DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel parrt 72



“Keadaan ibu dan janin sehat ya Pak. Jangan lupa kalau sedang berhubungan pelan-pelan saja. Di usia awal tri semester adalah usia yang rentan untuk ibu hamil.” ucapan dokter membuat Renata dan Axel memerah wajahnya. Malu.


“Iya Dokter saya mengerti!” ucap Axel sedangkan Renata menunduk malu.


Setelah selesai diperiksa Axel dan Renata pulang ke rumah. Axel membawa mobilnya sendiri tanpa sopir. Dia ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Renata.


Axel tersenyum menatap Renata yang tak hentinya menatap perutnya sesekali dia mengelus nya pelan. Gadis itu sepertinya senang.


'syukurlah'. Batin accel senang.


Axel mengemudikan mobilnya ke sebuah mal. Renata terheran.


“Ayo!” Axel membuka sabuk pengaman. Lalu membantu membukakan sabuk pengaman milik Renata.


“Kita mau apa di sini Cel?” tanya Renata. Axel tidak menjawab dia hanya tersenyum.


“ikut saja!”


Renata pasrah. Dia mengikuti langkah Axel ke dalam mal itu.


Axel mamapah Renata. Mereka berjalan dengan pelan. Membuat renata malu karena beberapa orang menatap mereka dengan heran.


“accel, lepaskan. Malu dilihat orang”


"Memangnya kenapa? Mereka tidak perlu mengurusi urusan kita!”


“Tapi aku susah berjalan kalau kamu papah aku seperti orang sakit. Aku ini sehat hanya hamil!” seru Renata kesel.


“Justru itu. Aku tidak mau ada apa-apa dengan kalian. Bagaimana kalau mereka jalan tidak hati-hati dan senggol kamu.” renata memutar bola malas. Axel terlalu berlebihan!


Renata lagi-lagi pasrah. Mereka menuju lift. Axel menjaga renata dengan baik. Dia memposisikan dirinya sebagai tameng meski keadaan di lift tidaklah ramai. Berjaga apa salahnya bukan?


Axel membawa Renata ke sebuah toko pakaian bayi.


“Mau apa kita ke sini, Xel?” Renata bingung.


“Tapi buat siapa?” lagi bertanya.


“Tentu saja untuk anak kita!” seru axel.


“Tapi ini masih lama, sel! aku saja baru hamil 10 minggu!”


“Memangnya kenapa? Beli dari sekarang tidak ada masalah kan?” Axel terus membawa Renata ke tempat baju bayi.


“Yaaa memang tidak ada masalah. Tapi kan kita tidak tahu anak kita...” Renata terdiam.


Anak kita?


“laki-laki atau perempuan!” lirihnya.


“tidak masalah kita beli saja untuk keduanya!” ucap Axel santai. Accel meninggalkan renata dia menuju tempat dimana baju-baju bayi beranda. Seorang pegawai tokoh mendekat kepada Axel. Menanyakan apa kebutuhan pria itu.


“Yang ini bagaimana?” tanya axel pada renata. Dia memperlihatkan baju berwarna pink dengan renda di dada dan juga lengannya. Lucu sekali.


Axel mendekat kepada Renata yang hanya terdiam. “Ayo pilih sama-sama.” ajak Axel.


Renata hanya mengikuti langkah axel. Bukan memilih sama-sama tapi axel yang lebih banyak memilih dan mengambil baju-baju itu. Renata hanya diam pasrah. Dia terkadang mengangguk dan juga menggeleng saat axel mengambil beberapa helly baju lagi.


Beralih dari toko baju. Mereka kini ada di dalam toko peralatan bayi. Lagi-lagi Axel memilih ini dan itu. Bahkan dia mengambil tiga stroller. Membuat renata meradang.


“Axel buat apa banyak-banyak? Satu saja cukup. Lagipula itu tidak akan ter pakai lama!” ucap renata kesal.


“Tidak apa-apa. Untuk ganti jika anak kita bosan!” Axel tersenyum, tak mau tahu.


“Xel , jangan berlebihan. Bayi mana tahu bosan dan tidak!” renata mulai kesal. Apalagi saat axel mengambil sebuah roda untuk anak pada saat belajar berjalan.


' Ya ampun! Bahkan anak ini saja belum lahir!' gumam Renata. Dia lelah, memilih untuk duduk di kursi panjang. Membiarkan axel dengan kesenangan ya.


“Mau makan?” tanya axel setelah dia selesai dengan belanjaannya. Renata mengangguk. Dia memang merasa lapar padahal baru makan dua jam yang lalu.