
Devan dan aku sedang melakukan perjalanan menuju sekolah Axel. Barusan aku ada urusan di dekat kantor dan mampir ke perusahaan untuk menemui suamiku. Kami juga sengaja menjemput Axel dan juga Gio langsung dari kantor. Sekalian akan mengajak mereka makan siang di luar.
Sekarang Gio sudah mulai banyak bicara pada kami. Aku bersyukur anak itu sudah jauh berbeda dari pada dulu. Sekarang dia lebih maju. Bahkan kepintarannya juga cukup lumayan, dia dan Axel bersaing di kelasnya. Kalau saja badan dan mata mereka sama pasti lah banyak orang yang akan mengira kalau mereka saudara kembar.
Gio punya tubuh yang lumayan tinggi dan berisi, maksudku dia tidak kurus tapi juga tidak gemuk. Sedangkan Axel, badannya sedari dulu kecil kurus, tapi yang menonjol darinya adalah tingginya. Kalau saja dia anak yang sehat dan normal seperti lainnya, mungkin tubuhnya tidak akan sekurus ini.
Terjebak kemacetan, dari lokasi ini mungkin masih sepuluh menit lagi perjalanan kesana. Jam makan siang memang membuat sebagian orang memilih mencari makanan di luar.
Aku menelfon Axel. Mereka berdua masih menunggu di dalam area sekolah. Tak henti aku mengingatkan pada mereka kalau mereka tak boleh sembarangan ikut dengan orang asing. Berbahaya!
Mobil kembali berjalan perlahan menuju sekolah. Rasanya hatiku tak tenang entah kenapa! Tapi aku teringat dengan Axel dan juga Gio.
"Kenapa?" Devan bertanya karena aku duduk dengan gelisah.
"Aku merasa khawatir pada mereka berdua!" ucapku.
"Apa yang kamu khawatirkan? Mereka masih di sekolah bukan?"
"Iya, tapi aku merasa tidak tenang saja!" ucapku.
Devan mengambil tanganku dan mengelusnya dengan ibu jarinya, sedangkan satu tangannya masih setia pada kemudi.
"Axel dan Gio anak yang pintar. Mereka tahu apa yang mereka harus lakukan!" ucap Devan. Aku mengangguki perkataannya. Lalu kembali menatap ke arah luar.
Mobil telah sampai di area sekolah, pintu gerbang sudah di tutup. Aku turun dan berjalan ke arah pos sekuriti.
"Loh, bu Anye mau jemput Axel sama Gio?" tanya seorang sekuriti senior. Aku merasa aneh dengan pertanyaannya.
"Iya, pak. Mereka masih nunggu, kan?!" tanyaku, mulai merasa takut.
"Baru saja mereka pergi sama bodyguard ibu yang baru,"
Deg. Deg.
Ada apa ini?!
"Bodyguard yang baru? Saya gak pernah ganti bodyguard pak. Orang yang menjemput Axel cuma Leon. Bapak juga kenal, kan?"
"Maaf, bu. Saya fikir ibu ganti bodyguard, karena Axel juga menurut saja saat di bawa pulang!" dia merasa bingung dan juga merasa bersalah.
"Mereka ke arah mana, pak?" tanyaku, rasa takut mulai terasa di hatiku.
"Ke arah sana bu!" tunjuknya. "Belum lama kok bu, belum juga ada lima menit!" ucapnya.
"Terimakasih pak." ucapku lalu bergegas kembali ke dalam mobil. Devan menatapku heran.
"Mana anak-anak?"
"Mereka tidak ada. Dev, lapor polisi! Mereka sepertinya di culik!" aku sedikit berteriak padanya. Takut. Sangat takut!
Devan menyalakan hpnya dan mencoba menelfon Axel, tak ada jawaban! Aku juga sama, menelfon putraku dengan menggunakan hpku. Sama. Tak ada jawaban! Malah saat aku mencobanya lagi hp Axel sudah tak bisa di hubungi!
Devan berbicara di telfon, dia meminta Leon untuk melacak lokasi dimana nomor Axel terakhir kali bisa di hubungi. Dan juga meminta bala bantuan.
