
Tiara bangun pada menjelang sorehari, dilihatnya Gio yag masih terlelap di sampingnya sedikit mengorok. Rasa sakit di pingggangnya membuat Tiara mel*nguh. Semua tubuhnya terasa pegal. Gio keterlauan! Tidak membiarkannya beristrahat, bahkan setelah mereka mandi. Justru aroma wangi sabun malah kembali membangkitkan gairah pria itu hingga kemudian mereka lanjut bergulat entah sudah berapa jam.
Tiara bangit dan menuju ke arah kamar mandi dengan langkah pelan. Area di bawah sana terasa sakit dan juga perih.
Selesai mandi. Tiara membangunkan Gio degan pelan. Ini sudah sore dan Gio harus mandi.
"G. Bangun, mandi!" titah Tiara saat Gio membuka matanya. Bukannya bangun, Gio malah melingkarkkan tangannya pada leher Tiara dan menariknya hingga Tiara terjatuh di atas dada Gio.
"Kau mau mandikan aku?" tanya Gio.
"Tidak mau. Kau mandilah sendiri. Aku sudah selesai mandi, tidak mau basah lagi." Tiara meyingkirkan tangan Gio, Gio membiarkan istrinya itu untuk bangkit dari atas tubuhnya yang hanya tertutupi selimut.
"Aku akan siapkan air hangat. Kau cepatlah bangun. Aku malu kalau nanti Ibu pulang dian kita terus-terusan di kamar." ucap Tiara. Gio mengerucutkan bibirnya.
"Kita masih bisa satu ronde lagi!" bujuk Gio.
"Tidak! Punyaku bengkak gara-gara terus beradu dengan milikmu! Kau itu ganas sekali, tidak bisa lembut sama sekali." Tiara melotot tajam pada suaminya yang kini hanya tersenyum meringis.
"Benarkah? Sebengkak apa? Sini aku periksa."
"Tidak! Enak saja. Kau bukannya periksa, tapi malah akan mencangkul lagi setelah melihat! Aku tahu isi di otakmu!" cerca Tiara.
"Ya, jangan salahkan aku kalau aku mau dan mau lagi. Kau itu begitu nikmat, hangat, dan mengigit!"
Tiara mengambil bantal guling yang ada di dekat Gio, dia memukul Gio dengan benda empuk itu.
"Ih dasar mesum!"
"Cepat bangun. Jangan malas mandi. Kau bau keringat!" titah Tiara.
Gio bangun dengan perasaan malas. "Tapi nanti malam lagi ya?" tawar Gio dengan wajah memelas. Tiara menepuk jidatnya. Pria ini makan sehari-hari apa sih? staminanya itu kok gak habis-habis!
...***...
Di rumah kediaman keluarga Aditama. Axel sedang mengusap keringat yang ada di dahinya. Dia tengah melakukan apa yang di perintahkan istrinya tercinta. Menanam pohon di taman di belakang rumah. Renata duduk di gazebo sambil memakan rujaknya, dan menyaksikan pekerjaan Axel.
"Itu juga bunga, jangan lupa diberi pupuk!" tunjuk Renata pada bunga mawar miliknya.
"Iya," pasrah Axel pada keadaan, demi rasa cintanya pada wanita yang kini tengah mengandung buah hatinya.
"Huhh... Aku seringnya menunjuk orang di kantor, tapi kenapa sekarang aku ada di bawah telunjuk istriku? Wibawa CEO tidak berlaku lagi di rumah!" gumam Axel.
"Apa Xel? Kau bicara sesuatu?" tanya Renata yang mendengar suaminya mendumel.
"Ah tidak, hehe... Ini hanya panas! Udara sangat panas sekali!" jawab Axel seraya tersenyum meringis.
"Oh. Kalau begitu cepat kau selesaikan." teriak Renata. Axel lagi-lagi hanya tersenyum.
Renata kembali pada kegiatannya memakan rujak, sedangkan Axel terus menanam dan memberi pupuk pada tanamannya.
Selesai dengan tanam menanam, Axel mencuci tangan dan mendekat ke arah sang istri berada. Axel lelah hari ini. Inginnya hari libur itu dia leyeh-leyeh di rumah, kenapa malah jadi berkebun sih?
