DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 41



Aku menatap Samuel. Takut jika tadi dia melihat kak Mel keluar dari toilet, dan juga akan mengatakan aku bertemu dengannya pada Devan. Tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda dia akan memberi tahu Devan, semoga saja.


Kami keluar dari area mall. Lagi Devan memerintahkan Seno untuk mencari rujak untukku.


"Devan!! Aku mau kamu yang belikan!" rengekku seperti anak kecil, meski ku akui aku muak berlaku seperti itu. Devan menghela nafas kasar. Aku memberengut, memajukan bibir bawahku. Devan terkekeh melihat tingkahku. Ini harus berhasil, karena aku ingin bertanya pada Samuel.


Aku menunjuk pada penjual rujak yang sedang ramai pembeli, meskipun di dekatnya ada yang sepi dari pembeli.


"Yang itu saja ya biar cepat?" tunjuk Devan, aku menggeleng.


"Gak mau, mau yang itu!" tetap menunjuk pada penjual rujak yang ramai pembeli. "Biasanya kalau yang ngantri pasti enak!" Tidak mesti juga begitu kan?


"Isinya apa saja?"


"Yang asam-asam aja. Pedas ya."


Devan pasrah, akhirnya aku menang. Devan dan Seno ikut mengantri di antara ibu-ibu yang membeli buah. Biasanya penjual buah akan laris pada saat siang yang panas, tapi malam hari juga tidak buruk kan?


Bukan fokus pada rujak yang mereka beli, para ibu-ibu itu malah sibuk mengagumi dan mencolek calon suamiku. Ya ampun, maskernya kenapa tidak di pakai sih?! Apa dia sengaja pengen di sentuh wanita lain?! Aku geram!


Ah ya aku sampai melupakan sesuatu! Biarkan saja, setidaknya mereka akan lama disana.


"Sam!" panggilku. Samuel mendekat satu langkah.


"Iya nona?" nada suaranya masih datar seperti biasa. Menyebalkan!


"Tadi waktu aku di toilet, apa kamu lihat seseorang?" tanyaku ragu dan takut sebenarnya.


"Siapa?" tanya Semuel.


"Entah, aku rasa seperti lihat seorang teman dari... sekolahku...ya... tapi mungkin aku juga salah sih. Makanya aku tanya sama kamu." dadaku berdebar. "Apa mungkin aku salah lihat? Kamu tahu siapa?" tanyaku waswas.


"Maaf, nona. Saya waktu itu dapat panggilan dari tuan muda menanyakan keberadaan nona, mungkin saat saya mengangkat telfon, jadi tidak memperhatikan dan hanya melihat tiga orang dari belakang saja. Yang dua rambut panjang, dan satu rambut pendek!" ucap Samuel. Aku mengangguk mantap, bersyukur Samuel tidak curiga atau tahu dengan kehadiran kak Melati disana. Fiuhhhh...


"Perlu saya carikan rekaman cctv nya supaya nona tahu siapa mereka?"


"Aaah, tidak usah. Tidak usah. Tidak penting, hanya perasaanku saja." aku melambaikan tanganku di depan dadaku. Bisa gawat kalau sampai dia mencari tahu.


Setengah jam, Devan baru kembali ke tempatku, dengan membawa satu bungkus rujak di tangannya. Seno entah kemana.


"Mana Seno?" tanyaku. Devan mendecih tidak suka.


"Bukannya senang di bawakan buah malah nanyain Seno!" Devan menggerutu sebal. "Kamu gak nanyain kabarnya aku yang di cubitin ibu-ibu disana?" Ya ampun lucu sekali Devan, merajuk dengan bibir di majukan ke depan, persis seperti anak tk yang tengah mengadu pada ibunya. Eh emang Devan sedang mengadu sekarang! Haha...


Aku cubit lagi pipi Devan dengan gemas hingga kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri.


"Karena kamu itu ganteng." wajah Devan berbinar bahagia mendapat pujian dariku. Senyumnya sangat lebar hingga matanya menyipit. "Makanya lain kali pakai tuh masker! Sengaja jamu mau pamerin wajah kamu? Sengaja mau di sentuh sama wanita lain hem?!!!" geramku dengan nada tinggi. Seketika wajah itu kembali cemberut, lalu berganti tawa.