Tak butuh waktu lama, Leon mengirimkan lokasi tepat dimana Axel berada, tak jauh dari lokasi sekolah Axel.
Ada apa lagi ini? Setelah sekian tahun kami hidup damai, kenapa bisa ada yang ingin melukai putraku lagi? Dulu Daniel, sekarang Axel. Bukan hanya Axel, tapi Gio juga!
Xel. Gio. Mama harap tidak ada yang terjadi sama kalian, nak. Ku harap Axel kuat! Jangan sampai ada yang terjadi padanya. Dan ku harap Gio bisa melindungi Axel. Hahh... apa yang ku harapkan dari anak berusia sembilan tahun. Mereka masih anak-anak!
Salahku! Salahku kenapa hari ini aku harus meminta Leon untuk menjemput Nanda di bandara. Apa yang telah aku lakukan? Apa yang telah aku lakukan?
"Sayang! Tenanglah! Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan anak-anak kita. Axel dan Gio pasti akan baik-baik saja! Mereka tidak jauh dari lokasi kita! Mereka pasti baru sampai, kita akan segera menjemput mereka!" Devan mencoba menenangkan aku yang duduk dengan gelisah.
"Bagaimana aku akan tenang, Dev. Aku takut dengan keadaan Axel."
"Gio pasti melindungi putra kita. Tenang ya!"
Tenang dia bilang? Tidak bisa. Aku tidak bisa tenang!
"Telfon polisi! Aku mau pelaku penculikan itu di penjara!" jeritku.
"Iya. Oke! Aku akan telfon polisi!" Lalu Devan mengambil hpnya dan menelfon polisi segera.
Devan mengemudikan mobilnya, sambil sesekali menatap ke layar smartphone, mencari lokasi terakhir dimana Axel dan Gio saat kami menghubunginya tadi.
Jalanan yang masih padat membuat perjalanan kami tersendat, kadang kala mobil tak berjalan sama sekali. Rasanya aku ingin sekali mengambil alih kemudi dan menubruk mobil mereka di depan.
Ku tekan klakson beberapa kali dengan penuh emosi.
"Sayang, tolong tenang!"
"Tenang kamu bilang? Aku mana tenang, Dev. Aku gak tahu apa yang terjadi sama Axel dan Gio!" teriakku frustasi.
Kami telah sampai di tempat tujuan. Sebuah bangunan yang sedang di bangun namun sudah terbengkalai dan di tinggalkan begitu saja, ku kira bangunan ini sudah lama terbengkalai, mengingat banyaknya sulur-sulur dari pepohonan yang tumbuh pada dinding-dindingnya.
Ku buka pintu mobil.
"Sayang!" Devan menahan tanganku. "Biar aku saja yang kesana. Kamu tunggu disini ya!" titahnya.
"Tidak!" ucapku sambil menggelengkan kepala. "Aku harus ke sana, Dev! Aku mau kedua putraku!" Ya... Dua putraku! Aku sudah anggap Gio sama seperti putraku sendiri!
Ku hempaskan tangan Devan dan segera turun dari mobil lalu berlari, tak peduli dengan Devan yang memanggilku dari sana.
"AXEEELL! GIOOOO!!" Aku berteriak memanggil nama mereka. Tak peduli apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Aku tidak tahu, berapa banyaknya mereka, dan mereka membawa senjata apa. Aku hanya ingin anak-anakku!
"Axel! Gio!" terus berlari, mencari-cari, menaiki tangga dan berlari lagi, melupakan rasa sakit di kakiku karena aku memakai sepatu heels.
"Mamaa!!!" terdengar lamat suara anak kecil. Itu Axel! Ya. Aku yakin itu Axel!
"Axel! Gio! Dimana kalian?" aku terus berlari menaiki tangga lagi dan lagi. Suara itu semakin jelas terdengar, tapi kali ini suara jeritan penuh permohonan.
"Anye! Anyelir!" suara Devan terdengar entah dimana. Aku menoleh ke belakang, tapi dia tidak ada.
"Axel! Gio!" suaraku mulai serak. Tenggorokan ku sakit!
"Aaakkhhh! Jangaaaan! Ampuuun!!" itu suara Gio! Apa yang terjadi pada mereka?