DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. Part 27



Axel membuka sebuah pintu yang tadi ia lihat di jaga oleh dua bodyguard. Dia yakin Renata ada di dalam sana.


Noah di urus oleh bawahannya yang lain dan entah dia akan dibawa kemana.


Axel membuka pintu itu. Dia terkejut dengan apa yang dia lihat disana. Renata sedang bersandar pada seorang pria paruh baya. Tangannya berdarah, di dekatnya dia melihat pecahan vas bunga juga dengan bercak darah. Darah ada dimana-mana.


"Renata!!" teriak Axel seraya berlari dengan cepat. Seorang dokter sedang berusaha menghentikan laju darah dari tangan gadis yang kini tak sadarkan diri itu. Dia membalut lukanya sementara dengan perban.


"Apa yang kalian lakukan?!" Axel mendorong kepala pelayan dan mengambil alih Renata ke dalam pelukannya.


"Ren. Ren-Ren. Sadarlah!" Axel menepuk pipi Renata, tapi gadis itu tidak bangun sama sekali.


"Apa yang kalian lakukan!!" teriak Axel lagi meminta jawaban.


Dokter itu tergagap, menjawab pertanyaan dari Axel. "Nona Renata ... menyayat nadinya sendiri!"


"Ini pasti karena kalian yang membuat dia seperti ini, kan?!" teriak Axel lagi.


"Ren, sadarlah! Aku mohon. Sadarlah!" Air matanya tak bisa di bendung lagi. Tak terasa mengalir begitu saja.


"Tenanglah Tuan. Saya dokter. Saya akan membantu nona Renata!"


Axel menatap pakaian dokter itu dan juga peralatan medis di tas yang di bawanya. Lalu beralih menatap tubuh Renata yang penuh bercak kemerahan di beberapa tempat. Bahkan dia hanya melihat tubuh polos itu tertutup selimut. Mata Renata sembab. Bibirnya terluka.


Bayangan-bayangan Noah yang menggagahi Renata terpatri jelas di dalam kepalanya. Axel membaringkan Renata di atas kasur. Dia kembali berjalan keluar dan mencari Noah.


"Mana b*jngan itu!" teriak Axel. Gio yang menatap Axel sedang murka hanya menggaruk kepalanya. Ia yakin jika Axel akan sependapat dengan sang kakak.


"Mana b*jangan itu!!" teriak Axel lagi. Kakek Surya dan papa Devan entah dimana.


"Gio!" Axel menatap Gio yang sedang gelisah.


"Mereka ada di belakang!" ucap Gio akhirnya lalu memimpin jalan kembali ke tempat tadi ia membawa Noah dan kaki tangannya.


Axel berjalan dengan cepat seraya mengeratkan kepalan tangannya. Gio merasa ngeri sendiri. Sebentar lagi Axel pasti akan berubah menjadi manusia iblis. Dan dia akan menyaksikan pembantaian besar-besaran.


Kakek Surya, papa Devan, Kak Daniel, dan juga Axel. Siapa yang sangka di balik ketampanan dan kewibawaan, mereka bisa berubah menjadi sosok yang mengerikan!


Ah ... Daripada dia melihat dengan mata kepala sendiri. Lebih baik dia yang mengeksekusi. Memotong sana sini lalu tak lama ia tembak sampai isi otaknya keluar. Beres!


Brak!!


Axel menendang pintu di depannya. Beberapa orang menoleh pada asal suara itu. Ruangan berukuran cukup luas itu kini dipenuhi beberapa orang yang menjadi tawanan mereka. Para pengawal yang sok jagoan kini hanya diam mengkerut di tempatnya dengan kedua tangan terikat tali. Mereka tak berani menatap atau sekedar melirik.


Kakek Surya duduk di sebuah kursi kayu dengan menyilangkan kakinya. Devan dan Daniel berdiri di kedua sisinya, sedangkan Jimmy berdiri di depan Noah dengan sebuah pisau belati kesayangannya. Dia sedang menimang-nimang belati itu dan tersenyum mengerikan.


Gio yakin pisau itu pasti akan ia buat untuk menguliti Noah nanti.


Seorang pemuda dengan emosi di tingkat teratas itu mendekat ke arah Noah yang kini duduk di kursi dengan ikatan kuat di tubuhnya.


Dia sudah sadar, dan masih bisa tersenyum saat melihat wajah murka pemuda beberapa tahun di bawahnya. Anak ingusan!


