DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 125



"Mas..? Apa yang kamu lakukan disini?" Lirih Tiara sambil mengulurkan tangannya.


Pria itu mendengkus kesal, lalu tanpa kata dia mendekat ke arah Tiara dan menarik tangannya. Menarik tubuh lemah itu membopongnya ke atas pundaknya bak karung goni berisi beras.


"Mas.... Heii... Turukan aku... Kamu kira aku ini beras apa?!" racau Tiara degan suara lirih. Dia menggerakkan tangan dan kakinya lemah, memukul punggung pria itu dan menendangnya dengan lutut.


Tak dihiraukan teriakan lirih Tiara dia terus membawa Tiara berjalan menjauh dari hotel itu. beberapa orang yang melihat kejadian itu hanya diam, tak mau berkomentar dan tak mau ikut campur masalah orang lain. Apalagi pria itu dikuti beberapa orang berwajah kaku di belakangnya.


"Maass.. aku ... mau dibawa kemana? Turunkan aku ... aduhh..." tangan Tiara terdiam di sisi kepalanya, dia lelah, lemas. Rambutnya yang panjang menjuntai di punggung pria yang kini terdiam menahan amarah.


Brukkk!


"Aww...." Tiara memekik saat pria itu melemparkannya ke dalam mobil. Kepala Tiara terantuk jok yang empuk.


"Jangan kasar dong, Maas!"


Kesal dengan panggilan yang di ucapkan Tiara terus menerus, dia lantas menutup pintu mobil dengan kasar, lalu berjalan dengan langkah kasar dan tegapnya ke arah pintu yang lain.


Sama, pintu itu pun jadi korban ganasnya kekesalan seorang Gio Arian Aditama.


Ya. Pria yang datang adalah Gio Arian Aditama.


Yyeeeaaaayyy pahlawan kemaleman datang!!!


Karena kemarahan Tiara di telfon tadi membuat dia tak tenang. Dia lantas memutuskan untuk datang ke tempat reuni yang siang tadi di sebutkan Alea. Terkejut dengan apa yang dia lihat dari kejauhan, saat seorang pria jangkung kurus membopong Tiara di dalam dekapannya dan membawanya ke dalam sebuah kamar yang ada di dalam hotel itu. Gio terlambat untuk mengejar mereka.


Gio mendobraknya dan melihat Tiara yang berada di bawah lelaki hampir telanjang itu.


Entah bagaimana nasib pria itu sekarang, dia tak mau tahu, dia sudah menyerahkan urusan pria mesum itu pada Heru si ajudan yang kini entah dia tenga melakukan apa padanya.


Gio menyalakan mobil dan juga melajukannya dengan kencang ke arah jalanan.


Tiara yang hendak menutup mata, lantas membuka matanya kembali. Dia merasa pusing dan masih kepanasan.


"Masss... panasss. Angin..." meracau tak jelas. Gio tak menghiraukannya, hanya menyalakan pendingin mobil, seketika rasa dingin itu menjalar ke dalam ruangan mobil, tapi Tiara rupanya belum juga merasa puas. Tubuhnya sangat berkeringat, dia merasa sangat-sangat tak nyaman.


Bruk,,!! Tubuh Gio tersentak sedikit ke depan tatkala Tiara menubrukkan tubuhnya padanya. Dia berdiri sambil memeluknya dari belakang.


"Mas... Eh... tapi baunya lain...!" ucapnya di telinga Gio saat mencium aroma yang ia kenal.


Gio mendengus kesal saat lagi-lagi dia dipanggil mas, memangnya Tiara fikir yang sekarang ada di depannya ini siapa? Kenzo? Ingat dengan orang itu membuat isi kepalanya terasa panas.


Dia menekan gas dengan kakinya dalam-dalam hingga mobil melaju dengan cepat. Tiara terhuyung ke belakang karena tak siap, punggungnya terhempas pada sandaran kursi. Melenguh sakit.


"Jahat!"


Tiara kembali bangkit dan melakukan hal yang samas, dia tak tahan. Memeluk seseorang membuatnya nyaman, semakin suka, semakin bersemangat. Ada rasa lain yang ia rasakan kini di dalam tubuhnya.


"Kau itu nyaman di peluk, seperti boneka ku. Tapi sayang, boneka ku gak bisa di ajak bicara. Kalau kamu kan bisa."


Gio hanya diam, dia memilih untuk terus fokus pada jalanan. Lebih baik dia bawa Tiara ke rumah sakit untuk diobati. Gadis ini sepertinya di cekoki minuman berisi obat perangsang.


"Hei...Kamu bukan boneka, bisa bicara kan?' racau Tiara kesal, saat lawannya tak bicara sama sekali.


"Bicaralah. Bicara. Jangan selalu diam! Ahh panas...." keluhnya.


"Hei Kamu Pak Gio kan?' tunjuk tiara di pipi Gio. Gio menepis telunjuk Tiara dari pipinya. gadsi ini sangat mengganggu, obat itu membuat dia tak bisa berfikir jernih.


Mendapat perlakuan seperti itu Tiara tertawa keras.


"Haha... benar, Ini memang Pak Gio, bos ku yang galak, yang arogan, yang suka seenaknya... Cup.." Gio terkejut dengan perlakuan Tiara yang baru saja mengecup pipinya. Dia reflleks menghentikan laju kendaraannya. Beruntung dia berkendara di jalur kiri, dan juga kendaraan tak terlalu ramai. Perlakuan Tiara membuat dirinya shock.


