DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 113



Sudah satu bulan ini Renata berada di Surabaya. Keadaannya juga sudah jauh lebih baik, bahkan dia sudah mulai bekerja, sudah hampir dua minggu ini. Sebagai cleaning service di sebuah perkantoran.


Pekerjaan apa lagi yang bisa dia lakukan? Dia hanya lulusan SMA. Tak bisa seperti orang lain yang bekerja duduk di depan layar komputer atau sebagainya, tak bisa menapatkan gaji besar seperti orang-orang dengan pendidikan tingginya. Tapi dia tetap bersyukur, apa pun pekerjaannya, berapa pun gaji yang di dapatkan, dia tetap bersyukur karena tidak sampai harus merepotkan orang lain di dalam kehidupannya.


Dia tak boleh terpuruk dengan keadaannya. Kehilangan anak tak boleh membuat dia down dan hanya meratapi nasibnya. Dia harus bangkit, untuk bisa melanjutkan kehidupan yang penuh tanda tanya ini.


"Re. Tolong ini fotokopi kan, ya!" seorang wanita baru saja keluar dari dalam ruangan memanggil Renata yang tengah menyapu di luar kantornya.


"Baik, Bu!" Patuh, Renata menyandarkan sapunya ke dinding dan kemudian mengambil kertas yang ada di tangan wanita cantik itu. Dia berjalan menuju ke ruangan lain. Dia mulai melakukan tugasnya, memfotokopi satu persatu kertas yang ada di tangannya hingga habis.


Renata kembali ke pintu ruangan tadi dan mengetuknya pelan, setelah mendapat sahutan dari dalam dia membuka pintu itu.


"Sudah selsai, Bu. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Renata menawarkan diri.


"Tidak ada, kamu kembali saja sama pekerjaan kamu. Trimakasih ya." ucapnya dengan senyuman yang ramah.


Renata mengangguk lalu pamit untuk keluar, Dia kembali mengambil sapu yang tadi dia sandarkan di dinding kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.


Selesai dengan menyapu lantai, Renata pergi ke arah pantry. Dia sangat kehausan, banyaknya pekerjaan membuat dia lupa dengan benda cair itu.


Gluk.. Gluk..


Ahh...


Diusapnya sudut bibirnya yang basah dengan menggunakan punggung tangannya, rasa segar seketika mengalir melewati tenggorokannya. Dia kemudian duduk sebentar, kakinya terasa pegal. Sudah sangat lama sekali dia menganggur di rumah Axel, hampir tak pernah melakukan pekerjaan apapun. Semua orang sangat menyayanginya hingga hanya untuk mengambil minum saja dia harus di layani.


"Kaki kamu pegal ya?" tanya seorang gadis yang berusia setara dengan Renata. Dia baru saja datang dan mengambil minum, sama seperti Renata tadi.


"Sedikit, mungkin belum terbiasa.' ucap Renata. Dia memijat kakinya yang pegal dengan menggunakan tangan.


"Aku ada koyo nih. Hangat, gak panas. Sini aku bantu tempelkan." Via namanya, dia menyimpan gelas itu di samping dispenser air dan berjalan mendekat ke arah Renata. Di keluarkannya bungusan dari dalam saku seragamnya. Koyo dengan merek ternama.


"Eh tidak usah, biar aku saja yang tempelkan." tolak Renata saat Via menarik kakinya dan menyingkap celana panjang Renata ke atas.


"Sudah tidak apa-apa. Aku juga waktu awal bekerja, sama seperti kamu." ucap Via dengan senyuman, dia lantas membuka perekat di koyo itu, dan menyentuh betis Renata.


"Mana yang sakit? Disini?" tunjuk Via.


"Iya." pasrah karena ternyata Via sudah menempelkannya di tempat yang tepat. Dia juga sudah menurunkan kembali celana yang tadi ia naikkan.


"Trimakash Vi." Renata merasa terharu, disini banyak orang yang sayang dan peduli padanya. Dia juga merasa di hormati meski dirinya hanyalah seorangg cleaning servis.