"Hahaha... Lihat, siapa yang datang? Sudahkah melihat keadaan gadis itu? Bagaimana keadaan dia? Dia masih tel*njang? Sudah kamu coba?! Bagaimana rasanya bekas ku?"


Bugh!


Axel menendang dada Noah keras hingga kursi itu terpental ke belakang. Noah terbatuk, mengeluarkan darah dari mulutnya.


Axel berjalan ke arah meja yang terdapat beberapa alat untuk proses eksekusi. Berbagai macam pisau, kapak, belati, gergaji, dan juga yang lainnya. Dia memilih dan memilah, mengelusnya satu persatu. Lalu memilih pisau daging dengan ketajaman luar biasa.


Noah membelalakkan matanya, habis sudah! Jika saja ia bisa memohon ampun, tapi apakah mereka akan melepaskannya?


Axel tersenyum dingin, senyuman yang bisa membuat beku seorang Noah Alexander yang di kenal tak pernah takut dengan apapun. Bahkan kebal dengan hukum.


"Dan kamu tahu bagaimana rasanya pisau ini?" Mendekat dan memutari tubuh Noah yang masih melantai di bawah.


"Lepaskan dia!" Axel memberi perintah pada bawahannya. Tubuh Noah bergetar ketakutan. Dua orang bertubuh tinggi kekar mendekat dan melepaskan ikatan pada Noah. Mereka memegangi Noah dengan erat di lantai.


"Tidak! Aku mohon jangan! Kalian tidak tahu siapa ayahku?" Noah mencoba menggertak mereka. Bulir keringat menetes dari keningnya.


"Apa kamu sedang mengancam kami?" tanya Axel. Dia berjongkok di bawah dan mengelus jari-jari tangan Noah satu persatu. Noah melipat jari-jari tangannya, namun Axel menariknya lagi dan lagi.


"Kenapa seorang anak selalu saja mengancam menggunakan nama ayah mereka? Tidak kah kamu tahu kalau kamu kekanak-kanakan?!"


"Lalu apa bedanya dengan kamu?" Noah mencoba mengangkat kepalanya untuk menatap Axel, tapi kemudian kepalanya dihempaskan ke lantai yang kotor oleh pria di belakangnya.


"Aku tentu berbeda. Aku tidak pernah mendekati atau mengancam seseorang dengan menggunakan nama besar keluargaku. Aku hanyalah Axel. Axel Felix!"


Axel mengangkat tangannya.


Brak!


Noah dan ayahnya memanglah iblis, tapi pemuda ini jauh lebih dari iblis yang tak berhati dan tak punya perasaan hingga berani melakukan pembantaian secara nyata di depan mereka.


"Arghh..."


Noah masih memekik kesakitan dengan tangannya.


"Ini ... untuk tanganmu yang sudah kurang ajar menyentuh gadisku!"


Noah melirik takut pada Axel. Pemuda ini sudah gila! Seluruh anggota keluarganya sudah gila karena hanya diam dan tertawa melihat penderitaannya.


"Lepaskan aku. Aku mohon maafkan aku!"


"Lepaskan?" Axel mendecih tak suka.


"Apa saat Renata memohon untuk di lepaskan, kamu juga mendengarkan dia?!"


"Aku mohon, Tuan. aku akan lakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku. Aku mau jadi budakmu. Tolong biarkan aku hidup dan melayanimu seumur hidupku!" pinta Noah.


"Seumur hidupmu? Jadi aku harus melihat kamu sepanjang hari begitu? Melihat pria yang sudah menyiksa dan menodai gadisku tetap bebas, begitu? Kamu bercanda!"


"Keluarkan lidahnya!" ucap Axel dingin. Jimmy datang mendekat dengan sebuah tang karatan di tangannya. Dia menemukannya di gudang rumah ini.


Mata Noah membelalak. Dia melupakan rasa sakit di tangannya dan berusaha memberontak, darah terus mengalir dari sana. Dia ingin pergi sekarang juga. Tak ingin nyawanya hilang oleh iblis-iblis ini. Bagaimana Tuhan menciptakan iblis di atas iblis? Mereka iblis yang sesungguhnya!


Jimmy memerintahkan mereka untuk membuka mulut Noah. Dia lantas membuka tangnya dan mulai menjepit lidah pria yang tak berdaya itu. Mungkin pria itu lemah dan tak sebanding sekarang. Tapi mana ia peduli! Siapa yang mengusik anggota keluarga Rudolf maka inilah akibatnya!