"Hehee.... Lihat wajah kamu Pak, kalau kamu seperti ini kamu terlihat seksi.... " Tiara menjilat cuping telinga Gio dengan pelan, satu tangannya ia luncurkan ke dada pria itu, membelai dadanya dengan lemabut. Membuat Gio semakin shock. seluruh tubh pria itu meremang, bulu kuduknya berdiri, tak terkecuali yang tersembunyi di bawah sana.. Perlakuan Tiara benar-benar membuat sesuatu di dalam dirinya bangkit dan ingin segera menerkam. Dia benar-benar cari celaka!


Tak tahan! Jarak ke rumah sakit masih jauh, tapi jarak dengan apartemennya hanya beberapa block dari sana. Tak ingin terjadi iya-iya di dalam mobil yang membuat heboh masyarakat karena ada mobil bergoyang di pinggir jalan, Gio lantas melajukan kembali mobilnya di jalanan.


Ya. Apartemen. Dia harus membawa Tiara ke apartemen.


Gio melajukan kendaraanya dengan cepat ke arah apartemennya.


"Hei, Sayang. Jangan ngeut-ngebut bhaya!" lirih Tiara, satu tangannya mulai masuk ke sela-sela kemeja pria itu, entah kapan Tiara membuka satu kancing bajunya, ia tak tahu.


"Hentikan,, Tiara. Jangan macam-macam!" geram Gio menahan semua rasa yang ada di dalam dirinya.


"Hentikan? Kita sama-sama menikmati dan kamu bilang hentikan?" Tiara sekali lagi menjilat cuping telinga Gio lebih intens. Bahkan sedikit mengigit dan meng*l*mnya, memainkannya di antara bibirnya.


AAkhh.... Sialan!!! rutuk batin Gio. gadis ini benar-benar sedang manguji kesabarannya.


Dengan cepat Gio melajukan mobilnya ke arah apartemen.


Mobil telah berbelok ke arah sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dia membawa mobilnya ke arah basemen.


Gio membuka pintunya dan keluar dari sana membuat Tiara melongo dan kesal. Dia masih betah memeluk beruang kutub yang lembut wangi seperti panda itu. Lucu, imut, menggemaskan.


Pintu di samping Tiara terbuka, membuat Tiara tersenyum senang. Dia mengulurkan kedua tangannya, meminta di gendong bak anak balita yang melihat kedatangan ibunya.


Gio menarik tangan Tiara dan membantunya keluar dari sana. Tapi tak ia sangka dan tak ia duga. Tiara melompat ke dalam pelukannya, kakinya ia lingkarkan di pinggang Gio. Tanganya juga melingkar erat di leher Gio, kepalanya ia labuhkan di leher. Refleks tangan besar itu menopang tubuh Tiara yang kini nangkring dalam gendongannya.


Gio terkejut dan terpaku dengan tingkah Tiara ini, membuat jiwa jombolnya meronta-ronta. Hangat nafas Tiara menyapu lehernya. Dada Tiara menekan dadanya, dan.. dan... akh,,, Rasanya miliknya pun terganggu karena menempel pada area bawah yang...


Sialan!


Tak ngin berlama-lama, Gio segera melangkahkan kakinya ke dalam lift. Dia menekan angka menuju unitnya.


Sepanjang perjalanan yang penuh godaan dan penuh perjuangan, karena Tiara terus saja menggoda lehernya dengan ciuman bertubi-tubi.


Brukkk.


"Ah..." Gio menjatuhkan Tiara ke atas kasur king size miliknya yang empuk.


Tiara menoleh ke kanan dan ke kiri,dia tersenyum. Tempat yang sangat ia kenal. Dia lebih senang disini dari pada di hotel yang tadi.


Tiara bangkit dan menopang tubuhnya dengan satu tangan, ia tersenyum ke arah Gio dan menggerakan jari telunjuknya ke arah pria itu.


"Come on, Baby!" ucapnya dengan nada menggoda. Bibirnya ia gigit membuat Gio menyunggingkan senyumnya.


Tak sabar. Dia membuka sabuk yang melingkar di pinggangnya lalu kemudian mendekat...


"Maaf, Sayang. Jangan salahkan aku. Kamu yang memintanya!"


Gio mendekat ke arah Tiara. Gadis itu tersenyum dengan senang saat pria yang ada di hadapannya semakin mendekat.


Gio terus melangkahkan kakinya, senyum di bibirnya tak surut. Dia menarik dan mengelus sabuk kulit di tangannya. Lidahnya menyapu sudut bibirnya yang kemudian basah.


Bak elang yang di beri mangsa, Gio melompat ke atas ranjangnya dan mendorong Tiara, hingga gadis itu terlentang.


"Akkh...." Tiara memekik dengan suara penuh desahan. Dia tak tahan, ingin segera di tuntaskan. Tersenyum senang saat pria itu kini ada di atasnya. Dia lebih suka yang ini daripada yang tadi, yang tadi kurus dan tak enak saat di peluk.


"Come, Baby. Taste Me!" lirih Tiara dengan nada manja penuh godaan.


Glekk!! Gio menelanludahnya dengan susah payah, Tiara sangat seksi menggoda terlihat seperti itu.


Gio tersenyum senang. Dia sudah mendapatkan lampu hijau kan!


Gio mengambil selimut yang ada di bawah tubuh Tiara.


"Akh...! Apa yang kamu lakukan? Akh... Sakit. aduh lepaskan aku... tidaaakkk... Jangaaaann!!!"


.


.


.


.


.


WHATT!!!!


Aduh Babang Gio. Apa yang kamu lakukan, Bang?


🙈🙈🙈


Aduh Bang, JANGAAAN...