"Ya, sama-sama. Kalau lain kali kamu butuh bantuan jangan sungkan-sungkan, ya." ucap Via. Renata mengangguk. Ya selain dengan teman, dengan siapa lagi dia akan meminta tolong? Tidak ada keluarga disini, hanya ibu Rini yang sudah ia anggap sebagai ibu sedari dulu. Sedari dia berpacaran dengan Restu.


"Eh, tadi si bos minta di anterin kopi, ada tamu. Kamu sana gih. Aku gak bisa anterin, di suruh beliin makan siang sama karyawan." pinta Via.


"Bukannya biasanya sama Mbak Gina ya?" tanya Renata bingung. Biasanya sekretaris bosnya yang selalu membuatkan minuman untuk tamu atau untuk bos sendiri.


"Mbak Gina lagi sibuk. Kamu saja ya. Gak ada orang lain lagi soalnya." Ucap Via.


"Oke deh. tapi aku gak ahu takerannya. Bos sukanya yang kayak gimana? manis? pahit?atau sedengan?" tanya Renata.


"Bos itu sukanya kopi, gulanya satu sendok aja. Kalau buat tamunya, kopi aja, gak pakai gula." terang Via.


Renata mengangguk, lalu segera mengambil cangkir dan jga nampan. Dia ,mulai membuat menaruh kopi ke dalam masing-masing cangkir.


"Re. Airnya kamu panas kan pakai panci, si bos gak suka air dispenser." Via menambahkan sebelum dirinya melangkah keluar. Tak lama dia kembali lagi ke dalam ruangan pantry, dia hanya menyembulkan kepalanya di balik pintu.


"Lupa. Sekedar info. Aku denger dari mbak Gina, tamu bos gak suka kalau ada yang pandang dia. Jadi kamu jangan sampai melirik dia ya. Sekilas pun jangan. Dia galak. Kalau sampai dia marah, dia pasti akan minta bos buat pecat orang yang gak patuh!" Via dengan cepat pergi dari sana sebelum Renata mulai bertanya.


Glekk..


Sulit menelen saliva. Renata takut juga, jangan sampai belum juga ada satu bulan bekerja dia di pecat dan menjadi pengangguran. Mencari pekerjaan sulit, apalagi dia bisa bekerja kesini juga karena tetangga barunya menawari dia pekerjaan. Dia bisa mejamin Renata bisa ikut bekerja meski tanpa kartu identitas dan ijasah.


Selesai membuat kopi, Renata membawa nampan itu ke kantor bosnya.


"Antarkan kopi ya?" tanya Mbak Gina sekretaris si bos yang baru saja datang entah dari mana.


''Iya, mbak. Mmm...kalau mbak Gina saja yang masuk ke dalam bagaimana? Saya.. saya gak pernah ketemu bos.." Renata tersenyum antara canggung dan takut.


Tak bisa melakukan apa-apa lagi, semua orang juga punya kesibukan masin-masing.


"Ya udah deh, tapi bos baik kan? gak galak kan?" tanya Renata takut


"Kalau bos enggak. tapi... tamunya yang galak!" bisik Mbak Gina di akhir kalimat, semakin membuat Renata takut.


"Ya sudah sana. Antarkan ke dalam. Ingat jangan ngelirik tamu si bos! Bisa di makan hidup-hidup!" bisiknya lagi smbil menempelkan telapak tangannya di sebelah sisi bibirnya yang penuh dan seksi.


Tangan Renata gemetar, hingga terlihat getaran itu di permukaan air yang mengepulkan asap tipis. Dia menarik nafasnya sesaat sebelum dia mengetuk pintu.


Tenang. Dia sama-sama manusia. Bukan jin atau setan! mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tidak melirik teman bos apa susahnya? Dia cukup menunduk dan menjaga pandangan nya. Tak sulit.


Gina tersenyum melihat tingkah laku OB baru ini. Lucu juga melihat ekspresi ketakutannya.


Tok..tok..tok..


"Masuk." terdengar suara lirih dari dalam sana yang mengizinkan dia untuk masuk ke dalam.


Perlahan Renata membuka pintu dan mulai melangkahkan kakinya. Suasana di dalam terasa dingin. Entah karena suhu Ac yang rendah atau karena ketakutan Via dan Mbak Gina mengatakan hal itu tadi.


