DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 95



Aku melihat CCTV di seluruh gedung ini. Tidak sulit mengecek seluruh ruangan dan CCTV karena aku lah pemilik gedung apartemen ini!


"Tuan sebaiknya istirahat. Kalau ada sesuatu akan saya bangunkan." Seno berujar. Aku menatapnya tajam.


"Mana bisa aku istirahat sementara istriku pergi dengan orang lain!!" Aku mencengkeram kerah bajunya. Raut wajahnya menyebalkan, tidak berubah, datar seperti tembok. Jika saja dia punya rasa takut sedikit di ekspresi wajahnya, tapi wajah semua bodyguard sama. Datar dan dingin. Menyebalkan!


"Tuan, ketemu!" seseorang memanggilku. Aku menghempaskan tubuh Seno ke samping dan segera melihat apa yang dia temukan. Anyelir, dia menunduk di lorong, dan dia di bekap seseorang?


"Siapa dia? Perbesar gambarnya!" titahku tidak sabar.


Dia memperbesar ukuran gambarnya.


"Tidak jelas tuan. Lorong ke arah tangga darurat sedang gelap! Wajahnya tertutup topi!"


Aku mengepalkan tanganku. Saat melihat adegan selanjutnya. Anye terlihat panik, tapi setelah menoleh sepertinya dia malah senang bertemu dengan orang itu. Dia memeluknya erat, lalu mereka melarikan diri ke arah tangga darurat menuju ke atas. Ini bukan penculikan, tapi sudah di rencanakan!


Jadi benar helikopter itu yang membawa Anye pergi? Tapi siapa dia? Pasti bukan orang sembarangan mengingat dia membawa Anye pergi dengan helikopter. Siapa? Pengawal itu kah? Tapi dia sudah mati! Dan heli itu, tidak mungkin jika orang biasa!


"Cek semua CCTV di tempatku!" Aku ingin tahu orang seperti apa dia yang berani-beraninya di peluk oleh istriku!


"CCTV di seluruh ruangan unit anda sudah lama tidak beroperasi, tuan, termasuk di dalam kamar." ujarnya takut-takut. Hanya beberapa layar hitam di dalam layar laptopnya.


"Bagaimana bisa?" tanyaku. Aku sudah lama tidak mengecek CCTV karena kesibukanku.


"Sepertinya ada yang sengaja mematikan!"


"Kapan terakhir kalinya menyala?" tanyaku lagi. Ini mulai mencurigakan! Hanya beberapa orang yang tahu jika di unitku ada CCTV kecuali di kamar, hanya aku yang bisa membuka dan melihatnya.


"Tanggal dua belas bulan ini. Semuanya sama, setiap ruangan hingga di luar unit anda!"


Tanggal dua belas? itu saat mama dan Anye pergi, dan aku ke Singapura. Apakah ada yang berusaha melakukan sesuatu pada kami?


"Seno. Cepat periksa semuanya!" Seno pergi untuk memeriksa semua, aku kembali menghubungi Anyelir. Masih tidak jawaban, malah panggilanku sengaja di tolak! Anye kemana kamu?!


Dadaku mulai terasa sesak. Jantungku berdetak tidak karuan.


"Anye, Please angkat telfonnya! Aku minta maaf!"


Mondar-mandir di dalam kamar, aku terus menghubungi Anye. Masih tidak ada jawaban.


'Aku sudah jahat, meskipun tadi siang aku bilang kamu untuk pergi, nyatanya aku tidak ingin kamu lari dariku. Ini sangat menyakitkan! Aku tidak ingin kamu pergi Anye. Sayangku!'


Pintu di ketuk seseorang dari luar, tak lama terbuka dan Seno masuk ke dalam.


"Tuan, aku menemukan ini!" Seno memperlihatkan sesuatu yang di temukannya. Dia juga membawa laptop di tangannya.


"Apa itu?" aku penasaran dan mendekat padanya.


"Ini semacam kamera pengawas!"


"Sejak kapan kamera itu terpasang?" tanyaku.


"Dari tanggal ini, tepatnya dua bulan setelah tuan dan nona menikah!"


Apa?!! Selama itu, dan aku tidak tahu?


"Cek dimana lagi kamera itu terpasang! Dan temukan siapa orang yang sudah memasanganya!" aku gusar. Berani sekali orang itu memasang kamera pengawas di apartemen ku! Keterlaluan!


Seno bangkit, lalu pergi mengecek semua tempat. Dan aku meneruskan melihat gambar itu. Setiap tanggal tidak aku lewatkan ku percepat beberapa kali lipat. Aku ingin tau sejauh mana orang itu mengintaiku. Apa motif sebenarnya dia?


Ya ampun! Apakah dia ini orang gila? Isi di dalam sini, tidak ada yang aku lewatkan, termasuk saat aku dan Anye saling bercanda dan akhirnya bercinta di sofa. Di dapur. Bahkan di depan tv. Apa dia bercanda? Jenis orang macam apa dia? Apakah dia berencana menjualnya ke internet atau untuk mengancamku? Bisa jadi kan? Tapi dua bulan setelah menikah, bukankah itu sudah lama? Kenapa kamera ini di tinggalkan begitu saja disini? Atau dia ingin adegan-adegan yang lebih banyak lagi?


Siapa yang berani-beraninya mengintai kami? Bahkan disini kami tidak punya privasi!


"Tuan. Tidak ada kamera lain lagi, hanya itu saja yang aku temukan." Seno melapor. Syukurlah.


"Dimana kamu mendapatkan kamera ini?" tanyaku.


"Ini agak tersembunyi tuan, dinding di samping lemari."


"Lain kali cari lagi siapa tahu ada yang seperti ini lagi di suatu tempat."


"Baik!"


"Pergilah, bantu yang lain cari Anyelir. Tanyakan pada temanmu apa dia sudah menemukan titik lokasi terakhir Anyelir!"


"Baik!" jawab Seno lalu keluar dari kamarku.


Aku masih tetap memperhatikan layar ini, sampai mataku terasa sakit, perih. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.


"Tuan! Sinyal terakhir nona Anyelir ada di sekitar daerah pemakanan. Sepertinya nona mengunjungi makam ibunya."


"Ibu Yura?" Seno mengangguk.


"Siapkan helikopter. Kita pergi kesana!"


Apa yang aku lakukan? Aku membuat Anye pergi atau kah dia memang ingin bersama orang lain?


Sudah sampai di pemakaman. Suasana sangat lengang. Aku sedikit berlari ke arah pusara ibu mertuaku. Tidak ada Anye disini, hanya ada satu tangkai bunga Lily putih, yang masih segar. Apa Anye tadi benar-benar kesini?


Aku berdiri, mengedarkan pandanganku ke sekeliling berharap dia masih ada disini. Waktu itu juga Anye memintaku untuk membelikan bunga lili putih.


"Anye!!!" teriakku. "Anye dimana kamu? Pulang lah! Aku minta maaf!" teriakku lagi.


"Anyelir!!!" tidak ada jawaban. Aku mengusap wajahku kasar. Berlarian kesana kemari di antara pusara-pusara, berharap jika Anye sedang bersembunyi. Tapi setelah hampir tiga puluh menit aku berlari, tidak ada jawaban.


"Kemana kamu Anye? Aku minta maaf. Aku minta maaf!"