DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 125



Anyelir Pov.


Devan terlihat cemburu, melihat ku yang begitu dekat dengan Alex.


Dia terlihat berfikir, terlihat Devan mengepalkan kedua tangannya di sisi kedua tubuhnya.


Dia berjalan menuju tempat dimana Alex duduk dan menarik kerahnya hingga Alex berdiri. Aku terpekik saat melihat apa yang di lakukan Devan. Alex tersungkur di lantai dengan darah di sudut bibirnya yang berdarah.


"Devan apa yang kamu lakukan?" teriak ku, menahan tangan Devan yang hendak melayangkan pukulan lagi pada pria itu. Alex bangun dan mengusap sudut bibirnya yang robek. Dia tersenyum mengejek.


"Kenapa? Gak terima kalau aku ingin dekat dengan istri kamu?" Alex berujar membuat ku membelalakan tak percaya. Dia cari mati!


"A-Alex!" Panggil ku memperingatkan.


"Dasar bajingan!" Devan menghempaskan tangan ku dari. lengannya, dia maju dan kembali melayangkan tinjunya pada Alex. Alex tak mau kalah dia menahan, lalu meninju, dan menendang. Mereka bergulat di lantai. Saling berguling, masing-masing ingin ada di atas tubuh yang lain untuk mendominasi.


Kepala ku terasa berdenyut. Aku merasa pusing dengan kelakuan dua lelaki dewasa ini. Tidak ingin lelah, aku hanya bisa duduk di single sofa sambil menyilangkan satu kakiku di atas kaki yang lain. Ku pijit pangkal hidungku yang terasa berdenyut hebat. Sesekali melihat apa yang mereka lakukan di bawah.


Beberapa benda dari atas meja berjatuhan karena tersenggol oleh keduanya, begitu juga dengan bingkai foto yang pecah sudah tak berbentuk.


Mereka seperti anak kecil.


Aku tidak berniat memanggil keamanan. Ku biarkan saja kedua pria itu menyelesaikan masalahnya dengan cara mereka, asalkan masih dengan cara aman kenapa tidak? Mereka laki-laki, punya cara tersendiri menyelesaikan masalah mereka.


Beberapa menit berlalu, keduanya sudah merasa lelah, tidak ada yang menang maupun kalah. Devan maupun Alex berbaring lelah di lantai. Nafas mereka memburu. Sepertinya mereka sepakat mengakhiri duel mereka.


"Sudah berkelahinya?" tanya ku datar. Alex dan Devan bangkit duduk secara bersamaan. Devan duduk bersandar di kaki meja, sedangkan Alex duduk dengan satu tangan di atas lututnya.


"Kalian sudah puas membuat ruangan ku berantakan?" Tanya ku lagi menatap satu persatu dua lelaki yang sedang kelelahan itu.


Alex menatap Devan sekilas. Devan melengos membuang muka.


"Apa tidak ada keinginan untuk memisahkan kami?" tanya Alex menatap ku sayu. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.


"Wanita yang kejam! Menyeramkan!" lirihnya namun terdengar jelas oleh ku dan juga pria di sampingnya. Devan mengangguk setuju. Aku memutar bola mata malas.


"Ya memang benar. Itulah dia! Anyelir Istriku!" terdengar dengan nada bangga. Alex mendelik ke arah Devan tak suka.


"Masih mau kencan dengan dia?" tanya Devan.


"Tentu. Dia menarik!" ucapan Alex membuat Devan melotot dan bersiap untuk melompat kembali.


"Kalau kalian mau duel lagi di luar sana. Aku gak mau di interogasi polisi kalau salah satu dari kalian mati!" Teriakku.


Devan terdiam. Alex menggelengkan kepalanya. Mungkin dia heran melihat sifatku yang satu ini. Aku tidak peduli! Nyatanya aku tidak mau berurusan dengan orang yang membuatku repot.


Aku mengambil hpku dari atas meja dan meminta Ana membawakan kotak P3k ke dalam ruanganku. Tak lama pintu terbuka. Ana terkejut melihat keadaan ruanganku yang berantakan seperti kapal pecah. Buku-buku berserakan, bahkan berkas penting pun juga teronggok di lantai. Vas bunga yang pecah, dan juga kursi yang terbalik akibat ulah mereka.


"Berikan pada mereka!" titahku.


"Baik nona!" ucapnya lalu berjalan mendekat ke arah kedua lelaki itu. Lelaki dewasa yang kelakuannya seperti anak kecil.


"Ada jadwal apa lagi hari ini?" tanyaku pada Ana.


"Selain bertemu dengan pak Alex tidak ada lagi nona!" ucapnya.


"Ayo kita makan siang. Aku lapar!" aku berdiri.


"Eehhh aku bagaimana?" tanya Devan dan Alex bersamaan. Mereka bisa kompak juga!


"Urus diri kalian sendiri!" ucapku lalu berjalan keluar dari ruangan.


...***...