"Cemburu, hem? Sudah mulai suka?" tanya Devan dengan senyuman dan alis yang di naik turunkan dengan cepat.


"Gak! Aku cuma gak mau lihat kamu kayak gitu di depan ku, kalau di belakang sih terserah!" ucapku. Serius? Dan jawabannya adalah tidak! Awas saja kalau dia main di belakangku!


Sebuah mobil hitam mendekat, Seno di belakang kemudi. Samuel membukakan pintu untukku dan Devan, lalu setelah kami masuk dia pun masuk dan duduk di kursi depan.


"Rujak kamu!" Devan menyerahkan bungkusan plastik dengan sterofoam padaku. Aku membukanya tapi tak berniat untuk memakannya dan menutupnya kembali, karena itu hanya alasanku saja kan!


"Gak di makan?" tanya Devan.


"Sam, habiskan ini!" Aku memberikan rujak itu pada Samuel, Devan melotot tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Sayang?" Devan. Samuel masih diam, tentu dia tidak ingin jadi pusat kemarahan tuannya.


"Sam, ambil ini dan habiskan. Jangan lupa suapi pacar kamu!" Aku menyimpan rujak itu di atas pangkuannya.


"Maaf nona, tapi saya tidak bisa makan di saat masih jam kerja."


"Saaammm!!" geramku kesal.


"Sam! Kamu gak denger apa yang Anye bilang?!" bentak Devan. "Makan sekarang!" Devan gusar, kesal, sebal, marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ada aku. Aku tahu apa yang dia fikirkan, sudah capek-capek mengantri malah di kasihin orang! mungkin seperti itu!


"Tapi saya tidak punya pacar, nona." Ya mau bagaimana punya pacar kalau sifatnya sedingin kutub utara! Gak ada yang mau sama cowok irit bicara!


"Kalau begitu suapi saja Seno! Sekarang!" titahku. Haha kena kalian! Setelah tadi aku menjahili Devan kalian juga harus dapat bagian kan!


****


Devan menjemput ku saat pulang sekolah. Mobil kami berjalan perlahan mengikuti arus ramai jalanan ibu kota. Di belakang kami, mobil yang di kendarai Samuel mengikuti.


Wajah Devan cerah berbinar bahagia. "Hari ini kita pulang ke rumah. Mama dan papa sudah sampai tadi pagi." Devan sangat bersemangat. Disandarkan kepalaku pada dadanya. Berkali-kali dia menciumi pucuk kepalaku. Satu tangannya mengelus perutku.


"Apa mama dan papa akan terima aku Dev?" tanyaku lagi. Entah sudah berapa banyak aku menanyakan hal ini pada Devan.


"Tentu sayang. Mama dan papa sudah terima kamu. Jangan khawatir akan mendapat mertua yang galak. Karena mama dan papa ku sangat baik!" Devan terkekeh.


Entah lah, tapi jujur aku masih takut.


Rumah yang sangat mewah! Tentu saja. Pemilik perusahaan terbesar di negara ini mana mungkin rumahnya tidak mewah bukan? Dengan pilar-pilar indah, lantai batu granit yang pasti mahal, dan juga dengan taman yang luas.


Ini ketiga kalinya aku kesini. Saat dulu aku pacaran dengan Devan pernah dua kali kesini dan tidak pernah bertemu dengan kedua orangtuanya, karena mereka selalu sibuk dan lebih sering berada di luar kota atau luar negeri. Maka dari itu saat tunangan kak Mel, mama dan papa Devan tidak mengenali aku sebagai mantan kekasih Devan.


Berbeda dengan oma dan opa. Devan lebih sering mengajakku kesana, karena Devan sangat dekat sekali dengan sosok oma. Kedua orangtua yang sibuk membuat Devan sangat manja dengan oma dan opa.


"Sudah jangan khawatir. Mama dan papa adalah orang yang baik." Devan mengelus punggung tanganku dengan ibu jarinya. Seakan dia tahu apa yang aku fikirkan selama dalam perjalanan tadi.