Axel membaringkan dirinya pada paha sang istri dengan wajah menghadap perut Renata yang membuncit. Diciumnya perut itu, yang membuat pergerakan bayi dari dalam sana. Axel selalu senang saat anaknya bergerak.
"Aku penasaran, tapi aku tidak mau melihat apa jenis kelaminnya. Biarkan saja jadi kejutan disaat dia lahir nanti. Apa kau keberatan kalau anak ini ternyata perempuan?" tanya Renata sambil mengelus rambut Axel.
"Tidak."
"Biasanya para pengusaha ingin anak laki-laki untuk meneruskan perusahaan."
"Perempuan juga bisa. Kita akan latih anak kita untuk bisa memegang perusahaan."
"Xel, aku mau minta sesuatu dan kau harus janji untuk menyanggupinya." pinta Renata.
"Hem... apa?" tanya Axel lembut.
"Ehm... Tentang anak ini. Aku minta jika suatu saat anak ini punya cita-cita atau keinginan lain selain memegang perusahaan kau bisa menerimanya dan tidak memaksanya." lirih Renata.
"Hanya itu?" tanya Axel.
"Iya."
"Kenapa?"
"Aku pikir tidak akan baik jika memaksakan kehendak Xel. Manusia pasti berbeda keinginannya. Termasuk anak-anak kita. Jika mereka ingin melakukan hal lain dukunglah selama itu masih positif. Aku tidak mau memaksa anak kita dengan hal yang nereka tidak mau, dan membuat mereka benci akan kita." ucap Renata lagi.
"Kalau begitu, anak kita jangan hanya satu atau dua. Kalau bisa yang banyak. Pasti ada salah satu diantara mereka yang akan menurun padaku," ucap Axel sambil menciumi perut Renata. Renata bergerak dalam duduknya, geli dengan perlakuan suaminya ini.
"Aku sepetinya gak sanggup hamil banyak-banyak. Ini saja selalu merepotkan mu, Xel." sesal Renata. Memang Renata menjadi manja semenjak kehamilan ini. Manja dan juga pemarah, tidak mau dengan yang lain selain Axel. Ibu hamil yang sensitif.
"Tidak apa-apa. Aku suka kamu repotkan apalagi ini adalah anakku." tutur Axel.
Renata terdiam, tangannya berhenti mengelus rambut Axel, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dalam hati merasa ada sesuatu yang menusuknya.
"Jadi ... Dulu saat aku mengandung anak orang lain, kamu keberatan aku repotkan?" tanya Renata sendu.
Axel menatap Renata dengan rasa bersalah. Dia lantas bangkit dan duduk menghadap ke arah sang istri yang kini telah berlinang air matanya.
"Buka seperti itu. Aduh... Jangan salah faham. Aku tidak pernah merasa keberatan atau tidak merasa senang saat kehamilan kamu dulu. Aku senang sekali Re, aku senang selama itu adalah anakmu, tapi ini... Aku lebih senang lagi karena ini adalah anakku. Seandainya saja anak itu masih ada tentu aku akan jaga mereka dan akan sayangi mereka sama rata. Aku tidak akan membedakan kasih sayang pada mereka. Aku bersumpah. Bukan itu maksud perkataanku!" Axel meyakinkan. Renata mendekatkan dirinya pada dada Axel dan menumpahkan tangisnya disana. Meski dia benci dengan orang yang menghamilinya dulu, tapi anak yang telah tiada itu tidak bersalah sama sekali.
"Kenapa ya Xel, hidupku tidak pernah tenang. Aku gak tahu kalau saja aku gak ketemu denganmu bagaimana kelanjutan hidupku?" Renata kini menangis, terisak hebat memikirkan masa lalunya yang sangat rumit.
"Sudahlah. Itu kan hanya masa lalu. Jangan dipikirkan lagi. Semua sudah berlalu, sudah lewat. Jangan menangis ya. Aku janji aku akan melindungi kamu dan menjaga kamu sampai akhir hidupku." ucap Axel. Renata menganggukkan kepalnya.
"Xel." panggil Renata.
"Hem...?
"Aku... Kita ke kamar yuk! Aku mau...."
Axel menjauhkan dirinya, menatap Renata dengan wajah yang berbinar, lalu mengangguk dengan cepat.
"Ayuk... Mau aku gendong?" tanya Axel.
"Aku berat. Jalan saja." Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan melanjukan langkah ke kamar mereka yang kini pindah ke lantai bawah.