DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 89



Kami kembali ke rumah ayah. Ini malam yang cukup dingin. Ayah bilang beberapa hari lagi akan turun hujan salju. Wah, pertama kalinya aku akan lihat salju secara langsung dan nyata.


"Ayah, bawa aku jalan-jalan ke Eiffel. Please!" aku bergelayut manja pada ayah. Melihat Eiffel di saat hujan salju pasti cantik. Seperti di film-film romantis itu!


"Besok. Tapi kamu pergi dengan Sam ya!"


"Aku mau sama ayah!" aku merajuk manja.


"Tapi ayah sibuk nak!"


"Ah kapan ayah gak sibuk? Dari aku berada disini ayah selalu sibuk, kapan ada waktu luang sama aku?" aku melepas tangan ayah, dan berjalan agak cepat di depan ayah. Kesal!


"Aku kan cuma mau quality time dengan ayah." tuturku. Ayah keterlaluan!


"Iya-iya, baiklah. Besok ayah akan luangkan waktu ayah, tapi setelah kamu belajar bahasa ya." aku berhenti berjalan. Belajar bahasa? Aku sudah pintar!


"Bahasa Prancis, sayang!" Yaaa... aku kira...


"Kamu akan tinggal disini, jadi kamu harus bisa bicara bahasa negara ini."


"Baiklah. Susah tidak?" tanyaku lagi kali ini aku mengimbangi langkah ayah.


"Gak susah, asal kamu mau berusaha belajar setiap hari pasti akan terbiasa!"


"Oke deh!" ucapku. Kami pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri, dan bersiap ke ruang makan untuk makan malam.


...*...


Ayah benar-benar terlalu!


Bahasa ini, membuat kepalaku pusing! Belajar dari kata dasar. Je (aku), tu (kamu), nous (kita). Beberapa nama barang, lalu yang paling penting menurutku, 'je veux manger', artinya aku mau makan. 🤭🤭. Itu penting untuk aku bertahan hidup!


Sepuluh menit.


Dua puluh menit.


Tiga puluh menit.


Satu jam kemudian.


"Aku benar-benar pusiiing!" teriakku sambil mer*mas rambut di kepala, suaraku menggema di ruangan perpustakaan yang menjadi ruang belajarku. Beberapa kata yang aku hafal lewat begitu saja di otakku, hanya lewat, tidak menempel!


Miss Esther, guru bahasa Prancis-ku tertawa melihat tingkahku. Dia melambaikan tangannya padaku.


"Jangan begitu, ini baru hari pertama, wajar jika sulit!" ucap Miss Esther, dia fasih berbicara bahasa Indonesia walaupun agak terdengar lucu karena logatnya yang kental dengan aksen Prancis.


"Jika setiap hari belajar, pasti nona akan terbiasa!" ucapnya lagi. "Sekarang bagaimana? Mau di lanjut?" tanyanya. Aku mengangguk, walaupun entahlah, apakah ini akan sukses aku ingat atau tidak.


"Lanjut saja. Lagipula aku juga menunggu ayah datang." Miss Esther mengangguk, lalu dia mulai menunjuk salah satu gambar di kamus yang aku pegang, dia melafalkannya dengan sangat fasih, sedangkan aku susah payah menyebut kata-kata itu hingga terdengar baik menurutnya.


Pintu terbuka, seorang pengawal datang ke dekat kami.


"Apa dia bilang miss?" tanyaku pada Miss Esther.


"Dia bilang, tuan besar meminta nona bersiap-siap untuk pergi ke Eiffel!"


"Wah, sekarang?" Miss Esther tersenyum sembari mengangguk. Aku bangkit dari posisiku, tak sadar aku berjingkrak senang. Eiffel i'm come!


"Nona hati-hati, ingat kondisi nona!" Upsss...aku lupa!


Aku menundukan sedikit tubuhku, ini termasuk tata cara orang sini untuk menghormati yang lebih tua.


"Trimakasih, sudah mengingatkan miss. Aku pergi dulu. Besok kita ketemu lagi, bye!" Aku sedikit berlari, dengan penuh semangat. Pengawal yang tadi ikut berlari di belakangku, dia meneriakkan sesuatu, tapi entahlah, biarkan saja paling juga menyuruhku untuk tidak lari!


Sebuah tangan besar menghentikan aku.


"Bandel! Jangan lari." Suara Samuel! Aku menoleh, memberikan senyum seringai terbaik milikku.


"Sam... hehe." Samuel hanya melotot.


"Anak bandel!" mencubit pipiku keras, aku terpekik.


"Saaakiitt!!" rengekku minta di lepaskan. Tapi bagi Sam pipiku terasa menyenangkan untuk di cubit.


"Jangan lari! Ingat kamu itu sedang hamil besar!" sam melepaskan pipiku, tapi dia menunjuk hidungku.


"Iya, maaf. Aku cuma terlalu senang ayah akan ajak aku ke Eiffel!" aku tersenyum dengan tangan berbentuk V.


"Dasar udik!" ejeknya.


"Biarin, emang aku udik, napa? Dasar bule!" balik mengejek.


"Hei ini negaraku, yang bule disini itu kamu!" tunjuk Sam lagi menekan keningku. Oh iya, lupa. Aku bule di negara orang asing.


"Sam ikut ke Eiffel kan?" tanyaku menggamit tangan Samuel, kami berjalan menuju lift.


"Tidak. Aku mau mencari gadis untuk berkencan! Supaya kamu tidak ejek aku jomblo terus!" cibirnya.


"Cih dasar laki-laki!"