"Tapi Dev, kamu tahu sendiri kan kalau aku gak tahu siapa ibuku. Aku belum bisa ketemu mamaku untuk tahu siapa aku. Aku takut orang tua kamu gak bisa terima aku." aku merasa sangat kecil dan tidak pantas untuk Devan.


Mama belum bisa aku temui karena papa tidak mengizinkan mama untuk keluar sampai batas waktu yang belum di tentukan. Bahkan sekarang di rumah ada satpam dan asisten rumah tangga untuk membantu mama. Memastikan mama benar-benar tidak bisa keluar dan aku tidak bisa menemui mama di rumah. Aku benar-benar di usir!


Bahkan nomor telfon mama juga sudah tidak aktif lagi. Padahal banyak sekali yang ingin aku tanyakan pada mama. Dan kak Mel, meskipun nomornya masih aktif sudah jelas jika aku telfon selama ini hanya sindiran dan hinaan yang aku terima. Sedangkan papa, papa sudah benar-benar abai padaku! Malangnya nasibku!


"Hei ssstttt. Aku gak mau kamu bicara seperti itu lagi Nye!" Devan membungkam bibirku dengan telunjuknya. "Aku gak peduli bagaimana pun kamu, dari mana asal usul kamu, aku hanya cinta kamu dari dulu. Please. Aku gak mau kamu bahas lagi yang seperti itu. Kamu harus tahu kalau mama dan papa, termasuk oma dan opa sudah setuju kita menikah minggu depan. TITIK!"


"Ya, kamu jangan khawatir!" Devan meyakinkan ku. Aku mengangguk pasrah.


Devan membuka pintu mobil dan menarikku keluar, menggandeng tanganku berjalan ke teras. . Aku gugup, padahal di acara tunangan kak Mel aku sudah pernah bertemu dengan mama dan papa Devan. Kaki ku bergetar. Dadaku berdetak lebih cepat. Bahkan mungkin menghadapi soal ujian lebih baik dari pada menghadap calon mertua!


Pintu rumah terbuka. Suasana rumah yang tidak pernah berubah sedari dulu. Sepi.


Mama dan papa Devan menyambut kami dengan senyuman. Untunglah, setelah sepanjang jalan tadi aku membayangkan akan mendapat cacian dan hinaan, dan mungkin tamparan, atau benda yang melayang padaku, tapi ini tidak! Aku bersyukur mereka baik, sejauh ini.


"Ma, apa kabar?" tanya Devan sambil mencium pipi mama lalu berganti memeluk papa.


"Mama baik, Dev. Anye?" panggil mama dengan senyuman dan merentangkan tangannya, membuat rasa gugup yang aku rasa terurai seketika.


Mama memelukku, mengusap rambutku dengan sayang. Rasanya menyenangkan, sudah beberapa hari ini aku tidak mendapatkan pelukan seorang ibu yang menenangkanku. Mataku panas, seketika berderai tanpa bisa ku tahan.


"Anye, kenapa nangis? Ada yang sakit?" tanya Mama mengurai pelukannya. Menatapku dengan khawatir. Papa dan devan juga menatapku. Aku hanya menggelengkan kepala.


"Maaf... Maaf!" hanya itu yang bisa aku ucapkan. Aku merasa bersalah karena impian orangtuanya yang menjodohkan Kak Mel dengan Devan harus hancur karena adanya aku.


Mama tersenyum mengusap air mata di pipiku.


"Sudah. Kamu atau Melati sama saja!" seakan mama tahu apa yang aku fikirkan. Papa mengelus rambutku, lalu tersenyum. Aku bersyukur ternyata benar, mereka sangat lah baik.


Mama membawaku ke ruang keluarga, mendudukkanku di sofa memelukku lagi dan terus menenangkanku. Devan hanya tersenyum melihat mama yang menyayangiku.


"Sudah Nye. Jangan menangis lagi sayang! Mama sudah dengar ceritanya semua dari Devan, ini bukan kesalahan kamu." aku semakin menangis mendengar mama. Semakin mengeratkan pelukanku pada mama, rasanya hangat.


