DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
263



Di kalimantan


Tiara berada di balkon kamarnya. Dia menatap langit senja yang kini mulai berganti warna. Udara sejuk di sore hari membuat dirinya betah menatap ke arah matahari yang sudah tidak lagi silau cahayanya. Angin yang bersemilir pelan membuat tiara enggan masuk ke dalam rumah. Pikirannya tertuju pada tempat yang jauh.


Tiara tidak sadar jika Gio sudah pulang dari tempat kerjanya. Pria itu kini mendekat ke arah tiara dan memeluk istrinya itu dengan erat dari belakang. Tiara tersentak kaget, dia lalu menoleh ke arah samping. Wajah lelah suaminya terlihat sangat jelas diatas bahu nya. Hangat tubuh pria itu terasa jelas di punggung Tiara.


"Kau sudah pulang G? Maafkan aku tidak tahu kalau kamu sudah pulang. Aku terlalu asyik melihat matahari tenggelam." Tiara merasa menyesal, dia merasa dirinya menjadi sayang tidak baik. Gara-gara memikirkan hal lain dia sampai lupa untuk menyambut suaminya pulang.


"Tidak apa apa. Kau serius sekali sampai tidak mendengar aku memanggilmu. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Gio.


Tiara menghela napasnya, dan mengelus tangan Gio yang ada di depan tubuhnya. "Tidak ada." jawab Tiara singkat.


Gio tidak suka dengan jawaban Tiara. Pria itu tahu jika tiara sedang berbohong.


"Katakan yang jujur aku tidak akan marah. Apa yang sedang kau pikirkan. Aku akan merasa sangat bersalah kalau kau sampai sedih seperti ini. Apakah kau memikirkan ibu?" tanya gio.


Kepala Tiara mengangguk dengan pelan, dia semakin merasa bersalah karena telah membuat Gio sedih.


"Aku memang sangat kangen dengan ibu, baru kali ini aku jauh dengan ibu." tutur Tiara pelan.


"Kalau mau pulang besok?" tanya Gio. Tiara menggelengkan kepalanya.


"Jatah ku belum berakhir dengan mu."


"Aku tidak masalah kalau kau mau bersama dengan ibu. Biar aku yang akan pulang pergi beberapa hari sekali." Tiara lagi-lagi menggeleng. Dia tidak bisa bersikap tidak adil kepada Gio. Pria ini sudah sangat baik kepadanya.


"Kita lakukan saja seperti yang seharusnya. Aku tidak mau membuatmu merasa tidak adil. Maaf."


Gio mempererat pelukannya kepada Tiara. Dia mengecup kepala Tiara dengan sayang.


"Kita pergi keluar mau tidak?" tanya Gio.


"Rasanya aku bosan di rumah terus. Kita ngedate yuk!" ajak Gio.


Tiara menolehkan kepalanya kepada pria itu. Tumben sekali dia mengajak tiada ke luar. Tiara menganggukan kepalanya dengan senyum terkembang di bibirnya. Gio memang suami idaman, dia selalu tahu apa yang harus dilakukan saat istrinya sedang bersedih. Tiara sangat beruntung memiliki Gio di dalam hidupnya kini.


Gio dan Tiara mandi bergantian, mereka pun kini sedang bersiap-siap untuk pergi. Gio sudah tampan dengan kaos putih dan celana jeans biru, Tiara menatap penampilan Gio, terlalu sering melihat dia memakai jas membuat Tiara kini terpaku melihat Gio dengan pakaian santainya. Dia terlihat tampan sekali.


Gio yang menyadari istrinya tengah menatapnya menghentikan laju tangannya yang sedang menyisir rambut.


"Kenapa kau melihatku? Apa ada yang aneh?" tanya Gio.


Tiara menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Suamiku tampan dengan tampilan seperti ini. Aku hampir saja tidak mengenali mu." ucap Tiara membuat Gio terkekeh. Lucu sekali istrinya ini.


"Dengan kata lain aku aneh memakai baju seperti ini?"


Tiara menutup mulutnya yang tertawa kecil. "Jika kau berpikiran seperti itu boleh saja. Terserah kau. Bukan aku yang bicara." Rasanya sangat menyenangkan sekali, berbicara seperti ini dengan Gio. Tiara hampir lupa dengan apa yang dia pikirkan tadi.


Keduanya keluar dari rumah tidak lupa mereka memakai masker di wajahnya. Mereka memutuskan keluar menggunakan motor yang dia pinjam dari salah satu bawahannya. Di belakang mereka Heru tetap mengikuti menggunakan mobil.


Gio sudah melarang. Dia hanya ingin berkencan berdua, tapi Heru terlalu mengkhawatirkan keselamatan dua orang itu. Bahaya bisa saja terjadi, kapan pun dan dimana pun. Takdir orang tidak ada yang tahu.


Mereka berjalan berdampingan saling menggenggam tangan masing-masing. Keduanya berpegangan tangan dengan erat melewati banyaknya manusia yang juga datang ke tempat itu.


Keduanya saling berpandangan dan juga tersenyum. Mereka banyak melewatkan waktu untuk berdua, Gio yang sangat sibuk dengan pekerjaannya tidak bisa begitu saja meninggalkannya atau pulang sebelum menyelesaikannya. Terkadang Gio merasa kasihan kepada Tiara, istrinya itu pasti sangat kesepian karena ia tinggal. Malam ini Gio akan membawa Tiara menaiki segala macam permainan yang ada di sana. Dia tidak pedulikan tubuhnya yang lelah, baginya senyum Tiara adalah segalanya.