Noah ketakutan, rasa sakit dan rasa tak enak pada lidahnya membuat dia mual saat di tarik keluar. Aroma karatan sungguh membuatnya ingin muntah!


Dia mulai membayangkan hidup tanpa lidah akan seperti apa nanti dirinya. Iya kalau dia di biarkan hidup?


Bagiamana ini? Dia tidak ingin mati tapi dia hidup juga tak mau begini! Cita-citanya masih terlalu banyak yang belum ia raih.


Dia masih mencoba memberontak, tapi tak bisa. Seluruh tubuhnya sakit, apalagi tangannya, dan sekarang ia pun tak bisa berteriak. Berharap keajaiban datang dan membawa ayahnya kemari.


Beberapa tawanan yang ada disana menutup matanya bahkan ada pula yang sampai menagis memohon untuk di lepaskan. Ckckck, sungguh tak sepadan dengan tubuh dan wajah mereka yang beringas!


Brak!!


"Arhhgggtt." suara Noah tertahan. Jimmy memperlihatkan potongan lidah itu di depan mata Noah. Senyumnya mengembang sempurna, sudah lama sekali dirinya tidak sesenang ini. Seakan dia baru saja menemukan mainan menarik. Jimmy menggoyangkan potongan lidah itu tepat di hadapan Noah.


"Lihat ini, lidahmu ada di tanganku!" ucap Jimmy. Noah menatap tak percaya, tapi itulah kenyataannya.


'Dasar iblis!' Jika saja dia bisa berbicara pastilah itu yang akan ia teriakkan pada mereka. Tapi lidahnya terlalu kelu untuk di gerakkan. Sakit luar biasa!


Kedua bodyguard di belakang tubuh Noah melepaskan pria yang kini menyandang difabel itu.


"Dan yang itu, karena sudah berbicara sembarangan tentang wanitaku!"


Noah memegangi mulutnya yang terasa sakit. Dia memohon supaya mereka melepaskannya, atau jika tidak biarkan dia mati dengan mudah. Dia sungguh tak mau melihat banyaknya potongan tubuhnya saat dia masih bernyawa. Cukup tangan dan lidahnya saja yang ia tahu bagaimana rasa sakitnya, jangan di tambah lagi.


Noah berbicara dengan tak jelas, tapi Axel bisa menangkap apa maksud pria itu.


"Mati dengan mudah ya?


Memohonlah pada kakakku supaya melepaskan mu!" ucap Axel lalu bangkit dan meletakkan pisau itu kembali ke atas meja. Dia mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap sisa darah yang ada di tangannya, meremasnya, lalu membuangnya tepat di hadapan Noah.


Seorang pria mendekat ke arah Axel, membisikkan sesuatu. Dokter telah selesai membalut luka Renata dan sudah harus segera di bawa ke rumah sakit.


"Kakak. Aku serahkan sisanya padamu. Aku harap kakak bersenang-senang kali ini!" ucap Axel dingin lalu pergi beranjak dari sana.


"Oh ya, dan satu lagi. Korek informasi tentang keberadaan paman dan bibi Renata! Jika dia menolak untuk bercerita, maka hilangkan anggota tubuhnya satu persatu." Daniel tersenyum senang. Ini akan sangat menyenangkan ketika Axel tak ada. Dia bisa bebas menguliti tubuh musuhnya ini!


Devan menatap punggung putra keduanya yang kini menghilang di balik pintu. Dia merasa tak percaya kedua putranya memiliki sisi yang menyeramkan melebihi dirinya.


Dulu Devan hanya hampir membunuh Samuel. Tapi sekarang kedua putranya berani memutilasi korbannya yang bahkan masih bernafas.


Hidup bertahun-tahun dengan keluarga Rudolf membuatnya mengerti dengan tabiat keluarga ini. Siapapun yang berani mengusik anggota keluarga ini maka jangan harap esok hari kau akan masih bisa melihat dunia.


Mungkin dirinya telah gagal menjadi seorang ayah yang belum bisa mendidik kedua putranya. Tapi entah kenapa ia juga mulai menyukai hal berbau kekerasan seperti ini. Dia juga bisa merasakan jika dalam posisi Axel. Renata adalah wanita pertamanya.


Sama seperti dirinya. Meski Anye bukanlah wanita pertama, tapi dia adalah cinta pertama yang sesungguhnya.


"Ayo kita pulang. Aku lelah!" ucap Kakek Surya.