
Mereka sudah sampai di hotel.
Tiara susah payah mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi, sedangkan Gio sudah melenggang masuk ke dalam hotel dengan barang bawaannya.
Tiara hanya bisa melihat punggung pria itu dengan kesal. Seperti biasa dia banyak mengumpat di dalam hati.
"Aku bisa cepat tua kalau menghadapi dia yang seperti ini! Dua tahun? Gila! Stok sabarku, harus aku isi ulang di mana?" bergumam pelan. Lalu meracau saat dia kesulitan dengan kopernya.
"Biar saya bantu, Nona?" ucap seorang pria dari arah samping Tiara. Tiara menoleh dan mendapati seorang pria muda tengah mendekat ke arahnya dan meraih koper miliknya lalu menurunkannya ke lantai. Pria itu tersenyum ramah. Manis, dengan lesung pipi di pipi kanannya.
"Ah iya. Terima kasih banyak!" ucap Tiara dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Sekalian saya antar?" tanya pria itu.
"Tidak usah. Saya bisa sendiri." Tiara meraih koper dari tangan pria asing itu. Meskipun dia baik, tapi dia tidak boleh terlena begitu saja dengan ketampanan dan kebaikan orang asing.
"Oh. Baiklah kalau begitu. Silahkan. Saya pamit!" ucapnya sopan lalu bergegas pergi dari sana.
Tiara menangguk sambil mengucapkan kata terimakasih sekali lagi.
"Ah, manis sekali senyumnya!" gumam Tiara seraya memperhatikan punggung pria yang baru saja menolongnya itu.
"Senyum siapa yang manis?" suara Gio membangunkan Tiara dari rasa kekagumannya pada pria asing tadi. Tiba-tiba saja moodnya berubah buruk karena yang dia lihat sekarang adalah senyum masam si pemilik wajah datar yang menyebalkan.
"Tidak ada!" ketus Tiara kesal. Seandainya pria ini punya sikap seperti pria tadi tentu saja dia akan memberikan nilai plus padanya. Sayang sekali, sepertinya itu akan terasa sangat sulit. Mustahil!
"Hei! Malah melamun! Kesambet setan ya?!"
Tuh kan.... Makin minuslah nilainya!
"Cih... Ternyata orang terpelajar seperti bapak percaya juga dengan kesambet setan ya?!" sindir Tiara. Eh bukan nyindir. Kenyataan!
"Ya siapa tahu. Habisnya kamu tadi melamun melihat apa? Tidak ada apa-apa tapi bilang senyuman manis? Siapa yang senyum sama kamu?" tanya Gio.
"Memang setan. Tapi setan tampan!" jawaban Tiara membuat Gio merasa kesal.
Setan tampan? Apa Tiara baru saja bertemu dengan seseorang?
"Siapa dia?" tanya Gio. Nada suaranya terdengar dingin di telinga Tiara. "Siapa?!" bentak Gio saat tak kunjung mendengar jawaban Tiara.
"Bapak kenapa sih? Datang-datang marah-marah!"
"Kamu bertemu siapa huh?!" Gio tak puas jika tidak mendengar jawaban Tiara.
"Siapa? Ya mana saya tahu. Dia cuma bantu saya nurunin koper doang! Lagian bapak kenapa juga marah-marah, bantu enggak, bisanya ninggalin saya. Datang marah! Bapak siapa saya?!" Tiara balik membentak. Terserah bos mau marah ya silahkan!
Tiara kesal. Dia memang asisten tapi bukan berarti semua yang terjadi pada dirinya harus dia laporkan!
Dia berjalan dengan cepat meninggalkan Gio yang kini melongo setelah mendengar kata-kata Tiara.
Aku kan cuma tanya! Kenapa dia marah?
Gio menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.
"Cowok. maunya dia apa sih. Gue siapanya dia? Pacar bukan. Ih amit-amit deh kalau sampai pacaran sama dia!"
Tiara menggeret kopernya sambil berdecak kesal. Dia menuju tempat dimana koper Gio berada.
"Trimakasih!" lalu pergi dengan koper di tangannya.
Astaga! anak ini kenapa sih? Aku kan tadi cuma tanya dia ketemu siapa kenapa dia marah?
Tiara kembali lagi ke arah Gio.
"Kamarnya dimana?" tanya Tiara.
Gio kira Tiara tahu dengan letak kamarnya.
"Kamu lihat itu di kunci nomor berapa?" Gio balik bertanya.
"Oh!" hanya itu yang Tiara ucapkan.
Tiara berjalan untuk mencari kamarnya. Begitu juga degan Gio, dia mengikuti langkh kaki Tiara.
Tiara berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Dia memasukkan kuci ke dalam lubangnya. Tangannya terhenti saat menyadari langkah seseorng juga berhenti di sampingnya.
"Bapak mau apa ikutin saya?" tanya Tiara takut. Jangan sampai dia harus satu ruangan dengan bosnya ini seperti dalam cerita novel atau sinetron. Bosnya ternyata mesum?
"Memangnya kenapa kalau saya ikutin kamu? Kamu keberatan?" Tanya Gio, senyum menyeramkan tersungging di bibirnya. Dia berjalan semakin mendekat kepada Tiara.
Oh tidak! Senyum itu. Memang mirip seperti ala-ala sinetron bertemakan Bos Mesum dan sekretarisnya!
"Jangan macam-macam, Pak. Saya akan laporkan Bapak kalau..." Suaranya tercekat di tenggorokan saat Gio semakin mendekat hingga dia harus mundur satu langkah sampai punggungnya menabrak pintu.
"Kalau apa?" tanya Gio. Dia semakin mendekat pada Tiara.
"Kalau... Kalau..."
Deg. Deg. Deg.
Dada Tiara berdetak semakin cepat tatkala tangan Gio terulur mendekati dirinya.
Gio tersenyum, dia mengungkung Tiara diantara kedua tangannya. Netra mereka saling bersinggungan.
Tiara salah tingkah. Wajahnya merah. Mulutnya terbuka. Ingin berbicara tapi terasa sulit baginya. Wangi nafas Gio membuatnya sesak nafas.
Senyum Gio semakin lebar. Dia sangat suka dengan raut wajah lain Tiara yang seperti ini! Rasanya lucu apalagi saat ia mulai gugup dan mengigit bibirnya sendiri.
Akh. Sial! Ingin sekali rasanya dia berubah menjadi gigi yang mengigit bibir tipis itu!
Gio tidak tahan!
Dia semakin mendekat. Tiara takut, tapi entah kenapa alih-alih mendorong dada Gio dia malah memejamkan matanya.
Ceklek!
Suara kunci di putar dan pintu terbuka.
"Masuklah. Istirhat sebentar, nanti aku akan panggil dan kamu harus sudah siap. Aku belum sarapan!" ucap gio membuat Tiara membuka matanya.
Gio pergi dari sana. Entah kenapa membuat Tiara merasa kecewa.