"Aku minta maaf ma, pa!" ucapku di antara isak tangis.


"Papa senang dengan Devan yang ingin tanggung jawab dengan kesalahan yang sudah kalian perbuat, meski memang kesalahan ada pada orang lain dan ada yang sudah jebak kamu. Masalah Melati papa sudah meminta maaf pada orangtua kamu." ucap papa.


"Jadi papa sudah maafkan kami." papa mengangguk. "Tapi pa, Anye... bukan anak papa Yudhistira. Anye gak tahu dimana orangtua Anye sekarang... Anye...belum bisa ketemu mama untuk minta penjelasan siapa diri Anye."


"Sudah lah, itu tidak penting. Yang penting sekarang kamu jagan stress, ingat ada cucu kami yang harus kamu jaga. Kamu harus selalu bahagia. Jangan fikirkan yang lain oke?!" ucap Mama mengelus pipi ku dengan ibu jarinya. Lalu beralih mengusap perutku dengan lembut.


Syukurlah semuanya berjalan dengan baik, aku bahagia mama dan papa bisa menerima aku yang entah anak siapa. Yang sekarang sedang mengandung anak Devan di luar ikatan pernikahan yang suci.


Kami banyak mengobrol di sertai canda tawa. Papa Devan yang ku kira kaku juga ternyata sangat hangat. Hal yang tidak pernah aku rasakan dengan papa. Aku bersyukur mereka sangat baik.


Kami berada di meja makan untuk makan malam. Semua hidangan lezat tersedia di atas meja. Udang saus padang kesukaanku pun ada. Ah, pastilah Devan yang memberi tahu pada asisten kalau aku suka masakan itu. udang saus padang, ayam rica, kepiting asam manis, berbagai tumis, dan ada bemacam-macam sambal disana.


"Apa ada yang lain yang kamu mau sayang?" tanya mama sebelum kami mulai acara makan.


"Tidak ma, ini sudah cukup." ucapku.


"Benar, tidak mau yang lain?" aku menggeleng. Devan tersenyum di sampingku begitu juga papa. Kami makan, sesekali mama atau papa bertanya atau membahas ketika mama sedang ngidam saat mengandung Devan. Suasana di meja makan ini terasa menyenangkan.


Andai saja papa seperti ini.


"Besok setelah pulang sekolah bersiap lah. Mama akan jemput untuk cari baju pengantin." ucap Mama.


"Tidak perlu ma, Anye mau menikah dengan sederhana saja. Lagipula tidak ada yang di undang kan, Dev?" tanyaku mengalihkan pandangan pada Devan.


"Beberapa orang. Keluarga terdekat dan sahabat kamu, kalau kamu mau."


"Meskipun sederhana, kamu tetap harus pakai gaun pengantin, sayang. Karena menikah adalah momen terindah, dan mama tidak mau di hari pernikahan putra dan menantu mama hanya biasa saja. Kalian tetap harus terlihat perfect! Untuk urusan resepsi, kita akan bicarakan itu nanti setelah kamu lulus sekolah. Bagaimana?" tanya mama lagi.


Aku mengangguk, "terserah mama saja." ucapku terharu dengan kasih sayang mama dan papa.


"Jangan menangis lagi! Dasar cengeng!" cibir Devan yang melihat mataku sudah basah.


"Enggak, aku gak nangis, cuma ini pedas!" kilahku. Devan hanya tersenyum, mama dan papa menggelengkan kepalanya melihat tingkah ku.


Mama memelukku sebelum aku masuk ke dalam mobil, menyesali keputusanku yang menolak tinggal bersamanya di rumah itu. Jarak ke sekolah ku sangat jauh dari rumah mama, dan itu juga yang membuat mama akhirnya melepasku kembali ke apartemen Devan.


"Trimakasih Dev. Kamu benar, mama dan papa baik. Aku sudah buruk sangka sama mama dan papa kamu dari kemarin. Maaf!" cicitku. Devan merengkuh ku ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepalaku.


Aku bahagia. Aku tidak sabar dengan hari pernikahanku yang akan segera tiba!