbalik dan memeluknya, rindu, senang, takut dan bingung, bercampur baur, tapi yang pasti aku tenang. Sam masih hidup! Sam masih berdiri tegak di depanku, dengan jaket hitam dan juga topi hitam. Apa dia sedang bersembunyi dari seseorang?
"Sam, kamu..."
"Nanti saja kangen-kangennya, ikut aku!" berbisik, melepaskan diri dari pelukanku lalu menyeretku ke arah tangga. Tapi ini ke atas?!
"Sam, mau bawa aku kemana?" aku bertanya, meski bingung tapi kakiku dengan ringannya mengikuti langkah Samuel, aneh!
"Diam saja!"
Melewati entah Berapa puluh tangga, aku yakin kami sudah naik beberapa lantai, sampai di sebuah pintu, aku yakin ini atap. Sam gila! Aku ingin kabur, kenapa aku di bawa ke atas? Bagaimana kalau Devan tahu?
Pintu terbuka, angin kencang seketika menerpa rambutku. Aku menghalangi wajahku dengan lengan, kulitku sedikit perih terkena rambut yang sesekali mencambuk pipiku.
"Cepat!" Sam menarik ku, lalu kami keluar dengan cepat menutup pintu besi itu.
Sebuah helikopter sudah siap dengan baling-baling yang berputar cepat.
"Naik!" teriaknya. Aku hanya melongo terdiam di tempatku. Naik? Aku masih shock saat terakhir naik helikopter beberapa hari yang lalu, aku seperti orang mabuk saat turun.
Tak ku sangka Samuel menggendongku ala bridal, dan berlari ke arah helikopter. Aku menutupi wajahku dengan tangan, angin semakin kencang dari baling-baling heli itu. Seseorang menyambut kami di pintu heli dia membantu Sam saat kami naik, lalu dengan segera menutup pintu helikopter sebelum mengudara. Jujur aku terdiam dan masih shock.
"Bisa duduk sendiri kan? Tanganku pegal, dan kamu berat!" aku tersadar lalu turun dari pangkuan Samuel, duduk di sampingnya.
Entah kemana heli ini pergi, aku tidak tahu.
"Kamu tidak apa-apa?" Samuel bertanya padaku sambil menyerahkan air minum dalam botol.
"Aku hanya kaget!" ucapku. Sam tertawa kecil, dia tampan kalau tertawa seprti itu, tapi ada gurat bekas luka di beberapa bagian wajahnya.
"Sam wajah kamu? Apa ini ulah Devan?" tanyaku sambil menyentuh kedua pipinya dengan telapak tanganku. Sam kembali tertawa.
"Aku benci untuk mengatakannya, tapi sayangnya... benar!"
"Apa ini sakit? Aku takut saat Dev bilang kamu sudah tiada. Apa Devan berbuat sesuatu yang buruk sama kamu?" Air mataku keluar tanpa bisa aku tahan, aku sedih melihat Sam terluka, dan juga aku sedih melihat Devan berubah!
"Sudah lah, suamimu hanya bercanda denganku!" Sam tertawa ringan seakan memang mereka berdua sedang bermain-main. Bermain-main dengan malaikat maut, begitu?
"Sudah, jangan nangis!" Sam mengusap air mataku.
"Maaf, maaf Sam. Kalau saja aku menurut dan tidak terlalu akrab sama kamu pasti kamu tidak akan kena masalah!" aku menangis terisak. Ini semua salahku karena meminta Samuel menjadi temanku dulu.
"Sudah lah. Masih lebih baik mereka memfitnahku sama kamu. Aku tidak tahu kalau mereka bayar pria lain untuk menjebak kamu, apa yang bisa mereka lakukan sama kamu, heh?" Sam terkikik, seakan dia mengatakan lelucon lucu, tapi ini tidak lucu sama sekali!
"Aku takut Sam. Aku salah. Maaf, sudah buat kamu terluka." Tangisku tidak bisa berhenti. Air mataku terus lolos berjatuhan.