Satu persatu permainan mereka naiki, Tiara sangat senang malam ini. Gio membawanya berkencan ala rakyat biasa. Bukan seperti orang kaya kebanyakan, yang mengajak wanitanya keluar atau berkencan dengan makan malam romantis di restoran. Tiara merasa cukup dengan ini. Bahkan, ini lebih terasa sangat menyenangkan daripada hanya makan malam berdua. Mereka bisa melakukan aktivitas dan juga tertawa bersama tanpa canggung atau malu karena kegilaan mereka.


Tiara sudah lelah. Menaiki beberapa permainan tanpa jeda. Gio menawarkan dan juga menantang dirinya untuk menaiki segala permainan yang ada. Hingga pada permainan rumah hantu pun mereka masuki. Meskipun Tiara takut, tapi jika dengan Gio dia kan melakukannya. Lumayan untuk memacu adrenalin yang selama ini tidak pernah lagi ia rasakan.


Keduanya kini duduk di bangku panjang yang ada di sana. Tiara menunggu Gio yang sedang mengantri membeli makanan dan juga minuman. Tiara duduk sendirian, tidak jauh dari tempatnya duduk, Heru memperhatikan Tiara dan juga Gio. Pria itu tetap setia meski tidak dianggap oleh keduanya. Bahkan, dia tidak peduli sudah berapa kali Gio mengusirnya.


Sungguh menyedihkan menjadi asisten dan juga pengawal. Disaat bos nya kencan berdua dirinya harus tetap mengikuti mereka. Hatinya meronta-ronta, dia juga punya pacar, ingin juga melakukan kencan berdua dengan pacarnya.


Gio telah kembali dari stand makanan, di tangannya terdapat dua bungkusan, dan satu bungkusan lain di tangan satunya. Dengan cepat dia berjalan ke arah Tiara yang duduk menunggunya. Tiara tersenyum senang. Perutnya sudah lapar dan dia membawakan makanan untuknya.


"Ini makanan untukmu, dan ini makanan untukku." ucapnya sambil memberikan makanan kepada Tiara.


"Tiara menatap makanannya dan makanan milik Gio berbeda.


"Kenapa punyamu berbeda?" tanya Tiara. Dia tidak terima makanan mereka berbeda apalagi yang dia lihat makanan milik Gio terasa lebih menggiurkan.


"Aku sudah beli makan ini, dan aku juga tidak tahu apakah kau suka ini atau tidak." jawab Gio. Tiara cemberut mendengar jawaban pria itu. Rasanya dia juga ingin memakan milik Gio.


Gio duduk di samping Tiara dan mulai menikmati makanannya. Dia menoleh ke arah belakang dimana Heru menunggunya. Pria itu lalu kembali berpaling menikmati makanan ya."


Tiara juga memutar kepalanya ke arah belakang, Heru tetap berdiri di sana seperti tadi tidak bergeming sekalipun, bahkan selangkah pun tidak. Pria itu seperti patung. Berdiri dengan tegak tanpa merasa pegal di kakinya.


"G, kasihan sekali Heru suruh saja dia pulang." ucap Tiara.


Gio memutar bola matanya malas.


"Aku sudah menyuruhnya pulang sudah tadi, tapi dia tidak ingin pulang sama sekali. Biarkan saja jika dia ingin menjadi patung di sana," jawab Gio dengan tidak peduli. Pria itu kembali memakan makanannya dengan tenang. Berbeda dengan Tiara, wanita lebih memiliki perasaan dari pada lelaki. Tiara kemudian berjalan ke arah Heru, dan memberikan salah satu bungkus makanan yang tersisa beserta minumannya.


"Aku tidak perlu ini, Bu." Heru menolak pemberian Tiara. Tiara menoleh kearah suaminya yang tetap cuek dengan terus memakan makanannya.


Tiara mengambil tangan Heru dan memberikan bungkusan makanan itu kepadanya.


"Jangan sungkan, makanan ini lebih dan aku percaya kalau dia juga membelikan nya untukmu." Tiara lalu kembali ke tempat duduknya bersama Gio. Senyumnya berkembang di bibirnya, dia beringsut untuk duduk semakin dekat dengan suaminya, kepalanya ia sandarkan di bahu Gio.


"Kau itu sayang dengan dia, tapi kau malu untuk memperlihatkan nya." Tiara tersenyum dia pun kini mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Siapa yang sayang dengan dia? Tadi aku hanya ingin saja membeli makanan yang banyak. Bukan berarti aku sayang dengan dia." Tiara ingin tertawa sebenarnya. Suaminya ini memang sangat terlalu sekali, hanya mengucapkan sayang saja jadi tidak mau.


Gio mengalihkan pandangannya kearah istrinya yang tertawa.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Gio.


"Tidak ada. Hanya saja aku ingin tertawa apa itu salah?" Tiara balik bertanya. Mereka pun kini menikmati makanannya, sesekali Tiara mengambil makanan Gio dan memasukkannya kedalam mulutnya. Dia tersenyum dengan kelakuan Tiara. Dia sangat senang sekali karena sekarang melihat Tiara tersenyum kembali.


Keduanya menikmati waktu malam mereka. Hingga hampir tengah malam mereka pulang ke rumah.