
"Noah!" ucapnya dengan nada yang bergetar.
Satu nama yang sudah di ucapkan Renata membuat tubuh Axel menegang.
Apa yang Renata tahu tentang Noah? Apa dia tahu apa yang sudah terjadi pada pria itu?
Axel tak bisa berkata apa-apa. Dia sangat takut jika Renata tahu apa yang suah terjadi. Apa yang akan dia katakan kalau dia tahu. Atau apakah dia memang sudah mengetahuinya? Apakah ini alasan dia pergi selama ini?
"Re ... Aku ..."
"Aku tahu semuanya Xel." Renata mendorong dada Axel dan mundur satu langkah. Dia tatap wajah Axel yang kini menatapnya dengan sayu, tatapan mata yang penuh kerinduan terpancar jelas di matanya.
"Kenapa kamu bohong sama aku? Kamu bilang hanya memenjarakan dia, tapi ternyata kamu menghilangkan nyawa dia? Bukankah kamu sama saja dengan mereka? Kamu pembunuh!" ucap renata dengan nada dinginnya. Hatinya sakit mengatakan hal itu. Dadanya sesak serasa di sekelilingnya ada asap tebal yang melingkupi tubuhnya.
Dada Axel juga terasa sakit saat Renata mengatakan hal itu. Dia tak sadar, dia hanya ingin melindungi Renata dari orang jahat seperti pria itu. Dia ingin membalaskan sakit hatinya karena sudah menbuat Renata menderita. Hanya itu.
"Maaf. Aku hanya gak mau kamu benci aku..."
"Dan pada akhirnya itu yang membuat aku pergi dari kamu Xel. Aku takut. Aku takut saat tahu kenyataan kalau kamu menghilangkan nyawa orang lain."
"Aku lakukan itu hanya untuk kamu Re. Aku khilaf. Aku gak tahu apa yang terjadi dengan diriku saat itu Re."
Bruk.
Renata terjengkit saat Axel menumpukan kedua lututnya di lantai. Dia menatap mata Axel yang sendu dan menyedihkan. hati Renata tiba-tba saja sakit akan hal itu. Dia tak menyangka jika seoang Axel Felix Aditama Rudolf sampai bersimpuh di kakinya dengan keadaan yang terlihat menyedihkan.
Mata Renata kian memanas. Benar apa yang Via katakan tadi, semua Axel lakukan hanya untuk melindungi orang-orang yang dia sayang. Tapi apakah itu bisa di maafkan? Itu kejam bukan?
Oh... kejam? Siapa?
Lalu siapa yang kejam disini? Bukan Axel, tapi dirinya! Dirinya lah yang kejam karena tak mau tahu dan tak menerima dengan kenyataan yang ada. Dia yang menutup mata dan telinga dengan keadaan yang ada. Dia yang egois dan tak mencoba bertanya dengan apa yang terjadi. Tak seharusnya dia pergi meninggalkan pria yang begitu tulus mencintai dirinya. Bahkan dia juga menyayangi anak yang pernah ada di rahimnya, meski dia anak pria lain yang menjadi penyebab rasa sakitnya.
Renata terisak. Tubuhnya merosot ke lantai. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. menangis tersedu mengeluarkan segala sesak yang ada di dalam hatinya.
Tengisan itu terdengar menyayat hati. Axel menatap wanitanya yang kini tengah menangis dengan hebat. Tak pernah ia melihat tangis Renata yang seperti itu. Dengan menggunakan kedua lututnya, Axel berjalan dan mendekat ke arah Renata berada. Gadis itu menangis semakin kencang hingga bahunya bergerak naik turun.
"Maafkan aku Xel. Maafkan aku,... huu....hikss. Tak seharusnya aku tinggalkan kamu. Harusnya aku dengar penjelasan kamu. Aku egois! Hwaaa...." Axel tersenyum lirih, dia merasakan sesak di dalam dadanya. Tak pernah sekalipun terpikirkan kalau ternyata Renata sudah mengetahui hal itu. Renata memang menenangkan diri, tapi dia kira selama ini Renata pergi hanya karena ingin mengenang putranya yang telah meninggalkanya.
Dia bodoh, tak tahu apa yang ada di dalam pikiran dan juga isi hati Renata.
Axel mengambil Renata ke dalam pelukannya. Wanita itu menangis di dada Axel hingga membuat kemeja pria itu basah. Hatinya sakit, harusnya dia tak bodoh dengan meninggalkan pria itu. Bukan hanya dia saja yang sakit dan sedih dengan kepergiannya, tapi mungkin juga mama dan yang lainnya.
"Maafkan aku Xel. Maaf. Aku bodoh. Harusnya aku tanyakan alasan kamu.. Hiks... Aku terlalu bodoh dengan pikiranku sendiri... huaaa...." tak bisa menahan lagi dengan perasaan yang ada di dalam hatinya, Renata menangis semakin kencang.
Axel mengusap kepala Renata dengan lembut, di ciumnya kepala itu dengan sayang. Sudah sangat lama. Akhirnya...
Semoga saja Renata bersedia untuk ikut pulang kembali ke rumah.