"Sudah lah. Buktinya aku masih ada kan? Sudah jangan nangis ya!" pintanya, tapi justru aku malah semakin kencang menangis. Dia seperti seorang kakak yang sedang membujuk adik kecilnya.
"Aku masih belum mati karena harus menagih hutang!" Ucap Samuel lagi-lagi tertawa ringan. "Ada seseorang yang berhutang padaku, sangat besar. Dan aku tidak akan mati sebelum dia membayarnya!" ucapnya lagi.
"Kamu setuju kan kalau seseorang yang punya hutang itu harus membayarnya?" tanya Samuel, aku menyusut air mataku sembari mengangguk.
"Kau yang punya hutang, maka bayarlah!" aku terkejut. Aku tidak pernah punya hutang pada Samuel.
"Aku?" menunjuk diriku sendiri.
"Kamu lupa saat kita berjanji di atas kapal pesiar, untuk traktir aku makan di restoran setelah kita menepi?" Oh iya, aku lupa yang itu!
"Aku sekarang sudah miskin Sam, Aku gak bisa traktir kamu seluruh isi restoran!" Samuel tertawa terbahak. Ada yang lucu gitu?
"Aku gak akan minta kamu sewa satu restoran, cukup kamu traktir aku makan makanan saja. Tapi harus yang enak dan berkesan!"
"Oke, kalau dengan harga makanan di bawah lima ratus ribu aku masih sanggup! Aku benar-benar miskin sekarang!" Lagi Sam tergelak. Ini mulai menyebalkan! Dia mengejekku!
"Sam!"
"Ya?"
"Mau peluk, boleh?" tanyaku. Sam merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, aku segera masuk ke dalam pelukannya. Menangis dalam-dalam di dada Sam yang keras nan hangat. Aku rapuh sekarang. Aku lemah! Aku butuh seseorang yang bisa menenangkanku, orang yang bisa menguatkanku. Aku benar-benar rapuh!
Entah berapa lama aku menangis di dalam pelukan Samuel. Hingga pilot heli memberitahu kami sesuatu.
Heli perlahan mulai turun ke tanah. Suasana gelap di sekitar sini. Aku takut, bukan hutan, tapi seperti lapangan luas, dan saat aku menemukan sebuah tiang lampu, di bawahnya terdapat beberapa nisan.
"Sam, ada apa kita kesini?" tanyaku takut memegangi ujung jaket Samuel.
"Ikut sebentar! Jangan takut!" Sam mengambil tanganku, dan mambawaku turun dari heli. Terlihat jelas banyak makam, ini berarti kami sedang di pemakaman!
"Sam!"
"Diam dan ikut saja. Kamu harus berpamitan dulu!" ucap Samuel.
Tidak jauh dari sana kami berhenti di sebuah makam. Ini makam ibu! Terakhir kali aku kesini saat aku akan menikah dengan Devan. Info dari mama kalau ibuku di kebumikan disini.
Aku ambruk di atas makam ibuku, lututku sakit, tapi hatiku jauh lebih sakit. Ini kedua kalinya aku kesini, tapi kali ini aku datang bukan dengan Dev!
Sam berdiri di sampingku. Dia tidak mencoba menenangkan atau menghiburku.
"Ibu, maafkan Anye! Maaf!" hanya itu yang mampu aku katakan dalam tangisan yang dalam. "Aku... maaf..." aku menangis, ingin bercerita semua keluh kesahku, tapi tidak ada yang bisa aku katakan, suaraku tidak bisa keluar, hanya isak tangis dan tatapan kesedihan dari hatiku.
"Sudah, ayo pergi!" Sam mengambil tanganku dan menarikku, tapi lutut ku benar-benar lemas. Kakiku gemetar hingga aku hampir terjatuh terpaksa Sam memapahku hingga sampai di heli. Pria yang tadi, membantu aku naik dan duduk di kursiku.
"Kita pergi!" ucap Sam.
"Kemana? Aku gak punya tujuan." keluhku.
"Ikut aku ke rumah! Disana kamu aman!" aku mengangguk, entah kenapa aku menurut saja pada pria ini. Padahal aku tidak tahu apakah dia pria baik atau tidak. Semoga saja!