"Se-Selamat siang Pak." Renata mengucapkan salam dengan lirih, suaranya tiba-tiba saja melemah, padahal saat tadi berbicara dengan Via dan juga Mbak Gina dia masih baik-baik saja.


"Siang. Masuk saja."


Renata melangkah kan kakinya ke dalam sana, jujur lututnya bergetar, ia ketakutan. Padahal dia tak pernah seperti ini jika bertemu dengan orang asing.


Renata sempat tertegun saat mencium aroma parfum yang sepertinya ia kenal. Pikirannya langsung tertuju pada si Dia.


Ah, tidak. Bukan. Mana mungkin!


Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, sambil menunduk dalam dia mulai melangkah mendekat ke meja si bos untuk menyimpan kopi itu, satu untuk bos, satu untuk tamunya.


Renata hanya bisa menunduk, penasaran? Jujur iya, tapi ingat dengan pesan Via dan juga Mbak Gina, dia tak mau kehilangan pekerjaan.


Renata hanya bisa melihat sepatu milik tamu si bos, hingga sebatas pada tangannya saja. Dengan jam mahal yang meligkar di sana. Persis.


Ah tidak. Parfum dan jam tangan sepeti itu banyak dan ada dimana-mana. Apalagi seorang pengusaha bisa membeli jam dan parfum mahal seperti itu, bukan hanya dia. Monolog Renata dalam hati.


Dadanya berdegup kencang saat ia merasa tamu si bos menatapnya dengan tajam, keringat dingin mulai turun dari pelipisnya. Dia ingin sekali segera keluar dari ruangan yang mendadak panas dan mencekam ini. Dia mencoba meredam tangannya yang masih gemetar.


"Su- sudah, Pak. Saya pamit keluar!" ucap Renata yang mendapat jawaban 'iya' dari sang atasan nya. Dengan cepat gadis itu melangkahkan kaki menjuju ke arah pintu. Dia tak mau lagi berlama-lama di dalam ruangan si bos yang membuat nafasnya menjadi sesak. Dan kenapa juga dadanya berdetak dengan cepat? Apa karena dia takut, atau apa??


Sekali lagi. Dia tak tahu jawabannya.


Renata menutup pintu dengan cepat. Sekilas dia bisa melihat belakang kepala pria itu. Pikirannya tertuju pada seseorang yang sudah satu bulan ini tak pernah ia lihat secara langsung, hanya bisa mellihatnya di hp milik ibu lewat pencarian google. Artikel tentang Axel Felix Aditama.


Dadanya sesak menahan rindu yang teramat sangat.


"Sudah?" tanya Mbak Gina saat melihat Renata hanya dim di depan pitu ruangan.


"Sudah Mbak." jawab Renata yang tergagap.


"sayang ya, kamu gak bisa lihat kegantengan dia, hihihi..." Renata menatap Mbak Gina yang tertawa, menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Mbak udah pernah lihat tamu si bos?" tanya Renata. Kalau dia pernah lihat kenapa yang lain tak boleh.


"Tahu dong, aku kan sekretaris. harus mengenal tamu atau teman si bos." jawab Mbak Gina dengan sombong.


Renata mendelik sebal. "Kalau begitu kenapa tadi bukan Mbak Gina saja yang antarkan minuman ke dalam. Aku kan hampir kena serangan jantung Mbak!" ucap renata kesal. Ingat dengan jantungnya yang berdetak dua kali lipat di dalam sana.


"Hehehe...kan aku sibuk, Re. Kamu gak perlu lihat tamu si bos. Nanti serangan jantungnya bertubi-tubi tapi kamu nya gak mati-mati." ucap Gina seraya memukul dadanya dengan keras, tak lupa dia juga memperlihatkan raut muka yang dramatis.


"Mbak Gina lebay! Aku kembali lagi ke bawah ya Mbak. Mau minum. Haus!" ucap Renata.


Gina mengangguk sambil terus tertawa, mengiringi langkah renata.


Ada di dalam ruangan sana membuat Renata merasa kepanasan dan juga kehausan. Dia butuh air sekarang.